Jelita menaruh ponsel dengan kesal. Bingkai penilaian terhadap Wira, dipadu lukisan realita karakter Wira, semakin membuatnya jengah.
"Ya Tuhan. Sabarkan aku hadapi pria ini. Bagaimanapun juga, dia adalah ayah dari anak yang ku kandung," jeritan hati Jelita, seraya mengusap-usap perutnya.
Seperti biasanya, tak ada pilihan baginya selain harus melaksanakan apa yang Wira perintahkan.
Batin ini rapuh, tak mengharap ini semua, tapi nyatanya memang harus dia hadapi. Jelita selalu siapkan diri untuk berdamai dengan segala keadaan.
Jelita mencari-cari toko online yang menjual gaun pengantin, namun justru berakhir pada sebuah layanan lain yang ditawarkan pihak salah satu toko.
"Sewa gaun pengantin dan semua aksesoris penunjangnya...hmm...sepertinya ini lebih menarik."
Jelitapun memutuskan akan menggunakan jasa merchant tersebut, sekaligus sebagai pertimbangan, karena lokasinya juga didaerah Bekasi.
***
Saat malam tiba, Wira telah memarkir mobilnya di parkiran khusus penghuni, ketika bertepatan dengan kakak perempuannya juga keluar dari kendaraan, namun berlawanan arah.
"Kak Wina? Kamu kesini?" sapa Wira pada saudara satu-satunya ini. "Mau temui aku, atau apa?" lanjut Wira, hafal dengan gelagat Wina yang seringkali sepulang dari kantor ayahnya, akan lebih memilih pergi bersenang-senang di club malam, daripada pulang dulu ke rumah.
"Ya tentu mau ada perlu sama kamu lha, lantas apa lagi?" ujar Wina terang-terangan.
"Ok. Kita masuk dulu," tuntun Wira, seraya bukakan pintu lift khusus untuk penghuni.
Letak apartemen milik Wira ada di hook lantai 17. Unit berkamar 2 itu, hanyalah salah satu hasil kerja keras Wira, setelah memutuskan melepaskan diri dari Ayahnya, dan mendirikan perusahaan sendiri.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Kak? Aku tahu, kalau nggak ada yang penting, mana mungkin kau akan mengunjungiku," ucap Wira setelah segelas jus jeruk kemasan dingin, dia tuangkan penuh, dan diberikan pada kakak perempuannya.
"Tadi Jessica menemuiku."
Wira sempat tertegun sesaat, sudah ada gambaran, akan masalah apa yang akan dibahas Wina.
"Kakak mau makan? Aku lapar," kilah Wira, turun dari kursi barstool, lalu menuju ke lemari pendingin lagi. "Aku lagi pengen telor orek daging cincang, mau tidak?" tawar Wira, seraya mengeluarkan bahan-bahan menu yang dimaksud.
"Wira!" panggilan keras Wina. "Aku pesankan lewat online, makanan restoran langganan keluarga kita. Kamu kembali kesini, dan kita bicara!" imbuhnya lantang.
Ekspresi Wira menegang, dikembalikan bahan-bahan itu kedalam lemari pendingin secara kasar, baru menuruti permintaan Wina.
"Apa yang penting bicarain soal Jessica? Paling isinya rengekan dia biar rencana pernikahan kami segeta dilaksanakan. Iya, kan?"
"Dan kakak marah sama kamu!"
"Ck. Sampai kapan kakak belain dia terus, hah?"
"Sampai kamu menikahinya!"
Wira terdiam, lalu diraih gelas kosong disampingnya untuk diisi sisa jus jeruk dalam kemasan, kemudian diteguknya dalam sekali tarikan.
"Ok. Kakak ngomong saja, aku akan dengarkan," putus Wira.
"Jessica dan keluarganya tidak terima kalau kamu seolah mempermalukan mereka, Wira. Kamu juga tahu sendiri, apa konsekuensinya kalau acara pertunangan kalian itu batal!"
"Palingan satu atau dua proyek kerjasama dibatalkan," sahut Wira enteng. Diputar-putar gelas kosong dihadapannya untuk alihkan emosi.
"Dan kamu dengan seenaknya saja ngomong begitu? Itu duit Wira! Kamu tahu sendiri, Papa tidak akan mungkin membiarkan kesempatan meraih keuntungan besar itu lewat begitu saja."
"Aku bisa ganti dengan proyek kerjasama baru dengan perusahaan baruku, kalau Papa mau."
"Jessica itu sudah banyak yang incer. Ada beberapa pengusaha yang pengen anak laki-lakinya kawin sama dia, karena tahu orang tuanya Jessica itu bukan kaleng-kaleng!"
"Tapi aku nggak. Dia bukan tipe yang aku mau."
"Wira!" bentak Wina. "Sampai kapan kamu masih belum move on dari pacar bulemu itu? Apa kamu masih saja nggak berniat menikah?"
"Aku sudah melupakannya, tapi aku masih nggak berniat berhubungan serius dengan wanita manapun."
"Itu namanya kamu belum move on, Wira!" tanggapan keras Wina. "Cobalah mengenal Jessica lebih dalam lagi. Beri kesempatan dia merayumu. Kakak yakin, dia nggak menolak kalau kamu ajak berlibur dan banyak habiskan malam bersama. Itu bisa buat komunikasi batin kalian tertaut."
"Kakak. Sebaiknya kakak urus pernikahan kakak sendiri. Aku menjadi seperti ini, juga karena mengaca sama kakak."
Wina geser gelas yang telah kosong dihadapannya menyamping. Pernyataan Wira barusan, jadi menarik perhatiannya.
"Apa maksudmu, Wira?" rasa penasaran Wina.
"Bagiku, Kakak telah gagal mendapatkan pendamping hidup. Abang Mario memang anak orang kaya juga, tapi kalian cuma kawin harta, bukan karena cinta."
"Wira..."
"Aku tahu Kakak kadang menangis, menahan siksa batin, karena Abang Mario sering mengkhianati Kakak dengan berkencan sama mantan-mantannya secara bergantian. Dia juga tipe pria childfree, padahal itukan tujuan utama pernikahan ini, karena Kakak ingin perhatian Papa yang terus menyuplai hidup Kakak. Betuk, kan apa yang aku katakan ini?"
"Halah! Jangan munafik, Wira. Kamu juga punya pikiran sama seperti itu. Hanya saja, kamu terlalu dingin pada wanita, jadi harapan Papa dapatkan cucu darimu juga nihil!"
"Tapi aku bisa berdiri dikakiku sendiri, Kak, dan kamu tidak."
Wina tertawa lepas, menganggap ucapan Wira seperti lelucon.
"Kamu lucu, Wira. Sudah tahu pikiran Papa, apalah artinya banyak harta, tapi belum bisa beri anak keturunan sama Papa Mama, hah?"
Tawa keras Wina berlanjut lagi, sampai ucapan Wira selanjutnya membuatnya berangsur terhenti.
"Kakak salah. Aku sudah akan punya anak, dan ada darah keluarga kita disitu."
"Apa?!!"