29. Semalam Itu Apa?! (2)

1703 Kata
Selepas melihat anak gadisnya berteriak turun ke lantai satu seperti orang gila, Papa sempat termangu lama di dalam kamar Aisu. Wajahnya tampak kebingungan pada tingkah Aisu yang semula teriak-teriak di dalam kamar yang terkunci, lalu berwajah tak nyaman dan jijik, sebelum akhirnya berlari ke lantai satu dengan wajah memerah malu. “Aaaarrggghhh!” Papa masih dapat mendengar teriakan Aisu di bawah, yang juga menyadarkan Papa kalau dirinya harus berangkat kerja. Papa melangkah keluar daun pintu, tapi tak lama dia menoleh ke dalam kamar Aisu, menelusuri seluruh sudut yang masih dalam kondisi yang sama seperti tadi malam—berantakan tak karuan. Papa mengembuskan napas. “Kamar perempuan kenapa seperti ini?” Kemudian Papa kembali masuk untuk merapikan kamar anak sulungnya yang sudah berusia dua puluh tahun. Mulai dari memungut baju-baju yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam keranjang baju dan ditaruhnya di luar kamar, lalu ke plastik sampah yang tadi dijatuhkan Aisu sewaktu kabur, serta membuka daun jendela untuk mengganti hawa dan udara yang sudah terlewat sumpek untuk dihirup. Papa sekali lagi menghela napas. Lelah karena anaknya sulit diberi tahu, juga merasa lega karena kamarnya sudah lebih terang dan bersih. Papa terkikik, tak pernah terpikir bahwa dirinya akan membenahi kamar anaknya yang sudah terhitung dewasa itu. Ah, kalau diingat-ingat lagi, Papa lupa kapan terakhir kali dirinya mengurus anak, baik Ami yang masih TK yang tentunya memerlukan perhatian lebih, maupun Aisu yang sudah menapak pada kehidupan dewasanya. Samar-samar, Papa hanya dapat mengingat kenangan Aisu waktu TK yang melakukan darmawisata ke kebun binatang. Selebihnya Papa tak begitu mengingat kenangan dan momen khusus lainnya. Papa tak mempunyai banyak waktu untuk keluarganya. Papa jarang menyempatkan diri untuk benar-benar mengobrol dan bermain dengan anak-anaknya. Papa terlalu sibuk bekerja. Dan Papa sadar akan hal itu. Makanya, ketika Papa ingin berbalik keluar, matanya tak sengaja melihat meja belajar Aisu yang penuh majalah arsitektur yang Papa pinjamkan, kertas-kertas sketsa berbagai bentuk bangunan, serta modul kuliahnya. Dari banyaknya buku dan coretan di atas kertas, dan dari betapa berantakannya buku-buku itu di atas meja, Papa bisa tahu sebanyak apa usaha yang Aisu lakukan dalam kehidupan akademik kampusnya. Papa bisa tahu kerja keras yang Aisu lakukan demi meraih sesuatu. Papa tahu, seberapa berambisi Aisu. “Karena dia keturunanku,” gumam Papa, yang entah mengapa terdengar sendu. Tak menunggu lama lagi, Papa memilih keluar kamar anak tertuanya. Di tangan kiri membawa plastik sampah, dan di tangan membawa keranjang baju kotor untuk dibawa ke sebelah kamar mandi—dicuci. Selama turun ke lantai satu, tatapan mata Papa tak terpaku pada apa pun. Papa termangu dengan pikiran yang entah melayang ke mana. Setelah menaruh keranjang cucian dan membuang sampah, Papa dikagetkan dengan suara teriakan di ruang tamu. “Aaarrggghhh! Gila! Gila! Gila!” Papa menghampiri Aisu yang sedang duduk di sofa sembari meninju bantal sofa berkali-kali. Papa, entah sudah keberapa kali, menghela napas dan hanya melipat kedua tangan. Papa tidak memanggil atau bertanya, dia hanya berdiri dan menunggu Aisu berhenti melakukan itu. Aisu yang sadar bahwa di sudut matanya menangkap sesuatu yang berwarna hitam, mendadak terdiam dan kaku. Dia membelalak, tidak berani mengangkat kepala untuk melihat warna hitam apa yang matanya tangkap barusan. Aisu sesaat merasa déjà vu, seperti teringat kejadian kemarin sore. Aisu mendongak perlahan kala melihat bayangan hitam itu bergerak mendekat ke arahnya. Saat bayangan itu sudah dekat, dan Aisu sudah setengah melihat, Aisu dikagetkan oleh suara yang memecah kewaspadaannya. “Kamu kenapa bertingkah aneh seperti itu, Kak Aisu?” “Aaaaarrgh!” Aisu tersentak kaget, Papa otomatis mendekat padanya, ikut kaget pada Aisu yang tak jelas berbuat apa. “Kamu kenapa lagi?!” tanya Papa, memkik. Aisu yang membulatkan mata, sadar bahwa di hadapannya bukanlah hantu seperti yang kemarin sore dia lihat, melainkan Papa yang memakai celana bahan hitam. Aisu bernapas lega, melemaskan kedua bahu, dan menjatuhkan kepala ke punggung sofa. “Ternyata Papa,” ucapnya. “Kukira tadi Papa itu hantu!” “Hantu? Mana ada yang seperti itu di dunia ini.” Papa menggeleng. Mungkin karena sudah merasa jengah pada tingkah aneh Aisu, Papa melipir ke dapur meninggalkan Aisu. “Ih, benar kok, Pa!” Anzu ikut bangkit, menyusul Papa ke dapur yang membuka kulkas dan mencari sesuatu. “Kemarin sore Aisu juga lihat ada hantu di rumah! Di ruang tamu, Pa! Dia hitam dan bersayap!” Melihat Aisu duduk di kursi meja makan, Papa memanfaatkannya untuk memutar topik. “Mandi sana. Bukankah kamu ada kelas hari ini?” “Papa!” desis Aisu. “Aisu gak bohong! Aisu benaran melihat hantu, kok! Aisu ingat betul! Makanya tadi Aisu kira hantu itu datang lagi, ternyata cuma celana Papa yang hitam-hitam.” Papa mengeluarkan sekotak plain milk dari dalam kulkas, menaruhnya di meja, mengambil dua buah mangkuk, menuang 5usu ke dalamnya, lalu menaburkan sereal cokelat banyak-banyak ke salah satu mangkuk—miliknya. Papa menyodorkan satu mangkuk untuk Aisu seraya menarik kursi dan duduk. “Kamu hanya kurang tidur, Aisu. Orang yang kelelahan jadi banyak berimajinasi macam-macam.” “Papa! Aisu gak bohong! Mana ada Aisu berimajinasi! Aisu serius!” Papa menyuap sesendok serealnya. “Tapi tadi kamu salah lihat, kan? Sudah sana mandi dulu.” Papa menarik mangkuk sereal Aisu. “Ini biar Papa yang makan, kamu mandi saja, nanti Papa tuangkan yang baru. Tidak enak memakan sereal basah dan lembek.” “Papa!” Aisu bersikeras. “Kamu mau sarapan tanpa gosok gigi terlebih dahulu?” Papa menghela napas tipis, memakan serealnya asyik sampai berbunyi krauk krauk. “Entah sarapanmu akan terasa seperti apa. Yang pasti tidak enak dan bercampur jigong dan iler.” Aisu menggerutu. Dia tidak malu, hanya dongkol karena Papa yang sudah menuangkan sereal untuknya, bahkan sebelum Aisu memegang sendok, tapi Papa sudah mengklaimnya menjadi milik Papa. Papa menghabiskan dua mangkuk sereal sekaligus—mungkin tiga mangkuk, berhubung mangkuk Papa terlihat penuh dan mengunung. Pasti tak banyak lagi sereal yang tersisa. Namun, Aisu tidak beranjak. Dia menopang dagu dengan kedua tangan, berwajah masam. Papa menaruh sendok, lalu bertanya, “Tidak pergi mandi?” Aisu memanyunkan bibir. “Hm,” gumamnya. Papa memandang wajah Aisu yang tampak tidak segar. Kedua pipi anaknya beruntusan, kantung mata yang hitam menduduki matanya yang mulai cekung, dan sorot mata Aisu terlihat surut cahaya. “Kak Aisu,” panggil Papa. Aisu hanya melirik tanpa menjawab. Papa memandang serius dan bertanya, “Semalam kamu tidur jam berapa?” “Gak terlalu malam,” jawab Anzu pendek. “Bergadang lagi?” tebak Papa. “Enggak. Semalam Aisu langsung tidur waktu—” Aisu membeliak. Hampr saja keceplisan tentang gitar itu, batinnya. Aisu kemudian mengubah raut wajahnya menjadi lebih ramah, tak lupa mengubah topik pembicaraan. “Oh, iya, Pa. Kayaknya mata Aisu mulai minus. Kalau melihat benda yang jauh jadi buram dan tidak jelas. Apa Aisu periksa saja ke dokter mata, ya?” Papa yang menangkap perubahan sikap anaknya lagi, memandang Aisu sembari menyuap sereal—matanya yang menyipit menatap Aisu, sedang mulutnya menangkap sesendok sereal cokelat. “Kamu hari ini aneh sekali,” ucap Papa. “Ha-haha. Aneh apa, sih? Kayaknya Papa yang aneh, bukan Aisu.” Aisu menghindari tatapan mata Papa. “Ada apa?” tanya Papa, mengenai sasaran, tak berbelit. “Hah? Gak ada apa-apa, Pa. Me-memangnya kenapa?” Aisu menyengir, sedang Papa berwajah serius. “Gak ada apa-apa?” retorik Papa. “Kamu terbangun teriak-teriak dan berisik, kamaumu tidak kamu bereskan setelah Papa suruh, lalu tiba-tiba teriak dan menjerit-jerit dari lantai dua ke lantai satu, dan kamu juga bilang kemarin sore lihat hantu. Apanya yang tidak aneh kalau seperti itu?” Papa menyatukan alis, berada di antara marah dan bingung. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu semalam, Kak Aisu?” Semalam? Kata itu seakan menjadi kunci kilas balis atas kejadian, peristiwa, maupun pengalaman tak biasa yang Aisu baru saja lalui—tubuh perempuannya berubah menjadi laki-laki! Semalam, Aisu tak ingat bermimpi apa-apa. Dia tidur tanpa mimpi, dan terbangun dengan tubuh laki-laki yang belum pernah Aisu temui. Kemudian dia mendadak terbangun saat mendengar suara Papa dan gedoran di pintu kamarnya. Aisu jadi bingung sendiri. “Aisu!” panggil Papa setengah berteriak. Aisu menoleh pada Papa. “Kamu kenapa?” tanya Papa. “Dipanggil dari tadi kenapa bengong begitu? Tingkahmu ini semakin aneh saja. Apa semalam kamu mimpi buruk?” Aisu membeliak. Mimpi buruk? Dia terbengong lagi memikirkan mimpi semalam. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya tadi malam? Ah, bukan. Lebih tepatnya, apa arti mimpi yang dia alami semalam? Kenapa Aisu yang perempuan, bermimpi memiliki tubuh seorang lelaki? Dan mengapa rasanya begitu nyata, apalagi Aisu merasakan betul ada sesuatu yang mengganjal di pangkal pahanya? Aisu tak bertanya apa itu, karena memang… dia sudah tahu apa itu! Apa benar yang dia alami semalam adalah mimpi? Hanya sebuah mimpi? Benarkah mimpi buruk semata? Arrrgh! Memikirkannya membuat Aisu semakin bingung dan tambah malu!! “Aisu? Kak Aisu!!” “Ah, iya? Kenapa, Pa?” Aisu mengerjap, tak sadar sudah terbengong cukup lama, bahkan sampai dua mangkuk sereal yang Papa makan sudah habis. “Sudahlah, tidak ada. Kamu mandi dan hati-hati berangkat ke kampusnya.” Papa bangkit, membawa dua mangkuk kosong ke wastafel. Mencucinya sebentar, lalu meninggalkan Aisu di dapur sendirian. “Papa berangkat. Nanti sore Mama dan Ami pulang, kamu jangan berlama-lama di kampus.” “E-eh, Pa!” Aisu ikut menyusul Papa, tapi Papa sudah rapi dengan jas, dasi, dan tas ransel kulit mahal barunya, dan masuk ke pintu garasi dalam. “Pa! Masa, sudah mau berangkat?!” Papa sudah masuk ke dalam mobil. “Hari ini ada rapat dengan perusahaan konstruksi, ada hal yang harus didiskusikan. Oh, bilang ke mamamu, Papa akan pulang telat.” Papa menyalakan mesin mobil, mengecek-ngecek kaca spion dan kaca depan, lalu menyuruh, “Aisu, tolong bukakan pintu garasi dan gerbang depan.” Aisu meringis, tapi melaksanakannya juga. Mobil Papa perlahan keluar garasi dan gerbang depan rumah. Saat Aisu menutup gerbang, Papa melongokkan kepala dari kaca mobil yang diturunkan. “Jangan lupa mandi dan keramas! Anak perempuan itu harus rapi dan wangi! Sudah, ya! Papa berangkat!” Kemudian mobil Papa melaju keluar perkompleksan. Aisu menganga sehabis Papa pergi. “Jadi maksudnya aku bau?!” pekiknya. “Ih! Bahkan sampai Papa juga mengejekku bau!” Aisu menutup gerbang kencang-kencang. Dia mengentak kembali ke dalam rumah. Menguncinya, lalu naik ke lantai dua dan masuk ke kamar mandi sebelum bersiap dan berangkat ke kampus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN