Sebelum Deka menutup pintu, Deka melihat Bunda masih menggiring kepergiannya dengan senyuman yang menular. Deka tersenyum, perasaannya lebih tenang. Deka pun menutup pintu, beranjak pergi dari ruang rawat Bunda.
Memang benar, deh. Deka tidak bisa hidup tanpa Bunda. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Bunda. Maka dari itu, selepas pintu menutup, wajah ceria Deka melorot, berubah datar dan menjadi cemas. Sekali lagi, Deka menatap pintu ruang rawat Bunda. Dan dengan terburu-buru, Deka berlari menyusuri lorong seolah ada hal penting yang harus segera dilakukannya saat ini.
Deka, sekali lagi, berlarian di lorong rumah sakit. Sebenarnya bukan karena ada hal genting seperti saat pertama datang tadi—ingin cepat-cepat menjenguk dan melihat keaadaan Bunda. Saat ini, kaki Deka dengan spontan dan tanpa sadar saja masuk ke dalam lift, mengabaikan peringat beberapa perawat yang gemas pada Deka—orang yang itu lagi itu lagi berlarian di rumah sakit, padahal anak kecil juga bukan.
Tatapan Deka menggebu di dalam lift yang tidak terlalu ramai. Sempat berhenti dan bahkan naik sampai ke lantai tujuh, tapi Deka tidak terlalu memikirkannya. Sebab, pikiran Deka tertuju pada hal lain. Deka mengkhawatirkan hal yang lain sekarang. Bundanya.
Lift akhirnya tiba di lantai satu. Deka segera turun dan tidak berlarian kali ini. Tetapi, langkahnya menderap dan bertenaga. Deka antara gugup dan tidak sabaran keluar dari lift, dan lurus menuju meja resepsionis. Namun saat sedang di lift tadi, waktu Deka melihat pantulan wajahnya di pintu lift yang semacam kaca buram, Deka ingat kalau matanya bengkak dan hidungnya merah—khas seperti orang habis menangis.
Karena malu juga dirinya dilirik oleh beberapa orang yang lalu lalang, Deka memutusskan berbelok dulu ke toilet di ujung lorong dekat UGD sana. Begitu masuk, cermin toilet menjadi labuhan tatapan pertamanya. Wajahnya tampak kacau, bengkak, dan merah. Suaranya pun terdengar bindeng di telinganya sendiri saat tadi mengobrol dengan Bunda.
Deka memutar keran wastafel dan membasuh wajahnya yang lengket oleh bekas air mata dan ingus. Malu jika mengeluarkan bersuara, Deka membersihkan isi hidungnya perlahan pada air mengalir.
Setelah mematikan keran dan mengeringkan wajah dengan tisu yang kotaknya menempel pada dinding keramik, Deka berkaca lagi. Kali ini sudah terlihat lebih segar dan lebih baik, meski tidak terlalu berkurang juga bengkak dan merah pada wajahnya. Tapi setidaknya perasaan Deka sudah lebih tenang dan ringan. Deka sudah lebih siap sekarang.
Keluar dari toilet, Deka berjalan lagi menyusur lorong di antara kaki-kaki orang yang berseliweran di rumah sakit. Suara derit roda ranjang rumah sakit sepintas menjadi perhatiannya. Ada pasien yang dibawa masuk dari mobil ambulan ke UGD dengan ranjang rumah sakit atau apa pun itu namanya—Deka tak terlalu tahu sebutannya.
Derit roda-roda ranjang rumah sakit yang didorong oleh tiga petugas ambulans, dua perawat rumah sakit, dan satu orang yang menangis menemani si pasien, bergulir pada lantai putih dan bau disinfektan terdengar mengerikan menurut Deka. Adegan yang melintas di depannya itu persis seperti adegan yang muncul dari sinetron receh yang sering tayang di televisi.
Tetapi mengingat ini adalah rumah sakit sungguhan, dan kejadian tadi lebih nyata dari sekadar sinetron picisan, Deka ikut merasa aneh dan sedih. Sebab rumah sakit, dan hal-hal yang berhubungan dengan pasien dan rumah sakit, adalah sesuatu yang Deka tak ingin lihat, tak ingin tahu, dan tak ingin menghadapinya.
Rumah sakit, dalam ingatan Deka, hanya berisi ingatan buruk dan tak menyenangkan terkait Bunda. Bunda itu sakit sejak lama, mungkin sejak Bunda lahir ke dunia. Tetapi penyakitnya baru tiga tahun ke belakang menjadi semakin buruk dan parah. Dan hal itu terjadi, karena Bunda terlalu memforsir tubuhnya dalam mengurus toko roti miliknya, atas rasa tanggung jawabnya sebagai pemilik toko. Karena hal tersebutlah, tingkatan penyakit Bunda menjadi parah, sampai Bunda harus dirawat di rumah sakit jika terlalu lelah. Dan itu bukan hal yang baik, karena Bunda akhir-akhir ini menjadi sering mengunjungi rumah sakit. Intervalnya semakin sering dan tiba-tiba.
Bahkan, saat masih mengurus toko rotinya dulu, saat Bunda masih rajin membantu membuat adonan di toko roti miliknya, ketika Bunda suatu hari pulang kelelahan dan segan memberi tahu orang-orang rumah, Bunda pun pingsan dan berakhir dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang, Bunda harus dirawat sampai kondisinya membaik, yang membutuhkan waktu tidak sebentar, tidak hanya dua-tiga hari saja. Meski setelah itu, dokter melarang Bunda melakukan aktivitas yang berat dan membutuhkan banyak tenaga.
Sejak itulah tangan ajaib Bunda tidak menyentuh adonan-adonan di toko roti miliknya sendiri—sebenarnya, karena Ayah dan ketiga anaknya terus melarang Bunda untuk melibatkan diri secara langsung ke toko roti. Walau memang, Bunda terkadang mampir ke toko rotinya untuk mengecek stok-stok bahan adonan, keadaan toko, dan bertemu karyawan-karyawannya. Tapi tetap saja hal itu berbeda dengan ikut membantu langsung membuat adonan roti itu sendiri, kadang pula membuat Bunda sedih walau Bunda lebih banyak menahan ekpresinya di hadapan suami dan ketiga anak laki-lakinya. Tetapi berkat mereka, Bunda jadi menurut untuk banyak istirahat di rumah atas perintah dokter demi kesehatannya, daripada membahayakan tubuhnya sendiri dan memaksakan keinginan untuk terus bekerja.
Dan Deka, berhubung tahun ini adalah tahun kelulusan SMA-nya sekaligus tahun yang sama dengan dirinya gagal masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur umum, mandiri, dan prestasi—semuanya—Deka memutuskan untuk longkap tahun, atau yang sering disebut gap year, demi membantu meringankan Bunda dengan menjalankan toko roti miliknya, sekaligus bekerja mencari uang di kafe yang tidak jauh dari toko roti bundanya. Ya, sekaligus sambil belajar juga untuk persiapan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahun depan, karena disuruh Ayah.
Ah, Ayah. Membawa topik tentang Ayah, Deka sebenarnya dilarang bekerja dan pergi keluyuran keluar rumah. Ayah sebenarnya bukan melarang Deka bekerja karena tidak boleh membantu Bunda, atau apa. Hanya saja, Ayah memiliki pandangan, jika Deka terus hanya bekerja tanpa punya waktu selingan untuk belajar, Deka akan kembali gagal dan tidak lulus dalam setiap tes ujian masuk perguruan tinggi, hingga berakhir longkap tahun lagi.
Sebagai orang tua, apalagi seorang ayah, ayah macam apa yang akan membiarkan anaknya, apalagi anak laki-laki, gagal lagi kedua kalinya; yang kegagalan itu disebabkan oleh sang anak, atas dasar kelalaian orang tua, ayah, dalam mendidik dan memperhatikan sang anak.
Kembali pada Deka, dia lanjut berjalan menuju meja resepsionis, mengabaikan berbagai macam suara obrolan, bunyi peralatan, denting besi dari alat-alat medis atau apa pun, dan langsung saja menuju urusannya.
Namun, semakin kakinya mendekat kepada meja resepsionis, Deka semakin dilanda ragu, serat saat menyeret kakinya ke sana. Deka pikir, lebih baik dirinya berbalik pergi saja dan tidak menuruti spontanitas keinginannya. Tetapi karena dirinya hanya berjarak lima sampai tujuh langkah lagi dengan meja resepsionis, salah satu perempuan mendongakkan kepala dari lembaran kertas di meja, dan memautkan tatapannya kepada Deka.
Jika sudah demikian, Deka tidak bisa mengikuti rencana pembatalannya. Apalagi, wanita berumur sekitar tiga puluhan itu sudah tersenyum ramah, siap menyambut Deka.
Deka pun mau tak mau tersenyum, dengan canggung, lalu mendekat terseok seolah terpaksa menghampiri meja resepsionis. Namun, sekali lagi, Deka tak bisa menolah senyum ramah wanita tersebut.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan senyum bisnisnya.
“A— a-anu— emm—” Selama salah tingkah, Deka berkali-kali menggaruk pipi dan menutupi bibirnya dengan kepalan tangan seperti orang batuk. “Itu, Mbak— emm….”
“Iya, ada perlu apa, Mas?” tanya wanita itu sekali lagi, bersabar menghadapi Deka.
Deka gugup, dia menoleh ke kanan-kiri, melihat sekeliling dan mengawasi lantai satu dari kehadiran anggota keluarganya. Tak ada Bang Deril, tak ada Bang Diksi, dan tak ada Ayah. Tak ada sesiapa pun yang Deka kenal hadir di lantai satu, pada pandangannya. Pun tak ada sesiapa pun yang mengenal Deka, kecuali mulai curiga pada tingkah Deka yang tampak menyangsikan.
Termasuk si resepsionis. Wanita itu mulai menyikut teman di sebelahnya, memberi kode diam-diam dengan wajah sedatar tembok.
“A-anu, Mbak. Saya mau mengecek tagihan untuk kamar 505 atas nama Bunda— Ibu Sani Maryam,” jelas Deka, pada akhirnya.
“Eh, mohon maaf. Mas siapanya pasien, ya?”
Tetapi penjelasan Deka tak cukup meyakinkan wanita itu. Mungkin karena tingkah Deka yang mencurigakan, dan wajahnya yang terlihat tak meyakinkan sebagai anggota keluarga bundanya—Sani Maryam.
“Oh, sa-saya anaknya.”
Terjadi keheningan untuk beberapa detik. Wanita itu menggunakannya untuk menatap Deka—agak terbengong dan masih tak percaya. Sedang Deka menggunakannya untuk membalas tatapan si wanita dengan bingung.
“Anaknya?” tanya wanita itu, sungguhan curiga.
Deka mengangguk. “Iya, benar.” Dia tak sadar jika salah satu resepsionis, teman wanita itu, sudah melirik-lirik petugas keamanan yang berjaga di dekat mesin pencetak nomor antrean.
“Maaf, tapi boleh saya lihat KTP-nya?” ucap wanita itu.
Deka berkedip-kedip—bukan maksud menggoda, tetapi sebatas reaksi tak menyangka saja. “Eh?”
***
Ternyata, naik motor ojek daring pun tak menjamin Aisu akan sampai lebih cepat di rumah. Di mana pun, naik apa pun, kemacetan adalah sesuatu yang tak bisa terhindarkan. Meski, yah, setidaknya abang ojek yang Aisu tumpangi tidak memarahi Aisu saat diminta untuk buru-buru dan menyalip jalanan sempit di sebelah dan di antara mobil.
Setelah berkali-kali menyempil, mengebut, dan hampir tersenggol oleh mobil dan jatuh ke selokan, akhirnya abang ojek daring tiba di depan rumah penumpang yang merepotkan itu. Aisu menyerahkan selembar uang yang sudah disiapkannya—diremasnya sampai lecak—lalu turun dari jok motor dan berlari membuka gerbang rumah, menghilang dari hadapan si abang ojek.
“Eh, eh, Mbak!” panggil si abang ojek, tapi Aisu sudah masuk ke dalam rumah, tak terlihat dari pandangannya. “Uangnya kebanyakan!” teriak si abang. Tetapi karena penumpangnya sudah selamat sampai tujuan, terlebih tak balik lagi, si abang ojek tersenyum lebar.
“Mantap, nih, pagi-pagi sudah dapat yang warna biru,” senangnya, mengantungi selembar lima puluh ribu. Kemudian setelah tertawa girang, si abang ojek menancap gas dan pergi keluar dari perkompleksan mahal sana, sebelum Aisu teringat bahwa uang yang diberikannya terlalu banyak dan butuh kembali.
Sepergian si abang ojek—Aisu yang meninggalkan abang ojek daring itu masuk ke rumah—Aisu mengeluarkan kunci cadangan rumahnya dan terbirit naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya.
Aisu menjatuhkan seluruh bawaannya untuk memudahkan dirinya tengkurap mengintip kolong ranjangnya—yang sudah lumayan bersih walau masih ada tempat-tempat yang berantakan. Karena gelap, Aisu mengulurkan tangan, menyentuh apa pun dan menepuk-nepuk lantai kosong.
“Ah, ketemu!” Aisu menarik benda itu, yang ternyata hanya sebuah piring. “Lah, kenapa ada piring di sini?” bingungnya, tapi sebenarnya tak terlalu memusingkan itu dan menggesernya ke dekat pintu kamar.
Aisu tengkurap lagi, mengulurkan tangan. “Kok, jadi jauh begini gitarnya? Perasaan semalam asal taruh saja di kolong.” Masih berusaha, dan karena geram tak mendapatkan apa-apa, Aisu mengambil ponsel dari saku dan menyalakan senter pada ponsel, memberi penerangan di kolong ranjang yang rendah dan gelap itu.
“Wah!” pekiknya. “Kenapa bisa sampai ujung begini?” Aisu menemukan gitar tua milik Papa yang ternyata ada di dekat dinding, bagian terdalam kolong ranjang.
Aisu menggerutu. Ingin mengambil gitar itu, tapi tangannya tidak sampai. Itu berarti, Aisu harus masuk ke dalam, tapi kolongnya penuh debu dan kotor. Aisu sudah bergidik duluan sebelum masuk. Tetapi karena dia membutuhkan gitar itu sekarang, Aisu tak punya pilihan lain.
Dengan sebelah tangan memegangi ponsel, Aisu merangkak masuk ke dalam kolong ranjang. Lengan kemeja flanelnya menyapu debu, dan baju dalaman yang dipakainya juga membersihkan lantai kolong. Kira-kira sampai sebatas pinggang, Aisu merayap masuk ditelan kolong ranjangnya. Segera setelah sebelah tangan yang lain menggenggam leher gitar dan menyeretnya keluar.
“Ih, sudah kayak cicak!” rajuknya. Aisu ingin menepuk-nepuk baju yang diselimuti debu, tapi saat tahu kalau debu itu akan beterbangan di seluruh kamarnya, Aisu akhirnya memutuskan untuk mengganti baju. Dengan br4 hitam polos dan celana jins hitam sobek-sobek, Aisu berjalan ke lemari baju. Sadar bahwa dia mendengar suara sesuatu yang berdecit, saat melihat ke bawah, ternyata Aisu belum membuka sepatunya.
Mata Aisu membulat, dan untuk beberapa waktu mulutnya mangap. Tapi setelah menoleh ke sekeliling dan mendapati tak ada sesiapa pun di rumah, Aisu mengenyir dan mengedikkan kedua bahu. “Yah, tidak ada yang lihat ini, kalau aku pakai sepatu ke dalam kamar.” Tapi kalau Mama mengetahui hal itu, bisa-bisa Aisu kena marah! Aisu jadi was-was juga. Kata Papa, kan, Mama akan pulang hari ini, entah pagi, siang, ataupun sore.
Maka, Aisu cepat-cepat menyambar baju apa pun—tanpa melihat ke dalam lemari—lalu mengenakannya. “Eh, kok… sempit?”
Melihat ke meja rias yang terdapat kaca besar, Aisu merasa tubuhnya sesak memakai baju hitam polos yang rupanya sangat ketat dan mengepas di tubuhnya—mengikuti bentuk tubuh Aisu.
Kedua alis Aisu sempat menyatu, dia berpikir dua kali untuk memakai baju—ketat semacam tanktop—itu ke kampus. Tapi karena memiliki pemikiran, bahwa Mama sedang di jalan dan bisa tiba di rumah kapan saja, Aisu tak lagi memusingkan pilihan bajunya.
Aisu menyambar gitar Papa. Karena ada debu di sekelilingnya, Aisu mengelap tubuh gitar dan mengempaskan debu ke sembarang arah—jatuh ke lantai dan terbang ke mana pun. Aisu sampai bersin dua kali. Selepas itu, mengingat tak ada waktu, mengingat kelasnya akan mulai jam sebelas dan sekarang hampir jam setengah sepuluh, mengingat Mama bisa jadi sudah di depan gerbang rumah, Aisu segera mencangklong ranselnya kembali dan membawa gitar Papa yang Aisu rusakkan semalam itu.
Aisu keluar kamar terburu-buru, meninggalkan gumpalan debu yang bertebaran di kamar, dan meninggalkan baju kotor penuh debu yang barusan di pakainya sembarangan di lantai, menuruni anak tangga dengan suara decitan sepatu yang ramai.
Namun di anak tangga ke lima, keraguan Aisu terkait baju ketat yang dipakainya datang lagi. Terlebih, saat melihat tubuhnya, Aisu merasa sangat terekspos dan dua lingkaran pada tubuhnya itu terasa terlalu terbentuk sempurna akibat baju hitam polosnya.
Maka, Aisu terpaksa kembali naik dan membuka pintu kamar, menuju lemari bajunya. Aisu mengambil salah satu jaket pada barisan gantungan luaran secara acak, dan dia tidak kecewa pada pilihannya. Sebuah jaket kulit hitam dan sangat terlihat garang. “Hadiah dari Papa saat ulang tahun ketujuh belas!” sorak Aisu senang.
Aisu membuka plastik bening yang melapisi gantungan jaket kulitnya—yang digunakan supaya tidak mudah berdebu atau mengelupas karena tergesek dengan baju lain—secara perlahan dan hati-hati. Tiba-tiba saja, Aisu melupakan kenyataan bahwa dirinya harus cepat-cepat mengejar kelas dan lari dari kemungkinan Mama yang sedang membuka pintu depan.
Aisu menaruh gitar Papa menyandar pada meja rias, dia bahkan melepas tali tas dan menjatuhkannya sembarangan. Aisu terlalu semringah dan berhati-hati memakai jaket kulit yang sangat disukainya. Oh, Aisu bahkan lupa dia pernah memiliki jaket itu.
Jaket kulit itu adalah hadiah pemberian Papa pada ulang tahun ketujuh belas Aisu. Sweet seventeen. Tetapi, acara ulang tahun istimewa yang tak dapat dirayakan dua kali dalam hidup seorang gadis itu, tak Aisu rayakan seperti perempuan-perempuan kebanyakan, seperti teman-teman SMA Aisu.
Aisu tidak merayakan sweet seventeen-nya. Di rumah, Mama dan Papa memberikan kue, padahal Aisu tidak pernah meminta. Aisu memang begitu, tak pernah mau merayakan ulang tahunnya sendiri. Bukan karena tidak suka acara ulang tahun atau apa—karena, siapa yang tidak suka?—Aisu hanya merasa ulang tahunnya, ulang tahun ketujuh belas yang datang hanya sekali seumur hidup itu, ulang tahun ketujuh belas yang tak bisa dirayakan dua kali itu, ulang tahun ketujuh belas yang dirasa sangat spesial oleh kebanyakan perempuan itu, Aisu hanya merasa bahwa angka tujuh belas, tak ada bedanya dengan angka-angka yang lain.
Ulang tahun ketujuh belas, atau keberapa pun, bagi Aisu tak ada perbedaan yang signifikan. Itu semua hanya masalah angka dan persepsi terhadap angka itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap angka tujuh belas adalah angka yang spesial, makanya mereka merasayakan ulang tahun ketujuh belas mereka dengan meriah dan spesial pula.
Ya, itu tak berbeda dengan Aisu yang menganggap, bahwa angka tujuh belas hanyalah angka tujuh belas. Tak jauh dari itu. Tak lebih dari itu. Tak berarti apa pun dari apa pun. Tujuh belas hanyalah tujuh belas. Tidak lebih dari itu.