Satu

2323 Kata
Seoul, Korea Selatan, pukul 10.45 KST. “Oke semuanya, silahkan baris satu persatu sebelah sini. Satu jam lagi acara akan dimulai. Tapi sebelum itu kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dulu sebelum masuk ke dalam demi keamanan kita bersama. Tolong diharapkan kerjasamanya.” Satu persatu orang-orang yang sejak tadi menunggu dibukanya pintu masuk ke dalam ballroom, mengantri berbaris panjang dan diperiksa dengan sangat teliti oleh beberapa staff dan pihak keamanan. Mereka adalah para Army. Termasuk aku. Dan ini adalah acara fansign BTS pertamaku. Setelah sekian lama hanya bisa memandangi para biasku di layar kaca, sekarang aku bisa ketemu secara langsung dengan mereka. Terus terang aku datang ke tempat ini tanpa sepengetahuan ayahku. Karena kalau beliau tahu, aku akan dimarahi habis-habisan dan dikurung di dalam kamar. Padahal umurku sudah 28 tahun, tapi ayahku masih saja memperlakukanku seperti anak kecil. Tapi ya mau bagaimana lagi? Pesona tujuh pangeran itu benar-benar menghipnotisku. Sampai ayahku yang terkenal paling ditakuti dan disegani pun kuabaikan. Dan, disinilah aku sekarang. Usai melewati antrian yang cukup panjang tadi, aku langsung disambut oleh tujuh buah roll banner ukuran 80 x 200 cm, berderet rapi di sepanjang lorong pintu masuk. Roll banner tersebut adalah foto dari para tiap member BTS. Dan aku memilih berhenti sebentar di hadapan sebuah banner milik Kim Taehyung. Ah, tidak bisa kubayangkan bagaimana reaksiku nanti saat melihatnya secara dekat. Ya ampun, senyum kotaknya itu benar-benar mengagumkan. Bagaimana bisa di dunia ini ada manusia setampan dia? Rasanya bisa mendadak mimisan jika memikirkan nanti aku akan saling berhadapan dengannya. Aku lalu melanjutkan langkahku memasuki ruang utama ball room. Dengan membawa album BTS yang akan aku gunakan untuk menampung seluruh tanda tangan mereka, mataku langsung dimanjakan dengan dekorasi ball room yang begitu megah bernuansa ungu. Seperti lampu kristal yang tergantung di tengah langit-langit dan menjuntai indah ke bawah. Lalu ada berbagai macam spanduk bertuliskan ‘BTS LOVE ARMY—ARMY LOVE BTS—BTS AND ARMY TOGETHER—BORAHAE’, terpasang di setiap dinding ball room. Namun yang terpenting dan paling utama adalah sebuah panggung berkarpet merah dengan satu meja panjang dan tujuh kursi untuk personil BTS telah disiapkan di depan sana. Tujuh pangeran tampannya akan satu panggung dengannya. “Ya ampun, jadi tidak sabar bertemu dengan mereka,” ucapku pada diriku sendiri. Bisa kurasakan bagaimana panasnya pipiku, sementara jari-jariku terasa sangat dingin bagaikan es. “Permisi, boleh saya cek tiketnya?” tegur seorang staff. Lelaki itu masih sangat muda. Mungkin beberapa tahun dibawahku. Ia tersenyum ramah padaku sembari mengulurkan tangannya. “Ah, tunggu sebentar.” Aku mengambil ponsel dari saku celanaku, dan menunjukkan e-mail yang kudapatkan dengan penuh perjuangan beberapa waktu lalu. Di dalam e-mail itulah ada tiket elektrik yang digunakan untuk mengikuti fansign. Tanpa diduga, ekspresi staff itu berubah menjadi terkejut saat mengecek namaku. “Igarashi Naomi?” Aku mengernyit bingung. “Ya? Kenapa?” Staff itu kemudian buru-buru mengembalikan ponselku dan memberi hormat dengan membungkukkan badannya. “Maaf, saya sudah bersikap sangat lancang dan tidak mengenali Anda, Nona.” “Bersikap lancang? Kau kan hanya mengecek tiketku?” Aku semakin tidak mengerti. Dia mengenaliku? “Benar Nona. Tapi itu sebelum saya mengenali Anda sebagai putri tunggal dari Tuan besar Igarashi Rieyu-sama.” “Kau mengenali ayahku?” “Siapa yang tidak mengenal beliau, Nona? Salah satu anak perusahaan beliau adalah sponsor terbesar di setiap acara yang kami lakukan.” Ah, begitu rupanya. Aku mengerti sekarang. Jadi anak perusahaan Ayahku memiliki kontrak kerjasama dengan pihak Hybe Corporation. Tapi perusahaan yang mana, ya? Aku hapal semua perusahaan dan bisnis yang dijalankan Ayah. Mulai dari yang legal sampai illegal. Kok, aku sampai tidak tahu ya masalah itu? Kalau tahu dari awal, aku tidak perlu bersusah payah seperti ini. Aku cukup meminta Ayah untuk mendatangkan BTS secara pribadi ke rumah. Atau mungkin membuat Kim Taehyung menjadi pacarku. ‘Aduh…aku ini memikirkan apa. Aku tidak boleh seperti itu pada bias kesayanganku. Taehyungi, aku minta maaf, ya’. “Kalau Nona berkenan, saya bisa mengatur ruangan VIP agar Anda bisa bertemu dengan para member secara pribadi,” kata staff itu lagi dengan tawaran yang bisa dibilang sangat menggiurkan. Army lain pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Apa aku terima saja, ya? Bayangkan. Ruangan VIP. Hanya ada aku dan mereka bertujuh. Di satu ruangan, tanpa ada pengganggu. Dan aku bisa mengobrol banyak sekaligus melihat lebih dekat dengan mereka. Barangkali saja setelah itu aku dan mereka bisa jadi teman akrab atau mungkin teman spesial, lalu…MENIKAH! Ah…mulai lagi. Aku mana boleh begitu. Kasihan para Army lain jika aku berbuat curang dengan memanfaatkan kekuasaan ayahku. “Aku rasa kau tidak perlu melakukan itu…” kupicingkan mataku pada name tag yang dipakai staff itu. “Han Shinwoo-ssi?” Staff itu kembali menunduk tapi hanya kepalanya saja. “Nona cukup memanggil saya Shinwoo saja.” “Baiklah, Shinwoo,” kataku mengikuti keinginannya. “Aku datang ke sini bukan ingin mendapatkan semua fasilitas khusus dengan menjual nama ayahku. Aku sama seperti Army lainnya. Jadi perlakukan aku seperti kau memperlakukan mereka.” “Jika itu yang Nona inginkan, akan saya lakukan.” “Dan satu hal lagi. Tolong rahasiakan hal ini dari orang lain. Termasuk karyawan Ayahku jika nanti kau bertemu dengan mereka. Soalnya Ayahku tak tahu kalau aku datang ke sini.” “Baik, Nona.” “Terima kasih.” Usai berkata seperti itu, aku pun langsung ke tempat dudukku sesuai yang tertera di tiket. Row C seat 12. Tempat duduk yang sempurna menurutku. Bukan paling depan ataupun belakang. Di tengah-tengah. Jadi aku bisa langsung melihat wajah para member tanpa mendongakkan kepala karena pasti leherku akan sakit, ataupun memicingkan mata sebab kuakui aku sedikit rabun jika jaraknya terlalu jauh. Baru saja kusandarkan tubuhku yang lumayan agak sedikit pegal, muncul empat orang pria bertampang aneh dan mencurigakan duduk mengelilingiku. Awalnya aku mencoba berpikiran positif bahwa mungkin mereka juga ingin meminta tanda tangan BTS. Walaupun sebenarnya siapapun yang melihatnya akan beranggapan tidak wajar. Sebab sudah cukup ketuaan untuk dari segi wajah dan postur tubuh. Sebelah kiriku mungkin mantan atlet judo. Aku merasa seperti anak kecil umur 5 tahun karena saking besarnya tubuh yang dimiliki pria itu. Sebelah kananku justru kebalikannya. Kurus, ceking, tapi berbadan tinggi. Kakinya saja mampu melewati batas kursi di hadapannya. Sementara di depanku, dia punya postur tubuh yang lumayan bagus dari dua orang di sampingku. Tapi sepertinya dia yang paling tua di antara mereka. Ubannya sudah hampir menutupi seluruh kepalanya. Kalau yang di belakang, aku tidak memperhatikan. Namun bisa kupastikan, di antara mereka, yang paling berbahaya adalah pria di belakang. Meski terdengar sedang berbicara—entah di telepon atau dengan seseorang—ada nada ancaman yang tersirat dari perkataannya. Pembunuh bayarankah? Atau anak buah dari saingan Ayah? “Nona Igarashi-san…” Hah? Mereka tahu nama keluargaku? “Aku ingin Anda berjalan ke arah pintu keluar sekarang tanpa menimbulkan kecurigaan.” Pria di belakang berucap secara pelan namun tajam. “Bagaimana jika aku menolak?” ucapku, tak gentar. “Maka kami akan membunuh Anda dan semua orang yang ada di sini.” Todongan pisau dan pistol langsung mengarah padaku dari arah kanan dan kiri. Aku terdiam. Mereka tidak main-main. “Jadi, cepat jalan!” Aku terpaksa mengikuti perintahnya. Saat aku berdiri, pria yang duduk di depanku juga ikut berdiri dan mengambil langkah lebih dulu seolah memberiku isyarat untuk mengikutinya. Lalu disusul oleh tiga pria lain di belakangku dalam jeda waktu lima detik. “Siapa kalian?” tanyaku, begitu mereka membawaku ke tangga darurat dan terus berjalan ke atas. “Dan kenapa kalian membawaku ke tempat sepi seperti ini?” “Anda akan segera mengetahuinya setelah kita tiba di atap.” Aku mencoba tetap tenang. Disaat-saat seperti ini aku tidak boleh melakukan sesuatu secara gegabah. Aku harus berpikir cepat—kira-kira apa yang bisa aku lakukan agar bisa lepas dari mereka tanpa menimbulkan masalah? “Bos Besar…” Aku sampai juga di atap gedung. Pria yang sejak tadi berbicara denganku, melangkah cepat melewatiku dan menghampiri seorang pria lain berbadan gempal dan pendek—sedang berdiri membelakang sambil menghisap sebatang rokok tembakau. Ternyata jika dilihat-lihat pria cerewet itu tidak jauh beda umurnya dariku. Mungkin sepantaran. Dan wajahnya…lumayanlah. Tidak buruk. Lalu setelah dibisiki sesuatu oleh anak buahnya, pria yang dipanggil Bos besar pun berbalik dan memandangiku dengan raut wajah yang mengesalkan. Bos besar itu menatapku dari ujung kaki hingga kepala, dan turun kembali. Seringaian di wajahnya mengingatkanku akan pelaku p*******a yang baru-baru ini dieksekusi mati karena melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan tidak lazim pada anak-anak. Dan itu membuatku bergidik jijik. “Aku tidak tahu kau ini siapa, dan ada urusan apa sampai kau menyuruh anak buahmu untuk mengancamku dan memaksaku ke sini. Tapi…tidak bisakah kau menunggu sampai aku mendapatkan tanda tangan plus foto dari bias kesayanganku?” protesku, kesal. Tidak peduli orang-orang yang di hadapanku saat ini tengah menatapku dengan tatapan intimidasi dan mungkin akan dibunuh oleh mereka, sebagai Army garis keras, aku jelas sangat tidak suka jika ada yang mengganggu kebahagiaanku dengan tujuh pangeranku. Mana sebentar lagi acara fansignnya mau mulai lagi. “Kau tahu berapa lama aku harus menunggu dan tersiksa berbulan-bulan—bertahun-tahun sampai akhirnya aku mendapatkan kesempatan ini? Bahkan untuk bisa sampai ke sini pun aku tidak mudah. Aku memerlukan perjuangan ekstra dengan berbohong pada Ayahku.” Bos besar itu membuang puntung rokoknya dan tertawa. Ya ampun suara tawanya bahkan tidak jauh beda dari keledai. Lagi-lagi bulu kudukku merinding. Dia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk berlutut, sementara dirinya duduk di atas punggung anak buahnya. Ah, kreatif sekali. Boleh tepuk tangan? “Kau terlihat kesal sekali, Nona muda.” Tunggu. Suaranya kok… “Aku tidak tahu kau sangat menyukai BTS, jadi maafkan aku atas kelancangan anak buahku.” “Pppffttt…” tawaku hampir meledak. Kupikir ada yang salah dengan telingaku. Tapi memang suara si Bos besar itu cempreng. Kalau dia bicara lagi, mungkin aku tidak akan bisa menahannya. “Hei, aku sedang mencoba berbicara pelan-pelan padamu. Kenapa kau tak memperhatikan?” Bos besar kesal. “Ah, maaf-maaf. Lanjutkan.” Kukatupkan kedua bibirku rapat-rapat. Aku harus tahan. Tidak boleh tertawa. “Kau mungkin bertanya-tanya alasan anak buahku membawamu ke sini,” Bos besar memicingkan pandangannya saat mendapatiku menutup mulut dengan tangan tiap kali ia bicara. Mungkin sedikit tersinggung? Ia lalu berdehem keras dan melanjutkan kembali perkataannya. “Tapi sebelumya akan kuperkenalkan diriku. Namaku Cho Daeho. Bos Besar Cho. Aku memimpin hampir seluruh kartel narkoba dan obat-obatan di negeri ini. Karena pekerjaan dan jabatan yang kumiliki, aku mengenal Ayahmu, Igarashi Rieyu. Kami berdua bahkan dulunya adalah teman dekat.” Hah? Laki-laki menjijikkan seperti dia pernah jadi teman dekat Ayahku? Yang benar saja. Jika keduanya disandingkan, maka akan terlihat lebih jelas bahwa Ayahku majikan kelas atas dan dia bawahan kelas rendahan. Laki-laki ini pasti bisanya hanya bermulut besar. “Tapi beberapa tahun setelahnya, Ayahmu malah berbalik mengkhianatiku dan menusukku tanpa ampun. Rieyu menghancurkan usaha yang telah susah payah kubangun dengan membuatku dijeblos ke dalam penjara.” Bos Besar Cho menggeram marah. “Lalu dengan tidak berperasaan, ia malah mengambil alih bisnisku dan mengubahnya menjadi miliknya.” “Lalu apa yang kau inginkan dariku?” tanyaku, yang akhirnya bisa juga kukendalikan hasratku untuk tertawa. “Kau punya masalah dengan Ayahku. Bukan aku.” “Kudengar kau adalah putri kesayangan Rieyu. Jadi…” “Kau akan menggunakanku untuk menghancurkan Ayahku?” aku menyela, yang kemudian disambut dengan suara tepuk tangan dan senyum lebar Bos Besar Cho. Aduh please, jangan senyum. Aku jijik bodoh. “Kau memang putri kebanggaan Klan Igarashi. Kau bisa mengerti dengan cepat apa yang aku inginkan.” Begitukah? Ahh, rasanya aku benar-benar ingin tertawa. Dia pikir Ayahku bisa semudah itu dipancing? “Bos Besar Cho…” panggilku kemudian, membuat perhatiannya kembali teralih padaku. “Apa kau tahu penyebab Ayahku bisa menempatkan dirinya dalam posisi teratas dalam waktu yang sangat lama? Atau kau pernah dengar kalimat ‘The Godfather?’, ‘Capo di Tutti Capi?’, ‘Bos dari semua bos?’—Ayahku mendapat semua gelar itu karena dirinya selalu melangkah seratus ribu kali lebih cepat saat para musuh atau saingannya baru sepuluh langkah.” Bos Besar Cho bergeming. “Apa kau pikir Ayahku akan berani membiarkanku berkeliaran diluar—sementara dirinya sadar bahwa banyak musuh yang menginginkan kehancurannya—tanpa mewariskan apapun padaku?” Jika memang itu yang dipikirkan, maka dia salah besar. Aku tidak menjadi putri kesayangan Ayahku dan kebanggaan Klan Igarashi dengan tanpa alasan. “Itu berarti…” Bos Besar Cho bangkit, memberi isyarat pada seluruh anak buahnya untuk mengepungku. “Kau telah memberiku pilihan yang sebenarnya sangat ingin kuhindari. Karena bagaimana pun kau adalah putri dari teman lamaku. Aku tak ingin bersikap kasar atau menyakitimu. Tapi ternyata kau juga sama keras kepalanya dengan Ayahmu. Apa boleh buat. Aku harus mendisiplinkanmu supaya kau mengerti.” Kusimpan album BTS yang sejak tadi kupegang ke dalam tas, dan menutupnya rapat-rapat agar tidak terlempar jika nanti aku harus menghajar mereka semua. Soalnya album itu lebih berharga dari nyawaku. Ah, tidak. Jika nyawaku melayang maka aku tidak akan bisa bersama Kim Taehyung. Intinya album itu adalah benda kesayanganku. Takkan kubiarkan sesuatu membuat album itu rusak atau lecet. Oke. Sudah aman. Sekarang majulah kalian semua. “Kalian dengar ini baik-baik. Aku membutuhkan perempuan itu hidup-hidup.” Bos Besar Cho berseru di belakang anak buahnya. “Lakukan apapun untuk membuatnya tunduk, tapi jangan membunuhnya. Kalian mengerti?” “Mengerti, Bos!” Senyuman asimetris terpasang begitu saja di wajahku saat mendengar Bos Besar Cho tampak sangat meremehkanku. Apa dia tidak tahu? Kalau Ayahku disebut-sebut sebagai naga besar yang membuat orang gemetar ketakutan saat melihatnya, maka aku adalah badai yang mampu menyapu dan menghancurkan segala hal di sekitarku. Jumlah mereka ada dua puluh orang. Butuh waktu lama jika aku harus menghajar mereka satu persatu. Sementara acara fansign akan mulai lima menit lagi. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa menghajar mereka semua sekaligus atau membuat mereka cepat tumbang dan pingsan. Sejurus kemudian, aku langsung teringat akan ritual gila yang kulakukan sepuluh tahun lalu. Aku menyebutnya ‘Ritual Rewa’. “Tiga puluh detik.” Kataku tiba-tiba, menghentikan langkah mereka yang semakin dekat ke arahku. “Akan kubuat kalian semua hilang ingatan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN