"Wira. Kamu serius sama yang kau ucapkan, kan?"
Wira tersenyum smirk, saat harus mengulang pernyataannya, demi kepercayaan kakak perempuannya ini.
"Tentu saja aku serius. Mana pernah aku main-main dengan soal seserius ini. Aku sudah menghamili pegawaiku sendiri."
Mulut Wina ternganga, tak percaya. Dia merasa paling mengenal adik laki-lakinya yang sangat dingin pada wanita selama beberapa tahun ini, jadi kalau sampai menanam benih pada seorang wanita, dan karyawannya sendiri, Wina sungguh tak menyangka.
"Wira, bagaiman bisa?!" tanya Wina lantang.
"Sewaktu makan malam terakhir dengan Jessica, dia memberi cairan penambah gairah diminumanku, tapi karena aku meminta menyudahi acara itu lebih cepat, aku segera kembali ke apartemen, lalu pegawaiku itu datang, dan terjadilah."
"Kamu gila, Wira!"
"Semua ini karena Jessica. Harusnya kakak paham sampai disini, kenapa aku menolak bertunangan dengannya, karena aku tidak suka dengan cara berpikirnya, yang bagiku terlalu pendek dan kekanakan."
"Lalu, bagaimana dengan pegawai wanitamu itu? Jangan katakan kamu tidak lakukan suatu tindakan."
"Aku mengungsikannya diluar kota, tepatnya di apartemenku yang ada di Bekasi."
Wina picingkan mata, karena menduga sesuatu.
"Apa dia memanfaatkan situasi ini? Apa dia memerasmu, Wira? Pasti dia wanita dari kalangan bawah yang memang sengaja dan senang hati berikan tubuhnya, saat kamu lengah seperti itu. Iya, kan?"
Wira gelengkan kepalanya, untuk mempertegaskan apa yang dituduhkan Wina pada Jelita itu tidaklah benar.
"Tidak, Kak. Dia sangat kooperatif dengan semua perintahku, dan aku merasa sudah pada usaha tertinggiku dengan berikan fasilitas dan juga jaminan secara finansial. Aku berikan..."
"Halah!" sela Wina. "Pasti dia gadis culas yang bermuka dua. Didepanmu pasang wajah memelas, dan menderita, tapi dibelakangmu, dia pasti bersuka cita, karena sudah menggenggammu dalam kendalinya. Sudah buang saja wanita seperti itu. Cepat suruh gugurkan kandungannya!"
"Kakak!" balas Wira tak kalah lantang. "Dia bukan wanita seperti itu. Awalnya aku mengira dia negatif seperti pikiranmu itu, tapi ternyata dia gadis yang..."
"Sudahlah, Wira. Kamu tahu aku sudah berulang kali melabrak selingkuhan Mario, dan sudah hafal modelan cewek-cewek gatelean yang suka manfaatin cowok kaya dan tampan kayak kamu begini."
Wina dorong kursi berkaki tinggi ke belakang, dan meraih tasnya.
"Kamu tidak mencintainya, bukan?" tanyanya kemudian.
"Tidak, karena itu aku memberinya ikatan perjanjian pernikahan kontrak selama satu tahun atau sampai bayi itu lahir saja."
"Bagus, selebihnya serahkan padaku!"
Kedua alis Wira berkerut. Pada awalnya, akan bisa mempercayai kakak perempuannya ini, tapi semakin kesini, menjadi ketakutan tersendiri buatnya.
"Kakak. Apa maksudmu? Apa yang akan kamu lakukan?" sahut Wira tajam, ada nada kegelisahan yang tak bisa dia sembunyikan.
"Lakukan apa yanh harus dilakukan. Ini demi nama baik keluarga kita. Serahkan saja padaku. Aku tahu kamu akan sangat membutuhkanku."
"Tapi aku tidak mau gadis itu kenapa-kenapa. Bagaimanapun juga dia mengandung anakku."
"Tidak, Wira. Dia tidak pantas untukmu. Akan aku atur rencana agar jangan sampai kejadian keluar dan merusak reputasimu dan keluarga kita."
Wira mengikuti Wina yang akan beranjak pergi, untuk mencegahnya beberapa saat.
"Apa rencanamu? Katakan padaku."
"Singkirkan wanita itu!" tandas Wina dengan sorot berapi-api, kemudian segera berpamitan, memanfaatkan keadaan dimana Wira hanya terdiam tercengang. "Tidurlah. Tenang, setelah ini kamu akan nyenyak, karena urusan akan mudah ditanganku."
Setelah pintu tertutup, Wira berbalik, lalu telusupkan jemari diantara tatanan rambutnya, mulai frustasi.
"Apa ini benar? Apa benar Jelita, wanita seperti itu?" gumam Wira, mengingat bagaimana dingin dan tatapan benci Jelita padanya, meskipun seringkali menunduk dan menghindari bertatapan langsung dengannya.
Jelita bertolak belakang dengan jenis wanita yang disangkakan kakaknya, tapi Wira coba pakai logikanya, ketika ucapan Wina memang ada benarnya.
Kedua tanga Wira terpaku diatas meja dapur dengan cengekeraman kuat, sambil menggumam bersambut tatapan tajam.
"Kamu nggak sepenuhnya salah, Kak. Aku tidak bisa sepenuhnya mempercayai wajah polos seorang Jelita!"
****
Ditempat Jelita berada, ia memanfaatkan kesendirian dikamar, dan ibunya yang sudah tidur, dengan menyalakan musik playlist diponselnya, untuk menutupi tangis ditengah curhatnya dengan Vani, sahabatnya.
"Gue sudah nggak kuat, Van. Gue butuh teman bicara, nggak bisa hadapi ini sendiri, meski ada Mama," curahan hati Jelita diantara sesenggukan perihnya.
"Ya ampun, Ta. Gue benar-benar nggak nyangka. Tunggu, gue ngelag banget ini," sahut Vani di ujung telpon, tidak biaa sembunyikan keterkejutannya. "Ternyata seperti itu ceritanya, sampai lo kayak diasingkan begini? Tapi jujur ya, ini sih bukan sekedar menjauhkanmu tapi lebih pada pengusiran dan penghilangan jejakmu."
"Iya, gue juga mikirnya begitu." Jelita ambil lagi selembar tissu untuk bersihkan air mata yang kini sudah mulai mengering, seiring lepaskan sebagian beban batin dan pikiran lewat Vani.
"Terus lo maunya gimana sekarang? Lo hamil anak Pak Wira, Ta. Tentu nggak boleh sembarangan makan, dan benar-benar jaga, kan?"
"Iya, gue sadar itu. Untuk saat ini sih, Pak Wira memperlakukan gue baik."
"Nah, manfaatkan kesempatan ini buat rebut perhatiannya!" pekik Vani, yang tak bisa sembunyikan rasa senangnya. "Meskipun ceritanya sedih dan berkesan menderita, tapi bisa dibilang, lo sudah ambil setengah hidup Pak Wira lewat anak yang lo kandung. Sekarang tinggal bagaimana upaya lo, biaa rebut hati calon suami kontrakmu itu," pikiran culas Vani.
Tapi apa yang dipikirkan oleh Vani, bertolak belakang dengan hati nurani Jelita. Tak ada sedikitpun niatan untuk memanfaatkan keberadaan Wira, bahkan memaksakan diri agar mereka bisa saling jatuh cinta.
Jelita hanya memikirkan bagaimana agar keadaan bayinya selalu baik-baik saja, dan menjadi ibu yang baik untuknya kelak.