Dua jam berlalu, Saka sudah tidak sadar berapa batang rokok yang ia habiskan karena berusaha menenangkan dirinya. Kemudian ia melihat ke kamar Nara.
“Nara...kamu mau makan nggak?”Saka berteriak.
Nara membuka pintu, matanya terlihat membengkak. Saka cukup kaget karena ia mendapat respon dari Nara.
“Aku mau makan steak, tapi, Daddy yang belikan sendiri,”katanya dengan suara serak.
Saka langsung bangkit,”baik...kamu mau apa lagi?”
“Ayam geprek, sambalnya yang banyak, kentang goreng...udah itu aja,”kata Nara.
Saka tersenyum, ia mengambil kunci mobil kemudian keluar. Nara menatap kepergian Saka dengan wajah datar, kemudian ia melihat ke arah jendela untuk memastikan Saka benar-benar pergi.
Gadis itu tersenyum saat ia melihat mobilnya Saka meninggalkan gedung ini. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Bian.
“Sekarang!”kata Nara begitu telepon mereka terhubung.
“Oke,”jawab suara di seberang sana.
Nara segera mengambil tas yang berisi beberapa pakaian dari dalam kamarnya. Ia sudah menyiapkannya sejam yang lalu. Saat ia masuk ke kamar, ia chattingan dengan Bian. Ia mengambil keputusan untuk melarikan diri saja dari Saka. Ia tidak suka tinggal bersama Daddy-nya. Gadis itu pun cepat-cepat turun, menemui Bian yang sudah menunggunya di bawah, sejak beberapa menit lalu. Sejak beberapa menit sebelumnya mereka memang sudah mengatur strategi untuk melarikan diri, untunglah Saka menawarinya makan. Sekarang, Nara pergi dari kehidupan Saka, memulai hidup barunya dengan Bian.
Nara masuk ke dalam mobil milik Bian dan bernapas lega ketika mobil sudah berjalan meninggalkan kawasan itu. Semoga ini adalah keputusan yang tepat. Nanti, ia bisa minta tolong pada Bian untuk membawanya ke rumah Neneknya yang lama, semoga masih belum dijual oleh Saka.
Sudah lega?”tanya Bian.
Nara mengangguk.”Iya. Makasih ya,Bi, aku nggak tahu lagi kalau nggak ada kamu.”
“Sama-sama.” Bian tersenyum sambil mengusap punggung tangan Nara.”Jadi, sementara kamu tinggal di kost-an aku aja dulu ya. Lagi pula nanti malam aku nggak di sana kok...ada acara.”
“Acara apaan?”
“Cuma kumpul-kumpul aja, minum...makan, ngobrol. Atau kamu mau ikutan? Seru...di sana ada Nada juga kok,”kata Bian dengan semangat.
“Boleh kalau kamu ngajak, lagian masa aku di kost-an kamu sementara kamu atau Nada nggak ada,”kata Nara sambil tertawa.
Bian pun ikut tertawa.”Iya sih, ya udah kita langsung ke kost-an aku, kamu istirahat dulu, soalnya kita perginya jam sembilanan gitu.”
“Oke...eh Nada dimana?”
“Ada di kostanku kok,”jawab Bian.
“Asyik!” Nara bertepuk tangan senang, ia bahkan sudah lupa bahwa ia sedang kabur, tidak pernah terpikir olehnya bahwa Saka akan khawatir.
Gadis itu melihat ke arah luar jendela, kemudian ia menyadari bahwa mobil Bian sudah memasuki pekarangan sebuah kost-kostan mewah.
“Ini kost kamu?”tanya Nara dengan polosnya
Bian mengangguk.”Iya, yuk turun...”
Nara turun dari mobil, mengikuti langkah Bian menuju lantai dua. Kemudian pria itu mengetuk kamar bertuliskan angka empat belas. Nada muncul dari balik pintu.
“Hai!” Nada memeluk Nara, mengambil tas dari tangan gadis itu dan mempersilahkannya masuk.”Yuk...udah makan belum?”
Nara menggeleng.”Belum, kan keburu kabur nih...nggak sempat makan.”
“Iya juga. Bian, beliin makanan dong!”kata Nada pada Bian.
“Oke...bentar ya.” Bian segera pergi.
“Nar, katanya malam ini kamu mau ikutan sama kita ya? Beneran, nih?”tanya Nada meyakinkan.
Nara mengangguk dengan yakin.”Iya.”
“Udah pernah masuk diskotik belum sebelumnya?”
“Belum pernah, ya...makanya aku mau ikutan supaya tahu.” Nara terkekeh.
Nada mengangguk-angguk,”tapi, masuk ke sana nggak bisa pakai baju casual. Harus gaun gitu. Pokoknya kita harus terlihat seperti orang yang sangat dewasa.”
“Yah, aku nggak punya lagi,”kata Nara kecewa.
“Pakai bajuku aja gimana? Nanti aku bantu makeup juga.”
“Ah, makasih, Nada!” Nara memeluk wanita itu dengan haru.
“Itulah gunanya teman.” Nada mengedipkan sebelah matanya.
**
Saka menghela napas lega saat ia sampai di apartemennya. Butuh waktu satu jam untuk perjalanan dan waktu membeli apa yang diinginkan Nara. Semoga saja setelah ini Nara akan memaafkannya. Setelah ini juga Saka akan belajar mendengarkan keinginan Nara dan akan berusaha mengerti akan perasaan anaknya. Saka masuk ke dalam, senyumnya mengembang lebar sambil meletakkan bungkusan ke atas meja makan.
“Nara...,makanan udah datang nih. Makan yuk!”kata Saka mengeluarkan makanannya satu persatu.”Sayang!” Saka pergi ke kamar Nara dan mengetuknya.
“Nara!”panggil Saka sekali lagi, ia membuka handle pintu dan masuk ke dalam. Kamar Nara kosong. Ia menuju kamar mandi untuk mengecek,ternyata juga kosong. Saka mengerutkan keningnya. Ia keluar kamar dengan cepat.”Nara!”
Saka menuju kamarnya, bukan tidak mungkin Nara ke kamarnya. Ternyata hasilnya juga sama, tidak ada siapa pun di sana. Pria itu segera menghubungi ponsel Nara, sayangnya tidak aktif.
“Astaga, Nara...kemana kamu!” Saka mulai panik, ia berjalan ke ruang tamu sambil terus berusaha menghubungi anaknya. Kemudian matanya tertuju ke sofa, ponsel Nara ada di sana. Saka mengambilnya, memencet tombol power satu kali, tidak menyala. Ia menekannya cukup lama, tidak menyala juga. Saat ini Saka tidak bisa berpikir apa pun, ia berusaha berpikir bahwa Nara pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Namun, perasaan Saka tetap tidak enak. Ia segera keluar, ia akan mencari ke super market atau kafe di lantai satu, semoga saja Nara memang ke sana.
Saka mengelilingi super market, ia tidak menemukan Nara. Kemudian ia pergi ke kafe, juga tidak ada. Pria itu mulai putus asa, ia berjalan pelan ke arah Satpam yang berjaga.
“Selamat sore, Pak Saka,”sapanya ramah.
“Selamat sore, Pak.”
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Pak, lihat anak gadis yang biasa jalan sama saya nggak?”tanya Saka pada Satpam.
“Oh iya, Pak. Tadi sekitar sejam yang lalu, jalan kaki ke arah sana...pakai tas,”jelasnya dengan ramah.
“Nara...” Saka menggeram.”Baik, Pak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
Saka berjalan ke arah yang dimaksud Satpam. Nara jalan kaki kemana, lalu dia pergi ke rumah siapa dan ngapain? “Jadi, Nara kabur...” Saka memegang kepalanya dengan frustrasi, ia harus lapor polisi. Tapi, Nara belum bisa dikatakan hilang karena belum satu kali dua puluh empat jam. Tapi, satu-satunya orang yang mungkin membawa ata membantu Nara kabur adalah orang yang bersama dengan Nara.
“Sialan, mau main-main sama aku.” Saka menggeram, ia berjalan kembali masuk ke dalam gedung. Ia segera menghubungi orang-orang suruhannya untuk mencari identitas asli dari orang yang bersama Nara.
**
Pukul sembilan lebih lima belas menit, Nara, Nada, dan Bian sudah siap. Nara memakai gaun ketat yang begitu seksi, sedari tadi Bian mencuri-curi pandang saja ke lekukan tubuh gadis itu. Nara pun menyadarinya, tapi, ia hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merah. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan siap menghabiskan malam ini dengan pesta.
Nara hanya bisa menutup telinganya sesekali saat musik terdengar begitu keras. Ruangan di dalam gelap, lampu warna-warni berkelap-kelip, Bian memeluk pundaknya. Nara menoleh ke arah Bian dengan senyumnya yang malu-malu. Bian tersenyum, mengedipkan sebelah matanya. Nada bertemu dengan beberapa temannya, dan langsung menghilang saja.