31. Rumah Sakit

1838 Kata
Ah, kalau diingat-ingat, sejak kapan ya, Aisu menjadi perokok aktif yang suka menghisap racun dan nikotin sebagai konsumsi sehari-hari? Hmm… entah sejak kapan, Aisu tahu-tahu sudah punya kebiasaan buruk itu. Kebiasaan itu datang pertama kali dengan cara coba-coba; melirik sekotak rokok bergambar paru-paru yang hitam dan rusak di rak minimarket, dengan dipenuhi pikiran kusut masalah-masalah terdahulu, Aisu mengandalkan kespontanannya untuk melakukan kesalahan itu. Kesalahan itu terasa nikmat setelah semakin hari semakin banyak batang nikotin yang Aisu hisap. Dan tentu, semakin banyak pula kotak nikotin yang Aisu beli, karena sehari saja tidak menghisap asap racun itu, Aisu merasa aneh dan gelisah seperti kekurangan sesuatu. Merokok sehari paling sedikit satu batang. Kalau ditanya sudah berapa lama… mungkin sudah empat bulan? Lima bulan? Enam bulan? Entahlah, Aisu lupa. Dia tidak menghitungnya. Racun, nikotin, dan tar itu sudah Aisu hisap sejak lama, dan Aisu melakukannya bukan untuk gaya-gayaan. Lagi pula, masyarakat dan orang kebanyakan, ketika melihat seorang perempuan merokok, pasti kepala mereka diikuti dengan berbagai dugaan negatif terhadap perempuan itu. Karena rokok adalah barang beracun yang nikmat, yang biasa dikonsumsi oleh kaum laki-laki. Dan melihat perempuan mengapit benda nakal itu di bibirnya, orang-orang lebih sering akan bereaksi seperti dia (perempuan tersebut) sedang melakukan sebuah kegiatan yang terlarang. Respons mereka seperti melihat seorang laki-laki yang mengenakan rok mini untuk mengikuti meeting formal dengan atasan atau dengan orang berkedudukan tinggi. Padahal itu cuma rokok, setidaknya begitu anggap Aisu, tidak terpengaruh oleh lirikan-lirikan mata orang-orang setiap Aisu merokok sambil berjalan. Pun, di dekat area kampus, yang mana terdapat banyak mahasiswa-mahasiswa dari kampusnya yang menjadi mata dan telinga yang menyebarkan berita bahwa Aisu, seorang perempuan, merokok. Berita itu mulanya adalah rumor yang dikumur-kumur oleh satu orang, kemudian menjadi dua-tiga orang, kemudian semakin berkembang dan menjamur ke banyak orang. Rumor yang mulanya hanyalah kabar burung, berubah menjadi kenyataan, sebuah fakta, setelah mereka satu-satu menyaksikannya sendiri, bahwa Aisu benar-benar merokok. Namun, bagaimanapun, Aisu tidak bisa melepaskan dirinya dari batang nikotin. Kebiasaan itu sulit diubah. Sehari saja mulutnya tidak ditempeli rokok, Aisu gelisah sekali dan tidak bisa fokus, seperti ada yang kurang. Gatal dan membuncah, mendorongnya untuk segera mengambil api dan sebatang nikotin. Kebanyakan kasus, hal tersebut terjadi di rumah, tempat Mama, Papa, dan adiknya berada. Kalau sudah ada mata, sulit untuk merokok di rumah. Tetapi, kesulitan tersebut dapat Aisu tangani dengan baik. Dia mencuri-curi kesempatan untuk merokok di garasi mobil Papa, walau tempat paling seringnya adalah kamar Aisu sendiri. Itu kalau malam hari, karena Mama, Papa, dan Ami sudah terlelap, sedangkan Aisu adalah makhluk nokturnal. Setiap Aisu merokok di kamar, dia tidak perlu takut untuk ketahuan. Selain karena penghuni lantai dua adalah dirinya sendiri, Mama jarang menengok ke atas. Paling-paling hanya seminggu sekali saja. Itu pun untuk mengecek seberapa berantakannya kamar si sulung, memarahi Aisu karena kamarnya bau campur aduk, dan mengecek stok sampo, sabun, dan odol di kamar mandi lantai dua milik si kakak. Aisu belum pernah sekali pun ketahuan merokok. Ah, rokok dan korek miliknya pun dia sembunyikan pintar-pintar. Dan sehabis merokok (di rumah), Aisu selalu mengunyah permen peppermint banyak-banyak. Satu biji saja tidak cukup untuk menghilangkan baunya. Berbicara tentang bau rokok, Aisu itu tidak suka sebenarnya dengan bau rokok; bau setelah merokok. Aneh, bukan? Aisu hanya menikmati perasaan ketika merokok, tidak bau mulut dan napasnya setelah merokok. Seperti aki-aki katanya. Aisu sudah fokus dengan kertas-kertas dan laptopnya. Dia sibuk sendiri dengan tugas, dan kalau sudah fokus, Aisu tidak mudah diganggu. Aisu selalu mendahulukan apa yang penting baginya. Namun, sejak tadi, Aisu merasa ada sebuah hal yang mengganjal; sesuatu yang menggangu pikirannya perihal satu hal yang harus Aisu lakukan segera. Tapi… apa? Ah, apa tentang Mindy, ya? Benar juga. Teman Aisu yang cantik dan ceria itu kapan datangnya ke kampus? Aisu mengecek ponsel, mengirim pesan pada Mindy, bertanya soal kelasnya hari ini. Beberapa menit kemudian, Mindy menjawab, “Jam setengah satu, Kak Aisu.” “Ih, Mindy. Sudah dibilang jangan panggil aku Kak Aisu terus,” gerutu Aisu, sesungguhnya tak benar-benar marah juga. “Nanti kabari aku kalau kamu selesai kelas, ya!” balas Aisu lewat pesan. Mindy mengiyakan dan mengirim stiker lucu seekor kucing yang mengangkat jempolnya—entah bagaimana caranya. Aisu menyengir. Tetapi perasaan senang itu hanya singgah sesaat, kemudian pergi lagi. Aisu merasa, bukan Mindy yang mengganggu pikirannya. Leo, kah? Hmm… jika mengingat-ingat percakapan Aisu dengan Leo terakhir kali, di gedung fakultas Aisu siang kemarin, sepertinya begitu. Aisu gelisah mengingat topik perbincangan yang Leo bawa dan tanyakan—”Apa kita tidak bisa memulai kembali?”—karena pertanyaan itu ada sangkut pautnya dengan masa lalunya dengan Leo, mungkin juga menyeret Mindy. Namun untuk saat ini, Aisu sedang tak ingin membahas apa pun soal masa lalu. Masa lalu, ya, hanya sekadar masa lalu; peristiwa yang sudah lewat dan sudah terjadi, tak bisa diubah lagi kejadiannya. Yang Aisu bisa lakukan—dan sedang dilakukannya sekarang—adalah menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk bertindak di masa depan. Itu artinya, apa yang Aisu lakukan sekarang adalah hal yang benar. Menghindar. Benar, Aisu sedang menghindari dari Leo, dari pertanyaan Leo yang membangkitakan masa lalu keduanya. Aisu tidak mau lagi ambil pusing. Masa lalu hanyalah sebatas masa lalu. Dia tidak perlu memikirkan Leo ataupun segala perkataannya. Mengabaikan Leo adalah hal yang benar untuk saat ini. Setelah memikirkan Mindy dan Leo, perasaan gelisah Aisu tidak pergi juga. Sepertinya, bukan dua orang itu yang membuatnya merasa tak tenang. Apa, ya? Apa soal mimpi buruk dirinya berubah menjadi laki-laki tulen dan berbatang seperti semalam? Ah, kayaknya bukan itu. Lebih awal dari itu kejadiannya— “Ah!!” pekik Aisu, bangkit dari kursi kayu panjang taman belakang kampus. “Gitar tua punya Papa!” Aisu membelalak. “Astaga! Masih di bawah kolong!” Dia melirik jam pada ponsel, sembilan kurang tiga menit. Masih ada dua jam sebelum kelas siangnya dimulai. Lantas Aisu mengemas laptop dan barang-barangnya, memasukkannya kembali ke dalam ransel, dan lari terbirit menuju gerbang kampus. Aisu memesan ojek daring, menyuruh sang abang untuk mengebut agar cepat sampai—Aisu sudah muak dengan angkot yang lelet. Aisu harus cepat sampai ke rumah! *** Deril menatap adiknya yang memasang raut wajah serius setelah bertanya dengan nada yang tak kalah serius—”Bang Deril, Bunda masuk rumah sakit lagi?”. Suasana berubah berat, dapur diselimuti hening yang menggigit nyali baik Deka maupun Deril. “Bang Deril,” panggil Deka sekali lagi, wajah seriusnya terlihat bercampur sendu. “Bunda masuk rumah sakit lagi, ya?” Deril tetap diam menatap adiknya datar. Dia lalu kembali pada wastafel, menaruh piring yang baru dibilasnya ke dalam rak supaya kering. Deril yang berbalik dan tidak menjawab pertanyaannya, membuat Deka geram. “Bang Deril!” teriaknya. Deri lsegera berbalik menghadap adiknya. Wajahnya dia usahakan tetap datar saat berkata, “Bunda lagi beli sayur.” “Bohong!” teriak Deka, semakin marah seteleh mendengar perkataan Deril barusan, seolah penjelasannya akan membuat sang adik percaya dan manut saja, seperti mengakali anak kecil. “Bunda ke mana?!” teriak Deka lagi. Deril menghela napas, tak ingin berdebat dengan Deka, dia berjalan keluar dapur, tapi Deka menahannya. “Bang Deril! Bunda ke mana?!” “Beli sayur, Deka,” jawab Deriltenang dan seperti biasa. “Bohong! Bang Deril kalau bohong pasti diam dulu sebelum menjawab!” Deka mengotot. “Siapa yang bohong? Bunda betulan lagi beli sayur.” Deka menggeram. Tak tahan dengan abangnya yang sama keras kepala berbohong demi membuat Deka puas dengan jawaban itu, Deka pergi dari dapur ke kamarnya. Mengambil tas selempang dan helm sepeda, Deka melintasi Deril yang berdiri di ruang tamu-keluarga. “Mau ke mana?” tanya Deril. Deka membuka pintu, memakai sepatunya di luar, dan Deril berdiri di belakangnya, penasaran pada adiknya yang tiba-tiba hendak pergi. “Berangkat kerja?” tanya Deril. “Sarapanmu habiskan dulu. Piringnya masih penuh, tuh, mubazir kalau dibuang-buang, Deka.” Deka berdiri setelah memasang kedua sepatunya. Dia memakai helm sambil berkata, “Aku mau ketemu Bunda!” “Apa? Hei, tunggu dulu—” Deka pergi ke gudang kecil di sebelah rumah, mengambil sepeda gunungnya, menentengnya ke pagar rumah, dan bersiap pergi menaikinya. “Kamu mau ke mana? Bunda lagi beli sayur!” “Bang Deril bohong!” Deka sudah duduk di sadel sepeda. “Kalau Bunda cuma beli sayur, kenapa sarapan Bang Deril yang masak? Ayah juga bukan sedang ada urusan dengan Pak RT, kan?! Deril tergugu. Mulutnya terbuka tertutup tanpa menumpahkan kalimat penjelasan maupun sanggahan. Deka menggigit bibir. Dia kenal betul abang tertuanya. Deril tidak bisa dan tidak pandai menutup-nutupi sesuatu. Deril tidak bisa berbohong. Itu artinya, dugaan Deka tidak salah. “Benar, ya?” Deka bertanya, memelankan suaranya, hampir terdengar berbisik. Dia tertunduk menatap pedal yang menunggu untuk dikayuh. “Bunda masuk rumah sakit lagi—benar, ya?” Deril tidak bersuara. Deka pun tidak menyahut apa-apa, agaknya menunggu Deril untuk berkata apa pun; menyanggah seperti, “Bukan, kok! Bunda benaran sedang beli sayur!” agar Deka tidak merasa pundung, agar Deka tidak merasa hatinya berat dan sesak. Untuk kali ini, Deka ingin mendengar kebohongan Deril yang payah itu. Namun, Deril masih terdiam tanpa kalimat. Deka dan Deril yang termangu di depan pagar rumah itu menjadi tontonan tetangga-tetangga yang lewat. Mereka disapa oleh beberapa ibu dan bapak-bapak yang berangkat kerja, tetapi Deka dan Deril sedang berada di dalam dunianya sendiri. Mereka tidak terjangkau oleh satu sama lain. Deka mengangkat kepala, menatap Deril yang memandang Deka dengan tatapan mata khawatir. “Bunda dirawat di rumah sakit mana?” Deril terlihat terkejut, sebelum akhirnya tergeragap dan mengatakan sesuatu. Tepatnya mengatakan kebohongan yang lain, tetapi Deka menyumpalnya dengan bilang, “Gak usah bohong lagi, Bang Deril. Bang Deril gak perlu melindungi Deka. Deka sudah dewasa, Deka sudah bisa bertanggung jawab dengan diri Deka sendiri. Jadi, Bunda ada di rumah sakit mana?” Deril termenung mendengar ucapan adiknya. Sedikitnya tak menyangka, kalau Deka akan berkata dengan tenang dan mampu mengontrol emosinya. Padahal biasanya, Deka akan mudah berteriak dalam perdebatan karena tidak mau kalah. Tetapi, sikap kuat yang ditunjukkan Deka pada Deril itu, di mata Diksi hanyalah akting demi memperoleh informasi keberadaan Bunda. “Bang Deril,” panggil Deka, agaknya memberi peringatan yang entah apa konsekuensinya jika Deril tidak menuruti keinginannya. Berselang beberapa detik karena Deril merasa bimbang harus memberi tahu Deka atau berbohong lagi, Deril sempat melihat air mata Deka jatuh di sudut matanya dan turun ke pipi, kala Deka berpaling untuk membalas sapaan seorang ibu yang lewat—berpura-pura kuat dan menghindari gosip kalau dia dan Deril sedang bertengkar. Deril, setelah mengepalkan tangan dan bimbang dengan keputusan dalam kepalanya, akhirnya memutuskan untuk memberi tahu sang bungsu. “Di Rumah Sakit Harapan Bersama, kamar 505.” Deka sejenak menatap abangnya yang menghindari kontak mata dengan ekspresi tak terbaca. Deka menggenggam stang, menaruh kaki pada sadel, “Deka berangkat,” lalu melesat pergi dari hadapan Deril. “Ah, Deka tunggu—” Derilmelihat si bungsu sudah di ujung tikungan gang. Melihat punggung kecil itu bergegas pergi, Deril menjadi murung. Tapi dia menutupi ekspresinya dengan menundukkan kepala. Deril kembali masuk ke dalam rumah mereka yang kosong, sepi, hening, dan terasa dingin. “Maaf, Bunda. Deril gak bisa menepati janji,” bisiknya sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN