Bab 13

1138 Kata
Nara menggeleng.”Aku pergi sendiri aja, Daddy istirahat, mumpung weekend kan?” “Hati-hati, sayang,”kata Saka saat Nara memencet kata sandi di pintu. “Bye, Dad!” Nara tersenyum manis lalu hilang dari balik pintu. Saka melanjutkan aktivitasnya, menonton berita. Setelah itu ia membuka laptop untuk memantau beberapa pekerjaan. Hidupnya berubah sejak ada Nara tinggal bersamanya. Tidak ada hiruk pikuk kehidupan malam yang selama ini tak pernah absen ia kunjungi, ia tidak mau nantinya Nara akan seperti itu. Sekitar pukul dua belas siang, Saka mengirim pesan untuk Nara. [Nara, udah pulang? Daddy jemput ya kita makan siang di luar.] [Aku belum pulang, Dad. Daddy makan aja duluan.] Saka mengembuskan napas berat, ditutup laptopnya kemudian mengganti pakaian. Ia sudah lapar, mungkin ia akan makan siang di luar sendirian saja, sambil menunggu Nara pulang. Saat melintas depan kampus Nara, Saka berhenti sejenak di depan pagar yang tertutup rapat. Ia mengernyit, kemudian seorang satpam menghampirinya. Perasaan Saka tidak enak mendengar jawaban dari satpam. Ia berusaha tetap berpikiran positif. Ia segera menuju sebuah pusat perbelanjaan, di sana ada tempat makan favorit Saka. Saka berjalan santai, mengenakan kaca mata hitamnya menuju tempat makan favoritnya. Beberapa meter lagi ia akan sampai, tapi, ada pemandangan yang membuatnya kaget. Ia membuka kacamatanya, memastikan yang ia lihat salah atau tidak. Darahnya mendidih, Nara sedang bersama seseorang di sana. Sedang berpelukan sambil tertawa. Dan, orang di sebelahnya mencium kening Nara. Gadis itu hanya bisa merona, dan terlihat senang mendapat perlakuan seperti itu. Saka langsung mempercepat langkahnya, menghampiri Nara. “Nara!” Nara langsung kaget, melepaskan pelukan tangan Bian di pinggangnya.”Daddy...” “Udah selesai kuliahnya?”tanya Saka dengan tatapan tajam, terlebih pada Bian. “U...udah, Dad,”jawab Nara sambil menjauh dari Bian. “Ayo pulang!”kata Saka sambil menarik tangan Nara. “Tap...tapi, Dad...aku masih sama Bian. Aku...pamit dulu...” Nara menatap ke arah Bian yang masih mematung di tempat. Kekasihnya itu hanya bisa melambaikan tangan dan memberikan tatapan bahwa ia baik-baik saja. Nara hampir menangis, kencan pertamanya gagal seperti ini.”Daddy!” Saka terus menarik Nara dan membawanya ke mobil. “Daddy, kenapa nggak coba ngobrol dulu sama temen Nara. Kan nggak enak dia ditinggalin sendirian! Setidaknya kita pamit,”protes Nara. Wajah Saka terlihat emosi, ia memutar mobilnya, keluar dari pusat perbelanjaan ini. “Kamu bohong sama Daddy! Katanya ke kampus, ada kuliah tambahan, ternyata jalan sama orang itu? Kamu udah gila!” Saka memarahi Nara. “Tadi itu Nara memang kuliah, terus pulang cepat...temen ngajak ke sini terus Daddy telpon...” “Jangan bohong lagi, Nara. Kamu bohong dan terus bohong! Daddy ke kampus kamu, ternyata nggak ada jadwal kelas tambahan di jurusan mana pun. Kenapa kamu lakukan ini, Nara. Memangnya Daddy perlakukan kamu dengan tidak baik di rumah?”balas Saka sambip terus menyetir. “Sudahlah, Dad, memangnya kenapa kalau aku jalan sama temen. Aku juga butuh refreshing...butuh teman dan jalan-jalan.” Nara melipat kedua tangannya di d**a, lalu membuang pandangannya ke arah luar jendela. “Peluk-pelukan? Ciuman?” Saka menggeleng-gelengkan kepalanya. Nara tidak menjawab. “Daddy kecewa sama kamu,”sambung Saka. “Nara juga kecewa sama Daddy.” Nara membalas dengaj suara bergetar, air matanya sudah ingin tumpah, tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. “Nara, orang yang bersama kamu tadi tidak baik. Dia hanya ingin memanfaatkan kamu aja. Dia bukan teman yang tulus.” “Dia pacarku, Dad!” aku Nara akhirnya, tidak ada jalan untuk menutupinya. “Apa??” Saka membelalakkan matanya. “Kamu baru satu minggu kuliah, Nara, dan kamu sudah pacaran sama orang itu, yang pasti baru kamu kenal juga selama seminggu? Kamu tahu siapa dia?” “Namanya Bian, Pa...dia baik kok.” “Kamu terlalu polos, Nara.” “Daddy, cukup! Kenapa aku selalu dimarahi, memangnya aku nggak boleh melakukan apa yang aku suka, aku juga nggak berbuat jahat, nggak melakukan hal yang aneh. Kenapa Daddy semarah ini?”isak Nara. “Karena kamu anak Daddy!”balas Saka dengan bentakan.”Kita sambung pembicaraan kalau sudah sampai. Saka melajukan mobilnya dengan kencang. Saka mengerem mobilnya dengan kencang ketika mereka sudah sampai di apartmen, kemudian ia melangkah dengan cepat masuk ke dalam gedung. Nara mengikutinya di belakang dengan langkah yang pelan, bahkan rasanya ia ingin kabur saja. “Masuk!”kata Saka pada Nara. Nara menelan ludahnya, kemudian masuk. Ia hendak lari ke kamarnya, tapi Saka langsung menarik tangannya. Gadis itu didudukkan di sofa, Saka menatapnya dengan tajam. “Ada apa lagi, Dad? Aku sudah ketahuan, Daddy sudah marahin aku. Lalu apa lagi?”tanya Nara. “Kenapa kamu memilih berbohong sama Daddy?”tanya Saka serius. “Ya...karena aku nggak mau Daddy tahu.” “Memangnya kenapa kalau Daddy tahu?” “Daddy pasti marah, kan? Ini buktinya?”balas Nara. “Daddy marah karena kamu bohong dan...orang yang kamu bela itu bukan orang yang baik. Daddy nggak suka sama orang itu, memangnya nggak ada yang lain apa?” d**a Saka naik turun menahan emosi. Andai Nara itu laki-laki, ia pasti sudah menonjoknya. Nara menatap Saka dengan penuh kebencian.”Memangnya jatuh cinta itu bisa kita atur? Kita nggak akan pernah bisa tahu kepada siapa kita jatuh cinta....” “Tapi, nggak bodoh juga, Nara! Kamu menyuruh Daddy berubah, tapi...kamu sendiri begitu!”balas Saka cepat. “Begitu bagaimana?” Nara menatap Saka tak mengerti. “Nggak usah pura-pura, kamu sudah tertangkap basah kenapa masih menutupi?” “Maksudnya apa, sih, Dad...kenapa aku nggak boleh jatuh cinta? Aku kan udah kuliah, lagi pula ...kami cuma ke mall, bukan ke hotel!” Nara berdiri, kemudian menatap Saka dengan marah. “Nara!” Suara Saka menggelegar. Air mata Nara mengalir deras, ia menatap Saka dengan penuh kebencian. Wajar saja bila Nenek melarangnya bertemu dan tinggal bersama Saka sejak kecil, sikap Saka begitu kasar. Tinggal dengan Saka memiliki banyak aturan yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Lagi pula, Daddy-nya itu mana paham dengan namanya jatuh cinta dengan lawan jenis. Saka bukanlah orang yang bisa memahami apa yang ia rasakan sebagai seorang gadis muda. “Sudah cukup, Dad. Aku masuk!” Nara terisak, berjalan pelan masuk ke kamarnya. “Sial!” Saka mengumpat sambil menjambak rambutnya sendiri. Pria itu mengambil rokoknya, kemudian menghisapnya dengan frustrasi. Apa yang sudah dilakukan Nara benar-benar kelewatan. Ia tidak menyangka kalau ternyata mendidik anak sesulit ini. Saat bersama sang Nenek, Nara adalah gadis penurut, selalu tersenyum, baik, ramah dan tidak pernah bicara kasar apa lagi melawan. Tapi, saat bersamanya yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu berbaring di sofa, matanya menatap langit-langit sambil terus menghisap rokoknya. Mungkinkah ini karma untuknya sebagai orangtua. Dulu, saat ia masih menjadi anak, ia kerap membantah apa yang diucapkan orangtuanya. Atau mungkinkah ia yang belum tahu betul bagaimana cara mendidik anak. Mungkin ia terlalu keras pada Nara. Saka mulai merasa bersalah, harusnya ia bisa bicara baik-baik pada anak gadisnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN