29. Pengakuan

820 Kata

Alice menatap sekitar. Hanya kegelapan, tanpa cahaya, kosong. Hawa dingin menusuk tulang, membekukan. Oksigen seolah sedang direnggut paksa darinya. Sesak. Tubuhnya melemas. Lalu, kilasan mengerikan itu datang lagi. Berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Merobohkan benteng pertahanannya, menarik tubuh Alice dalam pusaran hitam berbalut kegelapan. Tubuhnya seolah bukan menjadi miliknya lagi. Pasrah. Terseok-seok dalam gulungan awan hitam. Lalu, suara tangisan menyayat hati itu datang lagi. Serak mendayu bagai melodi kematian, rintih menyiksa bagai tersayat sembilu. Tenggorokan Alice tercekat. "Kakak... lepasin aku... " Siluet itu datang lagi. "Kakak mau apa? Aku ingin pulang Kak, aku rindu Bunda." Kepala Alice berdenyut lagi. Seperti ribuan jarum sedang ditancapkan dalam k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN