55. Noval, Leo, dan Aisu Dahulu (2)

1824 Kata
Noval menyenggol pinggang Leo dengan sikunya, tapi Leo tidak juga berdiri dengan benar. Tingkah Leo itu membuat Noval gelisah, karena si sekuriti memang melewatinya seolah kedatangannya bukan untuk melihat Leo si biang kerok, dan berjalan melewati Noval dan Leo entah ke mana begitu saja. “Bang Leo! Woi! Berdiri yang bener!” Noval berkali-kali mengguncang Leo, tetapi yang terjadi kemudian malah mengundang keributan yang lebih besar. Orang-orang yang masih penasaran dengan diam-diam mencuri pandang pada mereka berdua, memekik saat Leo mendadak terjatuh tersungkur di lantai.nMendengar suara ribut, si sekuriti dan suster tadi pun balik arah dan menghampiri Leo dan Noval. “Ada apa? Ada apa?” tanyanya membelah kerumunan, berjongkok melihat Leo. “Woi!! Bang Leo!!” Noval lantas panik. Dia mencoba membalikkan tubuh Leo, lalu melihat mata Leo tertutup dengan napas yang teratur. Noval ternganga kembali. “Bang Leo… lu… pingsan?” Tak Noval duga, ternyata Leo sungguhan pingsan tersungkur di lantai. Noval yang tak menyangka melihat Leo terbaring seperti mayat di lantai itu, mencoba menggoyang-goyangkan tubuhnya, memanggil namanya, dan mencoba untuk membangunkan Leo. “Bang Leo? Bang?! Bang Leo?! Buset, dah! Bang Leo?! Bangun, Bang!!” Akan tetapi, Leo tidak bangun juga. Noval pun dihampiri oleh si sekuriti dan kawannya, si suster, yang dari tadi berlagak tengah berpatroli, padahal sedang mengawasi Noval dan Leo yang menjadi tersangka keributan pertama. Yang mengambil tindakan pertama adalah si suster. Dia ikut berjongkok, menyapu tangan Noval untuk menyingkir, lalu memeriksa denyut nadi dan napasnya menggunakan jari telunjuk. Sementara itu, Noval dan kerumunan yang entah kapan sudah merebak, menunggu aksi sang suster dengan harap-harap cemas. Sedangkan si sekuriti berseragam hitam-hitam, hanya memasang wajah datar dan galak saja seperti biasanya, seakan sudah terbiasa dengan kondisi orang-orang di rumah sakit; sakit, lemah, dan tak berdaya. Atau bahkan sekarat dan kehilangan nyawa, “Temen aye gimane, Sus, keadaannye?” tanya Noval gelisah. Sang suster menatap Noval dengan wajah khawatir, yang Noval tangkap akan memberikan kabar buruk karena ekspresi tersebut. Lalu kata si suster, “Teman Mas… dia—” “Dia kenape, Sus?!” Noval sekarang panik dengan berbagai pikiran negatif melingkupi kepalanya. Takut-takut menjadi tersangka kasus pembunuhan di rumah sakit. “Teman Mas… dia… dia sedang tidur.” “...hah? Ape?” Noval melongo. Bagusnya, wajah paniknya sudah hilang. Namun, ya, tergantikan dengan rasa kesal yang memuncak ke ubun-ubun. “Seperti yang saya bilang. Teman Mas hanya sedang tidur. Sepertinya kelelahan. Sebaiknya segera dibawa pulang saja dan dibiarkan istirahat.” *** Untuk sementara, Noval membawa Leo—tentunya dibantu oleh sekuriti yang berwajah sangar—ke Unit Gawat Darurat. Bukan karena alasan serius, karena Leo tidak sedang sakit ataupun sedang dalam kondisi darurat. Toh, Leo hanya sedang tidur. Leo. Hanya. Sedang. Tidur. Ugh, mengulang kenyataan itu membuat Noval ingin mengamuk dan menampar muka Leo bolak-balik sampai Leo terbangun karena tamparannya. Mengesalkan! Sudah ditunggui dari pagi sampai sore, bahkan sekarang hari sudah malam, tahu-tahu Leo malah tidur, alias ketiduran karena kelelahan! Memangnya Noval sendiri tidak lelah?! Noval saja belum makan nasi seharian ini! Sudah menahan lapar dari pagi, ternyata malah dapat zonk hari ini! Yah, meski begitu, Noval akui, dia memang salah juga, sih…. Mungkin, bisa dibilang sebuah balasan karena sudah menguntit, membuntuti, mengikuti, atau apa pun itu namanya, Leo dari kampus ke rumah sakit. Sebuah karma, mungkin. Eh, tapi, kan, Noval tidak melakukan sesuatu yang buruk yang merugikan Leo, atau membuat Leo terluka, atau membuat Leo berada dalam posisi yang membahayakan nyawanya? Aaarrrggh! Enyak! Babeh! Aye mau pulang aje!! Leo yang diduga pingsan, yang sekarang sedang tidur terlelap di ranjang UGD, harus terpaksa berada di sana sampai entah kapan. Mungkin sampai Leo terbangun sebentar lagi, mungkin bahkan esok pagi karena tidak tahu kapan Leo akan bangun dari pingsan alias tidurnya yang tampak tenang seperti bayi itu. Leo terpaksa meminjam UGD yang untungnya tidak terlalu ramai oleh pasien, karena jujur saja, Noval tidak tahu rumah Leo. Noval tidak tahu harus memulangkan Leo ke mana. Mereka baru berkenalan di ruang klub musik tadi pagi, meski, yah, Leo tidak resmi mengenal Noval maupun seluruh orang yang ada di ruang klub sejak perhatiannya hanya tertanam pada ponselnya, sampai Leo tiba-tiba pergi begitu saja. Mungkin, sekarang mereka berdua sudah di-blacklist dari klub musik, karena tidak patuh pada senior. Ah, senioritas. Noval baru mengenal Leo tadi pagi. Jadi, bagaimana Noval tahu alamat rumah Leo? Bagaimana Noval harus tahu alamat rumah Leo dan kehidupan pribadinya, saat mereka baru kenal pertama kali? Bukankah memberitahukan alamat rumahmu, maupun menanyakan alamat rumah orang di saat pertama kali pertemuan kalian adalah hal yang mencurigakan? Hal yang membuat dirimu tidak nyaman? Membuat dirimu terganggu? Jadi, bagaimana Noval harus tahu akan hal itu, untuk menghindari tatapan aneh para suster, sekuriti, bahkan dokter yang memeriksa kondiri Leo tadi?! Pertemuan Noval dengan Leo hanya sesingkat membaca pesan singkat dari operator kartu, atau bahkan kau akan mengabaikannya karena tidak penting. Noval tidak tahu banyak soal Leo kecuali nama panggilannya; Leo. Jangankan alamat rumah. Noval yang baru berkenalan dengan Leo, harus menjawab apa saat suster di resepsionis itu bertanya tentang pengetahuan Noval terhadap teman-teman Leo. Bahkan orang tua Leo! Akhirnya, setelah menjelaskan panjang lebar, Leo dibolehkan istirahat sejenak di UGD. Setidaknya sampai Leo bangun dari pingsan— tidurnya itu. Ah, bicara soal orang tua, Noval juga sudah memberi tahu tentang kesoktahuannya; tentang pasien di ujung lorong kanan di lantai empat, yang kemungkinan adalah orang tua Leo; ayah ataupun ibu. Namun, suster yang berada di resepsionis itu menoleh pada temannya yang juga menatap kepadanya. Mereka malah saling bertatapan dalam pengetahuan yang tidak Noval tahu. Kenape? bingung Noval. Kenape mereka malah adu tatapan gitu, ye? Ape omongan gua salah, ye? Alah, bodo amat, dah! Yang penting ini manusia udeh ade yang jaga di rumah sakit! Dan dengan begitu, urusan Leo yang mendadak tumbang dan dirawat di UGD untuk semalam pakai uang Leo sendiri yang Noval geledah dompetnya, selesai. Noval pun memutuskan akan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Enyak dan babehnya—ayah dan ibunya—juga sudah mengirim pesan terus, menanyai kapan kuliahnya selesai, karena sudah ada kelas dari tadi pagi tapi belum pulang-pulang sampai matahari pergi lagi. Untuk saat ini, Noval memakai alasan itu dulu untuk menghilangkan kekhawatiran enyak dan babehnya. Beda urusan lagi kalau suatu saat Noval ketahuan membohongi kedua orang tuanya. Untuk urusan itu, akan Noval pikirkan nanti-nanti. Ketika Noval melangkah pergi dari pintu lobi rumah sakit, mendadak saja ada sebuah pikiran yang melintas di kepalanya; siapa yang ada di ruang rawat pasien di lantai empat? Selain pertanyaan tersebut, ketika langkahnya dipaksakan keluar dan hendak mencari kendaraan umum untuk dia tumpangi sampai ke rumah, Noval malah merasa semakin tidak nyaman. Gelisah. Sebelum pada akhirnya perasaan itu berubah menjadi rasa penasaran. Noval ingin tahu atas pertanyaan yang melintas dalam benaknya sendiri. Siapa yang ada di ruang rawat pasien di lantai empat? Noval penasaran. Ingin tahu. Ingin segera mendapat jawaban. Siapa dia, sampai Noval melihat Leo, orang yang—padahal—baru dia temui dan kenal tadi pagi, sangat sedih sampai menangis, berteriak seperti anak kecil, bahkan sampai pingsan seperti itu di tengah lorong. Apakah pasien itu orang tua Noval? Enyaknyakah? Babehnyakah? Adiknya? Kakaknya? Siapa anggota keluarga yang penting itu, sampai membuat Leo sangat sedih, bahkan sampai tingkah kekanakan Leo membuat Noval, orang asing yang baru bertemu Leo tadi pagi, merasa penasaran pada perilaku Leo terhadap orang itu? Siapa dia? Akhirnya, Noval dikalahkan oleh rasa penasarannya sendiri, ketimbang pesan enyak dan babehnya yang menumpuk dan terus berbunyi menanyakan kapan Noval pulang. Noval pun membawa tubuh gembilnya kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dia menaiki lift menuju lantai empat. Namun sayang, karena hari sudah malam, jam besuk sudah hampir habis. Sudah jam setengah sembilan. Suster yang berjaga di semacam stasiun atau pos jaga di tiap lantai itu berkata, Noval hanya diizinkan menjenguk pasien selama lima belas menit saja. Atau paling lama adalah tiga puluh menit, tepat jam sembilan malam saat jam besuk habis. Selesai bernegosiasi, Noval berjalan membelah lorong yang sepi dan menggemakan suara tapak sepatunya itu, menuju kamar rawat di paling ujung. Noval berhenti di tiga langkah di depan pintu, memberi jarak pada pintu kayu putih bergagang besi, yang kemungkinan jika didorong akan berderit kencang dan menimbulkan bunyi yang serak dan menyedihkan. Menatap pintu putih polos yang bersih itu, perasaan Noval berubah dari penasaran menjadi kasihan. Ah, sepertinya penamaannya terlalu tidak sopan. Mungkinkah lebih tepatnya… menjadi rasa iba? Menatap pintu yang Noval sendiri tak tahu ada siapa di dalamnya, Noval menjadi iba dan sedih. Dia seperti bisa mengerti perasaan Leo yang menangis seperti anak kecil tadi sore, bahkan hanya dengan melihat pintu ruangannya saja. Akan tetapi Noval tidak dikalahkan oleh rasa sedihnya. Dia malah semakin penasaran dengan pasien di balik kamar rawat itu. Noval yakin sekali kalau di dalam sana adalah orang tua Leo, entah enyaknya entah babehnya. Maka dari itu, Noval melangkahkan kakinya maju lagi hingga wajahnya berada beberapa senti saja di depan daun pintu. Tangannya sudah tergerak menyentuh gagang besi pintu yang dingin. Namun, sebelum tepat dia memberikan tenaga pada jemarinya untuk mendorong pintu, kepala Noval mendongak ke atas, dan matanya menembus bilah kaca pada pintu yang baru Noval sadari ada di sana. Noval dapat melihat menembus kaca yang besarnya tak seberapa itu. Dia melihat ranjang rumah sakit, selimut bergaris yang khas sekali milik rumah sakit, sandal putih bermerek nama rumah sakit, tirai putih yang tersibak, dan terakhir, seorang perempuan yang sedang melihat ke luar jendela di sana. Noval mengernyit. Enyaknye Bang Leo, ye? pikirnya. Tapi jika diperhatikan lebih lama, perempuan itu terlalu muda untuk dianggap sebagai ibunya Leo. Perawakannya terlalu kurus dan segar daripada ibu-ibu seumuran 40 tahun ke atas. Apa adeknya Bang Leo, ya? Noval menelengkan kepala sekaligus memicingkan mata, mengeratkan pandangannya untuk melihat lebih seksama. Dan ternyata, perawakan perempuan itu terlalu tinggi dan dewasa untuk dianggap sebagai adik Leo. Lah, terus siape, dong? Saat sedang melihat alias mengintip dari kaca kecil pintu, Noval yang terlalu fokus pada pemikirannya itu hanya dapat melihat si perempuan yang menunjukkan tampak belakang dan agak sampingnya saja. Perempuan itu sedang melihat ke luar jendela, entah melihat apa sampai begitu fokus dan lama. Namun yang Noval tahu pasti, perempuan itu hanya sendirian di dalam kamar. Noval tidak menemukan kehadiran satu orang pun di sana, dan si perempuan tampak nyaman dalam ruang sendiri dan tanpa suaranya. Melihat pemandangan itu, Noval berubah menjadi ragu untuk masuk, karena sepertinya perempuan itu bukan ibu Leo dan bukan juga adik perempuannya. Mungkin juga bukan kakak Leo, karena mereka berdua tampak sepantaran dan tidak lebih tua ataupun muda sama sekali. Rasa penasaran Noval berubah menjadi keraguan yang menahan Noval untuk masuk. Maka dari itu, Noval berencana untuk pergi dari sana dan pulang saja ke rumah. Akan tetapi, begitu tangannya lepas dari gagang pintu, si perempuan tiba-tiba menoleh ke arah pintu, dan mata sayu yang datar miliknya menembus kaca kecil pintu dan menatap langsung kepada mata Noval yang terlihat kaget dan membulat. Noval melupakan tujuannya maupun rasa penasaran dan keraguannya, saat matanya menemukan warna merah, biru dan sayatan pada wajah perempuan itu. …apa orang itu… korban penjambretan? Atau… korban kekerasan… dan penganiayaan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN