37. Mama (2)

2331 Kata
Ulang tahun ketujuh belas, atau keberapa pun, bagi Aisu tak ada perbedaan yang signifikan. Itu semua hanya masalah angka dan persepsi terhadap angka itu sendiri. Kebanyakan orang menganggap angka tujuh belas adalah angka yang spesial, makanya mereka merasayakan ulang tahun ketujuh belas mereka dengan meriah dan spesial pula. Ya, itu tak berbeda dengan Aisu yang menganggap, bahwa angka tujuh belas hanyalah angka tujuh belas. Tak jauh dari itu. Tak lebih dari itu. Tak berarti apa pun dari apa pun. Tujuh belas hanyalah tujuh belas. Tidak lebih dari itu. Dahulu pun, saat Mama menanyai ulang tahun ketujuh belas Aisu ingin dirayakan seperti apa; mengundang seluruh teman kelaskah, mengundang artiskah, mengundang penyanyikah, apapun itu, tetapi Aisu berkata kalau dirinya tidak ingin merayakan ulang tahun ketujuh belas yang tak ada nilai spesialnya itu. Tujuh belas hanyalah angka tujuh belas. Pada akhirnya, Aisu tetap tidak ingin merayakan ulang tahun ketujuh belasnya—yang kata orang-orang spesial dan berarti itu. Tetapi, beda halnya dengan Mama. Mama tak ingin ulang tahun ketujuh belas anak gadisnya biasa-biasanya saja. Mama membujuk Aisu untuk merayakannya saja, tapi keduanya sama-sama keras kepala. Yang satu ingin merayakan, satunya lagi mengotot tidak ingin. Akhirnya, Papa menjadi penengah. Papa bernegosiasi akan membelikan Aisu kue ulang tahun dan sebuah kado—untuk mencapai kesepakatan kedua wanita berharga dalam hidupnya. Tetapi Mama masih belum setuju juga, dan menambahkan akan mengadakan pesta kecil untuk mereka berempat saja—Papa, Mama, Aisu, dan Ami. Aisu pun akhirnya mengalah pada Mama, walau ya, sebenarnya tidak bisa menang juga dari Mama yang keras kepala dan persuaif. Papa menghadiahkan jaket kulit hitam yang mahal dan premium. Jaket itu sampai sekarang, sudah tiga tahun lebih, masih dalam kondisi bagus dan mengilat cantik. Aisu memakai jaket pemberian Papa jika ada acara-acara penting yang santai, seperti riset mata kuliah tahun kemarin yang mengunjungi gedung milik pengusaha ternama di Indonesia bersama teman-teman sejurusan, untuk melakukan tur kecil dan menjelaskan tentang desain dan arsitektur gedung mewah tersebut. Atau saat menghadiri acara ulang tahun Mindy kedua puluh beberapa bulan lalu, atau acara-acara yang Aisu ingin dirinya terlihat keren dan berbeda—walau ya, sebetulnya tak membuat Aisu berbeda jauh, karena itu hanya sebuah jaket saja. Namun untuk hari ini, meski bukan acara penting atau apa, Aisu sudah kepincut melihat jaket kulitnya yang mengilap dan berkilau. Jadi, sekalian saja mengenakan jaket itu untuk sekolah. Aisu menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. “Wah! Dari atas sampai bawah hitam semua begini, deh? Hahaha!” Lantas dia berputar ke kanan, berputar ke kiri, dan sedikit bergaya di depan cermin. “Boleh juga,” nilainya. “Eh, enggak!” sanggahnya kemudian. “Ini, sih, keren banget!” Aisu entah untuk apa bertepuk tangan, girang sendiri oleh penampilan dirinya. “Hari ini tema mode pakaiannya strong girl!” Aisu melirik kepalanya. “Ah, topinya….” Kemudian kembali melihat cermin, mencocok-cocokkan jaket kulitnya dengan topi hitamnya. “Memangnya cocok, ya?” Aisu mengernyit, menikmati waktu yang berjalan padahal dia harus buru-buru keluar rumah dan kembali lagi ke kampus. “Ah, kayaknya enggak, deh.” Aisu melepas topi dan melemparnya ke atas ranjang. “Model rambutnya gimana?” tanyanya pada diri sendiri. Ikatan rambut kuncir kudanya tampak cocok-cocok saja pada baju jaket kulitnya, tidak terlalu bertabrakan. “Gak apa-apa, deh. Sudah malas diubah dan gerah kalau dilepas.” Aisu mengangguk yakin. Dengan cengiran lebar, dia masih bergaya di depan cermin, mengagumi dirinya sendiri. Aisu memang tidak peduli pada penampilan, tapi jika menyangkut mode pakaian tomboi, memiliki kesan kuat, berwarna hitam, dan berbahan kulit, Aisu jadi semangat dan ingin mendandani dirinya semaksimal mungkin dengan kesan perempuan kuat! Kalau sudah begitu, Aisu terlihat seperti orang narsis. “Ih, bau!” teriaknya, menjauh dari kepalanya sendiri—yang pasti tidak mungkin bisa—saat helaian ujung rambut panjang berkibas di depan wajah dan mengenai hidung. “Kapan terakhir kamu keramas, sih?! Kenapa bau begini?!” Aisu menciumi aroma rambut panjang bergelombangnya lagi, kemudian menyesali keputusannya. “Sial! Kok, bau banget?!” Aisu menekuk wajah, galau dengan masalah rambut baunya—yang memang sudah lama menjadi masalahnya, dan sudah lama juga Aisu tak mempedulikan itu karena dirinya tak masalah, tapi entah mengapa hari ini menjadi masalah. “Sayang banget kalau sudah keren begini, tapi rambutnya bau! Apa mandi lagi dan keramas?” Aisu menoleh ke arah jam dinding di dalam kamarnya. “EH?! SETENGAH SEPULUH?!” teriaknya heboh. “Aduh, bisa telat kalau begini!!” Aisu yang panik, mondar-mandir di dalam kamar. Suara decit sepatu menemani dirinya berpikir, antara pergi keramas dan mengambil risiko telat masuk kelas, atau tidak keramas, memakai topi untuk menyembunyikan bau, dan mengganti tema pakaiannya, menaruh kembali jaket kulit kesayangannya itu. Tetapi Aisu dikalahkan oleh ketertarikannya dengan jaket kulit cantik itu. Tapi tak mungkin juga Aisu pergi keramas dan mandi lagi. Sibuk panik mencari solusi, matanya menangkap meja rias yang kosong dan bersih dari alat kecantikan. “Parfum!” pekiknya dipenuhi harapan baru. (Meja rias Aisu memang tak ada isinya, tak sekalipun barang-barang kecantikan seperti bedak, lipstik, dan semacamnya. Meja rias Aisu hanya dipakai untuk bercermin dan menyimpan kertas-kertas makalahnya saja.) Omong-omong, Aisu berteriak parfum padahal meja riasnya tak ada parfum, karena Aisu tahu kalau meja rias milik Mama yang bermodelan sama dengan miliknya itu, pasti akan ada parfumnya. Aisu segera berlari keluar kamar. Dan di anak tangga, dia ingat kalau barang-barangnya tertinggal. Tanpa membereskan kamar, seperti biasa, Aisu mengambil tas dan gitar tua Papa yang dirusaknya, lalu menutup pintu dan kembali menuruni tangga. Di ujung anak tangga, lorong sebelah kiri adalah dapur. Di lorong kanan adalah kamar mandi utama dan tempat mencuci. Maju ke depan anak tangga, agak berhadapan dengan dapur, di sebelah kanan adalah ruang tamu sekaligus ruang berkumpul keluarga. Dan di sebelah kirilah terdapar dua kamar, satu milik Papa dan Mama, satu lagi milik Ami. Aisu perlahan membuka pintu kamar Papa Mama, seolah berhati-hati supaya tidak membangunkan orang di dalam, macam pencuri pada dini hari. Namun nyatanya, tidak ada siapa-siapa di rumah kecuali dirinya sendiri. Untungnya pula, pintu kamar Papa Mama tidak dikunci. Aisu langsung masuk begitu membuka pintu, dia menaruh ransel kulit bekas Papa dan gitar rusak Papa di depan bingkai pintu. Tidak dibawa masuk untuk memudahkan Aisu beraksi. Kamar orang tuanya gelap. Aisu menyentuh saklar, menyalakan lampu, dan hampir terkejut dengan tuang gantungan yang ditutupi oleh selimut yang menciptakan bayangan aneh. Baru dua langkah masuk, Aisu tersadar dirinya masih memakai sepatu. “Kayaknya gak sopan kalau pakai sepatu. Mama juga bakalan marah kalau tahu!” Aisu membuka sepatunya dengan paksa, langsung melepasnya begitu saja tanpa membuka ikatan tali, dan melempatnya ke pintu depan. “Aku juga bakal ngamuk kalau Ami masuk ke kamar pakai sepatu sekolahnya. Apalagi masuk sembarangan kayak gini!” Aisu berdiri di ambang pintu dengan jantung yang berdegup-degup. Antara merasa bersalah dan khawatir Mama akan segera tiba dan memergokinya. “Mama, maafin Aisu, ya! Permisi!” Aisu harap-harap cemas masuk ke dalam kamar Papa Mama. Begitu diperhatikan kembali karena lampu kamar sudah menyala, ternyata ruangan itu tampak luas dengan ranjang queen size di tengah ruangan. Tetapi ranjang itu tidak menyita banyak tempat. Lemari besar ada di sebelah jendela yang terang dan memasukkan banyak cahaya ke dalam ruangan. Meja kerja Mama pun masih muat ke dalan dengan kursi model kantornya. Dan— ah, meja rias Mama! Aisu segera ke sana. Meja rias Mama berwarna hitam-putih, bermodel sama dengan miliknya. Tetapi, walau sama, Aisu merasa kalau milik Mama lebih terlihat bagus dan berkelas. Berbagai macam alat kosmetik dengan macam-macam bentuk dan warna menutupi meja rias, membuat Aisu bingung harus menggunakan yang mana. “Ah, ini, bukan?” Aisu mengambil satu botol kaca berwarna pink dengan merek yang entah bagaimana cara bacanya. Botol parfum itu masih banyak isinya, hanya terpakai satu banding sepuluh saja pada ukuran seratus mililiter. Melihat dan mencari kembali pada meja rias, Aisu menemukan botol parfum yang lain, tapi sayang sudah tinggal sedikit semua. Kalau Aisu pakai, bisa-bisa habis dan mengundang kecurigaan Mama. Jadi, daripada mengambil risiko ketahuan, Aisu memilih botol kaca pink di tangannya saja. “Eh, wangi!” Begitu membuka tutupnya dan mengendus kepala semprotan, hidung Aisu dimanjakan oleh aroma feminim yang berbeda, seolah berada pada kelas kewangian yang berbeda—entahlah, tak yakin juga harus dijelaskan bagaimana. Dengan antusias, Aisu mengambil sejumput rambutnya untuk diarahkan pada moncong kepala parfum. Namun kembali ragu mengingat wangi itu terlalu feminim. “Ah, tapi… wanginya gak cocok dengan gaya bajuku.” Iya, hanya karena alasan itu. Tapi melihat pantulan jam dinding pada cermin meja rias yang menunjukkan pukul sepuluh kurang empat lima, Aisu tak punya pilihan lain. “Kenapa waktu cepat banget berlalu?!” Akhirnya, karena terdesak dan tak ada pilihan lain, Aisu menyemprotkan helai rambutnya lima kali. “Kayaknya kurang?” Aisu mengendus rambutnya, syukur tidak terlalu bau lagi, sudah tertutupi oleh wangi yang feminim dan mahal. Tetapi karena dirasanya kurang, sedang Aisu takut parfum milik Mama habis atau berkurang banyak dan Mama akan curiga, sebuah botol kaca yang bulat dan berwarna hitam menarik perhatian Aisu. Ditaruhnya parfum Mama, Aisu mengambil botol kaca bulat yang ternyata isinya tinggal setengah itu. Saat tutup dibuka dan Aisu mencium aromanya, wangi yang terendus ternyata lebih maskulin dan jauh lebih cocok dengan gaya pakaiannya saat ini. “Yah!” pekik Aisu kecewa. “Kenapa aku gak lihat kamu lebih dulu, eh?!!” Menekuk wajah dan mengerutkan alis lagi, Aisu galau. Kalau dia memakai parfum berbau maskulin dan yang sepertinya milik Papa itu, rambut Aisu malah akan bau dan entah tercium apa dari rambutnya. Campur aduk! Sekali lagi, karena kepepet dan terdesak, Aisu tak punya pilihan lain. Akhirnya, disemprotkannya parfum Papa yang tampaknya sama mahal dengan milik Mama tadi, sebanyak lima kali. Selepas itu, Aisu menutup botol parfum dan menaruhnya kembali ke meja rias, tempatnya semula. Lalu, terburu-buru berbalik ingin keluar kamar Papa Mama. Namun karena tidak hati-hati dan terbirit-b***t, Aisu menyandung kaki kursi model kantor milik Mama. Aisu terjungkal ke depan, dan kursi itu berputar menabrak pinggiran rangka ranjang. “Arrgh!” Aisu setengah berteriak menahan sakit pada jemari kakinya. Dia akhirnya jatuh juga dengan posisi kedua telapak tangan menumpu tubuh. Aisu mengibas-ngibaskan sebelah kakinya yang hanya sedikit nyeri dan tidak ada luka serius. “Sialan!” Tapi Aisu sudah terlanjur emosi. Dia menendang kursi Mama dengan sebelah kakinya yang lain. Kursi model kantor milik Mama yang tidak punya salah apa-apa itu, yang salah Aisu sendiri karena telah menyandungnya, menabrak meja kerja Mama dan berputar sampai ke meja rias. “Arrgh! Menambah kerjaan saja!” teriak Aisu kesal. Aisu bangkit, berjalan mengambil kursi Mama untuk dikembalikannya lagi ke dalam kolong meja kerja. Akan tetapi, begitu baru melangkah hendak meraih kursi, pinggang Aisu menabrak meja kerja Mama. Sejujurnya, kamar Papa Mama tidak sempit-sempit amat. Itu semua hanya kecerobohan Aisu saja yang memangg sial dan tidak memberi perhatian pada sekelilingnya. Karena Aisu menabrakkan dirinya ke meja kerja Mama, Aisu yang sudah emosi pun memarahi meja Mama, mengumpati benda mati. Dan karena tumbukan itu, tumpukan kertas di pinggiran meja ikut terguncang dan akhirnya jatuh ke lantai, bserserakan di mana-mana. “Grrrrrr! Kenapa aku selalu sial, sih, Tuhan?!?” Aisu ingin mengacak-ngacak kamar Papa Mama rasanya. Tapi kembali ingat, kalau hal itu hanya akan membuatnya lelah dan menumpuk pekerjaannya dan tidak sampai-sampai ke kampus. Waktu semakin berjalan dan sempit, Aisu mau tak mau memungut satu per satu kertas Mama dan membereskan semuanya. Ah, tentunya sembari menggerutu dan mengumpat juga. Aisu ini tidak sopan sekali, mengumpat dan berkata kasar di kamar orang tuanya. Ck, ck, ck. Mengembuskan napas, Aisu terus memanyunkan bibirnya. Matanya ogah-ogahan mencari kertas A4 yang entah bertulis dan berisikan apa di permukaannya. Namun, Aisu juga harus merapikannya menjadi seperti semula; berurut dan tidak terbolak terbalik. Karena tidak tahu yang mana bagian awal, atau bagian tengah, atau bagian akhirnya, Aisu mengumpulkan kertasnya hanya berdasarkan atas dan bawah saja. “Tapi… nanti Mama jadi curiga, dong?” terkanya, yang terntu saja jawabannya adalah benar. Maka, dengan berat hati, Aisu membaca isi kertasnya satu per satu dengan tujuan mengurutkannya menjadi halaman-halaman yang padu—meski tidak tahu benar atau salah. Saat membaca tiga lembar pertama, rupanya kertas yang Aisu berantakkan itu adalah dokumen penting, surat kontrak penerbitan dengan penulis yang Mama tanggung jawabkan. Tentu saja, Mama adalah editor di salah satu perusahan penerbitan swasta yang besar di Indonesia, yang memiliki cabang hampir di seluruh kota. Perasaan Aisu yang tadinya sebal, berubah menjadi cemas dan panik. “Dokumen penting seperti ini, akan bahaya banget kalau sampai rusak dan hilang! Duh, mana belum ada tanda tangan penulisnya! Berarti dokumen ini akan Mama bawa ke kantor dan akan dipakai dalam waktu dekat!” Aisu berubah bersungguh-sungguh dalam membenahi ulah kecerobohannya. Dia hampir selesai mengurutkan dan merapikan kertas penting berisi surat kontrak. “Aduh, Mama! Dokumen penting begini kenapa gak dimasukkan ke dalam map dan simpan di dalam laci, sih?! Kalau hilang gimana, coba?” ucap seseorang yang ceroboh dan memiliki kamar yang sangat berantakan dan tak terurus…. “Fyuuh. Ini yang terakhir!” Aisu sudah membereskan kertas itu. Di tangan kirinya terkumpul kertas-kertas surat kontrak yang di bagian bawah semuanya terdapat nomor halaman, yang memudahkan Aisu untuk mengurutkannya. Sedang di tangan kanannya adalah kertas terakhir yang terbalik. Aisu membalikkan kertas itu. Nomor halaman di paling bawah adalah hal yang pertama kali Aisu lihat. Tetapi, di kertas terakhir itu tidak terdapat nomor halamannya. Aisu mengernyit. “Apaan, nih? Lembar terakhir atau apa—!!” Kedua manik Aisu kontan membulat dan melotot. Ekspresi wajahnya berubah kaget seperti habis melihat hantu. Aisu tak bisa berkata apa-apa karena terlampau terkejut saat membaca kepada siapa surat tersebut dituju. “Kepada yang terhormat,” —Aisu mulai membacanya dengan suara pelan— “Ketua Penga… dilan Agama Bandung, di Bandung.” Tenggorokan Aisu serasa tercekat saat matanya bergulir ke samping membaca tulisan yang lain. “Hal: Per… mohonan… Ce… rai Talak….” Bersamaan dengan habisnya suara Aisu pada kalimat tersebut, jatuh satu titik air mata di pipinya tanpa permisi dan aba-aba. “Cerai?” gumam Aisu lagi, belum percaya. “Papa dan Mama… mau cerai?” Sekarang, air mata Aisu semakin mengalir deras dan tak bisa dikendalikan. “Cerai….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN