56. Noval, Leo, dan Aisu Dahulu (3)

1247 Kata
Leo sudah tiba di depan pintu toko. Tanpa memelankan langkah kakinya, Leo mendorong penuh pintu kaca itu, hingga menimbulkan suara nyaring. Brak! Driiiing! Lonceng yang menggantung di atas bingkai pintu bergoyang ke segala arah, serasa dihantam gempa dahsyat atau habis dipukul dengan kayu. Bunyi berisik lonceng serta dobrakan pintu yang tercipta, membuat seluruh orang di dalam toko mengalihkan perhatian mereka kepada seorang lelaki yang baru saja masuk dengan cara yang dramatis dan menghebohkan. Bahkan sampai membuat mereka terdiam dan mengerutkan dahi. Ada apa? Apa yang terjadi? Siapa dia? Berisik sekali. Tidak bisa pelan-pelan? Sebagian dari pengunjung toko alat musik itu kembali pada kegiatan mereka, tidak terlalu memusingkan Leo yang baru saja masuk dengan serampangan dan gaduh. Sebagiannya lagi menatap Leo dari atas sampai bawah, kemudian membuang muka berpura-pura fokus kembali pada urusan mereka, lalu tanpa malu mencuri-curi pandang pada Leo. Lain halnya para pengunjung, seorang pegawai menghampiri Leo yang celingak-celinguk menyisir toko, seolah sedang mencari sebuah alat musik yang kemarin Leo sudah lihat dan sukai, tapi tidak jadi dibeli karena mendadak ada urusan mendadak, kemudian di esok harinya saat Leo kembali, Leo tidak menemukan alat musik yang kemarin dia cari. Yah, memang apa lagi yang akan seorang pegawai toko pikirkan? Pasti tidak akan segawat keduluan membeli alat musik yang disukai. Atau, yah, komplain-komplain lainnya mengenai alat musik yang sudah mereka beli. Maka dari itu, si pegawai perempuan itu menghampiri Leo dengan senyum cemerlang dan pertanyaan yang dia lontarkan dengan nada yang ramah dan lembut. “Selamat datang, Kak. Ada yang bisa kami bantu? Kakak mencari alat musik apa? Mari saya bantu.” Leo terlihat linglung setelah mengedarkan pandangan, tapi tidak menemukan perempuan tinggi yang dia cari. “Uh… saya— itu— saya bukan cari alat musik,” perkataan Leo hampir membuat si pegawai kecewa, “saya lagi cari— eh… pa— teman saya.” “Teman?” tanya si pegawai tak yakin. “Iya, teman. Apa… apa Mbak lihat teman saya?” Leo bertanya bukan untuk bersiap mendengar jawabannya, tetapi dia sedang merencanakan adegan jahat untuk dilakukan kepada Noval karena telah membuatnya malu; si pegawai menunjukkan wajah bingung dan menatap aneh dalam sekali waktu. Wajah si pegawai seperti mengatakan, Hah? Cari teman? Ngapain dia mencari teman sampai ke sini-sini? Prank, ya? Aku masuk acara prank, nih? Tetapi daripada berterus terang, si pegawai berkata sopan, “Ah, maaf, Kak. Maksudnya gimana, ya?” Leo terlihat gelisah dan kesulitan merangkai kata saat menjelaskan kondisinya. “Eh, itu— maksudnya— teman saya… teman saya, perempuan— dia lagi mereparasi gitarnya— itu, maksudnya— dia pergi ke sini untuk membetulkan gitar— lalu… tapi—” Si pegawai perempuan itu terus mengerutkan alis tipis-tipis, tidak ingin terkesan tidak sopan pada pengunjung yang aneh yang ditemuinya hari ini. Kemudian menyadari beberapa kata yang diucapkan si lelaki itu sedikit mirip dengan kejadian tak biasa yang terjadi hari ini, si pegawai mengamini penjelasan Leo yang belepotan itu. “Ah, maksudnya teman Kakak itu yang itu?!” pekik si pegawai, membuat Leo menaikkan harapannya. “Mbak tahu?!” Leo menjadi antusias, walau semakin gelisah juga ingin cepat-cepat bertemu Aisu. “Ah….” Si pegawai mendadak ragu dan menunjukkan gelagat tidak nyaman kepada Leo. Apa yang salah? pikir Leo. “Mbak?” panggil Leo, menyadarkannya. “Eh— ah, iya. Tu… tunggu sebentar, Kak.” Sejurus kemudian, Leo ditinggal begitu saja oleh si pegawai di dekat pintu masuk. (Leo bahkan sampai lupa kalau mereka sejak awal mengobrol masih berdiri di dekat pintu) Melihat si pegawai kabur menuju konter toko, Leo memilih mengikutinya atas dasar rasa penasaran… dan juga perasaan tidak enak setelah melihat ekspresi wajah si pegawai. Saat Leo tiba di depan konter, si pegawai perempuan itu tampak sedang mengobrol dengan seorang laki-laki berseragam sama, yang Leo tebak adalah seniornya atau penanggung jawab toko atau siapalah Leo tidak kenal padanya. Leo yang memandangi mereka yang sedang saling berbisik, tak sengaja saling berpandangan pada si pegawai lelaki. Leo juga melihat perubahan wajah lelaki itu yang tampak menyembunyikan gelisahnya dan mencoba tetap profesional dalam melayani pengunjung. Saat si lelaki itu mungkin berkata tidak apa-apa kepada si pegawai perempuan, Leo berjalan mendekati konter, menyambut si pegawai lelaki yang juga sama mendekat ke arah konter dari dalam. Leo dan si pegawai lelaki sekarang hanya dibatasi oleh lemari kaca etalase. “Mohon maaf, Kak,” ucap si pegawai lelaki pada Leo, “apa Kakak sedang mencari teman Kakak?” “Iya! Mas lihat teman saya?!” Leo kelewatan antusias. “Dia— kata teman saya yang lain, dia pergi ke sini untuk reparasi senar gitarnya! Ah— teman saya yang datang ke sini itu perempuan! Dia tinggi, lebih tinggi dari perempuan pada umumnya, lalu—” Leo menyentuh telinganya “—kira-kira tinggi badannya sepantasan saya! Tepatnya setelinga saya. Mas tahu? Mas lihat teman saya?” Si pegawai lelaki menelan ludah, sedang beberapa pegawai di belakangnya saling berpandang. Kesamaan mereka semua terletak pada ekspresi yang muncul pada wajah mereka. “Ah, masalahnya….” Si pegawai lelaki kemudian mengambil sebuah gitar yang tersandar pada lemari kayu di belakangnya. Dia mengangkat gitar yang senarnya putus dan meringkel tak karuan itu ke atas konter etalase. “Teman Kakak itu memang ke sini. Dia datang untuk membeli senar untuk gitarnya. Kami menawarkan gitar baru yang kayunya lebih bagus dan tahan lama daripada gitar tua milik teman Kakak ini, tapi….” Leo mengernyit. “Tapi?” Mereka semua, para pegawai itu, masih menunjukkan ekspresi yang sama, seperti gelisah sekaligus sedang menyembunyikan sesuatu; entah bingung ingin memendam sebuah kenyataan itu, atau ingin mengatakannya tetapi masih sangat dirundung ragu. “Tapi kenapa?!” tanya Leo agak membentak. “Teman saya betulan masuk ke sini atau gak?!” “A-ah… iya, teman Kakak yang Kakak sebut ciri-cirinya memang ke sini. Dia berencana membeli empat senar untuk gitarnya, tapi saat sedang mengobrol dengan saya… dia… teman Kakak itu… tiba-tiba….” “Tiba-tiba apa? Kenapa?!” tanya Leo tidak sabaran. “Teman Kakak… tiba-tiba berteriak dan… pergi keluar toko meninggalkan gitar ini.” Leo mengernyit kuat. Dia tidak mengerti. “…apa?” tanyanya dengan suara kecil, lebih seperti gumaman. “Aisu… kenapa?” “I-iya.” Si pegawai lelaki itu tampak panik saat menjelaskan kembali. “Teman Kakak mendadak teriak sangat kencang, seperti orang yang ketakutan dan kaget di waktu yang bersamaan. Padahal saat itu di toko kami tidak ada apa-apa. Kami juga tidak jahil dan mengagetkan teman Kakak. Sama sekali. Tetapi… seperti yang sudah saya jelaskan, teman Kakak, perempuan itu, di tengah perbincangan dengan saya, dia mendadak teriak sangat kencang seperti ketakutan dan sangat kaget.” Leo membulatkan kedua mata saat mendengar itu. Dia tidak menyangka pada apa yang telinganya dengar. Tidak pula Leo bisa mempercayai perkataan si pegawai. Apa Leo yang sedang kena prank? Apa nanti Aisu akan keluar dari pintu karyawan dan memberinya kejutan dengan membawa kue bertabur lilin di atasnya, lalu menyanyikan lagu ulang tahun kepadanya? Ah, itu mustahil! Ulang tahun Leo sudah lewat! Dan Aisu itu bukan tipe orang yang akan merayakan ulang tahun Leo seheboh dan sespesial itu. Tidak mungkin. Rute pemikiran itu tidak mungkin terjadi. Maka, kesimpulannya, ini bukanlah prank ataupun kejahilan yang berselubung kejutan pesta ulang tahun. Menilai wajah-wajah dari pegawai toko alat musik saja Leo sudah tahu betul, kalau mereka tidak sedang bercanda, atau sedang mempersiapkan pesta kejutan, atau sedang menjalankan prank semata. Bisa jadi, ini sebuah kenyataan. Namun, Leo masih saja tidak mengerti. Untuk apa Aisu berteriak tiba-tiba? Dan lebih dari itu… seperti orang yang kaget… dan ketakutan. Sebenarnya, ada apa? Apa yang terjadi pada Aisu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN