Renata meringis ketika merasakan tendangan di dalam perut besarnya. Dia tersenyum dan satu tangannya mengusap perut besarnya dengan tatapan haru. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat hingga kandungannya menginjak usia tujuh bulan.
Dia bahagia. Namun merasa terancam karena dari dua bulan lalu hingga saat ini, dia menjadi incaran dua orang yang bersikeras menggugurkan kandungannya. Neneknya dan ... lelaki yang menghamilinya. Hidupnya semiris ini.
Tersenyum kecut, dia menatap perutnya dengan penuh sesak. Tak lama lagi, anaknya akan lahir ke dunia dan menerima kenyataan jika tak ada figur ayah dalam hidupnya. Dia tak sabar menanti kehadiran anaknya, namun juga takut jika kehadiran anaknya dijadikan bahan perbincangan tetangga yang menerka-nerka jika anaknya merupakan anak haram atau semacamnya.
Dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Apa pun akan dia lakukan selagi itu bisa membuat anaknya bahagia.
Di sini. Dia sendiri. Dia tinggal jauh dari keluarganya, meski tak jarang Mama Risma, Mama Mia, Papa Bimo dan kedua Kakaknya mengunjunginya yang tinggal di sebuah kontrakan luas yang letaknya jauh dari kota tempatnya dilahirkan. Ya, dia diasingkan untuk menghindari Riko dan Neneknya.
Sehingga, dia di sini berjuang sendiri untuk anaknya. Anaknya pantas hidup di dunia, entah dengan cara apa anaknya hadir dan tumbuh di rahimnya.
Ponselnya berdering memperlihatkan satu notifikasi dari Kakak laki-lakinya, Ali. Ketika dia membaca pesan dan gambar yang Ali kirimkan padanya, dia tersenyum cerah dan turut bahagia setelah mendapat kabar jika kakak perempuannya, Prilly melahirkan dan anaknya berjenis kelamin laki-laki. Jagoan lagi.
Langsung saja dia menghubungi Ali dengan video call hingga di dering ketiga, muncullah sosok wanita berhati malaikat yang tanpa henti dia kagumi karena kesabarannya yang luar biasa. Terlihat Prilly tengah menyusui jagoannya itu sembari tersenyum padanya. Dia membalas senyum itu dengan mata berkaca-kaca. Di sana terlihat keluarganya berkumpul dan di situ, hatinya menjadi sesak karena hanya dirinya yang tak ada di tengah-tengah mereka. Dia ... sendiri di sini. Bersembunyi dan menjauh dari Riko.
"Re, kamu sehat-sehat aja kan, di sana?"
Renata tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada layar ketika suara lembut Prilly menyapanya.
"Aku sehat di sini, Kak. Omong-omong, selamat ya buat Kakak dan Kak Ali. Alhamdulillah ya, dapet jagoan lagi biar Raihan ada temennya kalo lagi pengen main bola."
Prilly yang berada di seberang sana terkekeh dan dia pun ikut terkekeh, turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Kakaknya.
"Kamu ... jangan takut sendiri di situ. Di situ aman, gak ada ...."
Dengan cepat dia menyela sebelum Prilly menyebut nama yang sama sekali tidak ingin dia dengar, "Aku gak akan takut, Kak. Aku yakin, di sini aku aman."
"Sudah dulu ya, Re. Kakak mau nidurin baby boy dulu. Lanjut nanti ya, sekalian Kakak mau kasih tahu ke kamu seperti biasa, seputar kehamilan."
Renata terkekeh mendengar itu. Memang benar, Kakaknya itu sering memberitahunya seputar kehamilan yang membuatnya tak perlu repot-repot mencarinya di media pencaharian.
"Aku tunggu ya, Kak. Kakak dan semua sehat selalu," ujarnya yang menjadi penutup sebelum sambungan diputuskan.
***
Pada malam harinya, tepatnya pukul tujuh, Renata duduk gelisah di sofa yang berada di ruang tamu kontrakannya. Sedari tadi anaknya terus menendang membuatnya meringis disela-sela kebahagiaannya melihat betapa lincahnya sang anak di dalam perutnya.
Menatap ke luar jendela, entah kenapa dia ingin menyantap martabak yang berada jauh dari kontrakannya. Katakan saja dia tengah mengidam dan dia menginginkannya detik ini juga.
Berdiri dari duduknya, dia melangkah memasuki kamar dan meraih jaket tebal yang membungkus tubuh melarnya. Dia keluar kontrakan dan berjalan kaki menuju tempat penjual martabak yang saat ini dia inginkan.
Langkahnya begitu pelan di malam yang dingin. Kedua tangannya memeluk perut besarnya ketika jaket yang dia kenakan tidak menutupi perutnya. Beberapa menit kemudian, dia sampai di tempat yang menjual martabak yang dia inginkan. Memesan martabak, dia mengambil duduk di kursi plastik yang disediakan. Menatap kosong ke jalan raya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan tarikan pada tangannya yang kontan membuatnya berdiri dan memberi jarak setelah tahu siapa orang yang telah menarik tangannya itu.
Denis.
Adik dari lelaki itu ....
Bagaimana bisa?
"De ... Denis?"
Denis tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya ke arahnya.
"Hai. Lama gak ketemu. Apa kabar?"
Menormalkan ekspresi wajahnya, dia tersenyum tipis, "Aku ... baik."
Tatapan Denis jatuh pada perutnya membuatnya merapatkan jaket yang dipakainya namun sia-sia karena jaket yang dia kenakan kekecilan.
"Jangan dipaksa, kasihan anaknya," tiba-tiba Denis menahan pergerakannya dan mengembalikan letak jaket sebelum dia coba untuk menutupi perutnya.
Dia memundurkan langkahnya. Jantungnya berdebar karena dia dikabarkan keguguran karena kejadian dua bulan lalu. Dan sekarang, dia dipertemukan dengan adik dari lelaki yang menjadi ayah dari anaknya.
"Jadi ... kamu gak keguguran?" Denis tertawa dan menatapnya penuh arti sebelum berkata, "Kerja bagus. Setidaknya Riko gak gila lagi buat gugurin kandungan kamu."
Renata terperanjat ketika tangan Denis mengusap perutnya.
"Berapa usianya?" tanyanya dengan lembut.
"Tujuh bulan."
"Jaga keponakanku baik-baik ya Re," ujarnya yang dia angguki diikuti senyum tipisnya.
"Kamu kenapa bisa ada di kota ini?" tanyanya menatap Denis yang juga menatapnya.
Terlihat Denis menyimpan kedua tangannya di saku celana bahan yang dikenakannya. Tatapan lelaki itu masih menyorotnya dengan tatapan yang membuatnya tak nyaman.
"Riko tunangan."
Detik berikutnya, dia terperangah mendengar ucapan Denis. Dia terdiam namun tatapannya mengamati penampilan Denis dari atas sampai bawah yang mengenakan setelan formal.
"Tu ... tunangan?"
Dia tak mengerti kenapa tiba-tiba nada suaranya menjadi serak. Seharusnya dia bahagia dengan ini karena setelah ini, tak ada lagi lelaki yang mengganggunya. Tapi entah kenapa, dia justru merasa sesak dan ... tak terima?
"Dia gak bakal ganggu kamu. Setelah ini, hidupmu dan anakmu aman. Kamu ...."
"Mbak, ini martabaknya."
Mengambil martabak setelah membayarnya, dia bergegas meninggalkan Denis yang tiba-tiba menahan tangannya. Dia menepis tangan Denis namun yang terjadi justru, "Biar aku antar. Udara malam gak baik buat ibu hamil."
Menatap perutnya, seketika dia luluh dan memasuki mobil Denis setelah pintu dibuka oleh lelaki itu. Izinkan dia sejenak untuk berpaling dari egonya demi anaknya. Benar kata Denis, udara malam tidak baik untuknya. Sekarang yang harus dia pikirkan bukan hanya dirinya sendiri, ada buah hati yang juga harus dia pikiran dan sayangi melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.
Selama perjalanan, suasana menjadi hening. Tak ada yang membuka suara. Denis sibuk dengan jalanan dan dia sibuk dengan pikirannya sendiri yang tertuju pada lelaki itu ... Riko.
Lelaki itu bertunangan dan kenapa dia merasa dadanya menjadi sesak?