34. Ayah

2298 Kata
Deka menggigit bibir, menjawab dengan suara gemetar tertahan, “Deka paham, Yah. Tapi Deka juga ingin bekerja sambil menunggu ujian masuk perguruan tinggi.” “Sambil bekerja bagaimana?” Ekspresi Ayah tampak mengeras. “Kamu tidak akan bisa fokus kalau belajar sambil bekerja!” Deka semakin menunduk, memainkan sematan jemarinya. Sedang Bunda, kembali memperingati dengan suara lembut yang memohon, “Ayah….” Ayah menatap Bunda, dan Bunda pun menatap Ayah. Mereka saling memandang barang sebentar; Bunda dengan tatapan teduh, sedang Ayah dengan tatapan kerasnya. Ayah yang lebih dulu memalingkan wajah—dia kalah dengan tatapan Bunda yang terlihat memelas, apalagi melihat wajah istrinya yang pucat itu, Ayah tidak tega. Tetapi bukan berarti Ayah akan mengalah dari Deka, karena Ayah berdiri dari kursi dan mengajak Deka keluar. “Ikut Ayah, Deka.” Deka menoleh dengan bingung bercampur waspada, kepada Ayah yang sudah membuka pintu ruang rawat, lalu pada Bunda yang memasang wajah khawatir. Bunda mengangguk pelan. “Ikuti ayahmu, Deka.” Perintah Bunda terdengar seperti permintaan. Nadanya lembut dan tanpa paksaan di telinga Deka. Deka pun hanya bisa mengangguk juga, balik badan menyusul Ayah yang sudah keluar. Membuka dan menutup pintu ruang rawat bundanya—sebelum menutup pintu, Deka melirik ke dalam, pada Bunda dengan mata berharap. Deka melihat Ayah sedang memandang keluar jendela besar di ujung lorong itu. Deka melangkah dengan langkah cepat, tak ingin lelet dan membuat Ayah menunggu lebih lama. Karena jika begitu, Ayah akan memarahinya dua kali karena telah membuat Ayah menunggu. Tiba di depan Ayah, Deka hanya bisa menunduk, tak berani memandang Ayah karena Deka tahu apa yang akan terjadi. Ayah yang memanggilnya keluar dari ruang rawat Bunda, jauh dari pendengaran dan penglihatan bundanya, untuk apalagi Ayah melakukan itu kalau bukan untuk menyidang Deka dan memberi hukuman setelahnya? Deka merasakan tatapan intimidasi Ayah, walau mata Deka tertuju ke lantai, karena kepalanya terasa panas. Dan karena Ayah tidak berkata apa-apa meski Deka sudah di luar, meski mereka berdua sudah jauh dari pengawasan Bunda, Ayah belum juga membuka suara. Maka, Deka menggerakkan engsel lehernya untuk mendongak ke atas, menatap wajah Ayah—masih belum berani menatap matanya—dan bercicit, “A-ada apa, Ayah?” Gerakan Ayah selanjutnya membuat Deka agak menjengkit; Ayah menaikkan kedua tanganya, dan Deka kira Ayah akan memukul atau menampar wajahnya. Tetapi sebenarnya, Ayah hanya menggerakkan kedua tangan untuk melipatnya di depan dadanya saja. “Kenapa?” tanya Ayah, bingung walau masih berwajah datar. Deka menggeleng saja. Fyuuuh. Deka merasa takut untuk hal yang tidak perlu. Tapi Deka belum bisa bernapas lega, karena urusannya dengan Ayah masih belum selesai—malah baru dimulai karena Ayah akan berbicara serius padanya. Yah, apalagi kalau bukan tentang pekerjaan dan tentang menyuruh Deka belajar. “Kamu masih ingin bekerja?” tanya Ayah tiba-tiba. “A-a— i-itu—” “Cepat jawab saja. Tidak perlu pakai alasan.” Mendengar Deka tergeragap, Ayah memotongnya. Tidak enak didengar. Deka mengatupkan bibir, dan dia hanya mengangguk, tak bisa mengkonfirmasi menggunakan suaranya—agaknya merasa takut. Sekarang, Ayah terlihat seram dan seperti akan mengamuk. Bisa jadi, perkataan Deka, apa pun itu, dapat menjadi bahan bakar semacam mesiu untuk ledakan emosi Ayah. Maka, sebelum Ayah benar-benar marah, Deka harus menjaga bicaranya. “Kenapa?” tanya Ayah. “Kenapa kamu ingin bekerja?” Deka memberi jeda, melarikan maniknya pada sepatu yang dipakainya, pada sandal kulit Ayah, pada lantai, pada pot tanaman di pinggir lorong, dan pada apa pun demi memberi waktu untuknya berpikir. “Deka… Deka juga mau cari uang seperti Ayah dan Bang Deril.” “Mulai sekarang berhenti dari pekerjaanmu, tidak usah kerja lagi. Biar Ayah sama Deril yang mencari uang.” “A-a— tapi….” “Kamu tidak dengar?” “Bu-bukan begitu, Ayah. Deka cuma mau… cari uang.” Deka menunduk, mengecilkan suaranya karena takut. Ayah mengembuskan napas. “Apa yang ingin kamu beli dari gaji kamu itu?” “Eh?” “Ayah tanya, kamu mau beli apa dengan gajimu itu?” Deka memalingkan tatapan lagi. “Ng… enggak ada,” cicitnya. “Apa?” Ayah meninggikan suaranya. “Kalau bicara itu yang lantang! Laki-laki itu harus tegas dan percaya diri!” Deka menggigit pipi bagian dalamnya. “Deka… cuma ingin bekerja, karena… Deka ingin melakukannya, Yah.” “Memang gajimu sebesar apa, Deka, sampai berani menyombongkan diri pada Ayah seperti itu?” sarkas Ayah, menciutkan nyali Deka. “De-Deka gak bermaksud begitu, Yah. Deka beanran cuma ingin bekerja.” “Makanya Ayah tanya, kenapa kamu ingin bekerja? Dari tadi kamu hanya memberikan alasan, bukan tujuanmu yang sesungguhnya.” Perkataan Ayah membuat Deka terasa seperti kesetrum. Rasanya seperti Ayah sudah mengetahui maksud Deka sejak awal, tetapi memilih menunggu anaknya sendiri yang mengatakannya langsung, mengakui hal yang Deka sembunyikan. “Kenapa kamu ingin bekerja daripada belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggimu nanti?” Deka semakin pundung, jemarinya tersemat dan saling menekan-nekan untuk menutupi kegugupannya. Ayah sepertinya sudah tahu. Ayah sepertinya sudah tahu. Deka mengulangi kalimat itu dalam hati. “Deka!” panggil Ayahnya kencang, menarik Deka dari lamunan. “Kamu dengar tidak, Ayah tanya apa?!” Deka mengangguk lemah, lalu terdiam lagi beberapa lama. Sedang Ayah memberi tahu, bahwa jika ada orang yang berbicara dengannya, Deka tidak semestinya mengabaikan orang itu. Jika ada yang sedang memberi nasihat, Deka tidak seharusnya pura-pura tidak mendengarkan, apalagi jika orang tua yang mengajaknya bicara—Deka harus menghormati dan mendengarkan baik-baik. Namun, selama Ayah memberi nasihat, Deka termangu dalam lamunannya lagi. Lalu, mendengar Ayah memanggilnya lagi, Deka akhirnya mengangkat wajahnya. Dia memberanikan diri menatap mata Ayah, walau akhirnya tak dapat betaham lama. Deka memberi penjelasan dengan mata yang tertuju pada hidung ayahnya. “Deka ingin bekerja karena ma-mau beli tiket konser Maroon 5 di Indonesia, Yah!” papar Deka, mencoba terdengar tegas untuk meyakinkan Ayah dengan kebohongannya. Ayah mengerutkan dahi. “Konser?” tanya Ayah, dan Deka dengan gugup mengangguk. Harap-harap cemas, Deka mengamati perubahan ekspresi Ayah. “Konser?” tanya Ayah lagi, agaknya tidak percaya setelah mendengar alasan si bungsu. “Kamu kerja cari uang hanya untuk beli tiket konser? Hanya untuk tiket konser?” Deka mendadak ciut. Apa dirinya salah mengarang alasan, sampai Ayah jadi terlihat ingin marah? Tetapi Deka mengangguk saja. Sudah terlanjur berbohong, maka teruskan saja sampai Ayah percaya, meski artinya Deka harus menambal alasannya dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Sampai Deka menjadi mesin pembuat kebohongan. “Hanya untuk tiket konser, kamu memilih bekerja daripada fokus belajar untuk persiapan kuliahmu nanti, Deka?” Ayah terdengar tak percaya. “Hanya untuk itu?” Deka mengangguk. “I-iya, Yah. Deka suka sama Maroon 5.” Lantas terdengar suara hembusan napas Ayah. Beberapa waktu Ayah terdiam dengan hembusan-hembusan napas lainnya, memikirkan entah apa terhadap alasan si bungsu. Sementara Ayah terdengar kecewa walau tak berkata apa-apa, Deka masih tertunduk dengan posisi berdiri yang agak menjauh dari Ayah. Ayah meraup wajahnya, mengusapnya kasar sebelum akhirnya sekali lagi menghela napas berat dan berkata, “Berapa?” “I-iya, Yah?” Deka bersikap waspada, takut-takut memandang Ayah. “Berapa harga tiket konsernya?” “Eh?” Deka membulatkan mata. Ayah mengintimidasi lewat tatapan. meminta—memaksa—si bungsu untuk tegas layaknya laki-laki. Deka menggaruk tengkuk. “Emm… se-sekitar… tiga sampai lima.. juta?” Ayah mengusap kening, memijatnya sedikit. “Lima juta?” Deka melihat ekspresi Ayah yang tampak berpikir dalam. Tak beberapa lama kemudian, Ayah menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. “Itu saja, kan? Kamu bekerja untuk beli itu saja, kan? Tiket konser apalah itu?” Deka—dengan bingung—mengangguk. “Ah, i-iya, Yah.” “Baiklah.” Ayah mengangguk. “Ayah akan minta tolong abangmu untuk belikan tiket itu. Lalu mulai besok, berhentilah bekerja dan fokus saja belajar untuk ujian persiapan masuk perguruan tinggimu itu.” “Eh? Kedua manik Deka membulat. “A-apa?” Ayah menatap si bungsu dengan tatapan keras dan tegas. “Tidak dengar?” tanyanya. “Berhenti dari pekerjaanmu itu dan fokuslah belajar!” Selepas itu, Ayah menghentikan percakapan dengan melangkah pergi dari Deka. “A-Ayah!” Tapi Deka menggeser tubuhnya, menghalangi Ayah. “Deka masih bisa belajar setelah pulang kerja! Ayah, kan, tahu Deka selalu belajar! Deka… Deka bukan sedang main-main seperti Band Diksi! Deka sungguhan bekerja! Deka juga belajar!” “Belajar setengah hati seperti itu tidak akan membuatmu fokus dan bersungguh-sungguh,” kukuh Ayah. “Kamu bekerja cari uang hanya untuk beli tiket konser, maka biar Ayah minta abangmu untuk belikan tiker konsernya. Kamu cukup berhenti bekerja dan belajar dengan giat!” “Ayah—!” Deka menyambar baju Ayah saat pria paruh baya itu melangkah pergi. “Deka masih ingin bekerja! Deka janji akan belajar dan masuk kampus negeri! Deka bisa melakukan keduanya, Yah! Deka ingin bekerja!” “Ayah bilang tidak usah!” Ayah menepis tangan Deka dari bajunya, sedang Deka berekspresi kaget dan sedikit tak percaya. “Tidak usah bekerja dan fokus saja belajar! Kamu tidak usah memikirkan uang dan susah payah bekerja!” “Ayah! Tapi—!” “Ayah hanya menyuruh kamu belajar saja, Deka! Apa itu hal yang sulit dilakukan? Ayah tidak mengharapkan apa-apa terhadapmu, kecuali kamu yang berusaha untuk masa depanmu sendiri!” Ayah terdengar marah, dan wajah berkeriputnya memerah penuh emosi. Bom sudah terisi dengan bubuk mesiu, dan sumbunya sudah dipantik oleh Deka. “Bekerja bukan hal yang harus kamu lakukan sekarang! Kamu fokus saja belajar dan berusaha masuk kampus negeri, tidak perlu bekerja! Biar Ayah dan abang-abangmu saja yang mencaru uang!” Deka menekan kedua bibir. Ayah mengungkit hal ini lagi, pembahasan yang Deka tak mau dengar dan ungkit-ungkit lagi; perihal belajar, ujian masuk perguruan tinggi, dan peringatan dari Ayah yang menyuruhnya untuk mempersiapkan masa depan dirinya sendiri. “Tapi… tapi Deka juga mau ikut bantu,” ucap Deka pelan. “Bantu apa? Sudah Ayah katakan, kamu cukup belajar saja! Kalau segitu inginnya beli tiket konser, kamu tinggal bilang pada Ayah atau abangmu, tidak perlu bekerja segala!” Deka menggigit bibirnya. Bukan itu alasan Deka ingin bekerja, ucapnya dalam hati. Deka, agaknya merasa menyesal telah berbohong dengan alasan yang remeh seperti itu. Deka tidak terlalu mengenal Maroon 5, tapi dia menggunakan alasan ingin menonton konsernya karena Vinka, rekan kerja di toko roti Bunda, pernah menunjukkan poster konser Maroon 5 empat bulan lagi, yang sedang Vinka tabung uang gajinya untuk membeli tiket itu. Deka menyesal memanfaatkan kondisi orang lain untuk menyelamatkan kondisinya sendiri. “Tapi Deka mau ikut bantu,” ulang Deka dengan suara yang lebih kencang. Ayah menghela napas, lelah pada si bungsu yang keras kepala. “Sudah Ayah bilang kalau kamu—” “Tapi Deka mau ikut bantu!” ucap Deka dengan lantang dan dengan mata yang menyala-nyala. Ayah sampai terperanjat, tak bisa memberi respons karena kaget melihat Deka yang baru pertama kali meninggikan suaranya. “Deka mau ikut bantu, Yah! Deka sudah mencoba belajar seperti yang Ayah mau! Deka gak aneh-aneh seperti Bang Diksi! Kalau ini soal Deka yang pulang telat malam kemarin, Deka benaran bukan habis keluyuran dan main lantang-luntung ke sana-sini! Deka gak bohong, Yah! Deka sudah menurut sama Ayah! Deka belajar dan bisa fokus melakukannya sambil bekerja! Jadi, izinkan Deka bekerja, Ayah….” Deka menatap dengan pandangan memohon. Tak tahan dengan dorongan panas di matanya, Deka menunduk, menyembunyikan genangan pada matanya yang kemungkinan akan terlihat oleh Ayah jika terus beradu pandang—Ayah yang sudah kembali tegas, sedang Deka terlihat menahan air mata. “Deka janji, Deka gak bakal pulang terlalu malam lagi. Deka akan lebih menurut dan… dan lebih serius belajar lagi, Yah. Jadi, jangan suruh Deka berhenti bekerja. Deka ingin bekerja, karena Deka mau… Deka mau….” Deka tak menuntaskan kalimatnya. Dia semakin menunduk. Niatnya, Deka ingin mengusap sebelah pipinya yang sontak jadi basah begitu kalimatnya hampir selesai, tetapi suaranya semakin mengecil dan sesugukan. Deka memilih diam dan tidak meneruskan omongannya, dia khawatir suara tangisnya malah akan dikira sebagai regekan oleh sang ayah. “Semua ini, kamu yang tidak ingin melepas pekerjaanmu itu, kamu lakukan hanya untuk membeli tiket konser?” Ayah bertanya dengan suara yang lebih tenang dan kalem. Nadanya rendah tapi tidak bersahabat juga. “Deka.” Ayah memanggil dengan suara dalam dan berat, yang mengetuk kesadaran Deka untuk menanggapinya. Atau dalam artian lain, memutuskan untuk menyiakannya atau menyanggahnya. Mengiyakan, bahwa Deka berniat bekerja dan tidak ingin kehilangan pekerjaannya dengan maksud sedang menabung uang untuk beli tiket konser Maroon 5 seharga lima jutaan itu—yang Deka tidak minati. Atau menyanggah, bahwa sebenarnya Deka tidak benar-benar tahu soal band bernama Maroon 5, atau bahkan tertarik dengan Maroon 5 atau dunia permusikan. Deka harus mengatakan alasan yang mana? Kebohongan atau mengatakan yang sejujurnya kepada Ayah? “Deka,” panggil Ayah lagi, membuat suasana semakin tegang dan terasa mencekik Deka. Deka meremas kedua telapak. Wajahnya tak terbaca menatap ke lantai, pada kaki Ayah dan kakinya yang berhadapan, tetapi terasa jauh seperti dua kutub yang berbeda dan tak bisa saling mendekat. Tanpa berani menghubungkan mata, Deka mengangguk, dan berat hati berkata, “Iya, Ayah, hanya karena itu.” sembari mengendalikan suaranya agar tidak melengking dan sumbang. Deka mengiyakan kebohongan itu, walau dalam hati, Deka ingin sekali menggeleng dan mengatakan hal yang sejujurnya. *** Di ujung lorong lain, sesosok makhluk hitam bertanduk, melayang dengan kepakan sayap hitamnya yang pelan—anginnya membuat dedaunan tanaman hias di dalam saja melambai-lambai. Akarabahni menonton Deka dan ayahnya dari jauh, tapi dia bisa mendengar apa yang mereka debatkan, begitu pula beberapa orang yang membuka pintu kamar rawat mereka, pun orang-orang yang berlalu lalang. Lorong itu menggemakan suara obrolan orang-orang. Akarabahni tersenyum, lebih terlihat seperti sedang menyeringai puas. “Hihihi. Pada akhirnya, satu kebohongan membutuhkan kebohongan yang lain untuk menjadikannya sebuah berita yang dipercaya oleh orang lain. Dan memerlukan kebohongan-kebohongan lain untuk menjadikannya sebuah kejadian nyata. Pada akhirnya, kau hanya akan menjadi mesin pembuat kebohongan, wahai manusia.” Akarabahni tertawa, “Hihihi.” Lalui sosoknya pergi terbang menembus gedung, entah ke mana. “Ini sungguh akan menjadi permainan yang menyenangkan! Hihihi!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN