4 - I Got You

1212 Kata
Sekitar pukul 5.30 sore, Lea dan keluarga sudah sampai di sebuah resort. Kaki mereka melangkah pada jalan setapak di luar gedung hotel ini setelah keluar dari kamar mereka masing-masing. Dilihatnya beberapa joglo di tepi kolam renang yang luas. Dengan pemandangan sunset berlatar belakang Pantai Parangtritis. Lexy melihat Lies melambaikan tangan ke arah mereka. “Mah, itu disana!” teriak Lexy, telunjuknya mengarah ke sebuah joglo di barisan keempat. Lea. Lea melihat Andrew sedang duduk di tepi joglo itu. Dia sedang memandang matahari terbenam. Sinar oranye menyembur di wajah Andrew. Bukan perasaan manis yang bergidik di hati Lea, melainkan was-was. “Mmm ... Mbak, aku ke toilet dulu ya!” ucap Lea sambil berlarian menjauh dari mereka semua. Wajah Lea penuh dengan kerutan kekhawatiran. Rambut Lea yang dikucir kuda itu bergerak kesana-kemari sembari dia berlarian kecil. Lexy sudah mendekati joglo itu. Lies bertanya, “Lea kemana tadi kok lari-lari?” “Katanya mau ke toilet, Tante.” “Oh ... mari-mari duduk.” William dan Hendra sedang bercengkrama. Lexy menyuapi si Ellen. Sedangkan Andrew masih menatap sunset di sore hari ini. Bola cahaya berwarna oranye lembut itu sudah setengah tenggelam di laut lepas. Andrew juga sangat menikmati semilir angin pantai. Kakinya menggantung dan bergerak-gerak di tepi lesehan joglo itu. “Mbak Lies, sini,” ajak Leoni yang melangkah menjauhi joglo itu, ke dekat tepi kolam. Mamanya Andrew mendekat. “Mbak Lies, rencana kita jadi kan?” “Jadi, Mbak. Andrew itu orangnya susah. Jadi memang harus dipaksa,” imbuh Lies. “Ya, Mbak. Aku juga pengen segera punya cucu lagi,” tawa Leoni. Lies memberikan sebuah kertas kecil tebal berisi sesuatu. “Nih, Mbak, nanti dituangin ke minuman Lea. Nantilah gampang pokoknya. Sekarang kita makan malam dulu aja.” Mereka berdua melangkah lagi ke joglo setelah merencanakan sesuatu. Tak ada anggota keluarga lain yang boleh tahu. Rahasia kecil ini hanya di antara mereka berdua. “Ma, Lea mana kok ke toilet lama banget?” tanya papanya Lea. “Coba aku telepon deh, Pa,” sahut Lexy. Tut ... tut ... tut .... Lexy tertawa heran. “Gak diangkat ik, Ma. Dimatiin dong?!” Andrew spontan menoleh pada Lexy. “Coba aku yang telepon, Kak? Mana nomernya?” Leoni dan Lies langsung bertatapan mata heran. Andrew meminta nomor ponsel Lea. Ini adalah sebuah kemajuan, batin mereka berdua. “Lumayan lah dapat nomornya. Kalau aku mau menagih tentang bemper itu gampang!” batin Andrew berbicara licik. Dia mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan nomor Lea. Dia ingin menghantui Lea demi menagih reparasi mobilnya. Andrew mengangkat ponselnya ke telinga. Tut ... tut .... Andrew menyapa, “Halo? Lea kamu dimana?” “Siapa nih?” balas Lea dengan tanggap. “Andrew. Kamu dicari—“ Tut. “Eh sial,” gumam Andrew, belum selesai berbicara. Lea menutup teleponnya. Andrew meneleponnya lagi berkali-kali. Dia merasa bahagia karena Lea terlihat panik. “Kalau dia panik berarti dia memang merasa bersalah,” batin Andrew sambil melengkungkan sudut bibirnya. Lea. Lea duduk di toilet di dalam kamarnya. Sudah sekitar dua puluh menit dia berdiam diri disitu. Dia memang tidak berniat untuk bertemu dengan Andrew. Tidak ingin ditagih mengenai bemper itu. Dia belum siap untuk bertatap muka dengan pemilik mobil mewah itu lagi. Drrt ... drrt .... Lea menatap layar ponselnya yang sedang bergetar itu. Muncul nomor yang sama selama lima menit sejak Andrew yang berbicara di telepon. “Hih! Ngopo sih kok ndue nomerku saiki? Setan emang,” omelnya sebab Andrew sudah memiliki nomor Lea. “Kan salah dia! Enak aja! Siapa suruh parkir terlalu mepet dengan mobilku?!” sambungnya. Lea memberanikan diri untuk kembali ke joglo itu setelah sekian lama berpikir di kamar mandi. Dia merasa dirinya salah menyenggol bemper itu. Namun, Andrew juga salah sebab parkirnya terlalu dekat dengan mobil Lea. Lea sudah kembali ke joglo itu. Semua sudah selesai makan malam, hanya Lea yang belum. William dan Lies sudah kembali ke kamar mereka. Hanya ada suara tangis Ellen, Lexy, dan Leoni yang ada disitu. Hendra sudah kembali ke kamar sebelumnya karena merasa lelah sudah bekerja seharian. “Kalian Mama tinggal disini berdua, ya. Mama mau bantu Kak Lexy momong Ellen di kamar. Yuk,” ajak Leoni pada Lexy. Mereka melangkahkan kakinya meninggalkan Lea dan Andrew. Lea yang berdiri di tepi joglo hanya bisa melihat mama dan kakaknya jalan menjauh. Suara Ellen masih terdengar saat mereka menjauhi joglo. Ellen menangis kencang. Sekarang, hanya ada Andrew dan Lea di joglo tepi kolam itu. Andrew tersenyum licik pada Lea, “Makanlah.” Dia menepuk-nepuk lesehan joglo itu, meminta Lea untuk duduk dan makan. Dia hanya berpura-pura bersikap manis pada Lea. “Aku sudah makan. Giliranmu,” sambungnya. Lea mengernyit sambil menyilangkan kakinya duduk di lesehan. “Apaan dah?!” Lea tidak segan-segan makan di depan Andrew. Yang penting dia makan, pikirnya. Saat Lea sudah selesai, Andrew melemparkan selembar kertas di dekat piring Lea. “Tuh! Tagihanmu!” cerca Andrew secara tiba-tiba. Dari tadi dia hanya menahan sikapnya yang sok manis agar dia bisa mengagetkan Lea. “Apa-apaan? Orang kamu yang salah parkir mepet mobilku kok!” “Kamu yang senggol mobilku kan! Kamu lah yang salah, bikin rompal mobil orang. Enak aja!” pekik Andrew dengan emosinya. Lea mengerutkan bibirnya dan mengambil kertas itu. “300 JUTA?!? Mobil macam apa nih bemper doang 300 juta!” gerutunya. “Kamu pikir mobilku itu mobil yang biasa saja?! Pokoknya kamu harus tanggung jawab lah. Kalau kamu tidak mau, aku akan membawa pengacaraku!” debat Andrew. “Sana! Aku tidak takut. Cemen banget bawa-bawa pengacara segala. Masalah mobil doang juga. Dasar,” sanggah Lea sambil menata piringnya rapi. Lea menyamber botol minumnya dan pergi meninggalkan Andrew. Tanpa membawa kertas kwitansi tersebut. Dia bersikap bodo amat. Sama sekali tidak memikirkan nominal yang diserahkan Andrew tadi. “Hei!” teriak Andrew saat Lea sudah memasuki pintu hotel. Di dekat botol minumnya, Andrew melihat sebuah ponsel. Dia mengambil ponsel itu. “Punya dia nih pasti. Ahh, terkunci.” Andrew pun membawa ponsel Lea yang tertinggal. Dia hendak meminta mamanya mengembalikan ponsel Lea sebab dia tidak mau bertemu wanita itu lagi malam ini. “Bikin emosi aja,” batinnya. Saat berjalan ke kamar orang tuanya, Andrew meneguk setengah air dari botol kecil itu. Lalu, melemparnya ke tong sampah di dekat pintu kamar orang tuanya. Dok! Dok! Pintu kamar terbuka. Andrew menyodorkan ponsel itu pada mamanya. “Ma, nih hape Lea. Mama aja yang kasih ya.” “Lhah, kok Mama? Ayo Mama antar aja,” saran Lies. Lies menutup pintu kamarnya. Dia menggiring Andrew menuju kamar Lea. “Maaa,” rengek Andrew yang tangannya ditarik oleh mamanya. Sampailah mereka di depan kamar 126. Dengan pintu berwarna coklat tua. Dok ... dok ... dok .... Lea membuka pintu kamarnya. Ruangan Lea sudah remang-remang dengan nyala lampu tidur berwarna kuning hangat. Wajahnya sudah memerah sejak beberapa menit yang lalu. “Ini lho, Lea. Ponselmu ketinggalan kata Andrew,” ucap Lies. Dia berdiri dengan memegang daun pintu itu, memberi celah agar Andrew yang memberikan ponsel itu. Saat Lies dan Andrew berdiri agak ke dalam kamar Lea, Andrew merasakan sesak pada celana pendeknya itu. Namun, dia berusaha menahannya. Andrew dengan segera melempar ponsel itu ke ranjang Lea. “Nih ponselmu!” ucap Andrew dengan bekunya. Lea tidak berkutik saat mereka berdua masuk ke kamar. Dia malah sekerjap mengerang pelan. “Mmm.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN