38. Mama, Papa, dan Surat Pemohonan Cerai

1416 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas pagi, tetapi Aisu masih berada di rumah. Kuliah siangnya hari ini dimulai pukul sebelas. Kalau berangkat sekarang juga, naik angkot yang biasa ditumpanginya ke kampus dan memakan waktu hampir empat puluh lima menit, Aisu masih memiliki lima belas menit sisa sampai jam sebelas. Kalau naik ojek daring lagi, Aisu akan cepat sampai di kampus. Intinya, jika Aisu berangkat sekarang, dia masih punya waktu dan tidak akan telat lagi, naik apa pun transportasinya. Namun, yang Aisu lakukan sekarang bukanlah cepat-cepat berkemas dan merapikan penampilannya, melainkan terduduk di lantai dengan mata yang termenung menatap lantai kamar Papa Mama. Kertas-kertas berisi surat kontrak perusahaan penerbitan mamanya dengan penulis, berserakan lagi di lantai. Aisu kehilangan kekuatan cengkramannya begitu saja. Isi kepalanya serasa langsung kosong ketika melihat kertas terakhir yang dipungutnya tadi. Masih dalam keadaan bingung dan tak percaya, Aisu mengambil kertas itu lagi. Tangan kanannya memegang ujung kertas, dadanya berdetak-detak tak karuan saat tulisan cetak tebal itu dia baca sekali lagi. Hal: Permohonan Cerai Talak Air mata Aisu turun lagi, tapi wajahnya masih datar dan tampak seperti orang linglung. “Cerai…,” lirihnya gamang. Kesadaran Aisu bagai pergi entah ke mana, terlempar entah ke mana, dan tersesat entah di mana. “Cerah…?” tanyanya pada diri sendiri, masih belum percaya. Ah, percaya pun bagaimana caranya? Sepengetahuan Aisu, hubungan Papa dan Mama terlihat baik-baik saja. Benar, kok! Ada banyak bukti yang bisa Aisu sampaikan, yang akan menegaskan bahwa hubungan orang tuanya memang baik-baik saja! Pertama, Aisu yakin kalau Papa dan Mama tidak pernah terlibat pertengkaran ataupun adu mulut di rumah. Aisu tahu, Aisu percaya, dan Aisu yakin itu! Sebab, Aisu adalah kalong di rumah. Dia sering terjaga sampai subuh dan tidak tidur semalaman. Dan selama bergadang, Aisu tidak pernah sekali pun mendengar suara gaduh mulut Papa dan Mama yang berdebat perihal perceraian ataupun hal-hal yang berujung ke sana. Setiap malam, Aisu hanya mendengar suara hening malam yang menjadi tempat konser para jangkrik dan hembusan angin saja. Acap kali juga oleh suara musik pada earphone-nya. Tapi tidak sekali pun Aisu mendengar pertengkaran Papa dan Mama. Itu, seharusnya sudah menjadi bukti yang cukup untuk menyimpulkan kalau orang tua Aisu tidak mungkin bercerai. Kalau masih belum yakin, bukti kedua adalah Papa dan Mama yang terlihat akur dan tidak canggung saat sarapan bersama maupun makan malam—meski Papa jarang ikut makan malam karena sibuk dengan pekerjaannya. Namun setiap duduk bersama di meja makan, Aisu tidak pernah melihat Papa dan Mama berada dalam keadaan canggung yang membuat mereka tidak dapat mengobrol dengan nyaman, atau terpaksa membuka obrolan demi membuat anak-anaknya tidak curiga, pun memaksakan diri untuk saling mengobrol dengan topik yang tidak nyambung karena cangguung. Semuanya normal, sungguh! Aisu tak menemukan kejanggalan hubungan Papa dan Mama di meja makan. Ketiga, baik gelagat Papa maupun gelagat Mama di depan Aisu dan Ami tidak terlihat aneh, seperti orang yang bersalah, orang yang ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting, orang yang gelisah, atau apa pun. Gelagat keduanya, ya, normal-normal saja. Seperti biasanya! Agaknya, tiga bukti saja sudah cukup untuk meyakinkan Aisu bahwa Papa dan Mama tidak memiliki masalah serius yang mengharuskan mereka untuk berpisah. Aisu tak menemukannya. Ah, kalaupun punya, itu berarti ada hal yang amat krusial yang menjadi penyebab bagi keduanya untuk bercerai. Tapi… apa? Aisu mengusap kedua pipinya. Dia tak mengerti di mana letak salah, letak cacat, letak aneh, atau letak kejanggalannya. Apakah karena perselingkuhan? Tapi, ya, siapa yang berselingkuh? Papa? Papa tidak mungkin berselingkuh! Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan dan proyek-proyek pembangunan gedung! Tidak punya waktu untuk mengencani wanita lain! Lagi pula, kalau Papa betulan selingkuh dari Mama dan memiliki pacar, tebal betul mukanya untuk memasang wajah tersenyum di depan Mama, Aisu, bahkan Ami, bocah tujuh tahun yang baru masuk TK! Lelaki baj1ngan macam apa Papa kalau sungguhan punya nyali begitu?! Papa tak mungkin selingkuh. Setidaknya… tidak punya waktu untuk mengurusi wanita lain. Mari anggap saja, kemungkinan Papa berselingkuh adalah… lima persen? Ah, tidak. Terlalu banyak. Dua persen? Ya, sepertinya segitu. Lima puluh persen kesibukannya untuk pekerjaan, dan empat puluh delapan persennya lagi untuk keluarga. Iya, benar. Aisu yakin sekali, mengingat Papa adalah orang yang terlalu fokus dan terlampau sibuk mengurusi pekerjaannya ketimbang keluarga, maka kemungkinan Papa lebih sering berkutat dengan pekerjaannya sebagai arsitek dan desain-desain proyek gedung-gedung serta bangunan, daripada… sibuk main wanita, bukan? Aisu yakin sekali. Sedangkan Mama, Aisu rasa Mama juga tidak mungkin berselingkuh. Aisu yakin, karena yang Aisu tahu, Mama juga sama dengan Papa, sibuk bekerja dan hanya punya waktu untuk pekerjaan serta untuk keluarganya. Bahkan, Papa dan Mama, kalau sudah di rumah pun masih sibuk juga dengan pekerjaan mereka masing-masing, tak ada waktu untuk pergi keluar dengan dandanan cantik dan tampan seolah ingin menemui seseorang yang spesial, selain berpenampilan rapi dan enak dipandang karena ingin bekerja. Tidak ada yang ganjal, pun tidak ada yang berbeda dari keduanya, sungguh! Ya… ya, pokoknya mustahil! Aisu percaya seperti itu; bahwa baik Papa ataupun Mama, keduanya sama-sama tidak punya waktu untuk mencari pasangan selain suami/istri mereka. Dan itu adalah fakta! Aisu sendiri yang menjadi saksi atas semuanya. Dia sudah bertahun-tahun menyaksikan tingkah laku, perilaku, dan tabiat Papa dan Mama. Dan sama sekali, tak ada keanehan yang menjadi penyebab keduanya harus bercerai. Mereka tidak berselingkuh. Tidak Papa, tidak pula Mama. Aisu akhirnya bangkit berdiri setelah mengumpulkan kertas milik Mama, lalu menaruhnya kembali ke atas meja kerja. Aisu memutar tubuh, hendak keluar kamar dan sudah teringat bahwa dia mesti cepat-cepat ke kampus. Tetapi, dorongan dalam hatinya membuat Aisu kembali ke meja kerja. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku, membuka aplikasi kamera, dan memotret kertas permohonan perceraian itu. Menggigit kuku ibu jari, Aisu sempat terdiam di tempat beberapa detik. Pemikiran-pemikiran bahwa perceraian Papa dan Mama akan terjadi, mengusik ketenangan Aisu. Meski entah kapan kertas itu akan diserahkan ke pengadilan agama, Aisu sangat was-was dan takut sekarang. Maka, untuk berjaga-jaga, Aisu memotret kertas permohonan perceraian milik Mama dan mungkin akan menanyakan tentang keputusan—yang menurut Aisu tak masuk akal ini, karena Papa dan Mama terlihat dalam hubungan yang baik-baik saja. Walau, yah, Aisu sendiri tidak memiliki keberanian juga untuk bertanya soal kertas yang dia temukan di kamar mereka pada Papa atau pada Mama. Karena Mama akan marah kalau Aisu sembarangan masuk ke kamarnya, termasuk karena mungkin saja… Mama dan Papa sedang menyiapkan waktu dan hati untuk memberi tahu Aisu tentang rencana perceraian mereka. “Hah,” dengus Aisu, melepas napas panjang. “Aku gak pernah tahu, kalau selembar kertas ternyata bisa membuat seseorang begitu ketakutan dan meragukan segalanya. Selembar kertas, ya, hanya selembar kertas. Tak lebih dari itu.” Memikirkan kemungkinan itu malah membuatnya semakin pundung. Karena selain kemungkinan bahwa Papa dan Mama tidak mungkin bercerai, ada pula kemungkinan bahwa mereka memang ingin bercerai, tapi belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitakannya pada Aisu. Apalagi pada Ami, anak kecil berusia tujuh tahun yang tak tahu arti berpisah, bercerai, dan tidak memiliki Papa dan Mama dalam satu rumah. Aisu mengusap kasar matanya. Memikirkan Ami di antara rencana perceraian Papa Mama membuat Aisu semakin cengeng. Terlebih pada fakta, bahwa Ami belum tahu arti sebuah perceraian. Aisu mendadak merasa kasihan dan iba pada Ami; karena Ami masih kecil, karena Ami yang berumur tujuh tahun seharusnya sedang dibanjiri dengan kasih sayang dan kenangan-kenangan yang menyenangkan, karena Ami yang masih tujuh tahun semestinya sedang dimanjakan oleh Papa dan Mama. Tetapi, memikirkan Ami yang masih terlalu kecil untuk menghadapi sebuah perceraian dari orang tuanya, tangis Aisu pecah di kamar Papa Mama. Aisu terduduk meringkuk, memeluk lipatan kakinya sendiri, membenamkan wajah pada lututnya, dan menangis dengan suara yang kencang dan melengking. Aisu sampai mengigit lengannya untuk menutupi suara tangis yang tak bisa Aisu kontrol untuk keluar seberapa besar. Ah, benar juga. Jika terdapat kemungkinan kedua orang tuanya tidak selingkuh, maka ada pula kemungkinan kedua orang tuanya berselingkuh, kan? Jika terdapat kemungkinan Papa dan Mama tidak bercerai, maka ada pula kemungkinan Papa dan Mama untuk bercerai, bukan? Jika terdapat kemungkinan hubungan Papa dan Mama baik-baik saja, maka ada pula kemungkinan hubungan Papa dan Mama buruk, kan? “Kenapa? Hiks… hiks—” isak Aisu, mengusap wajahnya yang sudah basah dan berantakan. “Kenapa berce— hiks… kenapa Papa dan Mama mau ce— hiks… cerai? Hiks… hiks hiks.” Ah, apa Aisu terlalu naif karena menganggap hubungan Papa dan Mama baik-baik saja, padahal kenyataannya Mama menyimpan surat permohonan perceraian? Aisu memejamkan mata, berusaha menghentikan tangisan, tapi air matanya mengalir deras tak mau berhenti. Aisu terisak, menangis di kamar Papa Mama, hanya karena selembar kertas…. “Hiks… sia— hiks… sialan! Hiks hiks… hiks.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN