35. Bunda

2581 Kata
“Deka.” Ayah memanggil dengan suara dalam dan berat, yang mengetuk kesadaran Deka untuk menanggapinya. Atau dalam artian lain, memutuskan untuk menyiakannya atau menyanggahnya. Deka harus mengatakan alasan yang mana? Kebohongan atau mengatakan yang sejujurnya kepada Ayah? “Deka,” panggil Ayah lagi, membuat suasana semakin tegang dan terasa mencekik Deka. Deka meremas kedua telapak. Wajahnya tak terbaca menatap ke lantai, pada kaki Ayah dan kakinya yang berhadapan, tetapi terasa jauh seperti dua kutub yang berbeda dan tak bisa saling mendekat. Tanpa berani menghubungkan mata, Deka mengangguk, dan berat hati berkata, “Iya, Ayah, hanya karena itu.” sembari mengendalikan suaranya agar tidak melengking dan sumbang. Deka mengiyakan kebohongan itu, walau dalam hati, Deka ingin sekali menggeleng dan mengatakan hal yang sejujurnya. “Kalau hanya karena alasan itu, kenapa kamu tidak berhenti bekerja saja? Ayah dan abang-abangmu masih bisa memberi uang saku untuk kerperluanmu. Kamu cukup belajar saja untuk ujian masuk perguruan tinggi saja, Deka.” Ayah kembali meninggikan suaranya. “Kamu sudah gagal masuk tahun ini, dan Ayah suruh masuk universitas swasta kamu menolak, malah memilih mencari kerja dan tidak fokus belajar. Dalihmu ingin mengikuti ujian masuk perguruan tinggi lagi untuk tahun depan, tapi apa? Kamu tidak terlihat bersungguh-sungguh belajar! Sadarlah, Deka! Kamu ingin seperti ini terus?!” Deka menunduk, meremas tali tas selempangnya, menggigit bibir, dan rasanya ingin menumpahkan air mata yang sedari tadi dia tahan. Tetapi, jika Deka menangis di depan Ayah, Deka akan kalah, mungkin juga akan dimarahi lagi dengan alasan laki-laki tidak seharusnya menangis; laki-laki harus tegas; laki-laki harus begini; laki-laki harus begitu. Deka pun memilih menahan saja sampai akhir, setidaknya tidak di depan Ayah. Bersamaan dengan suara Ayah yang berakhir, terdengar suara pintu terbuka yang dibarengi dengan suara lembut dan lemah, “Ayah, Deka, kenapa ramai sekali?” Deka memutar kepala, begitu pula Ayah. Mereka berseru bersamaan dengan wajah yang sama khawatirnya, “Bunda!” Di pintu ruang rawatnya, Bunda terlihat bersusah berdiri dengan sebelah tangan menumpu pada dinding, dan sebelahnya lagi memegang tiang infus, bertelanjang kaki menghampiri Ayah dan Deka di lantai rumah sakit yang dingin. Wajah yang tersenyum itu tampak pucat dan mengundang kesedihan Deka saat melihatnya. Ayah dengan sigap merangkul Bunda di sebelah kanan, sedang Deka di sebelah kiri sembari menuntun tiang infusnya. “Bunda kenapa turun dari ranjang? Sudah tahu dokter menyuruh untuk istirahat, bukan?” Ayah bersuara lembut bercampur cemas. “Pelan-pelan, Bun.” Deka menggandeng tangan Bunda saat Ayah menaruhnya kembali ke ranjang, membantunya rebah dan mencari posisi nyaman pada bantal di kepalanya. Setelah Bunda terlentang lagi, Deka membenahi posisi tiang infus dan mengecek slang serta jarum yang menancap pada nadi di punggung tangan Bunda, melihat apakah ada darah yang naik ke dalam slang ataukah slangnya pampat. “Bunda itu mengerti tidak, apa kata dokter? Istirahat! Kalau mau mengambil sesuatu atau ke mana-mana, Bunda tinggal suruh Ayah saja!” Ayah terbawa emosi, duduk di kursi yang disediakan di sebelah ranjang Bunda sembari memegangi memijit kaki Bunda. Deka, lain halnya dengan Ayah yang naik darah, hanya bisa memberikan tatapan penuh kecemasan tanpa bisa bersuara. Dia mengamati, dan bagi Deka, diam mungkin adalah hal yang benar untuk dilakukan saat ini. Bunda bergantian memandang Ayah dan Deka, lalu sambil tersenyum jenaka berkata, “Kalian heboh sekali di luar, suaranya menggema ke mana-mana. Bagaimana Bunda bisa istirahat kalau mendengar suara berisik seperti itu?” Ayah terlihat salah tingkah dan berdeham. “Kami hanya berbicara sedikit. Ayah cuma memberi tahu Deka untuk belajar.” Bunda tersenyum, menggeleng pelan—entah memaklumi, entah tak habis pikir. “Tapi suara kalian bertengkar sampai kedengaran oleh banyak orang, lho. Bisa-bisa, mereka salah paham kalau keluarga kita tidak harmonis, atau bahkan, mereka berasumsi kalau Ayah dan Deka sedang memperebutkan harta warisan dari pasien di kamar ini, Bunda sendiri maksudnya.” “Bunda!” pekik Deka. “Sani!” teriak Ayah dengan suara lantang. Wajah Ayah mengeras, sorot matanya terlihat marah dan sedih di saat bersamaan. Deka menoleh pada Ayah, tak menduga Ayah akan memanggil nama Bunda secara langsung. Karena biasanya, apa pun masalahnya, bagaimanapun situasinya, Ayah selalu memanggil Bunda dengan sebutan “Bunda”, begitupun dengan Bunda yang memanggil Ayah tanpa nama asli. Dan dari situ, tanpa bertanya pun, Deka tahu kalau dengan Ayah yang memanggil nama Bunda secara langsung berarti ada sesuatu yang gawat dan mendesak. Dalam hal ini adalah cara bicara Bunda. Deka pun merasa demikian, sangat marah dan bercampur sedih. “Jangan bicara seperti itu!” omel Ayah. “Kamu tidak boleh bicara sembarangan! Omongan adalah doa! Di saat seperti ini, sebaiknya kita semua berpikir positif dan saling menyemangati! Terutama kamu, Sani!” Ayah menggenggam tangan Bunda, meremasnya kuat seakan menahannya untuk tidak pergi ke mana-mana. Bunda tersenyum redup, memaksakan kedua sudut bibirnya naik setinggi mungkin—tapi percuma karena wajah pucatnya terlihat lesu. “Tapi bukan berarti Bunda mengatakan hal yang salah, kan? Bunda harus menyiapkan surat warisan untuk Ayah, Diksi, Deril,” —Bunda menoleh tiba-tiba kepada Deka— “dan kamu, Deka.” “Sani! Berhenti bicara seperti itu!” Ayah kembali marah. “Bunda!” Pandangan Deka mengabur dipenuhi genangan bening di seluruh permukaan mata. Deka menggeleng. “Jangan bicara seperti itu. Bunda… Bunda pasti sembuh.” Suara Deka terdengar sumbang dan melengking di akhir. Melihat wajah Bunda, Deka tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Satu garis air mata jatuh tanpa permisi. Kaki Deka juga ikut lemas dan akhirnya terjatuh bersimpuh di sebelah rangka ranjang Bunda, membenamkan wajahnya pada selimut sembari memegang sebelah tangan Bunda. Deka menangis sesegukan dan tanpa suara. “Bunda— hiks… hiks— Bunda ja— hiks… jangan bicara se— hiks… seperti itu la-lagi hiks… Bunda enggak boleh— hiks… enggak boleh berpikiran negatif— hiks. Bunda pasti— hiks… pasti sem— hiks… sembuh! De-deka— hiks… Deka percaya Bunda bisa— hiks… bisa sembuh! Hiks… hiks….” Deka terus menggeleng dan sesegukan. Tangisnya tak bisa ditahan dan tak bisa dihentikan jika objeknya adalah Bunda. Terlebih lagi, pada perkataan Bunda barusan perihal warisan, sesuatu yang diberikan kepada orang terdekat terutama keluarga ketika seseorang.… sudah meninggal. Memikirkan itu, Deka tentu saja marah dan sedih. Meninggal. Bunda sudah berpikir jauh ke sana, terlalu jauh bahkan. Deka sangat takut akan hal itu. Jika Bunda meninggal, Deka pasti akan merasa sangat-sangat sedih, dan mungkin akan menangis setiap hari. Ah, memikirkannya saja air mata Deka sudah seperti keran air jet pump; deras sekali dan sulit berhenti. Memikirkannya saja Deka— ah, Deka tidak sanggup! Hidup tanpa Bunda, sarapan tanpa Bunda, membuka toko roti Bunda tanpa mendapat “hati-hati di jalan” dari Bunda, makan bersama di dapur tanpa suara Bunda, menonton TV di ruang tamu-keluarga tanpa suara Bunda, pertengkaran Deka dengan Diksi tanpa leraian dari Bunda, tidak mendapatkan perintah untuk segera bangun dari Bunda di pagi hari, tak ada yang menunggu Deka pulang kerja walau sudah larut malam, tak ada yang mengingatkan Deka untuk makan sesuai waktu, tak ada Bunda yang menghangatkan makanan saat Deka pulang kerja, pun memasakkan lauk baru jika makanan di meja makan dihabiskan abang-abangnya. Memikirkan hari-hari ke depannya tanpa kehadiran Bunda, membuat tangisan Deka semakin kejar. Tanpa suara, tangisan Deka hanya terdengar sesegukan dan seperti kesulitan memasukkan udara ke dalam paru-parunya. Organ di dalam dadanya terasa nyeri, seperti diremas kuat-kuat. Deka sakit, tak tahan memikirkan kehidupannya tanpa Bunda. Dia tak bisa membayangkannya. Deka tak ingin memikirkannya. Deka tak ingin membayangkannya! Tidak sekali pun! Telapak Bunda mendarat di pucuk kepala Deka, mengelusnya lembut dan penuh kasih sayang. “Bunda gak apa-apa, kok, Deka. Bunda juga yakin kalau Bunda akan sembuh.” Terdengar suara derit kursi. Ayah rupanya bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan, yang punggungnya sudah kisut serta urat-urat dan tulang-tulang yang menonjol. “Ke kamar mandi lagi, Yah?” tanya Bunda dengan nada jahil. Sedang Ayah, langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya tanpa menjawab pertanyaan Bunda. Lalu Bunda tertawa kecil. “Dasar, Ayah. Tadi pagi, sebelum kamu datang, Ayah sudah masuk ke kamar mandi. Lamaaa sekali, kayaknya habis makan sambal pecel lele di warung belakang rumah sakit ini.” Bunda menggeleng. “Sudah tahu pertunya tidak bisa diguyur yang pedas-pedas, tapi tetap saja makan sambal. Ayah, Ayah.” Sembari menangis dan menyembunyikan wajahnya, Deka tahu kalau maksud Ayah pergi ke kamar mandi saat ini bukanlah seperti apa yang Bunda duga; bukan untuk memenuhi panggilan alam, melainkan untuk menyembunyikan air matanya dan membasuh wajahnya di sana. Ayah itu khas sekali lelaki tegas, yang menangis pun tidak ada yang melihat bagaimana bentuk air matanya. “Sssttt. Sudah, Deka.” Bunda membelai kepala Deka sekali lagi. “Masa, kamu menangis lagi? Tadi, kan, sudah menangis. Cowok itu hanya boleh menangis satu kali dalam hidupnya.” “Hiks… gak mau. De— hiks Deka mau menangis berkali-kali!” debat Deka, seperti anak kecil, membuat Bunda menggeleng dan hampir tertawa. Deka saat ini, di mata Bunda, terlihat seperti Deka sewaktu dirinya kecil dulu yang menangis mengadu pada Bunda saat Diksi mempeloroti celananya karena Deka mengganggu Diksi terus. “Sudah, sudah. Berhenti menangis terus.” Deka mengelap wajah dengan tisu yang Bunda berikan, membersihkan wajahnya dari berbagai cairan dari mata dan hidungnya. Lalu memandang Bunda dengan mata dan hidung yang merah. Bunda tertawa kecil. “Lihat, tuh. Wajahmu sudah seperti badut sampai merah begitu.” Lalu Bunda meraih botol minumnya lagi, memberikannya kepada Deka. “Nih, minum dulu, Deka. Kamu nangisnya heboh sekali walau gak ada suaranya.” Bunda tertawa di akhir kalimatnya. Deka yang bersimpuh, berdiri menggunakan lututnya, menyamakan tinggi badannya dengan Bunda yang rebah. “Bunda~” rajuknya dengan suara bindeng, merasa malu karena menangis lagi di depan Bunda, tetapi lebih banyak merasa sedih karena pikiran-pikiran yang lalu masih belum pergi juga. Deka mengambil botol minum yang disodorkan Bunda, tetapi dia tak jadi menerimanya. “Eh, gak usah, deh, Bun. Airnya tinggal sedikit, nanti Bunda minum apa?” “Sudah, gak apa. Kamu minum saja. Nanti Bunda bisa beli di bawah.” Deka membuat wajah yang menentang ide Bunda itu, lalu Bunda mengoreksi kalimatnya sambil tertawa ringan, “Bukan Bunda, kok, yang turun ke kantin bawah. Paling nanti Ayah atau gak abangmu.” “Bang Diksi?” tanya Deka. Bunda mengangguk. Deka mendadak sendu lagi, wajahnya ditekuk lagi. Dia merasa sedih untuk hal lain, tepatnya pada masalah abangnya, bundanya, ayahnya, dan semua anggota keluarganya yang mengetahui kalau Bunda dirawat lagi di rumah sakit, sedang dirinya tidak diberi tahu. Keluarganya mencoba menyembunyikan kabar itu. Hanya dirinya saja yang tidak tahu. Hanya Deka yang tidak diberi tahu. Hanya Deka yang tidak bisa dipercaya oleh keluarganya sendiri. Rasanya sesak dan sedih. Namun Deka memilih tersenyum. Sudah cukup air mata untuk hari ini. “Gak usah, Bun. Nanti Deka beli saja di bawah. Gampang, kok, dekat. Bunda mau menitip sekalian?” tawar Deka. “Enggak, Deka. Bunda tadi sudah sarapan bubur, walau ya, tidak ada rasanya.” Deka mengangguk, dia bangkit berdiri, dan mengeratkan tali tas selempangnya. Melihat itu, Bunda bertanya, “Mau ke mana?” Melihat pakaian rapi si bungsu yang memakai kemeja dan celana bahan, Bunda menebak, “Oh, berangkat kerja?” Bunda melirik jam dinding di ruang rawatnya. “Eh, Ya Tuhan! Bunda baru sadar sudah jam segini! Kamu mau berangkat kerja sekarang? Sudah telat sekali, lho, Deka. Memang tidak apa?” Deka ikut mengarahkan tatapan pada jam dinding. Pukul sembilan kurang beberapa menit. Tidak apa? Tentu sangat tidak apa, Bunda. Karena Deka, kan… sudah tidak bekerja lagi di kafe Dinolatte, pikir Deka. Tapi, tidak mungkin Deka berkata begitu, bukan? “Iya, Bunda, gak pa-pa. Jam buka kafe, kan, jam sepuluh nanti. Bukan giliran Deka juga untuk piket membuka kafe. Oh! Kalau toko roti… Deka belum izin sama Bu Nar. Tapi, itu tidak apa, kan, Bunda?” Deka menyengir. Bunda tergelak. “Gak apa, Bu Nar punya kunci cadangan toko, kok. Memang dasarnya kamu saja yang kekeh ingin membuka pintu toko dan menyiapkan semuanya.” “Deka, kan, ingin bantu, Bun.” “Ya sudah, kamu mampir saja sebentar ke toko roti Bunda untuk absen ke Bu Nar.” Bunda tersenyum jahil. “Nanti bisa-bisa, kamu kena peringatan, lho.’ “Hahaha. Masa, Bu Nar seperti itu? Mana berani juga Bu Nar memarahi anak pemilik toko.” “Eh, benar juga. Tapi, kamu terdengar sombong, Deka.” Lalu, Deka dan Bunda tertawa bersama, mengubah suasana sendu di sana menjadi lebih ringan dan jenaka. “Kamu betulan sudah makan, kan, Deka?” tanya Bunda lagi. Deka mengganguk. “Sudah, Bun. Bunda enggak perlu cemas dengan Deka. Tadi di rumah Bang Deril sudah masakin Deka martabak telur gadungan.” Deka terkekeh. “Baguslah, Bunda jadi tenang kalau kamu sudah makan sebelum berangkat kerja.” Bunda tersenyum lemah. Entah mengapa, Deka merasa sangat bersemangat. Ledakan energi itu datang dari kalimat sepele Bunda yang Deka tahu, kalau Bunda mendukung keputusan Deka untuk bekerja sembari mempersiapkan diri belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi tahun depan. Deka merasa kesedihan yang disebabkan oleh Ayah beberapa waktu lalu, terobati oleh kalimat Bunda yang menenangkan dan mendukung apa pun keputusannya. “Iya, Bun. Deka juga jadi semangat kerja kalau melihat Bunda sehat. Jadi, Bunda jangan bicara sembarangan dan memikirkan hal-hal yang tidak berguna seperti tadi, ya.” Deka tersenyum sembari menahan genangan pada matanya. “Bunda fokus saja memulihkan diri dan istirahat di sini. Urusan rumah dan toko roti biar Deka, Bang Deril, dan Bang Diksi saja yang mengurusnya. Bunda istirahat dan santai-santai saja di sini, ya?” mohon Deka. Bunda terharu dan mengusap hidungnya, seperti sedang menahan tangisan. “Sejak kapan kamu dewasa, Deka? Wah, tidak terasa Bunda dan Ayah sudah tua juga.” “Bunda,” peringat Deka. “Tadi Deka bilang apa?” tanyanya, setengah mengomel. “Jangan bicara kayak gitu lagi, ah.” “Eh, bahkan sekarang kamu sudah berani memarahi Bunda,” ledek Bunda. “Bunda~ Bunda, kan, tahu bukan begitu maksud Deka.” Bunda tertawa. “Ya, sudah. Berangkatnya hati-hati, ya. Lihat kanan-kiri kalau mau menyeberang, bersepedanya di jalur kiri saja, jangan menyalip motor dan mobil, bahaya. Helmnya jangan lupa dipakai, nanti kena tilang, lho.” “Haha. Mana ada sepeda kena tilang, Bun?” Deka menyalimi punggung tangan Bunda, menciumnya lama. “Deka berangkat kerja, Bun. Bunda tidur, ya, istirahat di sini. Tidak perlu mengkhawatirkan Deka, Bang Deril, dan Bang Diksi di rumah. Kami baik-baik saja, Bunda gak perlu cemas.” “Benar? Memang kamu dan Diksi tidak akan bertengkar? Yakin?” “Bunda~” rajuk Deka. Dia mengucak matanya. “Deka pamit, ya, Bun.” Bunda mengangguk dan tersenyum tenang saat Deka hendak memutar tubuh ke arah pintu. “Hati-hati, ya.” Deka melambai, membalas senyuman pada wajah merah dan kacaunya. “Nanti Deka mampir lagi, Bun.” Setelah pamit dari Bunda, Deka melewati pintu kamar mandi. Dia pun mengetuk pintunya dua kali. “Ayah, Deka pamit berangkat kerja. Titip Bunda, ya, Yah.” Tak ada jawaban. Kemudian Deka berlalu, menarik gagang, membuka pintu, dan pergi keluar ruang rawat Bunda. Sebelum Deka menutup pintu, Deka melihat Bunda masih menggiring kepergiannya dengan senyuman yang menular. Deka tersenyum, perasaannya lebih tenang. Deka pun menutup pintu, beranjak pergi dari ruang rawat Bunda. Memang benar, deh. Deka tidak bisa hidup tanpa Bunda. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Bunda. Maka dari itu, selepas pintu menutup, wajah ceria Deka melorot, berubah datar dan menjadi cemas. Sekali lagi, Deka menatap pintu ruang rawat Bunda. Dan dengan terburu-buru, Deka berlari menyusuri lorong seolah ada hal penting yang harus segera dilakukannya saat ini. Jika aku tak bisa hidup tanpa Bunda, maka aku harus menolong Bunda! Bagaimanapun caranya, aku harus membuat Bunda kembali sehat! Harus!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN