TTU | 2

1218 Kata
Renata menutup kasar pintu kontrakannya ketika terdengar deru mesin mobil milik Denis meninggalkan kontrakannya. Menyandarkan punggung ke pintu, tubuhnya merosot ke lantai dengan kedua tangan bergetar. Bahkan, dia melupakan masalah martabak yang begitu dia inginkan yang kini tergeletak naas di lantai. Pikirannya kacau dan kekacauan lagi-lagi berasal dari orang-orang di masa lalunya. Dia ingin hidup dengan tenang bersama calon anaknya tanpa bayang-bayang masa lalu yang begitu menyakitkan. Tapi ... kenapa takdir seolah mempermainkannya? Denis ... lelaki itu ... dia tidak menyangka Denis akan seperti ini padanya. Laki-laki itu benar-benar mengusik hidupnya dengan ucapannya yang membuatnya ketakutan seperti ini. Menunduk, dia menatap perut buncitnya dan kedua tangan memeluk perutnya dengan rasa sakit yang tak berkesudahan. Dia tak mau lagi kembali terjebak pada masa lalu. Tapi kenapa ... takdir membawanya kembali berjumpa dengan orang-orang di masa lalunya? Denis ... lelaki itu, dia harus menjauhi lelaki itu. Sebab, lelaki itu ... dia tak mau mengingat apa saja yang Denis katakan padanya. Yang jelas, semua menyakitkan untuknya. *** Seperti biasa, Renata memulai paginya dengan memasak makanan sehat untuknya dan calon anaknya. Namun, pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya ketika mendengar ketukan pintu yang ternyata ... Denis. Lelaki itu bertamu di pagi hari membuat sekujur tubuhnya gemetar. Masih berdiri di ambang pintu, dia mempersilakan Denis duduk di kursi teras sebelum pada akhirnya dia menyusul Denis duduk kursi yang berseberangan dengan lelaki itu. "Ngapain ke sini pagi-pagi?" tanyanya setenang mungkin, seolah apa yang Denis katakan semalam tak mempengaruhinya. Denis menatap tepat ke iris matanya membuatnya kontan menunduk dan menatap lurus ke lantai. Untuk sekarang, entah kenapa tatapan Denis merupakan ancaman baginya membuatnya berusaha keras untuk tidak bertemu tatap dengan lelaki itu. "Katanya, buah-buahan baik buat ibu hamil. Kebetulan ... ah, sengaja maksudnya, aku beliin kamu buah-buahan supaya kandungan kamu sehat tanpa kekurangan gizi." Renata menerima kantung plastik putih yang Denis sodorkan. Dia memangku kantung plastik berisi buah-buahan itu dengan perasaan tak karuan ketika tatapan Denis enggan beralih padanya. Ah, mungkin lebih tepatnya pada perut buncitnya. Sebisa mungkin dia bersikap tenang seolah tak terganggu sedikit pun pada apa yang Denis lakukan. Dia tetap menunduk hingga di detik selanjutnya dia dikejutkan ketika untuk yang ke sekian kalinya tangan Denis mengusap perutnya membuatnya membeku untuk sesaat sebelum pada akhirnya berdiri dan menjauh. "Kenapa?" tanya Denis dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Terkesan dibuat-buat dan mengandung sesuatu yang tak baik untuknya. "Oh ya, Riko masih ada di kota ini. Aku cuma mau berpesan aja, jangan keluar rumah karena sesuatu yang tak disangka-sangka biasanya terjadi dalam hidup kita." Renata meneguk kasar ludahnya. Berusaha tenang meski reaksi tubuhnya tak menggambarkan yang namanya tenang. Mendengar nama lelaki yang menanam benih di rahimnya itu membawa efek dahsyat baginya membuat sulit berkata-kata. Masih teringat dengan jelas perbuatan b***t Riko padanya di malam yang kelam itu. Semua tersimpan rapi dan menyisakan luka yang sangat baginya. "Terkadang, sesuatu yang kita hindari justru berada dekat dengan kita. Cara satu-satunya adalah, waspada." Renata mengernyit mendengar ucapan Denis. Apa maksudnya? Kenapa ucapan Denis seolah menyampaikan sesuatu yang penting untuknya. Tapi ... apa? Riko? Rasanya tak mungkin. Lelaki telah merangkai hidupnya bersama tunangannya yang katanya merupakan sosok idaman Riko. Apalah dirinya yang mendapat kesialan karena mengandung benih dari lelaki itu yang ingin dilenyapkan oleh lelaki itu, Riko. "Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik." Renata tersentak ketika tangan kekar mengusap pipinya dan yang terakhir ... kecupan di perut buncitnya yang sukses membuat sesuatu di dalam perutnya bergerak. Ditatapnya Denis yang tersenyum tipis dengan tatapan lurus ke perutnya. Tatapan yang sangat mengganggunya karena tatapan itu tak pantas Denis perlihatkan. *** Berkali-kali Renata mengecek ponselnya untuk memastikan jika semua kebutuhannya telah dia masukan semua pada troli. Dalam keadaan hamil seperti ini, sulit untuknya membeli kebutuhannya seorang diri, namun apa boleh buat, takdir mengharuskan hidup sendiri, jauh dari keluarga dan tanpa pasangan hidup. Pasangan hidup? Terdengar aneh. Lelaki mana yang mau padanya yang hamil dari lelaki tak bertanggung jawab. Satu banding seribu untuk mendapatkan lelaki yang menerimanya apa adanya. Sulit dan nyaris tak ada. Semua mengejar kesempurnaan hingga melupakan jika kesempurnaan hanya milik sang pencipta. Kembali mendorong troli menuju kasir, tiba-tiba dari arah berlawanan trolinya menabrak troli milik seseorang yang membuat beberapa belanjaannya terjatuh karena benturan yang cukup keras dan membuatnya terhuyung ke belakang dan menabrak lemari pendingin. Ketika punggungnya membentur lemari pendingin, detik itu pula kedua tangannya langsung memeluk perut buncitnya. Takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Apalagi ingatan di masa lalu ketika Riko mendorongnya yang membuat darah keluar dari pangkal pahanya menjadi ketakutan tersendiri untuknya. Dia tak mau kehilangan sesuatu yang dititipkan oleh sang pencipta. Tak peduli jika anak yang dikandungnya hadir dengan cara yang tak semestinya. Sibuk pada pikirannya yang berambisi melindungi kandungannya, dia tak sadar jika seseorang yang tak sengaja bertabrakan dengannya menatapnya lekat dengan sorot tak terbaca. Hingga beberapa saat, dia dikejutkan dengan kedua tangan menahan kedua bahunya. Ketika dia mendongak, tatapannya langsung bertemu dengan sorot mata yang menjadi mimpi buruknya. Lelaki itu .... Dan, kenapa dunia sesempit ini?! "Renata, i got you," bisik lelaki itu yang membuat tubuhnya mati rasa ketika tubuh tegap itu membawa tubuhnya ke dalam gendongannya. Ketika dia hendak berontak, suara berat lelaki itu memerintahkan karyawan supermarket untuk mengemasi belanjaan yang dia beli setelah menyerahkan kartu debit pada kasir. "Riko ... turunkan aku," gumamnya lirih dan memukul pelan d**a bidang Riko yang mengabaikan berontakannya membuatnya dilanda rasa takut. Takut karena lelaki itu menemukannya dalam keadaan hamil. Tak keguguran. "Riko ... aku mohon ...." "Anak itu belum lenyap. Aku tak akan tinggal diam. Cukup dahulu aku dibodohi olehmu, tidak untuk sekarang," geram Riko yang langsung membanting tubuh Renata ke dalam mobil dan dengan cepat mengitari mobil sebelum pada akhirnya duduk di belakang kemudi. Riko mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Renata dengan penuh paksaan. Hingga tak lama setelah itu, mobilnya berhenti di sebuah apartemen mewah miliknya. Apartemen yang dia tempati selagi dia berada di kota yang menjadi tempat tunangannya berasal. Tanpa mengucap apa pun, Riko kembali menggendong Renata. Dengan langkah tergesa-gesa, Riko membawa Renata ke dalam apartemennya dan mengunci apartemennya sehingga tak ada harapan lagi untuk Renata selain pasrah menerima hukuman apa yang akan Riko berikan. "Riko ...." Renata menahan d**a Riko ketika Riko memosisikan tubuh tegapnya di atas tubuhnya. "Permainanmu cukup sampai di sini. Dan, cukup sampai di sini aku menjadi orang bodoh dengan mempercayai ucapan keluargamu. Sekarang, terima aku dan jangan halangi aku untuk melenyapkan anak ini." "Arghh ... Riko ... jangan ...." Renata menjerit ketika Riko meremas perutnya yang memberikan rasa sakit untuknya. Dia menggeleng dengan air mata yang berjatuhan karena rasa sakit di perutnya dari luar dan dalam. Riko yang meremas perutnya dan anaknya di dalam sana menendang, seolah tak terima atas perlakuan ayahnya. "Lihat, gara-gara anak itu kamu menjadi sangat menyedihkan seperti ini," Riko mengusap air mata Renata dan menempelkan keningnya dengan kening Renata membuatnya bisa melihat jelas raut kesakitan Renata. "Riko ... aku mohon ... hentikan ...." Riko menurut. Dia menghentikan dan menjauhkan tangannya dari perutnya. Ditatapnya wajah basah Renata yang tengah mengatur nafasnya. Tersenyum tipis dan tanpa mengucap apa pun, dia langsung menekan tubuh Renata dengan tubuhnya membuat perut buncit Renata bersentuhan dengan perut sixpacknya. Ditatapnya wajah Renata yang kembali meringis. Air mata kembali jatuh dan dia merasakan kedua tangan perempuan itu melingkari lehernya hingga di detik selanjutnya, dia tertegun melihat Renata yang menyembunyikan wajahnya di lehernya sebelum berkata, "Kumohon, hentikan. Ini menyakitkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN