“Love is the flower you’ve got to let grow.”— John Lennon
***
*Dua minggu sebelumnya di Ambarrukmo Plaza*
Ting!
Pintu lift terbuka dan Lea sudah berdiri di basement. Lift ini dekat dengan pintu masuk ke area parkiran mobil. Dia melangkah menuju dimana tempat ia parkir mobilnya tadi. Biasanya, Lea parkir di area Ladies Park. Namun, area parkir khusus itu sudah penuh.
“Eh lhoh kok ini mobil parkirnya kurang maju sih. Kan jadi nutupin mobilku. Nyebai,” gerutu Lea sambil melirik mobil SUV berwarna hitam yang bemper belakangnya menutupi mobil Lea. Terlalu mundur dan mepet ke mobil Lea.
(... Nyebelin)
Mobil Lea berada di pojok area parkir. Tepat di belokan. Ruang kosong di depan mobilnya saat ia datang terbilang luas. Sehingga biasanya akan dipakai ketika parkiran penuh.
Lea memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil Peugeot 207-nya berwarna silver itu. Setelah itu, Lea kembali menapakkan kaki di depan mobil.
Dia menghela napas, “Gimana nih?!”
Goresan kegusaran sangat nampak di bahu Lea. Dia menoleh-noleh mencari petugas parkir di basement ini. Namun, dia tidak mendapati satupun orang menjaga di area ini. Mall ini sedang penuh. Mungkin petugas itu sedang memarkirkan mobil lain.
Karena tidak ada satu manusia pun yang menggagasnya, Lea mencoba menerapkan suatu ide. Mendorong mobil itu.
“Coba deh!”
Mobil itu tidak bergerak sama sekali meski Lea sudah mendorong sekuat tenaga. Sesekali Lea mengintip pada kaca spion sebelah kanan mobil itu. Menunjukkan betapa kesalnya dia.
“Mmm!” Lea mengerang saat mencoba mendorong mobil itu. Sama sekali tidak bergerak. Percuma.
Tangan Lea menggantung di kedua panggulnya. Merasa dibodohi oleh mobil hitam ini. Lea menahan napas emosinya. Dia menyerah dan membuka pintu mobilnya sendiri.
“Sabar ... sabar ...,” gumam Lea dengan tangannya yang memegang setir. Dia sembari mengatur napas.
“Senggol dikit aja gapapa kali ya?” Lea tersenyum licik.
Brum ... brum ...
Lea sudah memantapkan hati untuk nekat menyenggol mobil hitam itu. Suara napas yang keluar dari mulut Lea menandakan bahwa dia sudah siap menekan gas mobilnya.
Bruk! Mobil Lea menyenggol bemper kanan belakang mobil itu. Meski sudah menyenggol, mobil Lea tetap harus mundur sekali lagi untuk di belokkan.
Bruk! Lea menyenggol bemper itu lagi setelah memundurkan mobilnya. Sekarang Lea sudah bisa keluar dari parkiran itu.
“Akhirnya! Eh tapi gimana nasib bemper itu tadi ya?! Semoga tidak kenapa-kenapa.”
Lea mengembuskan napas leganya sambil menyetir ke gerbang keluar dengan mobil matic-nya itu. Meninggalkan mobil hitam tadi dengan bunyi alarm nya. Bodoh sekali Lea ini!
“Makasih mbak,” ujar Lea saat mengulurkan tiket parkir dan uang pembayaran.
Tiang gerbang terbuka. Lea menancapkan gas nya lagi dan pulang ke rumah malam itu.
*Andrew*
Andrew dan ketiga temannya keluar dari bioskop. Dua cewek dan dua cowok, termasuk Andrew.
Satu dari wanita itu memang menyukai Andrew. Tetapi Andrew hanya menganggapnya sebagai teman Indonesianya saja. Tidak lebih. Pikirnya, si wanita terlalu agresif dan berharap padanya.
“Yuk pulang. Aku udah ditunggu sama Papaku. Nanti malam aku mau berangkat ke Bali. Papa ada meeting disana.”
Wanita yang menyukai Andrew itu menyusupkan tangannya ke dalam lengan Andrew, “Aku boleh ikut tidak?”
“Ngapain? Kan itu urusan pekerjaan.”
“Kan nanti kita bisa bersenang-senang di Bali saat ada waktu luang.”
“Lain kali saja,” balas Andrew cuek. Tetapi dia membiarkan tangan wanita itu merangkul lengannya. Hal yang sudah biasa dilakukan saat dia berada di New Zealand maupun saat berkuliah di Australia. Namun, belum ada satu wanitapun yang benar-benar menggugah hatinya. Semua hanya sebatas teman atau pacar sesaat.
Mereka berempat beranjak ke mobil.
Pip. Andrew mematikan alarm mobil yang dari tadi menyala. Semua sudah memasuki mobil tanpa ada rasa aneh yang mengganjal. Andrew menyalakan mobilnya dan menuju ke gerbang keluar.
Dia hendak mengantarkan teman-temannya ke apartemen mereka masing-masing. Di daerah Seturan. Dekat dengan mall ini.
“Andrew! Ingat kan akhir bulan ini Richard dan aku akan segera menikah. Kamu datang lho ya! Gak usah sok sibuk!” pinta Nimas pada Andrew yang sedang menyetir.
“Kamu mau dateng sama siapa, Ndrew? Sendirian?” lanjut Richard dengan tawanya.
“Sama aku lah. Siapa lagi,” celetuk Vera sambil mengusap lengan kiri Andrew.
Andrew hanya tersenyum tipis menanggapi.
“Ni cewek ngapain sih?!” batin Andrew yang mulai risi dengan teman yang dikenalkan Richard padanya itu. Memang sudah biasa bagi Andrew. Tapi entah kenapa semakin tua Andrew semakin risi dengan sikap cewek yang terlalu pede.
Andrew, sudah berusia 32 tahun. Dia sudah mulai mengurangi intensitasnya bertemu dengan wanita yang ganjen. Apalagi yang hanya memanfaatkan wajah bule-nya itu untuk dipamerkan selama dia hidup di Indonesia.
Andrew menepikan mobilnya di depan sebuah apartemen. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu mewah. Cukup untuk para pekerja dan pelajar.
Pintu mobil terbuka. “Thanks ya Andrew! Besok kita main-main lagi!” pekik Nimas seraya menutup pintu mobil.
Vera menepuk pundak kiri Andrew dan berkata, “Makasih ya, lain kali kita berdua aja nggak papa.”
“Lebih seru kalau bareng-bareng kan,” balas Andrew.
“Bye bro!” teriak Richard.
Lalu, Vera juga keluar dari mobil.
Andrew dengan segera menancapkan gas untuk pulang ke rumahnya. Rumah Andrew berada di perumahan yang berada di pinggir Ring Road Utara. Perumahan super elit di Jogja. Perumahan dengan pagar-pagar besar.
Andrew sudah sampai dirumahnya. Mobilnya terparkir di depan pintu masuk rumah. Seperti biasa, Andrew menutup pintu pagarnya menggunakan remote. Saat membalikkan badan hendak memasuki rumah, dia tercengang.
“WHAT THE HELL?!” serunya dengan kemurkaan. Layaknya seorang dewa yang sedang membuat tsunami karena ulah rakyatnya sendiri.
“FCK!”
Dia tidak bisa berhenti memaki-maki siapapun yang berani merusak bemper mobil belakangnya.
“SH*T! Aaargh!!!”
Tangan Andrew mengepal. Seluruh ototnya mencuat karena menahan emosi. Napasnya sangat berat.
“Whoever did this to my car should pay for it!”
(Siapapun yang melakukan ini pada mobilku harus membayarnya!)
Bemper itu benar-benar rompal. Yang paling mengejutkan adalah harga bemper mobil Rolls Royce sama dengan harga rumah. Itulah yang membuat Andrew naik pitam dan tidak berhenti.
Andrew membuka kasar pintu rumahnya. Melemparkan kunci mobil di nakas ruang keluarga lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ada Mama Lies yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
Mamanya Andrew bertanya, “Andrew, ada apa? Kami berdua pulang ke Indonesia kok kamu malah marah gak jelas?”
“Bemper mobilku ditabrak orang, Ma!” teriak Andrew dari beranda lantai dua. Langkah kakinya menghantam lantai marmer ini.
BUK!
Pintu kamar tertutup dengan lantangnya. Andrew memejamkan mata mencoba untuk mengontrol emosinya. Meski begitu, tetap saja ini sudah keterlaluan. Andrew masih berdiri dibalik pintu.