Berselang beberapa detik karena Deril merasa bimbang harus memberi tahu Deka atau berbohong lagi, Deril sempat melihat air mata Deka jatuh di sudut matanya dan turun ke pipi, kala Deka berpaling untuk membalas sapaan seorang ibu yang lewat—berpura-pura kuat dan menghindari gosip kalau dia dan Deril sedang bertengkar. Deril, setelah mengepalkan tangan dan bimbang dengan keputusan dalam kepalanya, akhirnya memutuskan untuk memberi tahu sang bungsu.
Deril tak punya pilihan melihat ekspresi adiknya. “Di Rumah Sakit Harapan Bersama, kamar 505.”
Deka sejenak menatap abangnya yang menghindari kontak mata dengan ekspresi tak terbaca. Deka menggenggam stang, menaruh kaki pada sadel, “Deka berangkat,” lalu melesat pergi dari hadapan Deril.
“Ah, Deka tunggu—” Deril melihat si bungsu sudah di ujung tikungan gang. Melihat punggung kecil itu bergegas pergi, Deril menjadi murung. Tapi dia menutupi ekspresinya dengan menundukkan kepala.
Deril kembali masuk ke dalam rumah mereka yang kosong, sepi, hening, dan terasa dingin. “Maaf, Bunda. Deril gak bisa menepati janji,” bisiknya sendu.
Deka tiba di halaman rumah sakit yang besar, yang jarak dari rumah ke sana cukup lama—dua puluh menit. Dengan mengayuh gila-gilaan, Deka sampai lima menit lebih cepat. Dia membawa sepedanya ke parkiran. Membawa helmnya masuk, Deka berlari masuk ke lobi dan langsung mencari lift.
Deka menunggu di depan lift yang sedang turun. Sambil menunggu, pantulan buram dirinya di pintu lift samar-samar menunjukkan betapa berantakannya penampilan Deka sekarang. Peluh membasahi wajah, leher, dan bajunya. Rambut pendeknya berdiri acak-acakan terbawa angin ketika berkendara. Napasnya juga terengah. Deka tampak seperti habis melewati angin p****g beliung.
Ting!
Pintu lift terbuka, Deka menunggu beberapa orang di dalamnya keluar dengan tak sabar sebelum masuk ke dalam dan cepat-cepat menekan tombol lima. Tapi beberapa orang memanggilnya, menyuruh Deka untuk menahan lift, ingin ikut naik bersama. Mereka sudah masuk, lift pun tertutup, dan mereka dibawa naik.
Baru lima detik di dalam, lift berdenting dan pintunya terbuka. Lantai dua. Seseorang keluar. Deka menggerutu dalam hati, Naik ke lantai dua saja pakai naik lift?!
Segera setelah lift kembali menutup dan naik, lantai tiga terlewati—tidak ada yang turun dan masuk. Tapi di lantai empat, lift kembali berhenti dan terbuka. Rombongan orang yang tadi memanggil Deka, turun bersama. Dengan rasa geram dan ketidaksabaran yang cukup kentara, Deka mengetuk-ngetukkan ujung sepatu pada lantai lift. Mereka lama sekali turunnya.
Setelah rombongan habis dan di dalam lift hanya tersisa dirinya, Deka menekan tombol tutup, dan lift kembali naik. Beberapa detik setelahnya, yang Deka rasa seperti bermenit-menit, lift tiba di lantai lima. Deka segera keluar dan berlari begitu pintu lift terbuka.
Dia sudah tiba di lantai lima, di lorong yang lumayan ramai dengan troli dorong para perawat yang membawa mangkuk dan air minum—yang Deka terka adalah sarapan untuk pasien-pasien di sana. Deka yang sudah tak sabaran, berlari membelah lorong sembari membaca papan angka pada pintu kamar di sana, sampai suster yang sedang mendorong trolinya menegur Deka untuk tidak berlarian di lorong rumah sakit. Tetapi Deka tak mengindahkanya. Dia masih berlari, membaca angka-angka itu. 501. 502. 503. 504—
Ah, 505!
Sepatu Deka berdecit saat tiba-tiba berhenti di depan pintu kamar 505. Deka memandang ke arah pintu, mengatur napasnya sesaat sebelum masuk ke dalam. Napasnya yang terengah, jantungya yang berdebar setelah berlarian, dan peluh yang menetes di wajahnya, menghentikan Deka untuk mendorong kenop pintu. Dan serta-merta menunggu napasnya kembali normal, keberaniannya mengelupas perlahan.
Kenyataan bahwa Diksi menyembunyikan fakta Bunda masuk rumah sakit, bisa jadi ada alasan di baliknya, dan agaknya Deka mengetahui alasan itu. Tetapi saat ini, Deka pun tak ada pilihan lain selain masuk. Berbalik dan keluar lagi dari rumah sakit? Kalau sudah berdiri di depan pintu kamar rawat Bunda, mana bisa Deka keluar? Kalah sudah terlanjur datang, masuk saja sekalian!
Deka sudah bertekad. Selepas mengumpulkan keberanian dengan menarik napas panjang, Deka menggenggam gagang pintu. Dalam hitungan ketiga, Deka akan menariknya dan membuka pintu.
Satu… dua… ti—
“Ah, lebih baik cuci muka dulu!” Deka melepas gagang pintu, dia berjalan—sedikit berlari—menuju ujung lorong, tempat toilet berada. Deka masuk untuk membasuh wajah di wastafel. Memandang cermin, dia baru tahu kalau penampilannya cukup berantakan.
Deka mengelap wajahnya dengan tisu, setelah itu menyisir rambutnya, dan merapikan baju. Penampilannya jadi lebih enak dipandang. Yakin dirinya sudah siap, Deka keluar dari toilet dan kembali ke pintu kamar rawat bundanya. Berdiri di depan pintunya, sekarang rasa percaya dirinya lebih kentara dibanding bingung harus menyiapkan alasan apa jika Bunda bertanya apa-apa.
Menarik napas, mengembuskannya, kemudian Deka menarik gagang pintu dan masuk ke dalam. Deka mendorong pintu perlahan sembari mengintip keberadaan sesiapa pun di dalam. Begitu pintu terbuka sepenuhnya dan Deka sudah masuk dan menutup pintu, seorang wanita paruh baya yang sedang duduk menyandar pada kepala ranjang, menoleh kepada Deka.
Wajah yang sudah dihiasi dengan keriput itu tampak layu dan kekurangan cahaya yang biasa singgah di wajahnya. Bunda tampak layu dan kurang bugar. Sorot matanya yang kaget ketika melihat si bungsu datang pun terlihat pucat dan lelah. Deka hampir menjatuhkan air mata kala melihat penampilan Bunda yang memprihatinkan seperti itu.
“Bunda,” sapa Deka, lalu menyungging senyum lebar seraya melangkah mendekati ranjang Bunda.
“Lho, Deka?” Bunda menaruh sendoknya ke dalam mangkuk. Nampan makanan berkaki ada di atas kakinya—Bunda sedang sarapan. “Kamu… kenapa bisa di sini?”
Kenapa bisa di sini? pikir Deka. Apa Bunda enggak mengharapkanku ada di sini, menjenguknya?
Tetapi Deka tetap tersenyum. “Bunda dirawat di rumah sakit, memang Deka gak boleh menjenguk?”
Bunda tersenyum lemah. “Enggak. Tentu boleh. Sini, duduk.” Bunda menunjuk bangku di sebelah ranjang.
“Iya, Bun.” Deka berjalan dan duduk di bangku tanpa melepas tas—dia terlihat seperti orang yang bingung harus berbuat apa; kikuk.
“Menjenguk orang sakit, kok, tidak bawa apa-apa? Padahal Bunda suka jeruk.” Bunda tersenyum jahil, lalu tertawa melihat Deka gelagapan salah tingkah. “Enggak, Deka. Bunda bercanda saja, kok.”
“Enggak, Bun. Kalau ke sini lagi nanti Deka belikan.”
Deka dan Bunda saling bertukar senyum barang sebentar. Meski baru kemarin pagi Deka terakhir melihat Bunda, tapi rasanya seperti sudah lama sekali. Dalam semalam, Bunda berubah banyak. Kemarin pagi Bunda masih segar dan bersemangat, sedangkan sekarang… di hadapan Deka, Bunda yang mencoba tersenyum teduh seperti selalu, hanya terlihat seperti sedang berusaha mencoba terlihat kuat di depan si bungsu.
“Eh, Bunda sedang sarapan?” Deka melirik bubur polos tanpa bumbu apa pun dan hanya bertabur suiran daging ayam di atas meja lipat. “Sini, biar Deka suapi.”
Deka hendak meraih mangkuk bubur, tapi tangan Bunda menyentuh tempurung tangannya. Masih tersenyum, Bunda dengan suara lembut berkata, “Enggak usah, Deka. Biar Bunda saja sendiri. Malu, ah. Memangnya Bunda anak kecil?” lalu tertawa cekikik.
“Gak apa, kok, Bun. Sini, Deka yang suapi. Bunda rebahan saja.”
Bunda menggeleng. “Enggak, Deka. Bunda masih kuat kalau untuk makan.”
Bunda yang memaksa meninggalkan Deka tanpa pilihan. Si bungsu mengangguk saja, menonton Bunda melahap bubur tanpa rasa yang disiapkan pihak rumah sakit, sambil memijat kaki Bunda.
“Padahal gak perlu sampai memijat kaki Bunda, lho.”
“Enggak, Bun.” Giliran Deka yang keras kepala. “Gimana tangan Deka? Kaki Bunda sudah lebih enak dan nyaman, kan?”
Bunda menyengir. “Iya, saking nyamannya sampai Bunda yakin bisa lari memutari halaman rumah sakit.”
“Eh, jangan, Bun! Istirahat saja biar pulih!” Deka kemudian mengambil mangkuk dan meja lipat Bunda saat bubur ayamnya sudah habis. Setelah menyingkirkannya, Deka membuka botol minum dan memberikannya pada Bunda. “Ini minumnya, Bun.”
“Wah, terima kasih.”
“Oh, iya. Obatnya gak sekalian diminum, Bun?”
Tangan Bunda sedikit tersentak saat ingin mengangkat botol mineralnya. Bunda cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya. Bunda menunjuk meja. “Ada di sebelah buah-buah itu, di belakang apel.”
Deka mengernyit, tapi tetap mencari obat yang datang bersama sarapan Bunda pagi ini. Ketemu. Mata Deka langsung membulat, melihat butir-butir obat berbagai bentuk di dalam bungkus alumunium foil.
Obatnya… banyak banget, batin Deka, tak tega mengatakannya langsung pada Bunda. “Ini, Bun.” Bunda menyerahkan obat beserta botol minum pada Bunda.
Bunda awalnya terlihat ragu saat menerima obat. Bunda menatap lima sampai tujuh butiran obat itu sejenak, tapi tak lama membuka bungkusnya satu per satu. “Sini, Bun, Deka bantu buka. Bunda istirahat saja.” Deka mengambil alih pekerjaan itu. Dia membuka bungkusnya, lalu menyerahkan butiran obat mulai dari tablet dan kapsul pada Bunda.
“Diminum, Bun.”
“Kamu sudah cuci tangan belum, Deka?” tanya Bunda.
“Ah, Bunda,” rengek si bungsu. “Sebelum masuk ke sini, Deka mampir ke toilet, kok!”
Bunda tersenyum, lalu kembali pada obat di tangannya. Bunda memasukkan butiran obat satu per satu ke dalam mulut. Satu obat lalu menenggak air, satu lagi lalu menenggak air.
“Susah menelan, Bun?” tanya Deka, terdengar khawatir.
“Engga, Deka. Kamu, kan, tahu Bunda gak bisa menelan obat sekaligus banyak. Daripada menyangkut dan keluar lagi, lebih baik satu-satu minumnya,” jelas Bunda setelah meminum semua obatnya.
Deka mengangguk, kemudian membalas senyuman teduh bundanya. Keheningan serta-merta memeluk keduanya. Bunda menatap ke luar jendela, pada bangunan dan jalan raya yang penuh kendaraan. Orang-orang di sana tampak kecil dan jauh. Deka merasa seperti itu saat ini. Datang menjenguk Bunda di rumah sakit, setelah masuk dan duduk menemani Bunda, Deka masih merasa ada jarak yang teramat jauh yang memisahkan dirinya dengan Bunda. Padahal mereka bersebelahan dan begitu dekat.
Deka memainkan bungkus obat berbagai nama dan dosis di telapaknya. Kegelisahan merenggut nyalinya. Deka tidak nyaman dengan keheningan di sana. Bunda jadi terkesan terlalu tak tergapai. Dan guna mengikis jarak, Deka membuka mulut untuk memanggil bundanya, “Bunda.”
Bunda menoleh, tak lupa dengan satu simpul senyum yang menenangkan. “Ya, Deka?”
Senyum Bunda yang terlihat menenangkan itu, di mata Deka hanyalah sekadar usaha untuk menutupi sesuatu yang Bunda ingin Deka tak mengetahuinya. Maka, Deka memberanikan diri bertanya demi menghapus jarak di antara mereka. “Bunda, apa hasil diagnosis dokter?”
Bunda sempat terdiam sepersekian detik sebelum menjawab cepat, “Tidak terlalu serius, Deka. Bunda baik-baik saja, kok.” Bunda tersenyum lagi.
Deka memandang Bunda dengan mata datar yang terlihat kecewa. Ekspresi Bunda itu seperti pernah Deka lihat; ekspresi yang sama seperti Diksi beberapa waktu lalu—ekspresi ketika mencoba menutupi sesuatu dengan kebohongan.
Deka memaksakan senyum. “Ah, begitu? Syukurlah, Bunda.” Tangannya mengepal, napasnya sesak, berat. Deka kecewa.
Apa aku sebegitu tidak bisa dipercayanya untuk mengetahui keadaan Bunda?