Panci berdesis panjang, Deril segera mematikan kompor dan menuang air panas mendidih itu ke dalam pot teh tubruk. Dia menyiapkan dua gelas berisi tiga sendok teh gula pasir; satu untuknya, satu lagi untuk Deka.
Sembari menunggu rempah tubruknya larut dalam air panas dalam pot teh, Deril mematikan kompor satunya lagi yang berisi teflon martabak telur rumahan seadanya. Sulung itu lalu mengaduk nasi yang telah tanak dari rice cooker ke piring miliknya, juga piring milik Deka. Meletakkan martabak telur ke piring yang lain, lalu menyajikan seluruhnya di meja makan, ke hadapan Deka.
Sementara abangnya menyiapkan sarapan pagi, Deka yang sudah mandi dan rapi itu terbengong di meja makan. Matanya menyorot lemari piring tua yang tidak bergerak. Deka bengong, entah memikirkan apa menurut Deril .
“Nih, minum dulu.” Deril memberi segelas teh manis hangat ke depan Deka. Aroma manis teh yang khas menjadi aroma paginya, membuat Deka berpaling pada kenyataan, kembali ke meja makan.
Deril duduk di hadapn Deka, menyeruput teh hangatnya perlahan, memanjatkan doa, lalu menyuap nasi dan martabak telur isi irisan wortel, daun bawang, dan sosis buatannya. Dia mengangguk-angguk, merasa bahwa bumbu dapur yang diraciknya sudah pas dan tidak terlalu asin atau hambar.
Lalu mata Deril menatap adiknya yang menatapnya dari tadi. “Kenapa?”
“Oh?” Deka tersentak. “Enggak, enggak pa-pa.” Kemudian Deka meminum tehnya perlahan, dengan Deril yang masih melekatkan tatapan.
“Kenapa, Deka?” tanya Deril di tengah seruputan Deka. “Kamu masih memikirkan mimpi basah semalam?”
“Huurrrppp—” Deka menyemburkan tehnya.
Deril dengan tenang menyuap nasi dan memberikan lap. “Pelan-pelan minumnya, nanti tersedak,” nasihatnya.
“Ha-habis Abang bicara kayak gitu!” bela Deka.
“Aku cuma tanya. Apa yang kamu mimpikan semalam?” Meski terdengar menggoda adiknya, wajah Deril tetap terlihat tenang dan datar.
“E-enggak, lah! A-aku gak mimpi basah semalam! Bang Diksi salah paham!” Dan Deka, meski mengotot membela diri, tapi wajahnya merah karena ingatan-ingatan tentang tubuh perempuan yang semalam melintas dalam mimpinya muncul lagi. Kali ini lebih jelas, dan Deka ingat betul bagaimana bentuk bulatnya.
Duk!
Deka menabrakkan kening ke meja makan, menunduk malu, tak bisa mengangkat wajahnya untuk menatap sang abang.
“Jadi, benaran masih memikirkan soal mimpi indah itu, ya?” tekan Deril, pura-pura tak peduli sembari mengunyah nasinya.
“A-A-Abang!!” Deka memukul meja.
“Muka kamu merah, tuh.” Diksi menggeleng. “Aku baru tahu kalau laki-laki bisa mengalami mimpi basah sampai dua kali.”
“Bang Deril!”
“Seprai dan selimutmu sudah dicuci?”
“Abang!” Deka merajuk. “Aku gak mimpi begitu! Seprai dan selimutku juga baik-baik saja! Gak basah sama sekali! Bang Deril salah paham!”
Deril sejenak memandang raut malu adiknya sembari mengunyah nasi. Setelah mulutnya lapang, dia berkata, “Melihatmu yang berusaha keras menutup-nutupinya, Abang jadi semakin curiga. Biasanya, pembohong selalu bertindak berlebihan untuk menutupi kebohongannya.”
“Abang!!” Deka merengut. “Daripada mimpi indah, tadi itu mimpi buruk,” gumamnya.
“Mimpi buruk?” Deril mendengar suara adiknya. “Mimpi buruk apa? Kayak gimana?”
“A— i-itu—” Deka gelagapan, antara tak tahu bagaimana menjelaskannya dan kebohongan apa yang harus dikatakannya agar Deril percaya. “A-ah, iya!” Deril mengerutkan dahi, mendadak menyimak dengan serius. Deka melanjutkan, “Semalam, sebelum aku tidur, aku lihat yang hitam-hitam,” bisik Deka.
“Hitam-hitam?”
Deka mengangguk. “Bentuknya kayak…,” Deka memajukan tubuh, mendekat pada Deril dan memkik dengan suara pelan dan tertahan, “Hantu!”
Sebelah alis Deril naik, terlihat tidak percaya pada laporan adiknya. “Hantu? Bukannya kamu bilang habis mimpi buruk semalam?”
“Iya itu! Aku mimpi buruk karena habis lihat hantu!” Deka menoleh ke kanan-kiri, bersikap waspada seolah sedang menyampaikan rahasia terbesarnya. “Bang Deril tahu, gak, mimpinya kayak gimana?”
Deril melanjutkan makan, menjadi tak selera mendengar sang adik. “Ngawur kamu.”
“Aku serius! Semalam, waktu aku lagi buka HP, tiba-tiba ada suara ketawa!” Deka mengotot.
“Tetangga sebelah mungkin,” sanggah Deril .
“Masa, suaranya dekat banget?!”
“Yah, siapa tahu rombongan ronda bapak-bapak lagi lewat di depan rumah kita.”
“Enggak, Bang! Suaranya dekat banget! Waktu aku menoleh, aku juga lihat ada wajah seram dan hitam yang menyengir di sebelah kasurku!”
“Itu belum bisa dibuktikan.”
Deka geram karena Deril tak mau percaya padanya. “Bang Deril mau bilang kalau aku bohong?”
“Memangnya aku bilang begitu?” retorik Deril.
Deka kalah debat duluan. Dia mendecak. “Aku serius! Semalam ada hantu di kamarku! Karena kaget sama penampakannya, aku teriak, lalu gak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu, aku tidur dan bermimpi—”
Mendengar Deka yang tidak melanjutkan ceritanya, Deril bertanya, “Mimpi apa?”
Deka menggeleng-geleng dengan wajah yang memerah. “E-enggak! Gak ada!” Deka melihat raut wajah abangnya yang meminta penjelasan. “Po-pokoknya mimpi buruk! Bang Deril gak perlu tahu, lagian Bang Deril gak akan percaya juga.”
“Mimpi buruk?” tanya Deril lagi. “Kamu jarang mimpi buruk. Terakhir kali juga waktu kamu masih kecil. Kalau dulu mimpi buruknya karena melihat monster di dalam lemari, sekarang mimpi burukmu kayak gimana?” Deril terlalu menganggap serius omongan adiknya. Tapi Deka tak menangkap rasa khawatir pada abangnya juga. Pertanyaan Deril lebih ke ingin tahu semata, tapi itu tidak buruk juga.
“A-aku… aku mimpi jadi….” Deka tak bisa menyusun kalimatnya. Ingin berterus terang pun rasanya malah lebih salah. Aku semalam bermimpi jadi perempuan berdad4 besar! Masa, Deka harus blang begitu? Bisa-bisa Deril semakin salah paham!
“Jadi apa?” tanya Deril.
“Po-pokoknya ada, lah! Mimpi yang sangat seram! Hiiiiih! Mimpi terburuk yang pernah aku alami!”
Deril mengangkat sebelah alis. “Mimpi buruk, kok, sampai bikin wajahmu merah dan kepikiran begitu?”
“Eh?”
“Yah, coba pikirkan. Kalau mimpi buruk, orang-orang biasanya akan mencoba untuk tidak memikirkannya lagi dan tidak membahas-bahasnya lagi, kan?”
“I-iya juga.” Deka mengangguk.
“Tapi kamu malah kelihatan merona dan senang begitu. Kamu seriusan mimpi buruk?”
Deka memerah lagi. “Ba-Bang Deril!!”
Deril kembali menyuap nasi, tak benar-benar ingin dengar klarifikasi Deka atas kebohongan atau kejujuran yang dikatakannya. “Baiklah,” katanya. “Cepat habiskan sarapanmu. Toko roti Bunda harus dibuka, kan?”
“Ah, baru ingat!” Deka lantas mengambil sendok, memasukkan nasinya ke dalam mulut, menguyah dan menelannya cepat-cepat.
Jam dinding di ruang tamu sekaligus ruang keluarga, yang dapat diintip saat Deka memanjangkan leher ke belakang, menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
“Hahu hehat!” ucap Deka dengan mulut penuh nasi.
Deril sudah menghabiskan sarapannya lebih dulu. Dia bergerak ke wastafel setelah menutup martabak telur dengan tutupan saji. Mencuci gelas teh dan piring bekas makannya, sementara Deka berisik sekali membanting-banting sendok pada piringnya—buru-buru menghabiskan nasi sambil berdiri dari kursi. Bahkan saat nasi masih penuh dalam mulut, Deka meminum tehnya, menelan habis semuanya sekaligus.
“Pelan-pelan saja, Deka. Duduk dulu.” Deril yang melihat tingkah adiknya sampai meninggikan suara. “Tidak sopan makan dan minum sambil berdiri. Duduk.” Karena tentu, ajaran keluarga mereka pekat sekali mengajarkan sopan santun dan tata krama saat makan. Meski bukan keturunan bangsawan ataupun keluarga kerajaan, sopan santun adalah sopan santun.
Manners maketh man, istilahnya.
Deka terpaksa menurut. Dia duduk tak sabaran di kursi setelah menyerahkan piring dan gelas kotor pada Deril. Setelah kunyahannya habis, Deka beranjak ke kamarnya lagi untuk mengambil tas selempang miliknya, bersiap berangkat ke toko roti Bunda walau sudah telat sekali—meski toko baru dibuka jam sembilan nanti, saat roti sudah dipanggang, dibungkus, dan masuk ke dalam etalase.
“Makasih, Bang Deril, sarapannya!” Deka muncul lagi dengan tas dan helm sepeda yang terpasang di kepala. Namun ketika melintasi dapur, Deka yang terburu-buru pun sontak berhenti kala dirasanya ada yang berbeda pagi itu.
Deka menoleh ke ruang keluarga yang sepi dengan televisi yang mati, lalu ke kemar Diksi yang menutup bisu, pun ke kamar Ayah dan Bunda yang sama tertutup. Deka menoleh pada Diksi yang masih berdiri membelakanginya menghadap wastafel.
“Bang Deril,” panggilnya pelan.
“Ya?” sahut Deril. “Mau berangkat? Hati-hati, Deka. Cepat pulang, jangan mampir main ke mana-mana,” pesannya.
Deka sempat menyengir, “Memangnya aku Bang Diksi yang kerjaannya main terus?” lalu bertanya lagi, “Omong-omong tentang Bang Diksi, dia ke mana, Bang? Kok, gak ikut sarapan? Biasanya juga bangun.”
“Ke mana lagi? Kayak gak kenal abangmu itu saja,” balas Deril.
“Yah, dia kan, adiknya Bang Deril juga.” Deka tertawa.
Suara air keran di wastafel menjadi jeda. Deka menoleh lagi ke kamar Ayah dan Bunda. “Bang Deril,” panggilnya sekali lagi.
“Ada apa? Mau minta uang jajan dulu sebelum pergi?” tanya abangnya.
“Bang Deril mengusir, nih?” canda Deka, sedang Deril hanya tertawa.
Sementara Deril masih membilas busa pada piring, Deka akhirnya bertanya setelah suasana agak mendukung. “Bang Deril, Ayah sama Bunda ke mana? Kok, gak ikut sarapan? Kamarnya juga menutup gitu. Gak mungkin masih tidur, kan?”
Butuh dua detik bagi Diksi untuk merespons, “Ayah sudah disamper Pak RT pagi-pagi tadi.”
“Oh. Kalau Bunda?”
Krak! Prang!
Terdengar suara hantaman piring jatuh ke lantai. Deka mendekat ke abangnya. “Bang Deril!”
“Gak apa-apa, Deka. Piringnya gak pecah, cuma terbentur saja, tadi sedikit licin.” Deril merapikan piring dan gelas yang berhasil dia selamatkan ke rak piring di sebelah wastafel. Setelah menutup keran, Deril berjalan lebih dulu ke ruang keluarga untuk membereskan koran dan letak-letak bantal sofa tua yang autentik.
“Mengerjakannya pelan-pelan, lho, Bang Deril. Kalau Bunda tahu piringnya pecah, Bunda yang biasanya selalu baik hati dan lemah lembut bisa jadi singa murka, tahu.” Deka mengikuti abangnya, dan hanya terdengar suara tawa pelan dari Deril.
Melihat abangnya sibuk sendiri saat diajak bicara—suatu hal yang tidak biasa Derillakukan, karena saat bicara, Derilselalu berusaha menatap mata lawan bicaranya demi tak terkesan sombong atau tidak sopan—Deka menjadi tidak tenang. Deka gelisah, dan perasaannya curiga terhadap perangai Deril.
Deka menarik satu bantal yang tengah Deril rapikan, membuat Derilmau tak mau menoleh pada adiknya. “Sini, mau Abang rapikan.”
Deka memakai kesempatan itu untuk menatap wajah abangnya dengan serius bercampur gelisah. “Bang Deril, Bunda ke mana?”
Deril membulatkan mata. Raut terkejutnya tadi hanya berlangsung sekian detik sebelum kembali normal dan datar. “Kenapa menanyakan Bunda? Lebih baik kamu berangkat sa—”
“Bang Deril!” Deka berteriak, membuat Deril terperanjat. Wajah Deka serius memandang mata Deril, lalu berangsur melunak. Deril sampai mendapati mata adiknya berkaca-kaca dan menggenang.
“Bang Deril,” panggil Deka dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, “Bunda masuk rumah sakit lagi?”