“Nara!”panggil Saka. Hening, tidak ada jawaban, pria itu membuka pintu kamar Nara, kosong, tempat tidurnya masih rapi. Artinya Nara belum pulang.
“Astaga...Nara dimana udah sore gini.” Saka mengendurkan dasinya sambil mondar-mandir, kemudian ia kembali mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Nara.
“Masih nggak aktif, dasar...!”omel Saka. Pria itu masuk ke kamar untuk mandi. Sampai selesai mandi pun, Nara masih belum pulang juga.
Saka duduk di sofa sampai melipat kedua tangannya. Matanya menatap jam dinding dengan tajam, hatinya resah sekali, jika sampai jam enam Nara belum pulang, ia akan mencarinya ke kampus. Suara nada pintu terbuka terdengar, Saka tersentak, lalu ia menghela napas lega setalah Nara masuk ke dalam.
“Hai, Dad,”sapanya.
“Hape kamu nggak aktif, kenapa?”tanya Saka dengan nada dingin.
“Baterainya habis, kayaknya aku lupa charge deh,”kata Nara santai.
“Kamu ada mata kuliah tambahan?”
“Nggak, Dad. Cuma jam dua, terus jam tiga juga udah selesai.” Nara masih belum menyadari bahwa Saka sedang marah.
“Sekarang jam berapa?”tanya Saka lagi.
“Jam enam.” Nara mulai menyadari raut wajah Saka yang berbeda, apakah saat ini ia sedang dimarahi oleh Daddy-nya.
“Terus ...kemana aja kamu selama tiga jam?” Nada suara Saka mulai tinggi.
Nara menelan air ludahnya, ia menarik napas panjang.”Aku...main sama temen, Dad. Nggak kemana-mana kok, cuma nongkrong di kampus sama temen baru, keasyikan ngobrol jadi...lupa waktu.”
“Besok kalau pulang telat, kasih kabar ke Daddy!”
“Tapi, kan hapeku mati, Dad.” Nara membela diri.
“Ya makanya, hapenya dicharge, bila perlu bawa charger atau powerbank, semua ada solusinya, yang penting kasih kabar kamu pulang jam berapa!”kata Saka, masih emosi.
“Maaf, Dad.” Nara meremas tangannya. Ini juga salahnya karena terlalu asyik menghabiskan waktu bersama Nada dan Bian. Bian yang dari jurusan Fotografer, meminta Nara menjadi objek fotonya untuk salah satu tugas kuliahnya.
“Ya udah kamu istirahat sana!”kata Saka.
“Iya, Dad.” Nara masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Ia mengenakan kaus dan celana pendek, kemudian keluar lagi.
Saka melirik Nara,mengawasi apa yang dilakukan anaknya itu.Ternyata Nara akan masak. Gadis itu membuka lemari es, mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan ia masak. Saka mengembuskan napasnya, kemudian berjalan menghampiri Nara.
“Kamu mau ngapain?”
“Mau masak untuk makan malam kita, Dad. Daddy mau makan apa?”tanya Nara dengan pelan, karena takut Saka masih marah.
“Kamu mau masak apa? Itu ada udang, kamu bisa masaknya?”tanya Saka.
“Bisa...mau diapakan? Disambal, digoreng...pakai saus padang...” Nara tersenyum semanis mungkin, berharap hati sang Daddy mau melunak dan tidak marah lagi.
“Apa aja...masakan kamu pasti sama dengan masakan Nenek, kan? Daddy rindu masakan Nenek.” Saka tersenyum tipis.
“Ya udah, Daddy duduk aja, Nara mau masak dulu,”usir Nara.
“Baik...” Saka kembali ke tempat duduk.
Nara mengembuskan napas lega, ia segera memasak sesuai dengan permintaan Saka, walau sedikit lelah, tidak apa-apa, untuk menebus kesalahannya sore ini. Sepanjang memasak, Nara terpikir suatu hal, Daddy-nya yang kaya raya itu, kenapa tidak tinggal di rumah mewah saja, menyewa asisten rumah tangga, lalu mempekerjakan body guard juga sopir pribadi. Jadi, Ayahnya itu tidak perlu repot-repot mengantar jemput dirinya, bahkan sampai khawatir seperti tadi. Tapi, seperti kata Nenek, Saka memang susah ditebak, apa yang dilakukan pria itu terkadang tidak masuk di akal.
Setengah jam berlalu, Nara masih sibuk dengan masakannya. Saka tersenyum saja melihat dari kejauhan. Kemudian anak gadisnya itu terlihat ke sana ke mari mengambil sesuatu dari lemari, kemudian menata di atas meja makan, lalu ia pergi ke arah yang lain untuk mengambil barang yang lainnya.
“Dad, makanan sudah siap!”panggil Nara.
“Oke!” Saka meletakkan remote tv, kemudian ke arah dapur. Aroma masakan lezat tercium, kelihatannta begitu lezat.
Nara melepaskan celemeknya, kemudian duduk mengambilkan Saka nasi.”Ini, Dad.”
“Terima kasih.”
“Selamat makan,”kata Nara.
Suasana mendadak hening, keduanya menikmati makan malam yang nikmat itu. Nara memerhatikab Saka perlahan,ia berdehem.”Daddy udah nggak marah lagi, kan?”tanya Nara dengan hati-hati.
“Nggak,karena masakan kamu enak, Daddy nggak marah lagi,”puji Saka.
“Makasih, Dad...Nenek yang ajarkan masak. Soalnya dulu...kalau aku malas, Nenek nggak mau kasih aku uang jajan.” Nara terkekeh.
“Nenek mendidik kamu dengan baik, Daddy bangga sama kamu,sayang.”
“Besok aku kuliah pagi, Dad...pulangnya sih siang. Tapi, boleh nggak pulangnya agak sorean gitu, soalnya ada janji sama temen.”
“Janji apa? Memang mau kemana?”
“Nggak kemana-mana, cuma mau ngumpul aja di kampus, ngerjain tugas,”kata Nara, sedikit berbohong, sebab ia malas menjelaskan. Besok Bian memintanya menjadi model lagi, mereka akan melakukan pengambilan foto di taman kampus.
“Temen kamu cewek apa cowok?”
“Cewek,”jawab Nara, benar kalau Nada adalah perempuan. Masalah Bian, rasanya tidak perlu dibahas, bisa panjang urusannya.
“Ya udah, yang penting, hape harus aktif terus!”kata Saka memperingatkan.
“Iya, Dad. Besok aku bawa charger.”
“Ya udah, boleh.”
Nara bersorak dalam hati, besok ia bisa main sepuasnya dengan Nada dan Bian. Usai makan malam, ia langsung masuk ke kamar, mengirim pesan pada Bian kalau ia bisa menjadi modelnya besok.
**
Seminggu berlalu, Saka sibuk dengan pekerjaannya, Nara juga sibuk dengan kegiatan kampus. Ia semakin dekat dengan Bian, orang yang semakin menarik hatinya. Selama delapan belas tahun ia tidak pernah dekat dengan lawan jenis, maka kedekatan kali ini terasa istimewa. Setiap pulang kuliah, ia dan Bian selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Dan secepat itu mereka memutuskan untuk berpacaran.
Ini hari sabtu, tidak ada kegiatan pembelajaran di kampus.Nara dan Bian akan berkencan selayaknya pasangan lain. Tapi, Nara masih merahasiakan hubungannya dengan Bian dari Saka. Entah kenapa ia merasa kalau Saka tidak akan suka ia berpacaran. Jadi, untuk sementara ia akan merahasiakannya dari sang Daddy.Pukul sembilan pagi, Nara sudah bersiap-siap untuk pergi. Mereka janjian kencan mulai pagi sampai sore saja karena malamnya ia harus sudah ada di rumah, kalau tidak, Saka pasti akan memarahinya.
Nara keluar dari kamar, menyandang tasnya. Gadis ity tersenyum saat Saka yang sedang menonton berita menoleh ke arahnya.
Ini kan sabtu, kamu mau kuliah?”tanya Saka heran.
“Hmmm...ada kelas tambahan, Dad.”
“Sampai jam berapa?” Saka memerhatikan penampilan Nara dengan intens.
“Nggak tahu, soalnya disesuaikan sama jam berapa Dosennya datang. Kenapa, Dad?”
“Pakaian kamu terlalu berlebihan untuk ke kampus, Nara,”komentar Saka.
Nara melihat ke arah dirinya sendiri,tentu pakaiannya agak berbeda dengan hari biasa, karena ia memang pergi untuk berkencan, bukan kuliah.”Ini...biasa aja kok, Dad. Lagi pula hari ini kampus nggak begitu ramai.”
Saka mengangguk-angguk saja, berusaha berpikir positif.”Oh, ya udah. Nanti kita makan siang di luar aja ya, nanti Daddy jemput ke kampus.”
“Oke, Dad!”
“Mau diantar?”tawar Saka.