30. Semalam Itu Apa?! (3)

1218 Kata
Aisu beranjak mandi setelahnya. Namun selama mandi, Aisu terus mendongakkan kepala menatap langit-langit, tak ingin menunduk menatap tubuhnya sendiri. Dia terus berdigik. “Idih! Jijik banget bermimpi punya sesuatu yang mengganjal di sana!” Selepasnya, Aisu sudah siap dengan tas ransel dan tabung gambar. Pakaiannya cukup simpel dan tomboi—topi hitam menutupi rambutnya yang dikuncir kuda, kemeja flanel hitam garis-garis putih membungkus kaus putih, serta jins hitam yang di kedua lututnya bolong-bolong. Aisu mencangklogn tas yang hari ini lebih enteng menuju dapur. Membuka kulkas, ternyata kotak plain milk yang tadi dikeluarkan Papa sudah hampir habis. Aisu menenggaknya langsung. Saat habis, dia tidak membuangnya ke tempat sampah, melainkan memasukkannya kembali ke kulkas. Jika Mama ada di sana, telinga Aisu sudah pengang oleh celotehan Mama. Ah, berhubung rumahnya sepi dan hanya ada dia sendiri, Aisu memutar akal dan memungut kesempatan yang jarang datang itu—biasanya rumahnya selalu terdapat orang; kalau bukan Ami, pasti Mbak Ris, tapi entah ke mana Mbak Ris, Aisu belum menghubunginya lagi—Aisu memanfaatkan kesempatan rumahnya yang sedang kosong itu dengan membuka salah satu ritsleting ransel, dan mengeluarkan sekotak rokok. Merokok, tentu saja. Memang, apa lagi yang akan Aisu lakukan? Dia bukan gadis aneh-aneh yang melakukan hal buruk, seperti menyeludupkan laki-laki ke dalam rumah ketika semua anggota keluarga sedang pergi. Aisu tak ada pemikiran ke arah sana. Meski, yah, Aisu sudah melakukan hal negatif lainnya—merokok, sesuatu yang tabu bagi kaum perempuan di mata kebanyakan laki-laki dan para orang tua untuk dilakukan. Dalam kehidupan sosial, perempuan yang merokok sering kali diartikan buruk dan dianggap melakukan banyak hal yang lebih negatif daripada menghisap batang tembakai oleh masyarakat—tidak bermoral. Padahal, bisa jadi tidak seperti itu. Bisa jadi mereka merokok karena memang kecanduan dengan nikotin dan tembakau. Bisa jadi tidak berarti apa-apa, hanya sebatas orang yang merokok saja. Seperti halnya Aisu, yang hanya sebatas orang yang merokok dengan gender perempuan, tak lebih dari itu—sungguh tak lebih dari itu. Tapi Aisu melakukannya di belakang Mama dan Papa, dia takut Mama dan Papa memiliki pemikiran yang sama dengan orang-orang kebanyakan. Aisu tak mau dicurigai melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dia lakukan oleh orang tuanya sendiri. Aisu menyalakan ujung batang rokoknya dengan api kompor—korek gas berukir nama “Ice Cream” miliknya lupa dia taruh di mana. Menyandar pada kitchen set marmer, Aisu mengisap nikotin dan tar pada filter rokoknya dalam-dalam, menyesap perlahan-lahan dan sangat menikmatinya. “Hhhhh,” desahnya. “Serasa kayak seminggu gak merokok!” Aisu menggerutu, tentu karena semalam dia hanya bisa menjadi penonton Papa yang pesta asap di dalam ruang kerja. “Tapi nikmat juga, pagi-pagi sudah sarapan rokok. Hahaha.” Dengan rokok yang diapit di antara bibir, Aisu membuka kulkas lagi, mencari sarapan. Tetapi kulkas tidak ada apa-apa—Aisu tak mengenal dedaunan apa yang ada di kulkas, dan rempah-rempah di dalam koran itu Aisu yakin tidak bisa dikonsumsi langsung. Roti pun tak ada—kalau tak ada Mama, tak ada orang yang menyetok bahan-bahan makanan lagi yang setidaknya cocok untuk sarapan. Makanan yang tersisa hanya kotak sereal yang jumlahnya tidak terlalu banyak lagi, yang sudah Papa makan dua porsi. Papa itu suka sekali dengan sereal cokelat. Bermula dari Mama yang membelikannya untuk Ami karena Ami memintanya, tapi karena Ami tidak suka bentuknya yang tidak bintang—Mama salah beli—lalu Papa yang malam-malam mengambil air minum di dapur untuk di bawa ke ruang kerja, melihat kotak sereal yang terbuka dan tergeletak begitu saja di meja makan, Papa berniat memasukkannya ke dalam kulkas. Tapi karena ada beberapa sereal yang tumpah bertebar di meja, Papa memasukkannya ke dalam mulut, dan ternyata sesuai dengan seleranya. Akhirnya, sereal Ami dihabiskan Papa, dan Mama pun tidak berhenti membeli sereal cokelat yang Ami tak sukai itu. Yah, tak perlu ditanyakan juga apa alasannya karena sudah jelas. Tapi Papa terlalu suka pada serealnya, jadi terkesan tak mau berbagi dengan siapa pun, bahkan anaknya sekali pun. Aisu mengambil kotak sereal itu dan langsung menaburkan isinya ke dalam rongga mulut. Mengunyah singkat sembari membuang abu rokok ke wastafel dan mengguyurnya dengan air keran, lalu memasukkan hujan sereal lagi ke dalam mulut. Namun tidak sampai dua detik, kotak serealnya sudah kosong—isinya terlalu tinggal sedikit. Aisu menaruh kotak sereal kosong begitu saja di meja makan. Setidaknya, jika dia tidak sempat memakan sereal dengan porsi yang layak, Papa akan dimarahi Mama karena menaruh sampah makanan di meja makan. Merencanakan kejahatan kecil itu, Aisu tertawa. Rokoknya sudah habis. Aisu membawa puntung rokok yang baranya sudah dilindas dan dingin masuk ke dalam kantung celana. Terlalu berisiko jika membuangnya di tempat sampah di dapur, tingkat terbongkarnya lebih tinggi. Setelah memastikan barang-barang dan perlengkapannya sudah berada di dalam ransel,dengan perut kosong, Aisu keluar rumah dan tidak lupa mengunci pintu—saat datang nanti, Mama dan Ami akan masuk dengan kunci cadangan yang Mama selalu bawa. Jadwalnya hari ini lumayan penuh. Aisu yang memiliki ambisi tinggi, sering kali menyelesaikan tugas yang tenggat waktunya masih panjang. Aisu lebih suka menjadi sibuk menyelesaikan tugasnya dari jauh hari, daripada bermalas-malasan dan santai-santai saja. Hari ini, Aisu ingin fokus dengan proyek tugas kelompoknya dengan Mindy yang memerlukan banyak tangan. Makanya Aisu langsung bergerak cepat menyicil tugas-tugasnya. Oh, dan Aisu masih harus menemui Pak Hiroki untuk meminta tugas tambahan untuk perbaikan nilainya, karena kemarin Pak Hiroki menolak proposal untuk proyek individu UAS-nya. Selama berjalan ke tempat biasa menyetop angkot, Aisu menendang-nendang batu kerisik, berdecak, dan mengumpat. Setelah lelah dan kesal juga jika mengingat-ingat Pak Hiroki yang memiliki kebijakan terlalu ketat, Aisu mengakhiri rasa kesalnya dengan hembusan napas kasar. “Hhhhh. Apa tahun ini adalah tahun tersialku?” gumamnya. Aisu berdiam diri menunggu angkot yang biasa ditumpanginya setiap berangkat ke kampus. Matahari sudah naik. Jam dinding yang sempat diliriknya di ruang tamu beberapa waktu lalu, menunjukkan pukul delapan pagi. Kelas pertama Aisu hari ini masih dimulai jam sebelas siang nanti. Aisu tidak sedang buru-buru, tapi menunggu adalah hal yang tidak menyenangkan. Lagi pula, Aisu punya banyak hal yang mesti dikerjakan. Sembari merenungi tugas-tugasnya yang banyak itu, pikiran soal tahun tersial yang tadi diucapkannya terlintas lagi. Tahun tersial, tahun yang penuh dengan kejadian tak mengenakan yang menimpa seseorang secara bertubi-tubi. Tapi Aisu menggeleng. Hal-hal seperti itu tidak terdengar nyata maupun sungguhan baginya. Aisu memilih memikirkan hal lain. Untuk saat ini, pikiran-pikiran negatif yang melinatas dalam kepalanya hanya akan mengganggu produktivitasnya. Banyak tugas kuliah dan komisi kerjaannya akan terlalaikan, jika Aisu menuruti hatinya untuk bersedih. Lagi pula, apa sih, yang bisa jadi lebih buruk dalam hidup Aisu? Aisu pernah mengalami hal yang paling buruk semester lalu. Pengalaman yang membuatnya merasa marah dan takut jika melihat Blu, ataupun hanya mendengar namanya disebut-sebut, juga jika membayangkan apa yang terjadi waktu itu. Aisu ingin melupakan mimpi buruk itu! Eh, bicara mimpi buruk, Aisu jadi teringat soal semalam—mimpi buruk yang di dalamnya, Aisu berubah menjadi laki-laki. Bahkan sebuah perasaan ada sesuatu yang melesak di antara kakinya semalam, sangat terasa jelas—terlalu jelas! Aisu menggeleng-geleng, menampar-nampar pipinya. “Sadarlah! Gila! Gila! Gila!” Sibuk dengan kontemplasi yang membuatnya bergidik, gelengan Aisu membuat supir angkot yang Aisu tunggu-tunggu, lewat begitu saja di depan Aisu—karena menganggap Aisu bukan mau naik ke jurusannya. Aisu baru sadar angkot yang ditunggunya dari tadi datang, saat mengangkat wajah kembali ke jalanan. Tapi abang supir sudah melaju, meninggalkan Aisu sendirian di jalan raya. Huft!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN