Bujukan apa pun yang melibatkan nama Leo, selalu berhasil melelehkan hati Mindy. Perempuan kasmaran itu mendongak pada Aisu, tersenyum lebar dengan kedua pipi yang bersemu. "Ayo! Aku yang traktir, deh!"
Tangan Aisu sudah keburu diamit oleh Mindy, "E-eh, jangan buru-buru!" lalu, entah kekuatan dari mana, tubuh mungil Mindy bisa menyeret tubuh Aisu yang terasa berat.
Kekuatan cinta? Haha. Aisu sampai menggeleng memikirkan alasan itu. Tidak masuk akal.
“Nah!” pekik Mindy, menengadahkan kepala pada papan nama sebuah kafe. Dia terlihat sama seperti tadi, masih berseri-seri, bersemangat sekali. "Sudah sampai!"
Sedangkan Aisu, mengerutkan dahi dan seluruh wajahnya hingga tampak jelek dan jijik membaca papan namanya; Dinolatte. "Kamu yakin?" tanya Aisu, tak ingin percaya. "Katanya mau makan, kenapa malah ke kafe?"
"Yap!" Mindy masih seperti anak TK yang senang dibawa ke taman bermain. "Kan, Kak Aisu yang bilang sendiri, kalau Kak Aisu gak mau makan. Selain makan, Kak Aisu, kan, cuma makan kafein. Yuk!"
"Ugh… di sini banget?" Aisu meringis.
"Iya!" Mindy menarik lengan Aisu. "Ayo, masuk!"
"A-aku mendadak kenyang. Pu-pulang saja, deh. Sudah malam juga."
"Eits!" Mindy memeluk lengan Aisu yang bertingkah seperti bocah tujuh tahun yang dikibuli pergi ke Dunia Fantasi, tapi ternyata pergi ke dokter gigi. "Nuh uh." Mindy menggeleng. "Kita masuk, justru sudah mau malam, harus cepat-cepat pulang, kan? Yuk!"
"Ah— tapi!"
"Ayo!"
Aisu kalah.
Cling!
Pintu kafe sudah didorong oleh Mindy, sudah terlambat jika ingin berbalik pergi. Dan lagi, Aisu tak bisa menolak wajah ceria milik Mindy. Tidak terlampau hati untuk menanggalkannya. Menjadi penyebabnya.
"Mindy," Aisu menarik tangan Mindy, membuatnya langsung terhenti, "Tapi ini kafe! Bukan tempat makan!" bisiknya geram, masih di dekat pintu.
"Aku tahu," jelas Mindy. "Tapi entah kenapa aku kepengin ke sini, Kak Aisu." Mindy tersenyum ganjil. "Kakak pesan apa? Iced Americano?"
Sempat mengerutkan kening, Aisu segera menahan Mindy. "Biar aku yang pesan. Kamu duduk saja, cari bangku yang…," dia mengedarkan pandang, "…kosong." Tapi semua bangkunya memang kosong!
"Aku saja. Kan, aku yang mengajak Kak Aisu ke sini."
Aisu menggeleng, mengembuskan napas. "Biar aku yang bayar. Kamu duduk saja sebentar."
"Oh, oke, deh." Mindy tersenyum, mengamankan tempat duduk di sebelah jendela yang menampilkan langit malam. "Aku strawberry milkshake, ya!" Aisu mengiyakan.
Dia masih belum mencopot simpulnya, bahkan saat dilihatnya Aisu tengah memperdebatkan sesuatu dengan lelaki pendek di balik kasir. Karena ruangan besar itu sepi pengunjung—hanya dia dan Aisu—Mindy bisa mendengar percakapan keduanya.
Yah, kira-kira, yang didengarnya adalah Aisu yang komplain mengenai pelayanan kafe yang lambat, juga rasa racikan kopinya yang tidak enak. Walau menurut si kasir apa yang dikatakan Aisu adalah sebuah hinaan yang tepat memukul wajahnya.
Sampai seorang lelaki lain muncul melerai keduanya, barulah dua minuman mereka dibuatkan. Tapi Aisu berdiri di sana, tak menunggu di bangku mereka—entah apa yang dilakukannya menunggu minuman itu jadi.
Setelahnya, lelaki yang lebih tinggi menyerahkan nampan berisi dua gelas minuman cokelat tua dan merah muda. Mindy melihat Aisu berwajah tak nyaman saat diteriaki, "Semoga harimu menyenangkan!" oleh di laki-laki.
Tatkala Aisu menghampirinya sambil menggerutu, Mindy tak sengaja bertatapan dengan lelaki itu. Mata mereka berada jauh, mungkin sekitar sepuluh meter, tapi keduanya seolah tahu apa yang harus dilakukan, atau apa yang mereka janjikan, atau apa yang mereka lakukan, atau rencana apa yang sedang mereka jalankan, hanya lewat tatapan mata.
Detik itu juga, saat si lelaki tersenyum, kedua bola mata Mindy berkilat hitam sepenuhnya. Tatapan Mindy berangsur tampak kosong dan hampa, seperti kena hipnotis. Tapi tak berselang lama, setelah sebuah suara memanggil kedua pegawai itu, Mindy kembali seperti semula saat si lelaki memutus tatapan. Dan lelaki itu, pergi ke ruangan lain di belakang, mengajak teman kerjanya.
"Kenapa?" tanya Aisu, menaruh nampan di atas meja keduanya, melihat Mindy yang sepertinya habis terbengong.
Mindy mengerjap. Tatapan kosongnya sudah tergantikan dengan raut wajah ceria seperti biasa. "Gak pa-pa, kok. Kenapa?" Mindy balik bertanya.
"Huh!" dengus Aisu. "Si cebol itu mengesalkan banget! Pelayanannya lelet! Cowok satunya, lagi kayak tebar pesona! Ugh! Mana kopinya sudah pasti gak enak! Kenapa kita ke sini, sih? Di sini, kan, bukan tempat makan!"
"Gak enak?" Mindy mengambil gelas kaca besar berisi cairan pink miliknya, lalu menyeruputnya—
"Jangan!" —tapi langsung ditepis oleh Aisu.
"Eh, kenapa?"
"Pokoknya jangan!" Aisu meminggirkan nampan beserta dua minumannya ke pinggir, kemudian membongkar isi tas besarnya, mengeluarkan laptop dan buku-buku serta majalah. "Nanti kamu sakit perut!" katanya, menjawab tatapan Mindy yang sedari tadi mengikutinya.
"Sakit perut?" tanya Mindy, heran.
Aisu menoleh ke belakang, memastikan tidak ada satu pun orang di sana. Lalu katanya dengan suara kecil, "Baristanya gak bisa meracik kopi. Atau aku yakin, mereka mencemplungkan macam-macam ke minuman pel4nggan, seperti… air rebusan celana dalam? Entahlah. Pokoknya, jangan!"
"Hahaha. Yang kayak gitu mana ada, sih, Kak Aisu?" Mindy mengambil minumannya, menaruh di bawah mulutnya, tapi Aisu menahannya kembali.
"Aku curiga, makanya tadi aku lihatin proses bikinnya! Padahal bikin kopi tinggal mengikuti resep yang sudah ada, tapi kenapa kopi di sini selalu terasa kayak lumpur atau kencing bayi, sih?!"
"Terus, Kak Aisu menemukan apa?"
"Eh?"
"Tadi, kan, Kak Aisu melihat proses meracik minumannya, kan? Terus, apa yang mereka tambahkan dalam minuman kita?"
Aisu mengernyit, tampak memikirkan sesuatu. Lalu matanya menjeling ke pojok, pada americano-nya, lalu kembali menatap Mindy. "Tidak… ada…?"
"Nah, itu berarti cuma prasangka Kak Aisu saja. Mungkin saja rasanya sudah berubah. Mungkin mereka sudah ganti resep?"
"Prasangka apanya? Jelas-jelas kopinya gak enak, tahu! Mereka mungkin menggiling batu kerikil, alih-alih biji kopi!"
"Makanya, daripada menduga-duga, coba Kak Aisu cicipi americano Kakak!" Mindy mengaduk-ngaduk dasar gelas dengan ujung sedotannya. Tak menunggu aba-aba dari siapa pun, dia menyeruput.
"Mindy—"
"Hm?" Mindy masih menempelkan bibirnya pada ujung sedotan.
"Kamu… gak apa? Rasanya… gak aneh?"
"Aneh apanya? Enak, kok!" antusias Mindy, mengangguk-angguk. "Coba, deh!"
"Enggak, enggak. Aku gak—" Aisu menggeleng-geleng, menjauhkan wajahnya dari gelas yang disodorkan Mindy. Tapi dengan mulutnya yang terbuka, Mindy mengambil kesempatan itu untuk menyumpalkan sedotan.
"Sedot, Kak!" suruhnya.
Aisu menggeleng, terjebak. Tapi melihat mata bulat Mindy, juga wajah berserinya, lagi, Aisu mana bisa menolak?
"Ugh, semoga perutku tidak…." Sluuurp~ Aisu langsung terbelalak. "Kok, enak?!" pekiknya, melotot pada Mindy.
Sementara Mindy menikmati strawberry milkshake-nya sembari mengedikkan bahu, Aisu menyambar Iced Americano miliknya. Lagi-lagi, dia memekik, terkaget betapa enak minuman yang dipegangnya.
"Aku jadi curiga, deh." Aisu mendekatkan kepalanya pada Mindy, seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia. "Jangan-jangan, air putihnya direndam pakai celana dalam engkong-engkong?!"
Mindy tertawa geli. "Enggak, lah, Kak Aisu. Mana ada!" ulangnya. "Lihat sisi baiknya. Mungkin mereka betulan sudah ganti resep." Aisu tampak tak percaya. Mindy mendekatkan kepalanya, bergantian menyampaikan sebuah rahasia. "Atau mungkin, mereka sudah memanggil sesuatu."
"Memanggil… sesuatu?" Aisu tanpa sadar menelan ludah.
Mindy tersenyum ganjil. "Ya, sesuatu yang sangat jahat dan senang menggoda kita, para manusia, demi kepuasan perutnya."
"Ma-makasudmu…," Aisu menatapnya, menggenggam gelas kopinya yang berkeringat, "Ha-hantu?"
Mindy masih tersenyum, membuat Aisu sedikit merasa dingin dan merinding—entah karena senyum itu, atau karena mendadak bulu kuduknya meremang yang tak jelas penyebabnya.
Ketika keadaan makin berat—hanya Aisu yang merasa begini—Mindy memutus tatapan dan tertawa, "Hahaha. Bercanda, Kak Aisu. Bercanda. Mungkin ada angin lewat. Kak Aisu tahu? Seperti sebuah ide yang muncul tanpa disangka saat sedang bengong, tapi berpengaruh besar sekali jika ide itu dilaksanakan. Kira-kira begitu."
"O-oh…," Aisu meminum kopinya, tertawa terpatah, "Rumit sekali, kayaknya."
"Ya, manusia sering kali tanpa sadar melakukan hal kecil kepada orang lain, tetapi yang kita tak ketahui, mungkin terhadap orang lain, tindakan kecil itu berdampak besar kepada mereka."
Mindy menatap mata Aisu dalam. "Bahkan menyakitinya. Yang terburuk adalah balas dendam, dan manusia itu akan mati karena terus-terusan menghasilkan energi negatif yang dapat menghancurkan dirinya sendiri. Itu semua dimulai dari hal kecil. Sungguh mengerikan bukan? Sebuah kehancuran dapat terjadi hanya karena satu hal kecil saja."
Mindy menutup kalimatnya dengan sebuah senyum ganjil. Sedang Aisu, tampak pucat dan jelas sekali ketakutan. Sayangnya, Aisu tak menangkap kilatan hitam pada seluruh bola mata Mindy.
"Hahaha. Bercanda, Kak Aisu, bercanda." Mindy tertawa, mengibas-ngibaskan telapaknya, mengembalikan suasana cerah di sana.
"A-ah, kamu bercandanya jangan gitu, dong! Tahu gak, ekspresimu tadi cukup menyeramkan tahu! Hiiih! Aku hampir merinding!" Aisu menggeleng-geleng.
Mindy tertawa ringan, menyesap strawberry milkshake-nya lagi. "Jadi, setelah keluar dari kelompok dan grup obrolan, kita mau apa, Kak Aisu?"
"Ah…." Aisu mendadak tampak muram. Dia mengembuskan napas, dan tak beberapa lama kembali menempelkan ekspresi tegar. "Kita bentuk kelompok saja."
"Eh? Sama siapa?" bingung Mindy. "Gabung dengan kelompok orang? Sepertinya mereka tidak akan mengizinkan, Kak Aisu. Mereka sudah punya rencana masing-masing, dan kalau kita gabung, pasti dikira cuma ingin menumpang nilai saja."
"Bukan, bukan. Kita bentuk saja kelompok sendiri."
"Eh? Maksud Kak Aisu?"
"Kamu," —Aisu menunjuk Mindy— "aku," —Aisu menunjuk dirinya sendiri— "kita kerjakan saja tugas ini berdua," jelasnya percaya diri, tanpa sadar menyedot kopi americano yang menurutnya diberikan sihir oleh si barista.
"Hah?! Syarat kelompoknya, kan, tujuh orang! Dan lagi, syarat itu ada karena memang banyak yang mesti disiapkan untuk projek kali ini, Kak!" Mindy hampir menggebrak meja.
"Ah, iya, sih. Dosennya keterlaluan banget gak, sih? Tugas besar kayak gini disuruh untuk melengkapi nilai UTS. Harusnya, kan, untuk UAS." Aisu mengembuskan napas lagi. "Haaaaaah. Harusnya proposal UAS-ku untuk mata kuliah yang dipegang Pak Hiroki sudah disetujui dan ada di mejanya. Haaaaaah. Menyebalkan!
"Grrrrrrrr! Mengingatnya saja membuatku ingin mengamuk! Pengin kutendang semua meja dan bangku di sini! Huh! Kesal banget! Orang itu kenapa galak banget, sih?! Gak bisa mentolerasi kesalahan! Memangnya aku robot?! Manusia, kan, memang tidak luput dari kesalahan! Ukkhhh! Kuno banget, sih?! Sekarang, kan, abad 21!! Peraturannya aneh! Dasar orang zaman dulu!"
Aisu mengepalkan tangan. Wajahnya memerah karena amarah. Sementara Mindy, mencoba menenangkannya.
"Haaaaah, sudahlah," kata Aisu, menyerah. "Lebih baik aku mengerahkan tenagaku untuk mengerjakan tugas kuliah, daripada mengomeli orang itu." Aisu mendinginkan kepalanya dengan tegukan kopi.
"Jadi…," Mindy ragu bertanya, "Apa yang harus kita lakukan, Kak Aisu?"
"Mindy," Aisu menatap Mindy dengan serius, "Jangan panggil aku Kak lagi. Mengerti?"
"I-iya." Mindy mengangguk, sempat takut pada tatapan Aisu. "Jadi, gimana, Kak?"
Aisu memelototinya makin tajam. "Mindy."
"A-ah, tapi canggung! Kak Aisu, kan, lebih tua dari aku!" Mindy beraut wajah manis; cemberut dan mengembungkan pipi, merajuk.
"Cuma lebih tua setahun, gak ada artinya!" Aisu menjawil pipi Mindy, hampir terasa seperti pipi adiknya, Ami.
Sekali lagi, Aisu menghela napas. Lelah dengan Mindy yang sama keras kepalanya, Aisu memilih berpaling pada majalah-majalah yang dipinjamnya dari Papa. Majalah yang berhubungan dengan desain rumah, properti, dan arsitektur.
Mindy yang menatap wajah Aisu, mencecap raut lelah pada keteguhannya. "Kak Aisu… gak pa-pa?"
"Nah, nah!" sahut Aisu. "Kan, dibilang panggilnya Aisu saja! Capek, deh, kasih tahu kamu berkali-kali."
Mindy tak menghiraukan, dia menginginkan jawaban. "Kak Aisu kelihatan capek banget. Betulan gak pa-apa?"
Seketika, ekspresi Aisu berubah tersenyum. "Asal ada kopi, aku bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus. Tenang saja, Mindy. Habis ini juga aku mau mengerjakan permintaa klien bikin desain produk 3D dan mock up."
Namun, Mindy masih mendapati keganjilan pada ekspresi Aisu. "Yakin gak lelah?"
Aisu terdiam sejenak menatap lembaran majalah. "Iya, tenang saja."
Tetapi Mindy tahu, keadaan Aisu tak sebaik yang Aisu klaim. Mindy tahu. Sebetulnya, saat Aisu tiba-tiba tak bisa dihubungi tadi, saat Aisu bilang ada di UKK, lalu muncul di toilet dengan mata dan hidung merah,
Mindy tahu, kalau Aisu tak baik-baik saja. Mindy tahu, kalau keadaan Aisu sekrang berbanding dengan apa yang Aisu katakan. Mindy tahu, kalau Aisu sedang tak baik-baik saja. Namun, Mindy merasa dirinya tak boleh bertanya soal itu.
"Omong-omong, Kak Aisu—"
"Hei."
Mindy menyengir. "Kubilang, kan, gak bisa, Kak Aisu. Sudah dari dulu aku panggil Kakak dengan sebutan Kak Aisu. Kebiasaan itu sulit diubahnya."
"Ya sudahlah." Aisu menghela napas untuk kesekian kalinya. "Sepertinya malam ini aku akan bergadang lagi."
"Lagi? Semalam bukannya habis bergadang?" Mindy mengernyit. "Kak Aisu, bergadang itu gak baik untuk tubuh kita. Apalagi Kak Aisu perempuan. Nanti bisa berakibat ke mana-mana, terutama siklus datang bulannya."
"Gak apa. Aku kan, tidak sedang dalam program bikin anak."
Mindy menutup mulutnya kaget. Dia membelalak pada Aisu, tka bisa berkata-kata.
"Lagi pula, ini bukan yang kedua kalinya atau ketiga kalinya aku bergadang. Kamu, kan, tahu, Mindy, kalau hobiku adalah bergadang." Aisu menyengir. "Aku juga perlu menyelesaikan desain-desain klienku dan mendapatkan uang."
"Tapi, kan, Kak Aisu bisa mengerjakan pesanan klien Kak Aisu siang-siang. Biar malam hari Kak Aisu tidur nyenyak, dan memiliki banyak energi untuk kuliah dan mengerjakan desain klien Kak Aisu."
"Ayolah, Mindy. Kamu seperti baru mengenalku kemarin hari saja. Lagian, kan, kamu sendiri yang bilang, kalau kebiasaan itu sulit diubahnya."
Kali ini, Mindy yang menggeleng dan mengembuskan napas.
"Nah, ayo, bahas tugas UTS ini. Kita mau bikin yang seperti apa? Kamu ada ide? Ah, kalau bisa jangan sama seperti mantan kelompok kita itu. Harus buat yang lebih bagus, biar mereka iri dan menyesal sudah membuang kita! Hahaha!"
Selama Aisu memilih, membolak-balikkan majalah, mencari referensi di internet lewat laptop, dan fokus sekali dengan kerjaannya, Mindy memanfaatkan fokus Aisu yang berpaku itu untuk meminta izin, "Kak Aisu, boleh pinjam HP, kan?"
"Hmm," deham Aisu, mungkin tanpa sadar juga.
Begitu Mindy memegang ponsel Aisu, sebuah suara hinggap di dalam pikirannya, "Lakukan."
Sekali lagi, mata Mindy berkilau hitam. Lantas, dia mengunduhkan sebuah aplikasi kencan berlogo panah hitam yang asal dan fungsinya mencurigakan.
"Mindy, kita pakai ini, ini, ini, dan ini." Aisu menghentikan kegiatan Mindy. Matanya berangsur normal kembali. "Semoga Papa gak marah, majalah miliknya aku corat-coret. Haha."
"Oh, iya," kata Aisu lagi. "Tadi kamu diantar Leo sampai depan gedung fakultas kamu, kan?"
Aisu berwajah semringah menatap Mindy. Sedang Mindy, tampak kaget. Lho, tadi, kan….
Namun kemudian, Mindy mengubah ekspresinya menjadi sama ceria dengan Aisu. "Iya, diantar, kok."
"Hmm, bagus, deh."
Melihat Aisu yang menyeruput kopinya dengan tenang seolah tak ada apa-apa, Mindy memaksakan senyum.
Leo, kan, tadi menyusul Kak Aisu dan gak balik lagi. Lalu kenapa Kak Aisu… bertanya begitu?