TTU | 3

1057 Kata
Riko duduk di tepi tempat tidur dengan kedua tangan berkali-kali mengusap wajahnya. Renata duduk menyandar pada sandaran tempat tidur dengan ringisan yang memancing emosinya. Dia tak suka melihat Renata kesakitan hanya karena anak itu. Membanting gelas berisi air yang berada di nakas, dia mengerang penuh emosi. Mengabaikan Renata yang terperanjat dan menggigil ketakutan. Dia hanya ingin Renata menjadi miliknya tanpa harus ada anak itu. Dia tak butuh anak itu, dia hanya butuh Renata. Hanya Renata, berdua tanpa adanya anak itu. Dia menginjak pecahan gelas itu dengan kaki tanpa alas sehingga darah merembes keluar begitu deras. Seolah tak merasakan sakit apa pun, Riko tetap menginjak pecahan gelas itu hingga akhirnya Renata turun tangan. "Riko, jangan seperti ini," lirih Renata meremas lengan kanannya. Dia menoleh dan menatap wajah basah Renata menatapnya memohon. Dia menghempas kasar tangan Renata yang berada di lengannya. Dia mendorong tubuh Renata hingga membentur tembok. Lagi. Dia melihat wajah kesakitan dengan satu tangan memegang bawah perutnya dan satu tangannya lagi menyentuh nakas sebagai penopang. Dia mendekati Renata dengan kedua kaki berlumur darah. Seolah tak merasakan sakit apa pun, karena yang jauh lebih sakit adalah, hatinya. "Gugurkan kandungan itu dan hidup bersamaku," gumamnya sembari mengusap lembut dagu Renata dengan tatapan berkilat penuh amarah. Renata terisak. Dia menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sakit di bawah perutnya akibat dorongan Riko yang tak main-main itu. Dengan tangan bergetar, dia meraih tangan Riko yang berada di dagunya dan meremasnya dengan perasaan hancur. "Aku menyayangi anak ini. Jika kamu masih bersikeras melenyapkan anak ini, bunuh aku. Bunuh aku, Riko. Biarkan aku pergi dengan tenang bersama anakku. Bun ... RIKO JANGAN LAKUKAN INI!" Tiba-tiba Renata memekik ketika Riko membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dan meraih kepingan gelas yang diarahkan ke perutnya. Dia langsung beringsut menjauh dan sialnya, Riko menarik kedua kakinya membuatnya tak bisa lagi menjauh. Dia terisak dengan kedua tangan berusaha meraih kepingan gelas yang berada di tangan Riko. Dia tak mau kehilangan anak yang begitu dia nantikan kehadirannya. "Riko, aku mohon ... jangan lakukan ini," lirihnya yang kini berhasil meraih tangan Riko yang menggenggam pecahan gelas. "Dia anak kamu. Darah daging kamu, Riko," lirihnya berusaha keras menahan tangan Riko untuk tidak menusuk perutnya dengan kepingan gelas. "Aku mencintaimu, tapi tidak dengan anak itu, Renata." Renata menggeleng. "Apa alasannya kamu membenci anak ini, Riko? Apa? Anak ini tidak bersalah." Riko menggeram dan langsung mencengkeram rahang Renata. "Karena ... adanya anak itu menjadi penghancur untukku." Renata menatap Riko tidak percaya. Tak mengerti lagi apa yang ada di pikiran Riko. "Apa alasannya? Kamu selalu bersikeras melenyapkan anak ini tanpa ada penjelasan. Di sini, aku jadi sadar kalau kamu tidak waras. Membunuh anak yang tidak berdosa ini." "Belum saatnya kamu tahu. Karena yang terpenting adalah, kamu harus menjadi milikku tanpa adanya anak itu." "Aku gak tahu apa yang ada di pikiran kamu. Anak ini darah daging kamu dan kamu ... aku tidak tahu lagi harus dengan cara apa aku mencegahmu untuk tidak bersikeras melenyapkan anak ini. Aku cuma mau bilang, entah apa yang kamu rahasiakan, aku sama sekali gak peduli. Aku hanya ingin hidup bersama anakku, sekalipun tanpa kamu. Aku bisa menjadi sosok ayah untuk anakku kelak. Aku tak butuh peranmu. Jadi, aku mohon, lepaskan aku. Bukankah kamu sudah bertunangan? Lalu, kenapa kamu masih mengejarku? Apa kamu tidak memikirkan perasaan tunanganmu setelah mengetahui seperti apa kelakuan tunangannya?" Riko bungkam. Tangan yang mencengkeram pecahan gelas terlihat lemah dan jatuh di sisi tubuh Renata. Renata menahan d**a Riko yang kembali menimpanya dan membuat perutnya terimpit. Renata mencoba menahan erangan kesakitan ketika merasakan tendangan dari dalam perutnya serta berat badan Riko yang semakin menambah rasa sakit pada perutnya. Air matanya mengalir tanpa suara. Kedua tangannya masih menahan d**a Riko agar menjauh darinya karena ini benar-benar menyakitkan untuknya. Namun tiba-tiba, dia semakin merasa keberatan ketika kepala Riko jatuh di samping kepalanya dan merasakan nafas lelaki itu memburu diikuti erangan yang membuatnya kontan meraih kepala Riko. "Riko!" Renata panik. Riko memejamkan matanya dengan wajah pucat. Susah payah dia menyingkirkan tubuh Riko dari atas tubuhnya hingga setelah menempuh waktu lama, dia berhasil menyingkirkan tubuh Riko. Dia terduduk dan langsung meletakkan kepala Riko ke pangkuannya. Air matanya terus mengalir setelah melihat kedua kaki Riko yang berlumur darah hingga mengenai seprei yang berwarna putih. "Riko, bangun," lirihnya dengan satu tangan menepuk pipi Riko. Kedua tangannya bergetar ketika meletakkan kepala Riko ke bantal. Dengan langkah tertatih sambil menahan sakit di perutnya, dia mengelilingi apartemen Riko mencari kotak p3k untuk mengobati luka lelaki itu. Bahkan, darah Riko juga mengotori bajunya membuatnya ingin muntah. Sejak hamil, dia menjadi begitu sensitif dengan bau darah, meskipun usia kandungannya memasuki 7 bulan. Setelah mendapatkan kotak p3k, dia kembali ke kamar dan terkejut melihat Riko membuka matanya sambil mengerang kesakitan. Lelaki itu berusaha bangkit dari posisi berbaringnya dan dengan sigap dia menghampiri Riko. Dia membantu menyandarkan punggung Riko ke sandaran tempat tidur. "Lepas!" sentak Riko menepis tangannya. Renata duduk di samping kaki Riko. Kedua tangannya membuka kotak p3k dan mengeluarkan kapas serta antiseptik untuk membersihkan luka Riko. Namun yang terjadi adalah, Riko menendangnya dan mengenai perut bagian bawahnya. Nyeri. Renata berusaha kuat dan dengan satu tangannya menahan kaki Riko. Dia meletakkan kaki Riko di pangkuannya sehingga mempermudah kaki Riko menendang perutnya. Namun dengan cara bodoh, dia menekan kaki Riko ke perutnya sehingga pergerakan Riko terbatas. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan ringisannya agar tak terdengar. Setelah menempuh waktu yang cukup lama dan rasa sakit tak berkesudahan, akhirnya Renata berhasil mengobati kedua kaki Riko dan membalutnya dengan perban. Dia menjauh dari Riko dan sesekali menarik nafas panjangnya karena sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Demi apa pun, hanya takut yang dia rasakan saat ini. Takut kehilangan anaknya. Apalagi dorongan Riko membuat perutnya sakit luar biasa. Kedua tangannya meremas seprei sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Kepalanya tertunduk dan memperhatikan kakinya yang menekan lantai karena sakit di perutnya seperti menarik paksa seluruh raganya. Dan tiba-tiba, dia memekik ketika merasakan tubuhnya diangkat. Yang terjadi setelahnya adalah, dia menahan nafasnya ketika merasakan nafas hangat Riko menerpa permukaan lehernya. Dia berontak, namun Riko semakin merapatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya. Dia duduk dengan gelisah di pangkuan Riko. Dia ingin pulang. Dia tak mau berlama-lama bersama Riko. Namun yang terjadi adalah .... "Biarkan seperti ini untuk sesaat," bisik Riko yang mampu meruntuhkan segala pertahanannya. Sehingga yang dia lakukan adalah, berusaha tenang duduk di pangkuan Riko dengan kepala lelaki itu berada di lehernya dan kedua tangan lelaki itu memeluknya erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN