Ketika Aisu terbsngun, matahari tergelincir turun. Hari sudah sore, Aisu tidak langsung bangun begitu membuka mata. Dia melihat ke arah jendela, menatap mana pun hanya untuk mengumpulkan kesadaran.
Ingin tahu sudah jam berapa walau dia berpikir sudah jam lima, ponsel yang diambil dari saku celana menunjukkan pukul setengah enam. Tak sadar jika dirinya tertidur begitu lelap.
Kelelahan menangis? Sepertinya… bukan begitu. Pasti karena semalaman dia belum tidur. Iya, pasti karena itu. Makanya dia agak sensitif tadi siang.
Setelah menangis cukup lama hingga tertidur, Aisu terbangun dengan perasaan yang lebih tenang. Mungkin menangis memang bisa menyembuhkan segala gundah.
Selain jam, ponselnya juga memberi tahu belasan panggilan tak terjawab dari Mindy, juga puluhan chat darinya. Ketika ingin membuka kunci dan membalas chat, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk. Dari Mindy lagi.
Aisu menerima panggilan, menaruh ponsel di telinga, mengobrol sembari tiduran.
"Kak Aisu! Ya Tuhan! Kak Aisu! Kak Aisu di mana?!"
Respons pertamanya adalah kerutan dahi. "Kenapa, Mindy?" tanyanya dengan suara serak khas habis menangis—walau tak sesegukan. "Aku ketiduran di Unit Kesehatan Kampus."
"Kak Aisu— ada di ma— krrssk— aku susul seka— krrskk—"
Mendengar suara Mindy yang tidak begitu jelas, Aisu menutup panggilan, karena dirasa dirinya telah memberikan informasi keberadaan yang cukup pada Mindy. Jadi, tak apa, menurutnya.
Aisu mengubah posisi tidur menjadi terduduk. Rasa pening segera menusuk kepalanya. Mungkin karena kurang tidur, pikirnya. Dia turun dari ranjang, memaksakan kepalanya, melipat selimut, lalu merapikan ranjang. Aisu kemudian mencangklong tas, menggeser tirai.
Dua kepala menoleh ke arahnya. Ibu Dri dan seorang perawat yang jauh lebih muda menatapnya. Aisu menghampiri, lalu berhenti di depan meja keduanya.
Ibu Dwi, perawat ukk yang dikenalnya, tersenyum. "Sudah lebih baik, Nak Aisu?"
Aisu membalas dengan sunggingan lemah, hanya mengangguk.
"Syukurlah. Ini, minum. Kamu pasti haus. Dimakan juga rotinya, ya. Ibu beli di toko roti dekat sini." Bu Dwi memberikan sebotol air mineral dan dua bungkus roti. Aisu mengambilnya, berterima kasih.
"Habis ini mau pulang? Mau Ibu antar? Rumahmu gak pindah, kan?"
Aisu menggeleng. "Enggak usah, Bu. Saya bareng teman," tolaknya halus. "Terima kasih."
"Ya sudah, hati-hati. Langsung pulang, ya."
"Iya, Bu." Aisu menunduk sopan kepada dua perawat itu, berpamitan seraya keluar ruangan.
"Nak Aisu," panggil Bu Dwi saat Aisu hampir menutup pintu. "Kamu boleh tidur lagi di sini besok atau kapan pun. Nanti Ibu tempatkan satu ranjang buatmu." Aisu tersenyum, kemudian menutup pintu, pergi.
Senyumnya langsung rontok, saat pintu tertutup. Bu Dwi menghela napas pendek, menunduk, dan dia merasa matanya pedas. Si perawat junior, melihat Bu Dwi mengelap sudut matanya—menangis. Dia memberi tisu, membawa pulang terima kasih.
Hening beberapa lama. Si perawat junior sudah penasaran ingin bertanya, tapi dia merasa kalau waktunya tidak tepat, atau tidak seharusnya dia bertanya sekarang. Namun, rasa penasarannya segera dituntaskan oleh Bu Dwi yang menceritakan segalanya.
"Ibu sudah lama tidak melihat Nak Aisu," kata Bu Dwi. "Wajahnya sudah tampak jauh lebih baik dari semester lalu, walau Ibu tak menyangka dia akan ke sini lagi. Sekarang, untunglah dia tidak mengambil macam-macam."
"Maksud Ibu, dia mencuri di UKK? Di sini, kan, tidak ada uang."
"Tapi ada obat." Bu Dwi menatapnya serius.
"Eh?"
Bu Dwi menatap ke bawah, seperti berusaha mengingat sesuatu, kemudian menyesalinya. "Waktu itu, Ibu baru kembali dari toilet. Kejadiannya pagi hari. Ibu pikir, mahasiswa macam apa yang mau mangkir ke UKK pagi-pagi? Mahasiswa baru pun sepertinya tidak berani melakukan itu. Mereka akan lebih memilih kantin daripada UKK untuk bolos kuliah, sekalian sarapan atau bertemu dengan teman mereka.
"Ibu pikir seperti itu. Tapi saat Ibu kembali dari toilet, Nak Aisu ada di sana. Dia terlentang di lantai. Ibu kira, dia pingsan. Ibu menyalahkan diri sendiri, karena tidak ada di UKK saat ada mahasiswa sakit yang membutuhkan.
"Saat Ibu dekati dengan niat ingin memindahkannya ke r4njang, Aisu tertidur… dengan mulut yang mengeluarkan busa."
"Ya Tuhan," pekik si junior, menutup mulutnya tak percaya.
"Di sebelahnya ada botol tablet paracetamol yang kosong." Bu Dwi memberi jeda untuk menekan bibir, menetralkan nada bicara agar tidak sumbang atau terhenti karena menangis. "Ibu langsung menelepon ambulans dan memanggil satpam." Bu Dwi menggeleng, mengelap air mata, tak bisa lagi menahan tangisannya. "Aisu… dia mencoba bunuh diri dengan menelan tiga puluh butir paracetamol sekaligus."
***
Aisu menatap pantulan dirinya di cermin toilet perempuan di lantai satu. Kusut. Hanya kata itu yang dapat mendefinisikan wajahnya saat ini. Atua jika ingin sinonim lain, mungkin akan berbunyi jelek, lelah, sembab, lesu, berantakan, semrawut, dan sejenisnya.
Dia memang sudah tidur dengan waktu yang cukup, tapi badannya terasa berat. Rasanya seperti memanggul tiga karung beras. Kantung mata tetap hitam di kelopak mata bawahnya, jerawat-jerawat kecil yang sudah lama memulai peradaban tidak menunjukkan tanda-tanda akan punah, dan hidungnya merah. Aisu betulan tampak karuan.
Ah, sudah berapa lama dia tidak menatap wajah yang seperti itu? Sudah berapa lama Aisu tak bertemu ekspresi wajahnya yang itu? Terakhir kali, seingat Aisu, adalah sejak… semester lalu.
"Hei, pegang dia!"
"Ja-jangan! arrrggh— le-lepas! Jangan!"
"Diam! Jangan banyak bergerak!"
"Hmmngggh—!!"
"Jaga pintunya, pstikan tidak ada yang masuk! Matikan lampunya!"
"Arrggghh! Ja…hh…ngan!"
"Kau pegangi tangannya!"
"Hrrrrrng!! Mmrrrhhh!!"
"Sial! Dia tidak bisa diam! Hei! Cepat nyalakan kameranya!"
"Huurrpp—" Aisu menumpahkan isi perutnya yang tak seberapa ke wastafel. Rasa mualnya menghantam perut ketika kejadian-kejadian itu mendadak diingatnya.
Air keran membasuh segala isi perut. Napas Aisu tersengal, dia mengelap mulutnya kasar, lalu membasuh wajahnya, menggosok-gosoknya seakan ingatan itu akan ikut jatuh bersama air ke saluran pembuangan dan berakhir entah di mana.
Tapi tidak. Hal itu tidak pergi, tidak pula tanggal dari kepalanya. Itu tetap menjadi penghuni dalam kepala Aisu, tak peduli sekeras apa pun usahanya melupakan dan menghapus ingatannya.
Sial. Tangannya masih gemetar. Selalu gemetar setiap dia tak sengaja mengingat hal itu, seperti… baru saja mengalaminya. Jantungnya berdebar kencang, berkali-kali. Wajahnya jadi pucat pasi. Aisu menatap dirinya di cermin, lalu dia menangis lagi.
Suaranya tertahan dan serak. Beberapa orang yang keluar dari bilik toilet bahkan tidak jadi membasuh tangan mereka, lantaran tak ingin berdekatan dengan cewek aneh yang menangis menjelang malam. Mereka hanya mencuri pandang dengan kernyitan, berjalan sepert kepiting canggung, kemudian mengibrit keluar toilet.
Namun Aisu tak mempedulikan hal itu. Dia terlalu sibuk dengan kesesakan yang mendadak mencekik paru-paru dan tenggorokannya. Aisu menumpu badan dengan sebelah tangan di tembok. Dia tidak bisa benapas dengan normal. Lantas merapatkan punggung pada dinding, menengadah seolah hidungnya berada di permukaan air, sedang kakinya ada di dasar rawa. Tidak lebih baik.
Aisu masih menangis, sesegukan dan sulit bernapas. Lantas dia memejamkan mata, mencoba mengatur napas dan berhenti menangis. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan-pelan.
Ini cuma masa lalu. Tenang. Tenang saja. Itu tidak benar-benar terjadi. Sekarang sudah aman. Sekarang dan dulu sudah berbeda.
Itu berhasil. Tepat seperti yang dokter bilang, batinnya.
Tak lama, ponselnya berdering. Seseorang menelepon. Setelah menarik napas lagi dan berdiri, Aisu menerima panggilan dengan jemari yang masih bergetar.
"Kak Aisu!" panggil Mindy berteriak, "Kak Aisu ada di mana?! UKK kosong, katanya Kak Aisu sudah pulang! Kak Aisu belum pulang, kan?! Kak Aisu baik-baik saja?!"
Kedua bibirnya saling menekan, menahan kalimat pertimbangan sebelum dilepaskan, "Aku di toilet lantai satu, sebelah perpustakaan." Aisu tersenyum kecil. "Tunggu saja di lobi, nanti aku ke sana. Sakit perut, nih. Hehe."
"Kak Aisu, tapi—!!"
Tut
Telepon sudah ditutup terlebih dulu. Aisu mengantongi ponselnya, lalu menyalakan keran lagi, membasuh wajah sekali lagi. Dia menatap cermin lagi. Tak ada perubahan. Satu simpul dia tarik pada bibir. Tidak jauh berbeda, malah tampak seperti orang yang berpura-pura menjadi kuat.
Aisu mengembuskan napas saat mendengar suara Mindy yang memanggilnya, diiringi oleh langkah kaki cepat yang semakin mendekat. Dia menyambar lengan tas di lantai, menggendongnya. Berat. Tapi tetap memasang senyum di wajah, walau terlihat menyedihkan.
"Kak Aisu!" Suara Mindy menyambutnya begitu Aisu sampai di bingkai pintu toilet. Mindy penuh peluh di leher dan wajahnya. Rambutnya juga tak kalah awut-awutan.
"Diskusinya— diskusi— teman-teman yang lain— Kak Aisu— student lounge— gak jadi— kelompok kita—" jelas Mindy, dengan napas engap.
"Tenanglah, Mindy," usul Aisu dengan senyuman. "Kamu kayak ibu-ibu yang melapor ke kantor polisi kalau anaknya hilang." Aisu tertawa kecil. "Tarik napas… buang…."
Mindy awalnya masih gelagapan, gelagatnya ke sana-kemari seperti orang bingung, tapi langsung melakukan apa yang Aisu perintahkan. Dia sudah tampak sedikit tenang.
"Nih, minum." Aisu menyodorkan sebotol air mineral pada Mindy. "Eh, tunggu. Aku dulu, deh, yang minum." Dia menyengir. Setelah menelan lima teguk, Aisu mengopernya. Mindy meminumnya, tiga tegukan cukup untuk melicinkan kerongkongannya.
"Terima kasih." Mindy mengembalikan botolnya.
Aisu mengangguk, menaruh minumnya ke kantung kecil kanan tasnya. "Yuk, makan!" ajaknya, menggandeng Mindy.
"Eh— tapi diskusinya—!"
"Gak pa-pa. Aku tahu mereka gak suka padaku, makanya aku sengaja bolos tidur ke Unit Kesehatan Kampus tadi. Eh, bangun-bangun malah sakit perut. Entah karma atau tambahan waktu untuk membuat mereka kesal." Aisu tertawa. "Mereka sudah mendepakku dari grup obrolan. Kamu juga di-kick, kan? Kita ikuti saja mau mereka. Yuk, makan!"
"Tapi, Kak Aisu—"
"Sudah," kata Aisu menenangkan. "Yuk!"
"Eh, tapi aku… sudah makan." Mindy sebetulnya tidak enak hati menolak Aisu, apa pun permintaanya, tapi perutnya sudah penuh.
"Yah…," celetuk Aisu, terdengar kecewa. "Tapi aku belum makan. Tadi, kan, aku gak makan. Kamu sama Leo yang makan berdua. So sweet banget, deh, memang." Mindy berubah merah. Dia menunduk malu-malu, tersenyum-senyum. "Ayo, makan, deh!"
Bujukan apa pun yang melibatkan nama Leo, selalu berhasil melelehkan hati Mindy. Perempuan kasmaran itu mendongak pada Aisu, tersenyum lebar dengan kedua pipi yang bersemu. "Ayo! Aku yang traktir, deh!"
Tangan Aisu sudah keburu diamit oleh Mindy, "E-eh, jangan buru-buru!" lalu, entah kekuatan dari mana, tubuh mungil Mindy bisa menyeret tubuh Aisu yang terasa berat.
Kekuatan cinta? Haha. Aisu sampai menggeleng memikirkan alasan itu. Tidak masuk akal.