Dua

3608 Kata
Kediaman Utama Rieyu Igarashi, Tokyo. Tahun 2012. “Otou-san, kau ingin membawaku kemana?” tanyaku. Aku baru saja pulang dari sekolah, ayah—dengan wajah datarnya—tiba-tiba memintaku ikut dengannya. Aku bertanya padanya beberapa kali, tapi tak satu pun pertanyaanku dijawabnya. Bahkan saat aku memberi isyarat pada beberapa pelayan dan penjaga agar memberitahuku sedikit bocoran mengenai sikap ayah yang tak biasa, mereka malah menunduk. Sekilas kulihat wajah mereka tampak seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Membuatku jadi bertanya-tanya sendiri, apakah aku telah melakukan kesalahan yang cukup fatal? Sampai semua orang yang ada di rumah harus memasang ekspresi seperti itu saat melihatku? Tapi kenapa? Seingatku semalam ayah dan aku baik-baik saja. Ayah juga membantuku membuat prakarya sekolah, dengan sesekali bercanda dan tertawa lepas. Tadi pagi juga. Sebelum berangkat sekolah, ayah memberiku satu pelukan hangat dan menyemangatiku agar ujian terakhir sekolahku berjalan lancar. Lalu kenapa saat aku pulang, semuanya jadi terasa berbeda? “Naomi,” kata ayah, sedikit mengejutkanku. Langkahnya terhenti di depan gudang tua tak terpakai, yang letaknya berada cukup jauh dari kediaman utama. Aku segera menyahut. “Hai, Otou-san.” “Bagaimana ujianmu di sekolah? Lancar?” Eh? Ayah menanyakan hal itu? Kupikir karena suasana hatinya lagi buruk sekarang, ayah jadi tidak begitu memikirkan sekolahku. “Ayah bertanya padamu, Naomi.” Kata ayah lagi, dengan nada naik satu tingkat dari sebelumnya. Aku tersentak. Dengan sedikit terbata-bata, aku menjawab. “Ha—hai, Otou-san. Aku menyelesaikan ujianku lebih cepat dibanding murid lain. Dan guru juga memuji hasil prakarya yang kubuat bersamamu. Aku juga mendapat nilai paling tinggi di sekolah.” “Souka …” Meski tidak terlalu jelas, tapi bisa kupastikan bahwa sudut bibirnya terangkat. “Kau memang putri kebanggaan Ayah,” imbuhnya lagi. Aku tahu bahwa itu bukanlah pertama kalinya mendengar ayah memujiku. Tapi tetap saja aku merasa senang. “Sebentar lagi kau akan lulus dari sekolah itu. Yang artinya, waktu upacara kedewasaanmu tidak akan lama lagi. Kau pasti sudah sangat menantikannya. Tapi Naomi … ada satu ritual penting yang harus kau lakukan sebelum upacara kedewasaanmu.” “Apa itu, Otou-san?” “Ritual Rewa.” Hah? Re … apa? Kenapa aku merasa seperti baru pertama kali mendengarnya? Aku baru akan mempertanyakan ritual yang dimaksud pada ayah, tapi angin yang berhembus dari dalam gudang saat dibuka, langsung menerpa wajahku dan entah kenapa membuat bulu kudukku meremang. Hawanya yang terasa lembab pun menambah kesan menyeramkan pada gudang itu. Tapi anehnya, barang-barang lama yang sudah tak terpakai lagi, malah ditata cukup rapi. Jadi biarpun sedikit berdebu karena hampir tidak pernah dibersihkan, setidaknya barang-barang atau benda-benda yang tidak—atau mungkin—terpakai lagi, terlihat tidak terlalu berantakan. Ayah masuk terlebih dulu ke dalam gudang, dan aku mengikutinya dari belakang. Saat kami berdua berada dalam jarak enam meter dari pintu masuk, sayup-sayup aku mendengar seperti ada suara gesekan di lantai. Semakin ke tengah ruangan, suaranya terdengar cukup jelas. Dan arahnya berasal dari dalam tirai besar berwarna hitam yang tampak seperti sengaja menutupi sesuatu. “Buka tirainya,” perintah ayah. Aku menurutinya tanpa bertanya terlebih dulu, dan menarik cepat ujung tirai tersebut. Begitu terbuka, aku kembali dikejutkan dengan keberadaan sepuluh ekor wolfdog tengah dirantai di balik kerangkeng berukuran besar. “Otou-san … ini—,” “Ritual yang akan kau jalani sebelum upacara kedewasaanmu.” Ucap ayah, membuatku langsung berpaling cepat dengan mata membulat lebar dan syok ke arah ayah. Ayah tidak sedang bercanda ‘kan? Jangan-jangan ritual yang dimaksud ayah adalah aku harus melawan sepuluh serigala campuran itu? Apa ayah berniat membunuhku sekarang? Meski aku bukanlah pecinta binatang—bulu kucing saja aku alergi—tapi aku tahu tipe binatang seperti wolfdog itu sangat berbahaya. Banyak negara-negara di dunia—salah satunya United State—melarang keras pada warganya untuk memelihara binatang sejenis wolfdog. Itu binatang liar yang mampu membahayakan kehidupan manusia atau makhluk lain diluar rasnya, karena memiliki temperamen yang sangat sulit ditebak. Tapi kenapa ayah justru membawa mereka? Seolah bisa membaca garis-garis kecemasan di wajahku, ayah kembali melanjutkan ucapannya dengan berkata, “Tidak usah cemas putriku. Ritual Rewa hanya ditujukan pada mereka yang memiliki keberanian dan nyali yang sangat besar dari manusia lain miliki. Dalam arti kata, rasa takut akan dicabut dari jiwa mereka. Sebab, untuk bisa terjun ke dunia yang Ayah geluti sekarang, hanya sekedar berani saja tidak akan pernah cukup. Musuh akan selalu mengintai tanpa mengenal waktu dan tempat. Tidak peduli berapa pun usiamu, status, atau jabatanmu, para musuh akan selalu siap menghunuskan senjata mereka. Karena itu diperlukan adanya nyali yang besar dan juga sedikit kegilaan untuk bisa menghadapi semua teror dan perasaan tidak aman akan bahaya yang mengancam dari segala penjuru dunia.” “Karena itu Ayah tidak ingin memaksamu untuk melakukan ritual ini. Kau boleh menolak. Tanggal upacara kedewasaanmu juga akan ayah undur sampai kau siap. Tapi kalau kau masih tidak ingin, Ayah juga bisa membatalkannya. Malah lebih bagus buat Ayah, karena Ayah tidak perlu selalu merasa cemas atau takut jika ada yang menyakitimu di luar sana saat kau sendirian. Kau akan selalu dalam pengawasan dan perlindungan Ayah. Para anak buah Ayah yang sangat setia itu juga bersedia menjadi bodyguardmu dan menjagamu selama dua puluh empat jam tanpa henti. Bagaimana?” Aku terdiam sejenak. Ini bukanlah pilihan yang mudah untukku. Aku tidak ingin mati konyol berhadapan dengan sepuluh wolfdog itu. Tapi aku juga tidak suka jika seumur hidupku harus dikawal tiap kali keluar rumah. Privasiku pasti bakal sangat terganggu. Dan aku juga tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana nikmatnya menghabiskan waktu bersama teman-teman dan juga pacar. Di usiaku sekarang saja teman-teman sekolahku sudah banyak yang punya pacar. Aku? Memang sih, banyak yang suka. Tapi mereka tidak pernah berani melangkah lebih dekat karena tahu latar belakangku sebagai putri dari seorang pemimpin yakuza. Jika seperti itu, hanya ada dua hal yang mungkin bakal terjadi dalam hidupku. Pertama, aku harus pasrah menerima laki-laki yang sesuai dengan pilihan ayah. Yang otomatis tidak jauh-jauh juga dari dunia underground. Kedua, aku akan hidup sendiri hingga akhir hayat. Ahhh, aku tidak mau hidupku berakhir seperti itu! Berarti jalan satu-satunya memang harus mengalahkan sepuluh wolfdog itu. Aku menghela napas panjang. Jalan untuk meraih kebebasan memang tidak pernah mudah. “Aku akan melakukannya.” Kataku pada akhirnnya. Sekarang giliran ayah yang berbalik menatapku dengan tatapan terkejut. “Kau yakin?” Tanya ayah. Aku mengangguk. “Otou-san, aku ini anakmu. Darahmu mengalir di dalam tubuhku. Jadi aku pasti tidak akan mati hanya karena bertarung dengan para wolfdog.” “Ah, begitu … kalau kau memang sudah yakin, Ayah hanya bisa mempercayaimu dan mendukungmu.” “Terima kasih, Otou-san.” Usai berkata seperti itu, aku menaruh tas ranselku—yang sejak tadi belum sempat kusimpan—ke lantai. Berjaga-jaga agar nantinya aku tidak terpeleset saat sudah berada di dalam sana, aku melepas sandal rumah dan juga kaos kakiku. Lalu aku pun berjalan menghampiri pintu kerangkeng yang masih terkunci rapat. Aku meminta pada ayah untuk membuka kuncinya. Anehnya, butuh waktu lama bagi ayah—seolah ragu membiarkanku berada satu kurungan bersama sepuluh wolfdog yang ganas. Tapi aku terus meyakinkannya bahwa aku akan keluar dari kerangkeng itu hidup-hidup. Barulah ayah mau membuka kuncinya. Awalnya, sebelum aku masuk, sepuluh wolfdog itu terlihat tidak begitu memperdulikan atau menganggap keberadaanku. Tapi begitu aku melangkahkan kakiku ke dalam, para wolfdog yang tadinya hanya rebahan santai di lantai, langsung bangkit dengan mode siaga seakan-akan mereka menangkap adanya musuh yang mencoba mengganggu dan mengancam territorial mereka. Di antara sepuluh wolfdog itu, ada satu yang paling menonjol dari semuanya. Dia mengambil posisi paling depan. Mungkin dia Alpha mereka. Sebab postur tubuhnya paling besar dan tinggi. Bulunya juga hitam legam dengan sorotan mata yang sangat tajam. Ada beberapa bekas luka di tubuhnya. Menandakan bahwa wolfdog alpha punya kemampuan bertarung lebih baik dengan tingkat keagresifan serta insting yang sangat berbahaya. Aku harus ekstra hati-hati dengannya. Wolfdog alpha tiba-tiba menyalak garang. Dan seolah itu adalah isyarat untuk menyerang, tiga wolfdog lain yang berada di belakangnya melompat ke arahku. Aku yang masih dalam proses mempersiapkan diri, dibuat terdorong ke belakang hingga punggungku menghantam dinding besi kerangkeng cukup keras. Kedua tangan dan kaki kiriku menjadi sasaran dari gigitan mereka. Aku mengerang kesakitan. Jika kubiarkan terlalu lama mereka menggigitku, bisa-bisa aku mati lebih cepat akibat kehabisan darah. Aku pun memaksakan tangan kananku sekuat tenaga untuk bergerak ke arah wolfdog yang menggigit tangan kiriku, mencengkeram lehernya kuat-kuat, lalu melemparnya. Sempat terdengar suara dengkingan lirih dari wolfdog yang kulempar saat tubuhnya menghantam besi kerangkeng dengan sangat keras, hingga kesulitan untuk bangkit kembali. “Ah, gomen.” Seruku, sedikit menyesal. Harusnya aku tidak melemparnya sekuat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku juga terdesak. Lalu sebelum wolfdog lain ikut menyerangku, aku melakukan hal yang sama pada wolfdog yang menggigit tangan kanan dan kaki kiriku. Hanya saja kali ini aku sengaja menurunkan kekuatanku. Sebab tujuan awalku adalah supaya aku bisa menyelesaikan ritual ini dan hidup bebas. Bukan menyakiti atau membunuh mereka. Belum ada sedetik untuk aku bisa mengatur napas, wolfdog alpha yang sedari tadi hanya memperhatikanku dengan geraman penuh intimidasi, melompat cepat ke arahku. Untungnya instingku langsung bekerja saat itu, hingga aku bisa bereaksi dengan segera merunduk dan rolling ke kanan. Kalau saja ada sesuatu yang bisa kujadikan senjata, aku pasti bisa mengakhiri ritual gila ini dengan cepat. Tapi setidaknya sudah ada tiga wolfdog yang berhasil kubuat pingsan hanya dengan tangan kosong. Tinggal tujuh wolfdog lagi. Sebenarnya ada satu cara yang sempat terlintas di otakku. Yaitu menyerang langsung ke wolfdog alpha. Jika aku berhasil membuatnya pingsan, maka yang lain otomatis akan berhenti menyerangku. Tapi prakteknya tidak semudah itu. Tiap kali aku berhasil mendapat celah untuk melakukan perlawanan balik pada wolfdog alpha, wolfdog lain secara serempak menyerangku hingga aku terpaksa memanjat ke atas kerangkeng demi tidak mati konyol dengan cepat. Jadi mau tidak mau aku memang harus membuat mereka semua pingsan. “Naomi!” Ayah berteriak keras dari luar kerangkeng. “Bukankah Ayah sudah mengajarkanmu tentang bagaimana cara menghabisi musuh secara cepat? Meski manusia dan hewan memiliki struktur tubuh yang berbeda, tapi keduanya sama-sama memiliki kelemahan. Dan satu hal lagi. Untuk berhadapan dengan hewan liar seperti wolfdog, kau harus menjadi gila.” Gila? Maksud ayah, aku harus jadi orang yang tak waras? Ilmu apa lagi sih, itu? Disaat aku lagi berpikir, Wolfdog berbulu coklat keabuan berlari ke arahku dari arah depan. Dengan sigap aku segera bergerak ke samping, mengunci lehernya dan membantingnya ke lantai. Lagi-lagi terdengar suara dengingan kesakitan. Sudah empat yang roboh. Tinggal enam lagi. Aku harus cepat. Aku melompat ke arah wolfdog muda berbulu silver yang berada paling belakang barisan, mencengkeram mulutnya, lalu melilitkan rantainya sendiri ke mulut dan kakinya kuat-kuat. Satu wolfdog yang lain lagi berencana menyerangku dari belakang. Aku langsung berbalik dan menangkap dua kaki depannya, menghempasnya ke lantai, dan mengikat keempat kakinya dengan rantai. Napasku tersengal. Empat wolfdog lagi.  Wolfdog alpha menggeram keras, disusul dengan suara gonggongan yang memekakkan telinga. Mulutnya menyeringai ngeri, menampakan gigi-gigi taring tajamnya. Pertanda ia benar-benar marah dan bersiap mencabik-cabikku saat ini juga. Tanpa diduga wolfdog alpha melakukan serangan bersama dengan tiga wolfdog lain yang tersisa. Aku spontan berlari, memanjat dinding besi kerangkeng hingga cukup tinggi dan melompat salto ke belakang mereka. Kedua tanganku meraih rantai dari tiga wolfdog itu, dan menariknya kuat-kuat. Butuh tenaga kuda untuk bisa menyeret mereka yang terus memberontak, memasukkan rantai-rantai mereka ke celah kerangkeng dan mengikatnya hingga gerakan mereka tertahan. Kedua tanganku bahkan sampai melepuh karenanya. Sekarang yang tertinggal hanya aku dan si wolfdog alpha. Kami dalam posisi saling berhadapan. Seolah sengaja tak ingin memberiku waktu untuk beristirahat sejenak, wolfdog alpha kembali menyerangku. Dan kali ini serangannya terasa berbeda dari sebelumnya. Sangat brutal dan agresif. Tubuhku terdorong dan jatuh ke lantai. Aku kesulitan bergerak. Tubuh besar dari wolfdog itu menindihku. Dua gigi depan berwarna putih pucat tajam yang tergantung di rahang atasnya, dengan panjang setidaknya ada dua puluh sentimeter—nyaris menyentuh bola mataku. Kalau saja aku tak segera menahannya dengan kedua tanganku, mungkin wajahku sudah habis digigitnya. Sekuat wolfdog alpha mencoba menggigit wajah dan leherku, sekuat itu juga aku mencengkeram lehernya dan terus menghindar. Menyadari bahwa posisiku saat ini ada di ambang kehidupan dan kematian, aku mengumpulkan seluruh tenagaku untuk mendorong tubuh wolfdog ke atas—menjauh dari wajahku—lalu menghantam perutnya dengan lututku. Wolfdog alpha terpelanting ke atas kepalaku beberapa meter, memberiku waktu untuk segera bangkit. Kulihat wolfdog alpha tampak sempoyongan. Saat hewan itu mengibas-ngibaskan kepalanya, aku berlari cepat ke arahnya sembari meraih sebuah rantai yang tergeletak di lantai. Wolfdog alpha terkejut melihatku sudah berada di hadapannya dan kembali melayangkan satu pukulan kecil di hidungnya. Hewan itu kembali terdorong. Aku kembali menyusulnya, dan mengikatkan rantai yang kupegang ke lehernya. Wolfdog alpha memberontak hebat. Kekuatannya benar-benar tidak bisa dipandang remeh. Aku bahkan sampai ikut terseret saat wolfdog alpha mencoba melepaskan lilitan rantai di lehernya. Aku juga tidak ingin kalah. Aku sangat benci kekalahan. Karena itu aku memutar tubuhku membelakanginya, mengencangkan peganganku pada rantai, memperkuat otot-otot lengan serta paha di kakiku, dan mencengkram kuat-kuat pijakanku di lantai agar tidak mudah bergeser. Bersamaan dengan teriakanku, aku mengangkat tubuh wolfdog alpha melewati atas kepalaku dan membantingnya ke lantai. Suara hantaman dan gemerincing rantai yang menggema cukup keras di tiap-tiap penjuru ruangan menjadi pertanda berakhirnya perlawanan si wolfdog alpha. Aku mulai memahami maksud perkataan ayah sekarang. Bahwa saat kita berhadapan dengan hewan liar, satu-satunya yang diperlukan agar bisa menang adalah dengan menjadi gila. “Aku … menang …,” ucapku, “aku … akhirnya menang. Anda lihat itu ‘kan? Iya ‘kan? Otou-san—” “Kau berhasil putriku.” Aku tidak sadar bahwa ayah ternyata sudah ada di sampingku untuk menopang tubuhku yang mulai kelelahan. “Kau memang putri kebanggaan Ayah. Kebanggaan klan keluarga kita.” Aku tersenyum mendengarnya. “Apa itu berarti Otou-san akan mengijinkan kebebasanku ‘kan? Aku tidak ingin menjalani hidup yang menyedihkan tanpa teman-teman dan juga ….”   Ayah terkekeh pelan. “Juga apa?” “Itu … rahasia seorang gadis, Otou-san.” Kali ini ayah tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa lebar. Tubuhku sampai ikut berguncang karena tawanya. “Otou-san … aku lelah sekali. Mataku rasanya berat.” Kataku kemudian. Pertarungan barusan cukup menguras energiku. Ditambah aku juga belum makan malam. Perutku keroncongan dari tadi. “Ah, baiklah. Kau tidur saja, sementara Ayah akan menggendongmu ke kamar. Begitu kau bangun, semua makanan kesukaanmu sudah tersedia di samping tempat tidurmu.” Aku tersenyum kembali. “Terima kasih … Otou-san.” *** Nine Tree Premier Hotel Myeongdong 2, Seoul, Korea Selatan. Tahun 2022. “Tiga puluh detik. Akan kubuat kalian semua hilang ingatan.” Para anak buah Bos Besar Cho secara serentak menertawaiku. Mereka benar-benar meremehkanku. Apakah karena aku seorang perempuan? Tidak masalah. Kubiarkan saja kali ini mereka tertawa. Tapi dalam tiga puluh detik ke depan, mereka akan butuh waktu untuk sekedar mengingat namanya sendiri. “Kalau kalian meremehkanku, maka jadinya akan seperti ini.” Dengan secepat kilat aku bergerak ke tempat laki-laki cerewet—yang mengajakku bicara saat di ballroom—dan langsung kuambil sebuah pistol yang terselip di pinggangnya. “Apa yang kau lakukan?” Belum sempat pria itu bereaksi, aku menodongkan pistol yang berhasil kurebut tepat ke arah pelipisnya. “Siapa namamu?” “Ka … kau mau apa? Dan kenapa juga kau bicara tidak formal begitu padaku? Aku ini lebih tua sepuluh tahun darimu. Namaku Lee kyujin.” “Hah?” Mulutku menganga cukup lebar karena saking tak percaya. “Aku kira kau sepantaranku. Kalau begitu, maafkan aku ya, Paman.” “Kau—” Aku menekan semakin dalam ujung pistol ke pelipisnya. “Apa rahasianya?” potongku. “Kau suntik filler, ya? Atau operasi wajah? Bagian mana yang sudah kau operasi? Hidung? Kelopak mata? Bibir? Atau jangan-jangan … kau merombak semua wajahmu?” Kedua mata Lee Kyujin mengerjap beberapa kali. “A … aku … tidak mengerti. Su … suntik apa? Operasi apa? Ini wajah asliku.” Tanpa sadar aku berteriak keras. “Kau jangan bohong. Tidak mungkin kau terlihat semuda itu kalau kau tak melakukan operasi atau suntik filler?” “Ah, itu—” “Hei, kau!” Bos Besar Cho menegur Lee Kyujin dengan suara melengking yang lagi-lagi membuat bulu kudukku merinding. “Apa kau akan bergosip saja di sana seperti perempuan, atau melakukan apa yang kuperintahkan?” Aku memutar bola mataku dengan perasaan bosan. “Apa bosmu memang semenyebalkan itu?” “Jangan bicara sembarangan tentang Bos Besar Cho,” ucap Lee Kyujin, menatapku tak suka. Tangan kanannya tiba-tiba bergerak untuk meraih kembali pistolnya dari tanganku. Tapi itu tidak akan pernah bisa, karena aku bergerak lebih cepat darinya dengan memutar tubuhku dan menempelkan pistolnya di kepala belakangnya. “Kau ternyata setia juga, ya? Bagaimana kalau kau menjadi pengawalku saja?” “Boleh saja. Tapi bayaranku cukup tinggi, loh.” Usai berkata begitu, Lee Kyujin menghempaskan tangan kirinya ke belakang. Aku bergegas menunduk dan lagi-lagi menodongkan pistol di wajahnya. “Kau ini percaya diri juga,” ucapku, tersenyum. “Baiklah. Akan kupertimbangkan setelah melihat kemampuanmu.” Buaakk! Aku menghantam keras hidung Lee Kyujin menggunakan gagang pistol, hingga ia terjungkal ke lantai. Darah langsung mengucur deras dari kedua lubang hidungnya. Tak sampai situ, aku melemparkan pistol yang ke pegang ke arah salah seorang anak buah Bos Besar Cho yang posisinya paling jauh, namun paling dekat dengan Bos Besar Cho. Lemparanku tepat mengenai keningnya, dan membuatnya jatuh pingsan. Senyumku mendadak mekar begitu kulihat keterkejutan di wajah Bos Besar Cho. Ini hanya awalnya saja. Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Belum sempat para anak buah Bos Besar Cho yang lain bereaksi, aku melompat ke arah salah satu dari mereka yang posisinya paling dekat denganku. Meski aku memakai rok denim selutut—padahal ini adalah rok yang baru saja kubeli dari toko terkenal—itu tak menghalangiku untuk bisa bergerak dengan sangat lincah. Aku menendang pistol yang dipegangnya, lalu disusul satu tendangan telak tepat di ulu hatinya. Dia juga pingsan. Aku lalu pindah ke anak buah Bos Besar Cho lainnya. Dibanding melawan sepuluh wolfdog dalam satu kerangkeng, aku rasa mereka bukanlah apa-apa. Rata-rata dari mereka semua masing-masing hanya bisa menerima satu atau dua pukulan saja, untuk kemudian mereka pun roboh. Lalu tak butuh waktu lama akhirnya dalam sekejap semuanya terkapar di lantai. Menyisakan aku dan Bos Besar Cho. Kebanyakan dari mereka cuma bisa mengerang kesakitan sambal memegang bagian tubuh yang terkena pukulan atau tendangan, dan sisanya mereka pingsan tak sadarkan diri. Aku melirik arlojiku. “Dua puluh lima detik. Ya ampun, ternyata lebih cepat dibanding dugaanku.” Selorohku, menatap remeh pada Bos Besar Cho yang mulai cemas dan ketakutan. Sebelum menghampirinya, pandanganku teralih ke Lee Kyujin yang masih terduduk di lantai. Dia juga masih syok. Aku rasa, sakit di hidungnya sudah menjalar ke kepalanya, hingga untuk berdiri pun tak sanggup. Padahal itu baru sekian persen dari kekuatanku yang sebenarnya. Aku berjongkok di hadapan Lee Kyujin dan memberikannya sapu tangan untuk menutupi hidungnya yang masih berdarah. “Aku sebenarnya menyukaimu, Lee Kyujin. Kesetiaan yang kau tunjukkan pada bosmu itu sangat menyentuh hatiku. Jarang ada orang sepertimu. Tapi sayangnya, untuk menjadi pengawal pribadiku, kau harus lebih kuat dariku. Bukan berarti kau lemah. Kau hanya kurang dipoles saja. Dan juga … kau telah salah memilih bos.” “Hei kau!” bentak Bos Besar Cho dengan nada marah. “Apa yang kau lakukan? Kau ingin menghasut anak buahku untuk mengkhianatiku?” Aku bangkit berdiri sembari menghela napas panjang. “Kau ini … apa kau tidak menyadari situasimu sekarang sampai kau berani bicara sekasar itu padaku?” tegasku. “Untuk apa aku bicara sopan pada anak kecil sepertimu!” Bos Besar Cho meludah. “Baru mengalahkan anak buahku saja kau sudah sesumbar. Asal kau tahu saja, aku masih punya banyak anak buah yang bisa menghabisimu dalam sedetik.” “Oya? Kalau begitu kau pasti akan sangat terkejut setelah mendengar kabar ini.” Aku meraih ponselku dan melakukan panggilan video pada Ayumi. Mantan kunoichi yang menjadi buronan karena telah melakukan pembantaian di kantor polres Miyagi. Beruntung ia bertemu ayahku, dan diterima menjadi anak buahnya. “Ayumi-san …,” ucapku begitu panggilanku tersambung dengannya. “Hai, Naomi-dono.” Sahutnya. “Apa ada lagi yang ingin Anda perintahkan pada saya?” “Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu tentang keadaan di sana. Bagaimana? Semuanya sudah beres?” “Nona Muda tenang saja. Saya sudah membereskan semua anak buah Cho Daeho.” Ayumi memperlihatkan situasi di dalam sebuah bar yang dipenuhi dengan para anak buah Bos Besar Cho yang tergeletak pingsan—atau mungkin ada yang tewas—di lantai. Bahkan dari sebagian gedung itu ada yang terbakar. Aku segera memperlihatkan video itu pada Bos Besar Cho. Seketika wajahnya berubah pias, dan jatuh berlutut di hadapanku. “Kau … seperti ayahmu, kau telah menghancurkan apa yang telah susah payah kubangun. Perempuan gila.” Bos Besar Cho terus meracau dengan kepala tertunduk. “Sejak kapan kau—” “Sejak kau mengoceh tidak jelas di depanku. Lagipula kau ini tidak waras, ya?” protesku, sambal berkacak pinggang. “Kau yang memulai semuanya. Aku hanya bertugas untuk mengakhirinya. Jadi jangan salahkan aku, kalau akhirnya kau begini.” Bos Besar Cho tak merespon. Bahunya tampak bergetar. Dan sesekali terdengar suara sesengukan darinya. Dahiku langsung mengerut. “Kau menangis?” “Diam kau, bocah! Atau aku tidak akan mengampunimu.” Benar. Suaranya bergetar. Laki-laki separuh baya itu menangis. Ya ampun. “Berhentilah menangis, Paman,” ucapku, sedikit kasihan. “Kalau kau menghapus airmatamu sekarang, mungkin aku akan mempertimbangkan apa yang kau inginkan.” Bos Besar Cho spontan mengangkat wajahnya yang sudah basah karena ingus dan airmata. “Benarkah?” Aku mengangguk. “Tapi ada beberapa syarat yang harus kau patuhi. Jika kau ketahuan melanggar, bukan hanya bisnismu yang mati. Tapi kau juga akan mati. Bagaimana?” “Setuju. Apa syaratnya?” Aku tersenyum penuh arti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN