33. Rumah Sakit (3)

2372 Kata
Senyum Bunda yang terlihat menenangkan itu, di mata Deka hanyalah sekadar usaha untuk menutupi sesuatu yang Bunda ingin Deka tak mengetahuinya. Maka, Deka memberanikan diri bertanya demi menghapus jarak di antara mereka. “Bunda, apa hasil diagnosis dokter?” Bunda sempat terdiam sepersekian detik sebelum menjawab cepat, “Tidak terlalu serius, Deka. Bunda baik-baik saja, kok.” Bunda tersenyum lagi. Deka memandang Bunda dengan mata datar yang terlihat kecewa. Ekspresi Bunda itu seperti pernah Deka lihat; ekspresi yang sama seperti Diksi beberapa waktu lalu—ekspresi ketika mencoba menutupi sesuatu dengan kebohongan. "Kamu naik apa ke sini?” tanya Bunda, membuat Deka menyengir tanpa dosa. “Jangan bilang naik sepeda?” tebak Bunda. Deka mengangguk. Bunda menaikkan nada suaranya, bukan bermaksud marah, melainkan khawatir. “Kamu benaran naik sepeda, Deka?” “Memang harus naik apa lagi, Bun? Naik kuda sambil pakai jubah kayak pangeran gitu?” Deka tertawa. “Bukan gitu. Jarak dari rumah ke sini, kan, jauh. Kenapa gak naik angkot saja?” “Kalau naik angkot kapan sampainya, Bun?” Deka memanyunkan bibir. “Sudah macet, abangnya kebanyakan menepi. Kalau Deka kelamaan di jalan, nanti Bunda keburu—” Deka menyesali perkataannya. Dia ingin sekali memukul mulutnya yang hampir saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan sampai kapan pun. Jika omongan adalah doa, maka bisa jadi kalimat lanjutan Deka sungguhan akan terkabul. Deka mengumpat pada dirinya sendiri. “—enggak. Maksud Deka, keburu Bunda sembuh dan Deka gak sempat menjenguk.” Deka terlihat salah tingkah. Bunda tersenyum. “Jadi kamu berharap Bunda ada di rumah sakit terus?” “Ah, enggak! Maksud Deka bukan begitu, Bun!” Melihat si bungsu mulai panik, Bunda tertawa ringan. “Iya, Bunda tahu. Bunda cuma ingin menggoda kamu sedikit saja.” “Sedikit?” tanya Deka, agaknya merajuk. Bunda tertawa melihat ekspresi Deka yang bertambah manyun. Dan melihat si bungsu sudah rapi dengan kemeja yang digulung sampai siku dan celana bahan—setelan khas kerja—Bunda bertanya, meloncat ke topik yang lain. “Oh, iya. Kamu gak berangkat kerja, Deka?” Deka menyembunyikan keterkejutannya. “Oh, itu— tadi mau berangkat, cuma karena Deka dengar Bunda masuk rumah sakit, jadi… Deka berangkatnya nanti saja, habis menjenguk Bunda.” Bunda mengernyit. “Bunda baru ingat mau tanya, kamu tahu dari siapa Bunda masuk rumah sakit?” Deka mengerutkan dahi. Apa maksud Bunda? pikir Deka dalam hati. “Hmm, dari… Deka tahu sendiri?” ucapnya, lebih seperti pertanyaan. “Tahu sendiri?” Bunda mengulang pertanyaan Deka. “Tahu sendiri bagaimana?” “Eh…,” Deka menggaruk alisnya, mencoba mengarang alasan dengan bilang, “Ya, Deka… tahu sendiri, Bun.” Bunda mengeratkan tatapan, dan Deka tahu kalau Bunda menaruh curiga. “Apa Deril yang memberi tahu kalau Bunda masuk rumah sakit lagi?” “Eh— enggak, Bun!” cegat Deka. “De-Deka betulan tahu sendiri, kok!” Deka menaruh bubuk keyakinan dalam penjelasannya. “Bunda… dari semalam sudah tidak ada di rumah, kan?” Pertanyaannya itu melahirkan ekspresi terkejut yang tipis di wajah Bunda. Deka merasa tebakannya tepat. Berarti apa yang kupikirkan itu benar, batin Deka. “Iya, kan, Bunda?” Deka sekali lagi bertanya, membuat Bunda terpancing untuk setuju dan akan memudahkan Deka melancarkan tebakan lainnya. “Bunda dan Ayah sudah pergi ke rumah sakit dari semalam— bukan, mungkin dari sore atau siang harinya. Lalu karena Deka kebetulan lembur lagi,” —Deka menaruh banyak kebohongan di sini, dan wajahnya terlihat murung— “Bunda pasti tahu kalau Deka bakal langsung ke kamar dan mungkin mengendap masuk ke dalam rumah. Makanya, semalam Deka gak tahu kalau Bunda masuk ke rumah sakit. Buktinya, tadi waktu Deka masuk ke dalam ruang rawat Bunda, Bunda kelihatan kaget kayak habis lihat hantu.” Deka tersenyum, sekali lagi menegaskan terkaannya dengan pertanyaan, “Iya, kan, Bun?” yang memaksa Bunda untuk menyetujuinya. Bunda pun tersenyum, memutus pandangan, dan menatap kaki yang hangat di balik selimut dengan mata sendu. “Padahal Bunda tidak ingin Deka tahu kalau Bunda masuk rumah sakit lagi.” Mendengar itu, Deka menjadi sangat sedih. Deka benaran gak bisa dipercaya, ya, Bun? “Memangnya kenapa kalau Deka tahu, Bun?” Deka menatap jemarinya yang saling bersemat, tak berani menatap Bunda secara langsung. “Kalau Deka tahu Bunda masuk rumah sakit lagi, memangnya kenapa, Bun?” tanyanya lagi. Hening mengisi keduanya. Deka tak tahu apa yang sedang Bunda perbuat, atau tatapan seperti apa yang Bunda tujukan padanya, bahkan apa yang Bunda pikirkan. Deka terlalu menunduk kepada jemarinya yang saling menekan dan memelintir guna mengalihkan pikiran negatif dan murungnya. Deka membiarkan hening terus membuat sesak pikirannya untuk beberapa lama. Itu dilakukannya demi memberi Bunda waktu untuk menjawabnya. Tetapi, sudah sampai kesekian puluh detik, Bunda tidak juga menjawab. Bunda diam saja, membiarkan pertanyaan itu tak berjawab. “Memangnya kenapa, Bun?” tanya Deka lagi, mengusap wajahnya yang mendadak basah. Bunda masih bungkam. Deka pun tak berani mengangkat wajah untuk menatap Bunda. Setelah beberapa kali mengusap pipi, Deka bertanya kembali, “Bunda gak percaya sama Deka, ya? Deka merepotkan Bunda, ya? Kalau Deka tahu, Bunda akan kerepotan mengurus Deka, ya?” “Enggak, Deka. Bunda mana mungkin menganggap anak Bunda merepotkan? Kamu tidak merepotkan. Bunda hanya gak mau membuat kamu kepikiran. Deka, kan, sekarang sibuk bekerja. Bunda gak mau membuat Deka terbebani dan mengganggu pekerjaan Deka.” “Bunda!” pekik Deka, akhirnya mengangkat wajah dengan air mata yang mengalir. “Bunda gak pernah membebani Deka! Deka juga gak pernah merasa Bunda mengganggu Deka!” Deka mengusap kasar wajahnya. “Bunda gak salah apa-apa! Deka gak pernah merasa terganggu dengan kesulitan Bunda! Kita, kan, keluarga! Dan Bunda itu bundaku! Deka gak merasa kerepotan sama sekali! Jadi kenapa— hiks… kenapa— hiks…” “Sssttt. Sudah, Deka. Malu, kamu menangis sesegukan seperti anak kecil begitu di rumah sakit.” Bunda memberikan tisu. “Nanti pasien di kamar sebelah mengira kalau Bunda sakit parah, lho.” “Bunda! Jangan bercanda!” marah Deka, sudah tak bisa mengontrol air matanya. Deka menunduk, menenggelamkan wajah pada kedua telapaknya. Dia bertumpu pada lututnya. Dan benar kata Bunda, jika Deka menangis sesegukan seperti anak kecil. “Sudah, berhenti menangis, Deka.” Bunda menaruh telapaknya di pucuk kepala si bungsu. “Bunda tidak apa-apa.” “Hiks… hiks… bohong!” pekik Deka di sela tangisan. Telapak Bunda turun ke punggung Deka, lalu menepuk-nepuknya lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi Bunda tidak berkata apa-apa, hanya menyampaikan afeksi dan membuat Deka tenang lewat tindakan. “Dulu— hiks… dulu Bunda juga bilang kalau hiks… kalau Bunda tidak apa-apa!” Deka merajuk sembari menangis. “Tapi— hiks… tapi Bunda tetap masuk rumah sakit lagi!” “Sudah, ssstt. Beli makanan saja yuk, ke kantin di bawah.” Deka akhirnya mengangkat kepala. “Memangnya aku anak kecil?!” kemudian kembali menangis sesugukan lagi. Bunda mendengus geli, sedikit tertawa dan menggeleng. “Sekarang kamu kelihatan kayak anak kecil, Deka.” “Bunda jangan tertawa, dong, hiks. Deka, kan, lagi sedih!” Deka mengusap wajahnya lagi. “Ya, makanya Bunda bilang sudah, jangan menangis lagi.” “Hiks… hiks hiks. Tapi— hiks… tapi Deka gak bisa berhenti— hiks… menangis.” Deka mengeluarkan ingusnya dengan tisu, membuat Bunda hampir tertawa sebelum menutup mulut karena khawatir Deka akan semakin merajuk. “Tapi kamu sudah sarapan belum?” tanya Bunda. “Nih, minum dulu biar tenang sedikit.” Bunda menyerahkan botol minum yang masih tersisa banyak isinya itu pada Deka. Deka membuka tutup botol dan menenggaknya perlahan—sebenarnya sedikit tersedak karena sesegukannya tidak bisa berhenti. “Nah, kan. Bunda bilang juga sudah, jangan menangis lagi. Kemejamu jadi basah, tuh.” Bunda kali ini memberikan tisu. “Sini botolnya, biar Bunda pegang dulu.” Sembari mengeringkan kerah kemeja yang basah, Deka yang sudah agak tenang dan tidak sesegukan lagi merajuk setengah bercanda. “Gara-gara Bunda, sih.” “Hahaha,” tawa Bunda. “Sudah, lap wajahmu, atau cuci muka dulu sana. Hidung kamu penuh banjir, tuh. Jorok sekali, tidak enak dilihat.” “Bunda~!” rajuk Deka, agaknya merasa malu. Bunda menggeleng. Melihat wajah Deka yang merah sehabis menangis, Bunda jadi teringat masa lalu, sewaktu Deka masih kecil, sewaktu Diksi dan Deril masih kecil pula. Saat masa anak-anak dahulu, Bunda ingat kalau Deka adalah anak yang paling jahil di antara para putranya. Deka senang menyembunyikan benang layangan Deril, saat Deril dibolehkan main sampai petang oleh Bunda dan Ayah, sementara Deka disuruh belajar dan menuntaskan pekerjaan rumahnya lebih dulu. Deka senang menghabiskan es krim bagiannya, menghabiskannya malam-malam ketika keluarganya terlelap, kemudian dia menangis dan berkata bahwa Diksi yang memakan es krim miliknya karena iri ingin mendapatkan dua es krim sekaligus. Padahal kenyataannya, Deka sendirilah yang menghabiskannya. Deka juga senang mendadak menangis kencang saat Diksi menjahilinya, seperti mendorong Deka saat Deka ingin merebut puding miliknya, atau saat Deka ingin ikut Diksi main dengan teman-temannya, pun saat Diksi tak melakukan apa-apa terhadap Deka; Deka senang mendadak menangis kencang saat dirinya berdiri dekat dengan Diksi, dan berkata bahwa Diksi mencubitnya, mendorongnya, dan memarahinya supaya Bunda memberikan perhatian maupun memberikan apa pun yang Deka inginkan. Melihat Deka menangis, bukan kenangan buruk yang mendatangi Bunda. Melainkan kenangan-kenangan kenakalan Deka yang mengundang tawa, karena itu semua adalah perbuatan buruk tapi lucu yang dilakukan Deka, si bungsu yang menginginkan seluruh perhatian Ayah dan Bunda hanya untuknya. Ah, itu semua tidak akan kembali lagi. Masa-masa yang menyenangkan ketika melihat anakmu tumbuh dan berkembang setiap harinya, masa-masa sewaktu mereka kecil dan sangat membutuhkan perhatianmu, itu semua tidak akan kembali lagi. Masa-masa emas yang hanya datang sekali seumur hidup. Tapi karena anak lelakiku ada tiga, syukurlah, Tuhan, Engkau mengizinkanku merasakan masa-masa yang membahagiakan itu sebanyak tiga kali. Bunda membatin. Mengingat kenangan semasa anak-anak lelakinya masih kecil, lucu, dan menggemaskan, Bunda tersenyum gembira bercampur sendu. Deka yang habis mengeluarkan cairan hidungnya pada tiga lembar tisu, melihat Bunda mengelap sudut matanya. “Bunda… kenapa?” tanya Deka, yang langsung berdiri dan panik. “A-ada apa, Bun?! Ada yang sakit?! Bagian mana yang sakit? Ke-kepala? Tangan? Atau kaki?” Deka bolak-balik memandang tangan, kaki, dan wajah Bunda, memeriksa apakah terdapat keanehan di sana. Meski sudah tahu bahwa tidak ada apa-apa yang berbeda, Deka masih panik dan segera menyambar tombol pemanggil perawat, tombol darurat pasien, atau apa pun namanya, yang letaknya sudah Deka hafal betul bertahun-tahun, supaya ada tenaga medis yang datang ke ruang rawat Bunda dan memeriksa Bunda sesegera mungkin. “Bi-biar Deka panggilkan dokter, Bun!” Bunda menghalangi Deka, menahan tangannya supaya tidak dengan ceroboh menekan tombol darurat sembarangan. “Eh, jangan, Deka! Bunda tidak apa-apa!” Deka, dengan wajah penuh kebingungan dan kepanikan, memaksa ingin meraih tombol itu, tombol yang akan menjadi penyelamat nyawa bundanya. Tetapi Bunda menghalanginya, dan Deka pun tidak ingin mengalah sebab menurutnya Bunda harus segera diperiksa dan diobati oleh dokter. Kemudian pertengkaran kecil keduanya diinterupsi oleh suara kunci yang terbuka, dan disusul oleh suara cklek sebuah pintu. Tetapi baik Deka maupun Bunda tidak menoleh. Mereka sibuk memperebutkan tombol ajaib itu. Sampai akhirnya sebuah suara bariton yang berat dan dalam masuk ke telinga Deka— “Deka!” barulah Deka berhenti dengan wajah pias dan kedua mata yang membulat. Tubuh Deka ikut membeku seketika. “Sedang apa kamu di sini?” Disusul oleh pertanyaan yang mencekam bagi Deka itu, langkah kaki terdengar mendekat pada keduanya. Bunda yang melihat ekspresi ketakutan Deka, menjelaskan dengan suara lembut guna suaminya memahami keadaan di sana—juga supaya Deka tidak ketakutan begitu— “Bunda yang menyuruh Deka datang, Ayah.” Itu tadi adalah suara Ayah. Suara yang berat, dalam, dan mengintimidasi itu datang dari belakang Deka, dan suara langkah kakinya juga sudah berhenti. Deka menerka, bahwa Ayah ada di belakangnya. Deka tidak pernah takut pada ayahnya—bukan dalam artian buruk, seperti Deka sebenarnya anak yang nakal dan suka membantah. Deka tidak pernah takut pada Ayah, karena Deka tidak melakukan kesalahan apa pun atau melakukan hal-hal yang melanggar larangan ayahnya. Deka bukan anak nakal seperti Diksi, abang tertuanya yang suka main sampai malam dan belum bekerja—Diksi itu adalah contoh anak nakal dalam pandangan Deka, karena Ayah lebih sering menghukum Diksi daripada dirinya dan Deril—Deka itu anak yang penurut dan biasa-biasa saja. Tidak melanggar larangan Ayah dan bunda, suka membantu Bunda di rumah dan bahkan di toko roti; ya, intinya Deka adalah anak baik-baik yang tidak pernah membuat ayahnya marah. Dan saat Deka memutar tubuh untuk menghadap Ayah, bermaksud menyaliminya, wajah merah Ayah yang tampak seperti akan meledak kapan saja itu, bukanlah karena Deka melakukan sesuatu yang salah atau buruk. Memang begitulah tampang ayahnya, seram dan garang. “Ayah,” sapa Deka patuh sembari menyalimi punggung tangan Ayah. “Mau berangkat kerja lagi?” tanya Ayah dengan nada suara yang terdengar marah. Kemudian Ayah menarik bangku yang tadi diduduki Deka, menggesernya ke sebelah ranjang Bunda, dan duduk di sana. “Sudah Ayah bilang, kamu harusnya belajar saja, tidak perlu bekerja.” Wajahnya keras menatap ke jendela, menghindari tatapan Bunda yang jelas-jelas duduk di depan Ayah. Deka adalah anak baik-baik yang tidak pernah membuat ayahnya murka— ya, memang benar, kecuali untuk urusan belajar dan bekerja ini. Ayah menentang Deka yang lebih memilih bekerja daripada bena-benar fokus belajar untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi tahun depan. Dan wajah Ayah yang selalu tampak marah itu memang sesungguhnya bawaan dari lahir saja. Deka tahu, Ayah tidak sungguhan marah, Deka tahu… tapi tetap saja, mendengar bahwa apa yang Deka lakukan sepenuh hati ditentang orang tua sendiri—dengan nada tak bersahabat—membuat Deka murung dan sedih. Deka jadi selalu menahan napas di dekat Ayah, karena suasananya mulai terasa berat. Untungnya, jika Ayah sedang mengungkit-ungkit soal keputusan Deka yang tengah longkap tahun dari pendidikan untuk bekerja mencari uang, Bunda selalu ada untuk membela Deka. “Ayah,” panggil Bunda dengan nada memperingatkan. Ayah berdeham dengan sengaja, tanda bahwa perkataannya tak dapat digoyahkan. “Memangnya Ayah salah bicara? Kalau Deka cuma bekerja dan tidak fokus belajar, apa yang akan Deka lakukan di masa depan? Tidak akan ada hal baik jika Deka tidak cepat-cepat kuliah. Orang dengan ijazah SMA hanya akan direndahkan oleh orang-orang yang merasa dirinya di atas segalanya.” Ayah menoleh perlahan namun tajam kepada Deka yang menunduk dan berwajah sendu. “Kamu mengerti, Deka?” Ah, menyebalkan. Rasanya seperti ingin menangis lagi. Tapi Deka menahan air matanya. Menangis berarti dirinya kalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN