Bulan Merah Jambu

2003 Kata

Meidinda Rajingga Hapsari   Berdiri di depan kaca ketika pintu kamar hotelku terbuka. Aku masih tidak percaya dengan penampilanku. Benar-benar berbeda dengan tampilan keseharianku. Sebenarnya aku tidak suka tampil seperti ini. Bukan aku sekali. Aku lebih suka tata rias yang natural. Tapi untuk mengubahnya sudah tidak mungkin, waktunya mepet dengan pelaksanaan resepsi. Pak Alan, Mamah, Pakde, ibu, dan ayah masuk ke kamar tempat aku dirias. "Iga, sudah siap Nduk? " tanya ayah. " Siap Yah" Aku membalikkan badan. Ruangan hening seketika. " Iga, kamu cantik sekali," kata ibu mertuaku dan aku hanya tersenyum mennaggapinya. " Ehm.... " ayah berdehem. Pakde Purnomo menepuk punggung Alan dan berseru : " Jemput istrimu. " " Oh.. Iya, “ Pak Alan kaget dan langsung menghampiriku. " Yang kuat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN