20. Nasihat Buruk dari Irfan

1325 Kata
Aisu dan Mindy diusir dari kafe. Maksudnya, tidak sekasar itu. Iyo meminta maaf pada mereka berdua, berkata bahwa kafe mesti ditutup lebih cepat untuk membereskan barang-barang dan membersihkan ruangan. Mindy yang penasaran, bertanya dengan sopan, meski Deka tahu bahwa dia hanya basa-basi. Setelah dapat informasi bahwa kafenya akan tutup, Mindy berwajah terkejut tak percaya. Sehabis menyampaikan rasa duka yang tak perlu—bagi Deka—Mindy mengajak Aisu yang sedari diantar keluar, terus menatap sinis Iyo, Deka, dan Irfan, seakan tak suka pada pelayanan mereka dan menganggap buruk kafe Dinolatte. Kedua sahabat itu pun pergi. Deka bergidik, menyampaikan rasa geramnya dengan celetukan betapa galaknya si perempuan tinggi itu—Aisu. Sedang Iyo berpendapat, kalau yang satunya, si perempuan berambut pendek itu manis. Basa-basi khas lelaki itu dipotong oleh Iyo yang menyuruh keduanya agar cepat-cepat melakukan tugas terakhir mereka sebelum dirumahkan esok hari. Iyo menyeret kedua rekan kerjanya masuk ke dalam, memberi perintah ini-itu yang terdengar seperti seorang ibu yang menyuruh anak gadisnya melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Deka, untuk pertama kalinya terlihat loyo saat Iyo mengungkit-ungkit tentang kematian kariernya sebagai barista. Apalagi pada hal-hal berbau "terakhir kali" dan juga "tidak bekerja lagi". Lain halnya dengan Deka, Irfan tidak jauh beda dengan dirinya yang biasa. Irfan masih bermalas-malasan membersihkan meja. Kadang dia hanya duduk berpangku dagu, membiarkan Deka yang murung mengelap seluruh permukaan meja. Irfan bahkan menyerahkan sapu dan pengepelan pada Deka, yang langsung diambil oleh Deka dan mengerjakan tugas bersih-bersih sendirian—terlihat tanpa nyawa tentunya. Deka pundung sekali. Bahkan saat Irfan hanya diam dan bersantai, Deka tak protes dan menyalak seperti sebelum-sebelumnya. Dia tiba-tiba menjadi murung dan diam. Dijahili Irfan dengan melimpahkan tugas bagiannya pun, Deka hanya termangu tanpa ekspresi. Kesadarannya seakan berada di tempat lain. Iyo yang mengurus dokumen-dokumen, mengecek stok-stok gelas dan sejenisnya, saat melihat tingkah Irfan yang mengeksploit4si Deka hanya bisa menatap. Lalu saat Irfan menoleh dan menyengir tanpa dosa, Iyo hanya menghela napas, lalu kembali melakukan tugasnya. Iyo sama lemasnya seperti Deka. *** Bersih-bersih kafe yang sepi pengunjung ternyata terasa lebih lama. Mungkin karena lebih banyak debu, jadi sudut-sudut ruangan lebih kotor dan berdebu, kata Irfan, bermakna "tidak ada pelanggan, semua bangku dan meja diduduki debu". Mereka bertiga sudah selesai beres-beres. Kardus dan debu sudah dirapikan. Sekarang, mereka sedang ganti baju di ruang karyawan. Iyo, sebagai karyawan senior, membuka dan memeriksa semua loker satu-satu dan membuang benda apa pun yang dapat disebut sampah, bahkan bekas makanan yang pernah Irfan taruh dan lupa diambil lagi. Iyo menegurnya dengan suara lembek, membuat Irfan mengernyit dan terkekeh. Mereka berdua sudah kayak zombi, pikirnya. Deka yang lebih dulu selesai berganti baju, disuruh Iyo untuk membuang kantung-kantung sampah ke tempat pembuangan di belakang kafe. Deka mengangguk. Dia menaruh tasnya di kursi, menyerahkan kunci loker pada Iyo dengan raut wajah yang masih sama, lalu pergi keluar ruang karyawan, mengangkut plastik-plastik sampah yang bersandar di dekat meja kafe untuk di bawa ke belakang. "Makin malam, makin jelek saja wajahmu." Suara itu tak membuat Deka kaget. Menoleh ke belakang pun, Deka tak kaget oleh kedatangan Irfan. "Mas Irfan pulang duluan saja sana. Kerjakan skripsi Mas Irfan," jawab Deka tak minat, menarik dua kantung sampah sekaligus. "Gitu banget. Nih, kau kelupaan kunci belakang." Terdengar bunyi kerincing dari gantungan kunci yang Irfan guncang. Tanpa menunggu izin Deka—sebetulnya tak diperlukan juga—Irfan melangkah lebih dulu ke pintu besi di sebelah toilet dan gudang penyimpanan. Deka tak menyinggung Irfan yang bertangan kosong, tak membantunya mengangkut kantung sampah. Deka diam saja sambil fokus menyeret kantung sampah yang dibawanya, lalu memasukkannya ke kontainer besi besar berisi sampah lain. "Sedih karena hal yang mana?" tanya Irfan tiba-tiba, berlipat tangan dan menyender pintu, bersikap sok tahu segalanya. "Kafe Dinolatte yang bangkrut atau kau yang terpaksa dipecat?" Deka hanya mengembuskan napas. "Bukan keduanya?" tebak Irfan. "Oh, kalau gitu pasti karena Monalisa." "Ha-hah?" Deka menoleh cepat pada Irfan yang menyeringai. "Ah, tebakanku benar, ya? Karena Monalisa, kan?" Irfan tersenyum bangga. Deka menggigit bibirnya. Hendak menyanggah, tapi kemudian hanya berjalan melewati Irfan, "Kalau Mas Irfan gak mau bantu, setidaknya jalan menghalangi." kembali ke dalam untuk menyelesaikan tugas terakhirnya. Irfan tak berhenti begitu saja. Dia mengikuti setiap langkah Deka. "Hahaha. Sudah kubilang, kalimat yang kaumaksud itu untuk yang mana? Siang tadi sudah cukup membantu dengan saranku, kan? Tapi apa? Kau tidak mau egois, Deka. Aku tidak menghalangimu." Deka membawa tiga kantung sampah sekaligus, agak kesulitan tapi wajah datar dan tegasnya tampak tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Dan lagi, Irfan yang terus mengekorinya tidak ada maksud ingin membantu sama sekali. Malah sebaliknya—mengompori Deka! "Kau menyerah hanya karena Monalisa sudah mau menikah? Ayolah, mereka masih bertunangan. Janur kuningnya belum melengkung. Apa salahnya menyukai perempuan seperti itu? Kau boleh menyukai Monalisa, Deka." Deka tidak melirik dan tidak menoleh saat berkata, "S1nting." "Hahaha. Sepertinya kau kesal padaku. Tapi bagaimana, ya? Aku sudah memberimu saran dan masukan. Masalahnya memang terletak padamu, Deka. Kau mengambil keputusan yang salah. Ah, padahal tadi Monalisa menanyakan soal surat cinta yang pernah kautulis waktu SMA dulu. Sayang sekali, ya?" Deka menoleh dengan ekspresi marah yang bercampur gelisah. "Mas Irfan— Mas Irfan menguping pembicaraanku dengan Monalisa?!" "Ruang kafe yang besar dan sepi ini, yang hanya diisi dengan gema obrolan kalian berdua, apanya yang menguping?" sanggah Irfan. "Ck! Minggir!" Deka berniat menubruk bahu Irfan, tapi tubuh pendeknya tak dapat menggapainya. Alhasil, Deka malah terhuyung dan tampak bodoh. Deka melanjutkan menarik tiga kantung itu ke belakang. Sedangkan Irfan, tertawa melihat itu. "Aduh, aku heran. Kau ini naif semata atau memang pengecut, sih? Atau jangan-jangan, kau percaya pada kalimat "masih banyak ikan di lautan"? Haha. Memangnya umpanmu sebagus apa, sampai segitu yakin akan mendapatkan ikan yang lain?" Deka tak menimpali. Dia mengangkat kantung sampah itu satu per satu ke dalam kontainer. "Kau keras kepala, sih," sindir Irfan. "Sudah kusarankan untuk egois, tapi kau tidak mau. Kau sengaja mengalah untuk terlihat keren di mata Monalisa? Atau, kau sengaja mengalah dengan alasan kebahagian Monalisa adalah kebahagiaanmu juga? Hahaha. Wah, ini, sih, sudah bukan naif lagi. Tapi super bodoh. Ternyata ada, ya, manusia modelan kayak kau." "Itu urusanku!" teriak Deka. "Mas Irfan gak perlu ikut campur dan kasih saran ini-itu! Cukup diam dan—" "Siapa tahu, Monalisa itu jodohmu," potong Irfan, membuat Deka bungkam dengan mata yang terbelalak. Irfan yang awalnya bernada dan beraut wajah jahil, mulai terlihat serius dengan sorot mata yang berubah tajam. "Kenapa sok suci? Bukankah kau juga sudah dengan Monalisa?" Deka melangkah mundur, tubuhnya mendadak dingin dan bulu kuduknya meremang saat Irfan perlahan-lahan melangkah maju ke arahnya. "Saat kuperhatikan tadi, sepertinya Monalisa sedikit menyukaimu juga." Saling adu pandang untuk beberapa waktu, Deka yang mulai merasa tak nyaman pada sikap aneh Irfan, memberanikan diri masih terus menatap mata Irfan meski sudah tak tahan. "Ah, sungguh sayang sekali. Kau telah menyia-nyiakan ikan yang sudah mengigit umpanmu." Dalam gang belakang kafe yang temaram, Deka berasumsi dirinya salah lihat ketika sebuah sayap hitam besar mengepak keluar dari punggung Irfan. Sayap itu membentang, menutupi cahaya lampu yang menggantung di atas dinding belakang bangunan kafe, menghitamkan seluruh permukaan yang Deka lihat. "Manusia bodoh dengan tindakan cerobohnya memang mangsa terbaik." Deka semakin tak mempercayai matanya saat melihat kedua mata Irfan mengilat hitam. Tubuhnya kaku, tak bisa bergerak, jantungnya berdegup kencang, dan kakinya terasa lemas. Dengan suara pelan dan serak, Deka menggerakkan bibirnya, "Ka-kau betulan… Mas Irfan?" Irfan terdiam. Detik selanjutnya dia tersenyum, menyeringai lebar yang menurut Deka menyeramkan. Tindakan Irfan selanjutnya tak dapat Deka imbangi perubahannya. Mendadak saja, Deka melihat sesuatu yang berwarna hitam melesat cepat dari atas ke bawah, tepat menghantam pandangannya. Deka merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kepalanya menjadi sangat pusing. Deka kehilangan keseimbangan, pandangannya mengabur dan semakin gelap, sampai akhirnya Deka terjatuh dan tergeletak tak sadarkan diri di aspal. Hal terakhir yang Deka lihat adalah sebuah seringai dan taring panjang pada sebuah wajah yang hitam dan menyeramkan. "Sejauh ini, kau mengumpulkan energi gelap yang cukup untukku bertahan hidup. Ah, senang memilihmu menjadi targetku." Deka sepenuhnya hilang kesadaran, dia pingsan. "Tapi ini hanyalah sebuah permulaan untuk permainan kita nanti. Hi..hi..hi..hi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN