Bab 13

1387 Kata
Ketika Nana membuka pintu kamarnya, ia saling bersitatap dengan Bara—yang kebetulan melakukan hal yang sama—kemudian keduanya mengalihkan pandangan. Semburat merah tercetak jelas pada kedua pipi. Masih teringat kejadian kemarin malam. Nana merasa malu atas apa yang sudah dilakukannya, begitu juga dengan Bara, ia merasa lancang sudah mencium Nana. Entah apa yang merasuki keduanya hingga melakukan hal di luar batas perjanjian mereka. Berciuman, ah ..., itu adalah ciuman pertama bagi Bara. Sulit dipercaya tapi malam itu sungguh luar biasa, Bara merasakan sesuatu yang hebat memenuhi d**a. Kelembaban bibir Nana masih terasa dengan jelas di bayangan, manis dan harum. Bara membiarkan Nana berjalan lebih dahulu, ia mengikuti dari belakang dengan kepala tertunduk. Bahkan menatap dari belakang saja seperti timbul rasa bersalah. Ragil yang sedang makan roti bingung dengan tingkah mereka berdua. Tidak saling berbicara, tidak saling menatap, tidak jalan berdampingan, kemudian Ragil menebak apa yang terjadi. Ia tersenyum jahat. "Cie, jadi canggung setelah ciuman. CIHUY!" Seperti disambar petir, hati Nana menghangat, ada guncangan hebat yang membuatnya tidak berani menatap Bara dan ingin sekali melesat pergi dari sini, namun opsi tersebut akan semakin membuatnya malu. Dengan memberanikan diri, Bara mengangkat kepalanya secara perlahan. Ia melihat Nana masih menunduk sembari mengolesi roti dengan selai kacang. "Nana, aku minta maaf soal—" kalimat Bara dipotong oleh Nana. "Nggak, kamu nggak salah, ini semua salah aku. Seharusnya aku tidak lancang menempelkan bibirku padamu, seharusnya aku sadar diri dengan hubungan kita. Maafkan aku, karena sudah melanggar kontrak, aku janji hal ini tidak akan kuulangi lagi. Percayalah, aku tidak ada maksud apa pun, itu semua tidak disengaja. Mungkin ada setan yang mendorong kepalaku. Percayalah. Kamu tidak berpikir bahwa aku mencintaimu, bukan? Semoga tidak, itu khilaf, aku tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja. Sekali lagi aku minta maaf." Baik Bara dan Ragil terdiam dengan sorot mata bingung—menatap Nana yang baru saja berbicara tanpa jeda. Sedetik kemudian Ragil tertawa terbahak, ia merasa lucu atas respon yang diberikan Nana. "Cie, salah tingkah. Asiknya yang ciuman itu, kiss kiss cup muach," sindir Ragil. Secara serentak Bara dan Nana bangkit dari kursi sembari menghentakkan meja, melihat kekompakan itu kembali membuat Ragil tertawa. "Aw, kompaknya, bahkan mau pergi aja bisa barengan." Ragil berdecak seraya menggelengkan kepala. "Sepertinya udah ada jalinan kontak batin." "AAAHH! BODO AMAT!" teriak Nana kemudian ia berlari ke kamar. ~oOo~ Pada ketukan ketiga, Bara membuka pintunya. Ia melihat Nana berdiri di ambang pintu mengenakan kaus bewarna hijau daun. Atmosfer canggung masih terasa diantara keduanya, Bara bingung harus mengatakan apa. Keduanya saling diam beberapa saat. "Kenapa? Ayo masuk." Akhirnya hanya kalimat itu yang dapat Bara katakan. Nana masih belum berani menatap mata Bara. "Nggak usah, aku cuma mau bilang kalau besok kita terapi kencan." "Kencan? Sama siapa? Sama kamu?" Nana menggelengkan kepala, kemudian ia memberikan ponselnya kepada Bara. "Besok kamu kencan dengan stranger dari dating apps. Nama IDnya Kupu Malam, di bio profilnya ada beberapa informasi tentang dia. Kamu bisa pelajari agar first impression tentang kamu tidak buruk di matanya." "Oke, makasih." Nana berbalik badan, hendak kembali ke dalam kamar, namun suara Bara menginterupsi langkah kakinya. "Na," panggil Bara. "Iya?" balas Nana tanpa menoleh ke arah Bara. "Aku merasa gelisah jika tidak mengatakan hal ini, tapi kamu janji jangan marah atau berpikir aneh tentang aku." Pasti soal ciuman kemarin, batin Nana. "Iya, emang kenapa?" "Ciuman kemarin, hm ...." Kan bener "Ciuman kemarin itu ciuman pertama aku," ujar Bara setelah keberaniannya terkumpul secara optimal. Deg. Semburat merah kembali meradang wajah Nana, daun telinganya terasa panas atas pernyataan yang baru saja diucapkan Bara. Nana merasa malu sudah merebut first kiss Bara, seharusnya ciuman pertama itu dilandaskan oleh perasaan cinta. Pikiran Nana melayang-layang, ia berpikir bahwa dirinya akan menjadi mimpi buruk Bara untuk jangka waktu yang lama. "Maaf." Setelah mengucapkan kata tersebut, Nana langsung masuk ke dalam kamar. Di balik pintu kamar, Nana menahan guncangan hebat di dadanya, merasa sesak yang berlebihan. Dengan cepat Nana menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan, rasa sesak itu kian menghilang. Jemarinya menyentuh bibir, "kemarin juga ciuman pertamaku, Bar," gumam Nana. Dia berjalan ke arah kasur, mengambil ponselnya dan kemudian merebahkan badan. Dia berselancar pada sebuah website untuk mencari tahu arti ciuman pertama. Ciuman pertama adalah momen paling indah dalam kehidupan percintaan. Biasanya ciuman pertama terjadi karena ada perasaan yang terikat di antara keduanya. Baik secara sadar maupun tidak sadar, ciuman pertama tetaplah sebuah kesan yang akan sulit dilupakan. Secara mendasar, seseorang yang menjadi objek ciuman pertama biasanya dia adalah cinta pertama. Membaca isi informasi tersebut membuat Nana semakin histeris. Dia mengakui kalau ada perasaan nyaman dan aman setiap kali berada di dekat Bara, namun apakah perasaan itu merupakan bagian dari cinta? Nana menggelengkan kepala, ia meraih bantal dan menenggelamkan wajahnya sembari berteriak sekeras mungkin. ~oOo~ Langit cerah menyingsing, mengganti peran dengan malam. Bertabur kilap cahaya bintang dan rembulan. Atas bantuan matahari, malam ini sangat indah, bulan dapat menyinari penjuru dunia dengan sinar temaram. Kembali berharap pada semesta agar semua yang berjalan baik-baik saja akan terus sama, namun jika berkata lain maka penyelesaian masalah datang dengan bijak hingga semua kembali seperti semula. Bara membulatkan tekad menghampiri Nana yang sedang mengurung diri di dalam kamar, jiwa kemanusian sebagai seorang pria mendorong Bara untuk berani meminta maaf dengan tulus. Sebab, jika hubungan mereka terus begini maka berantakan semua, ada jarak yang memicu perpisahan. "Na, boleh bicara?" tanya Bara sembari mengetuk pintu. "Sebentar ...," sambung Nana yang sedang merapikan pakaiannya. Kala pintu terbuka, Bara dapat melihat Nana masih menundukkan kepala—tanda bahwa rasa malu masih menjamur hebat. "Ke-kenapa?" tanya Nana ragu. "Malam ini langitnya lagi bagus, main kembang api, yuk!" seru Bara dengan menunjukkan sebungkus kembang api yang dibelinya siang tadi di pasar. Nana menggigit bibir bawahnya dengan perasaan tidak menentu, dia takut jika hal seperti kemarin kembali terjadi. "Boleh." Setelah Nana menutup pintu kamarnya mereka berjalan menuju pantai. Benar apa kata Bara, malam ini langit sangat indah, mungkin saja karena melihatnya dari hamparan pantai—dengan jangkuan luas tanpa penghalang gedung tinggi seperti di Jakarta. Cara damai yang dipilih Bara memberikan efek baik, bermodalkan kembang api dan hamparan surga dunia sudah cukup membuat keduanya tertawa bahagia dalam satu momentum. Semuanya berjalan dengan sempurna, bahkan kecanggungan hilang ditelan semesta sebelum Bara mengatakan permintaan maaf. Di tempat tidak terjangkau, Sang Pencipta alam semesta turut bahagia melihat dua insan kembali damai. Merengkuh dalam doa agar semua yang hancur akan kembali sempurna, semua yang berjarak akan bersatu dalam pelukan dan semua yang hilang akan saling menemukan. Di bawah sinar cahaya galaksi, Bara mengamit punggung tangan Nana, keduanya saling bersitatap penuh binar. "Na, aku minta maaf untuk semua kecanggungan yang terjadi hari ini. Lupakan soal kemarin, karena setiap manusia juga akan mengalami fase tersebut, mungkin saat itu waktunya belum tepat," ujar Bara. Nana menelan saliva yang diakhiri dengan menarik napas. "Aku juga minta maaf, Bar. Maaf, karena sudah lancang." Bara tersenyum lebar, kemudian mendekap Nana dalam pelukan. "Aku takut kehilangan kamu lagi seperti hari ini, jangan pernah menjauh dariku," ujar Bara parau. "Tidak akan." Bara melepaskan pelukannya, mereka kembali bermain kembang api. Di sela-sela kebahagiaan itu, Bara memecahkan suasana dengan sebuah pertanyaan. "Na, emang besok terapi kencannya gak bisa sama kamu aja?" Nana yang kini sudah berdiri di hadapan Bara menjawab pertanyaan tersebut. "Kalau kamu kencan dengan aku nanti efek yang ditimbulkan sangat kecil karena intensitas bertemu kita sangat tinggi. Beda cerita jika kamu kencan buta dengan orang yang tidak kamu kenal, efek yang ditimbulkan cukup besar dan bawa perubahan yang baik untuk kamu." Bara menghela napas, tidak tahu bagaimana dia harus bereaksi kala berkenalan dengan perempuan asing, mengingat pertemuannya dengan Nana berjalan tidak baik. Semoga yang dikatakan Nana benar, akan ada perubahan dalam dirinya. "Na, coba lihat ke atas, ada tiga bintang sejajar." "Yang mana, sih?" "Coba kamu kemari, biar aku kasih tahu yang mana." Nana kembali duduk di samping Bara, kemudian jemari pria itu menjadi petunjuk arah. "Yang itu, lihat, nggak?" "Oh ... itu, iya, lihat." "Kamu tahu fakta soal tiga bintang sejajar?" "Nggak, emang apa spesialnya dari mereka?" "Tiga bintang sejajar akan selalu kamu temui di mana saja, sekali pun jarak kita berjauhan. Mereka juga terikat dalam rasi bintang Orion, tidak pernah terpisah, aku berharap keadaan kita akan seperti itu." Nana mengalihkan pandangannya menatap Bara. "Jika hal itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan, Bar?" "Tentu saja akan berkelana mencari kamu." "Tapi kalau pada akhirnya kita tidak bisa bersatu?" "Setidaknya bisa bersama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN