Aisu berbalik pergi dengan senyuman percaya diri penuh, bahwa dirinya telah menang dari Noval dan teman-teman kurang ajarnya, walau bahkan Aisu belum mendaratkan pukulan serius pada Noval. “Bilang saja kamu takut aku gebuk,” ucap Aisu, menoleh ke belakang pada Noval dari bingkai pintu.
“Eh, woi, Neng! Mau ke mane lu?! Neng Aisu!!”
Lantas Aisu pergi meninggalkan Noval dari ruang klub musik. Langkahnya begitu percaya diri, dan perasaannya terasa lebih baik dari beberapa waktu lalu. Melihat langit yang terang walau berawan pun, Aisu merasa, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang baik. “Ah, hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.” Aisu berjingkrak-jingkrak seraya berjalan menenteng gitar rusak milik Papa yang akan dia bawa ke toko alat musik yang dikatakan Noval.
Melihat Aisu pergi keluar dari ruang klub musik dengan wajah ceria, Noval terduduk di salah satu kursi dengan raut wajah yang bingung.
“Buset, deh…. Neng Aisu ngape jadi serem begitu, ye?” Noval tak menyangka pada tingkah Aisu hari ini. “Beda amat ame Neng Aisu kemaren-kemaren. Aneh bener, tuh, wadon!”
Noval menggeleng-geleng, dia duduk di kursi. Mencoba menyingkirkan rasa penasarannya terhadap tingkah Aisu hari ini, tetapi Noval tidak bisa. Ponsel di tangannya tak membuat pikirannya teralihkan sama sekali.
“Sumpeh, dah! Aneh bener Neng Aisu! Ck, ck, ck! Belajar dari mane si eneng bisa sampe kayak emak gua kalo marah?!”
Noval mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Aisu belasan tahun lalu, tepatnya satu tahun lebih yang lalu. Saat itu, Noval baru bergabung dengan klub musik kampus, lalu berkenalan dengan Leo yang terlihat cemas sekali melihat ponselnya, tidak fokus pada permainan band musik yang kakak tingkat mereka mainkan.
Berniat menegur Leo, Noval malah kena marah oleh Leo karena mengganggunya. Dan keributan mereka berdua, dituduh oleh kakak-kakak tingkat tidak memperhatikan permainan. Leo dan Noval pun ditolak masuk menjadi anggota klub musik kampus mereka.
Noval sudah meminta maaf dan memohon pada kakak tingkat untuk memperbolehkannya bergabung, tapi kakak tingkat tidak menerima sama sekali, kecuali Leo juga ikut meminta maaf. Leo, di lain sisi, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf pada kakak tingkat, malah kabur berlari dari klub musik. Noval menjadi marah melihat itu.
Sudah membuat dirinya terseret-seret, Noval belum menerima permohonan maaf Leo. Bahkan Leo pun tidak meminta maaf padanya, malah langsung pergi begitu saja. Noval yang sudah geram, mengejar Leo walau lebih sering tertinggal karena tubuhnya yang bulat dan besar itu menghambat kecepatannya. Dan lagi, Leo berlari terlalu lincah. Dibanding terburu-buru, Noval mencecap kesan lain dari ekspresi Leo; cemas dan panik.
Noval tidak tahu harus apa; ingin berhenti mengejar tapi Noval merasa dirinya tidak boleh berhenti dan harus membantu Leo, ingin mengejar tapi Noval tidak tahu Leo ingin pergi ke mana atau sedang ada masalah apa.
Akhirnya, Noval mengikuti Leo saja dengan ragu-ragu. Dari lorong gedung fakultas, Leo berlari ke taman dan tidak berhenti di sana. Noval mengikuti Leo dan hampir menabrak rombongan cewek-cewek yang memekik saat mereka hampir disundul oleh Noval. Leo berlari ke luar gerbang kampus, Noval pun mengikuti walau langkahnya tertinggal jauh. Noval hampir bertabrakan lagi dengan mobil hitam mahal yang dia duga milik dosen, karena satpam penjaga kampus sigap sekali menyingkirkan tubuh Noval yang menghalangi jalan dan hampir terjungkal ke semak-semak.
Setelah menjaga keseimbangan tubuhnya dan tidak jadi jatuh, Noval mengejar Leo dan berlari ke luar gerbang. Dilihatnya, di ujung sana, Leo sedang celingak-celinguk. Noval memanggilnya, tapi Leo tampak terlalu fokus pada dunianya sendiri, tidak menyadari suara yang berteriak keras menghampiri telinganya.
Saat sudah dekat dengan Leo, Noval ketinggalan lagi, karena Leo menyetop sebuah taksi, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Akan tetapi, sebelum taksi itu melaju, Noval berteriak dan melambai heboh di belakang. Mungkin, tingkahnya itu menarik perhatian sang supir taksi, hingga membuatnya melirik kaca depan di atas kepalanya, dan melihat tubuh gempal Noval yang berlari heboh mendekat kepada mereka.
Supir taksi pun kebingungan oleh Leo yang menyuruhnya untuk segera jalan dan menancap gas, pun oleh teriakan Noval di belakang yang menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Dan Leo yang sedang panik, dikagetkan oleh sayap pintu kirinya yang mendadak terbuka, kemudian muncul sebuah kepala yang menyembul masuk dengan tubuh besar seorang laki-laki.
Sebelum Leo sempat bertanya ataupun mengomel karena taksi itu sudah dia ambil layanannya, laki-laki yang tak dia kenal itu menyuruh sang supir untuk menancap gas. Leo sempat ingin marah dan membuka mulut mengomeli Noval, sudah gatal, tapi dia tenggelam oleh kepanikan dan rasa cemas yang terus bertambah pekat seiring badan taksi mendekat kepada tujuannya. Dia bahkan tidak menggubris pertanyaan Noval.
Taksi berhenti di depan rumah sakit. Leo membayar sejumlah uang, lalu turun dari sana terburu-buru. Noval berterima kasih pada sang supir yang masih kebingungan pada penumpangnya hari itu. Lalu, Noval kembali menyusul Leo yang berlari makin lincah menuju ke dalam rumah sakit.
Setelah dilihatnya Leo bertanya pada seorang suster di meja resepsionis, Leo berlari menuju lorong lift. Noval mengikuti, berlari walau agak terlambat dan pintu liftnya hampir menutup. Leo tak memperhatikan sekitarnya, dia juga tidak tahu kalau Noval mengikuti Leo sampai ke dalam rumah sakit.
Saat lift tiba di lantai empat dan pintunya terbuka, Leo berlari sekuat tenaga seperti citah kelaparan yang sedang mengejar mangsa. Dia tidak peduli pada suster-suster yang meneriakinya dan menyuruh Leo untuk tidak berlari dan membuat keributan di rumah sakit.
Noval sudah ketinggalan jauh, tetapi dia melihat Leo masuk ke dalam ruangan di paling ujung lorong itu. Ruangan terakhir di sebelah kanan. Noval tadinya mencoba mengejar Leo sekuat tenaga juga, berlari melawan lemak-lemak yang memberati tubuh dan kakinya. Akan tetapi, semakin Noval mendekati ruangan itu, semakin aneh perasaan yang melingkupi dirinya.
Rasanya seperti… orang asing yang menerobos masuk ke dalam rumah orang lain. Tidak sopan. Tidak baik. Tidak etis. Rasa-rasanya ada yang salah. Meski begitu, Noval tidak ada pilihan lain selain menunggu, karena sudah terlanjur pergi membuntuti—ikut bersama dengan—Leo. Walau, yah, ongkos taksinya dibayarkan Leo sepenuhnya.
Tetapi, Noval pikir, daripada dirinya pergi tanpa tahu apa-apa walau sudah tak sopan ikut serta dengan Leo, Noval lebih baik menunggu hingga Leo keluar dari ruangan itu dan meminta maaf setelahnya.
Noval menunggu di deretan bangku besi di pinggiran lorong sana, memutuskan untuk duduk sebentar sembari menunggu Leo keluar. Ah, tapi jika dilihat-lihat, Noval merasa dirinya tidak sopan datang dengan tangan kosong. Meski, yah, dia yang membuntuti—ikut bersama dengan—Leo juga dinilai lebih tidak sopan.
Maka dari itu, Noval berdiri lagi dan berjalan menuju lift dengan maksud ingin pergi keluar dan membeli makanan kecil untuk Leo, atau untuk siapa pun pasien yang ada di ruangan itu. Tapi, sudah beberapa lama memencet tombol lift, ia tidak tiba-tiba juga. Pintunya tidak terbuka-terbuka juga. Jadi, Noval memutuskan untuk menuruni tangga saja. Toh, hanya empat tingkat ke bawah ini. Walaupun, memang Noval akui dia masih ngos-ngosan, keringatan, dan lelah setelah berlari terus mengejar Leo.
Di anak tangga yang hanya ada empat tingkat tapi tidak habis-habis juga itu, Noval melangkah dengan pikiran yang ikut jalan-jalan juga ke mana-mana. Pertama, Noval penasaran siapa orang yang dirawat di ruangan itu. Walau Noval tidak tahu dan belum tahu, tapi yang Noval yakini, pasien itu adalah orang yang dianggap Leo penting. Bisa jadi ibunya, ayahnya, adiknya, kakaknya, atau pula… pacarnya.
Kedua, Noval ingin tahu atas alasan apa pasien itu dirawat. Sakitkah. Jatuhkah. Kecelakaankah. Atau atas alasan apa. Noval mendadak ingin tahu. Ketiga, tentu saja tingkahnya saat ini; alasan dirinya mengejar Leo, orang yang baru dia kenal di hari itu juga dari perkumpulan klub musik kampus, tapi sudah Noval ikuti sampai ke rumah sakit. Rasanya, baru kenal beberapa menit yang lalu, dengan Noval yang ada di rumah sakit, dia merasa sudah mengintip kehidupan pribadi Leo.
Memikirkan itu, rasa bersalah menghampiri Noval. Kalau sudah terlanjur begini, pasti Leo merasa sangat tidak nyaman dan akan marah pada Noval. Maka, Noval buru-buru pergi ke minimarket di dekat rumah sakit dan membeli berbagai minuman, roti, dan makanan ringan lain untuk diberikan pada Leo dan si pasien, sekaligus sogokan untuk permohonan maafnya nanti karena sudah tidak sopan dan seenaknya membuntuti Leo.
Membawa sebungkus plastik penuh yang diisi bermacam-macam makanan yang menguras dompetnya, dengan sebelah tangan menggenggam hanya minuman isotonik untuk dirinya, Noval kembali ke rumah sakit. Masuk ke dalam lift, tiba di lantai empat, dan duduk di deretan bangku di lorong sana.
Bermenit-menit Noval menunggu, menjadi satu jam. Kemudian dua jam, tiga jam, berjam-jam. Hingga siang berganti menjadi sore. Hingga Noval sudah beberapa kali diajak bicara oleh orang asing; ibu-ibu yang menanyakan kamar, bapak-bapak yang mengajaknya mengobrol tentang tagihan rumah sakit yang menunggak, tingkat keparahan si pasien, sampai Noval harus mendengarkan nasihat untuk menurunkan berat badannya jika tidak ingin terkena diabetes dan darah tinggi seperti kenalan-kenalan si bapak itu.
Akhirnya, sore menjelang gelap, Noval melihat pintu ruangan itu terbuka. Noval yang sudah lelah dan lapar—tidak makan dulu karena khawatir Leo akan keluar kapan saja—berdiri dan bersiap meminta maaf pada Leo.
Leo berjalan menunduk dengan raut wajah yang tertekuk. Leo sudah semakin dekat, dan Noval pun memanggilnya ragu-ragu. Tetapi, Leo terlalu menunduk dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Bahkan, Leo berjalan begitu saja melewati Noval yang memanggilnya. Kemudian, Noval berusaha lagi memanggil Leo lebih kencang sambil menarik tas ranselnya. Leo pun menoleh dengan wajah kusut. Noval sempat tersentak melihat ekspresi itu, sebelum akhirnya menyapa Leo dan meminta maaf.
Leo terdiam sejenak menatap Noval dari bawah sampai atas dan sebaliknya. “Maaf, tapi… Mas siapa, ya?”
Noval berasa kepalanya seperti kesetrum listrik bertegangan tinggi. “…hah? Ape lu kata?”
Noval terbengong di depan Leo yang berekspresi sedih dan terlihat menahan tangis. Perlahan, alis Noval menyatu dan kedua bibirnya semakin menjauh. Dia ternganga dengan ekspresi tak percaya menatap Leo.
“Lah… elu… kagak tau… gua?” tanya Noval.
Leo melengos tak menjawab, dia kembali melangkah pergi dari orang yang tak dikenalnya itu. “Maaf, mungkin Mas salah orang. Saya permisi.”
“E-eh, tunggu bentar! Enak aje lu maen pergi!” Noval menghentikannya, berdiri di tengah lorong dan membentangkan tangan.
Noval melihat wajah Leo yang tampak lesu. “Kenape, lu? Muke ditekuk udeh kayak baju belom disetrika aje!” Berkata begitu, Noval tidak membantu sama sekali, karena Leo malah semakin cemberut, sebelum akhirnya menangis.
“Lah, lah, lah, lah?!? Elu nangis, Bang??” Noval celingak-celinguk, ternyata beberapa orang yang lewat di lorong sana agak melipir menjauhi mereka berdua, tak lupa memandang dengan tatapan iba dan mengasihani.
“Woi, Bang Leo! Aduh, kenape nangis begini, dah??” Noval tidak tahu harus bagaimana melihat Leo, orang yang baru dikenalnya tadi pagi, yang sekarang sedang menangis terduduk di lantai seperti orang yang sangat sedih dan putus asa sekali.
Leo terisak seperti anak kecil yang habis main seharian lalu pulang dengan lutut dan tangan yang terluka dan berdarah. Tidak meraung, tapi kedua pundaknya naik turun, bergetar hebat menyambut suara tangisan yang direndam paksa supaya tak terdengar oleh orang-orang.
“U-udah, deh, kalo gini mah, mending *aye pulang aje!” Noval melepas plastik berisi makanan yang masih utuh dan ditentengnya, lalu diberikannya pada Leo dengan membuka paksa telapak Leo, kemudian beranjak pergi dari lorong itu.
(*aye = saya, aku)
“Mohon maaf, ye, Bang Leo. Aye cuma bisa ngasih bingkisan ini aje buat keluarga Abang yang lagi sakit dirawat. Aye pergi dulu. Dah, baek-baek, ye, Bang Leo.”
Waktu itu, Noval pergi begitu saja dari hadapan Leo yang terduduk dengan lututnya dan menjadi perhatian banyak orang. Namun, di ujung lorong, tepat sebelum Noval berbelok masuk menuju lift, terdengar suara kalap yang nyaring.
“Huaaaaaaa!!”
Noval sempat berhenti saat tahu kalau suara itu adalah suara Leo. Tetapi, setelah memejamkan mata dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah menyelesaikan urusannya dan tidak ingin terlibat lebih lanjut lagi, tepat saat kakinya melangkah, suara tangisan Leo malah semakin kencang dan mengga ke seluruh lorong, yang mungkin saja sudah membuat semua pasien di lorong itu mengintip keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di depan mata, saat Noval membulatkan tekad tidak ingin ikut campur lagi dan memilih pergi, Noval melihat seorang sekuriti dan seorang suster yang sedang berjalan ke arahnya. Noval yakin, mereka berdua ingin menindaklanjuti keributan yang Leo buat.
Saat itulah, Noval kalah dan berbalik kembali menuju Leo sebelum sekuriti dan si suster menghampiri Leo dan mengeluarkannya dengan paksa.
“Woi, Bang!” Noval menepuk pundaknya, tapi Leo malah larut dalam tangisannya. Kemudian, mengetahui bahwa banyak orang menonton mereka, Noval menarik lengan Leo dan akan menyeretnya paksa untuk keluar. Setidaknya, tidak diseret oleh sekuriti, karena hal itu lebih memalukan dibanding apa pun.
“Ayo, bangun! Berdiri lu!” Setelah agak kencang menyentak Leo agar bangkit berdiri, akhirnya Leo mengangkat kepalanya, menoleh pada Noval dengan wajah bersimbah air mata.
Leo akhirnya mau diajak berdiri. Saat ingin membopong Leo pergi, Noval melihat si sekuriti dan si suster sedang berjalan ke arah mereka. Setidaknya, saat ini wajah si sekuriti tidak seseram tadi. Mungkin karena Leo sudah tidak berisik dan ribut lagi.
Tetapi, Noval belum merasa lega, karena Leo berjalan dengan terlalu menyandar kepadanya. Maksudnya, Leo terlalu menumpu seluruh beban tubuhnya pada Noval yang membantunya berjalan, seakan seluruh tenaga Leo terkuras akibat menangis dan berteriak tadi.
“Woi, Bang! Jalannye yang bener, dong!” Noval menyenggol pinggang Leo dengan sikunya, tapi Leo tidak juga berdiri dengan benar. Tingkah Leo itu membuat Noval gelisah, karena si sekuriti memang melewatinya seolah kedatangannya bukan untuk melihat Leo si biang kerok, dan berjalan melewati Noval dan Leo entah ke mana begitu saja.
“Bang Leo! Woi! Berdiri yang bener!” Noval berkali-kali mengguncang Leo, tetapi yang terjadi kemudian malah mengundang keributan yang lebih besar.
Orang-orang yang masih penasaran dengan diam-diam mencuri pandang pada mereka berdua, memekik saat Leo mendadak terjatuh tersungkur di lantai.
Mendengar suara ribut, si sekuriti dan suster tadi pun balik arah dan menghampiri Leo dan Noval. “Ada apa? Ada apa?” tanyanya membelah kerumunan, berjongkok melihat Leo.
“Woi!! Bang Leo!!” Noval lantas panik. Dia mencoba membalikkan tubuh Leo, lalu melihat mata Leo tertutup dengan napas yang teratur. Noval ternganga kembali.
“Bang Leo… lu… pingsan?”