53. Mimpi Buruk atau Imajinasi Semata?!

1984 Kata
“TENANGLAH!” pekik si pegawai, berwajah terkejut dan terheran pada tingkah perempuan yang berubah lagi. Padahal, tak beberapa lama lalu, ekspresinya masihlah datar dan tampak sendu. Tetapi sekarang… sudah seperti orang yang habis melihat hantu. Merasa lengannya sakit, Deka terdiam. Matanya memandang pada si pegawai yang waspada terhadap pergerakan yang akan Deka buat. Lalu sebelah tangan Deka menggapai bagian yang terasa sakit pada lengannya. Dilapisi jaket kulit, sebenarnya lengan Deka tidak terlalu sakit. Hanya merasa sedikit tersentak karena tiba-tiba dipukul seperti itu, seolah menyadarkan Deka kalau di hadapannya adalah kenyataan, bukan sebuah mimpi. Memegangi lengan, masih dengan tatapan termangu tak menyangka apa yang sedang dialaminya adalah kenyataan, Deka akhirnya menyakiti dirinya sendiri. Maksudnya, mencubit lengannya. “Ah—!” Terasa sakit. Kelakuan Deka membuat si pegawai mengernyit, tak mengerti pada apa yang sedang dilakukan perempuan di depannya itu. Masih tak percaya, Deka kemudian mencubit kedua pipinya lebih keras. “Arrrgh!!” Berapa kali pun dia mencubit dirinya sendiri, tetap saja terasa sakit. Rasa sakit itu terasa nyata dan perih di kulitnya. Deka terbengong. Pipinya terasa sakit. Tangannya juga sakit waktu dicubit. Lalu, abang-abang di depanku ini juga nyata, benaran manusia. Deka memutar kepala ke seluruh ruangan, membuat orang-orang di sana tersentak kaget di tengah observasi mereka kepada Deka. Orang-orang ini… juga nyata. Ah, ada harum yang tercium juga dari toko ini. Su-suaraku juga… nyata, lebih ringan dan tidak nge-bass seperti suara laki-laki. Suaraku… suara perempuan. Tu-tubuhku— ah, ra-rambut?! Deka mengelus helaian rambut yang tergerai melewati kedua pundaknya. Rambut panjang…. Deka sekali lagi melihat ke bawah, pada struktur tubuhnya, walau pandangannya terhalang oleh dua bulatan besar di depan mata. Itu membuatnya malu. A-a— I-ini…. ini benar-benar tubuh seorang… perempuan. Aku… apa aku sedang bermimpi? Apa aku… ketiduran? Tapi… terakhir kali yang aku ingat, aku ada di belakang pintu kafe, menggedor-gedor supaya Bos keluar— Ah! Uang dari Bos!! Deka melihat kedua tangannya yang tidak menggenggam apa pun. U-uangnya gak ada! Apa ini sungguhan hanya mimpi? Kalau ini bukan mimpi, lalu... lalu apa? Kenyataan? Tapi— tapi aku gak mungkin... mendadak ada di toko alat musik, apalagi berubah bentuk menjadi.... pere— aarggh! Tidak, tidak! Ini pasti... cuma mimpi! Ini pasti cuma mimpi! Aku cuma bermimpi! Iya! Pasti! Deka kemudian memasang raut ragu pada wajah femimnimnya.Tapi mana mungkin?! Aku tidak mungkin tertidur di aspal, kan!! Dan— dan lagi pula, aku— aku— aku ini— aku ini laki-laki!!!! “...Kak?” panggil si pegawai pada Deka. Deka mengangkat wajah paniknya, menyudahi pikiran-pikirannya. “Ada apa?” tanya si pegawai, mengulurkan tangannya dengan maksud ingin mengecek kondisi Aisu, yang sebenarnya di dalam sana adalah Deka. Dan hal itu membuat kepanikan Deka semakin memecah ketenangan yang dia usahakan untuk tetap dalam badan. “Apa Kakak… baik-baik sa—” “AAAAAAAARRRRGHHHH!!!” Deka yang sudah sangat panik dengan apa yang terjadi, hanya bisa mengandalkan perasaan kalut yang membuncah dalam kepalanya. Deka mengambil ancang-ancang, kemudian meninggalkan konter, si pegawai, para penonton yang mencuri-curi pandang, serta meninggalkan toko alat musik dengan wajah pucat pasi dan suara teriakan yang menggelegar. “AAAARGGGH! INI HANYA MIMPI! AKU GAK MUNGKIN JADI PEREMPUAN!!!! BUNDAAAAAAAAA!!!!” *** Aisu berteriak ketika bagian bawahnya kembali mengembung seperti yang dia alami tadi malam. “AAAAAARRRRRGGGHHHHH!!” Suara teriakan yang mendadak dari salah satu pegawainya itu membuat si bos pemilik kafe bingung harus bagaimana. Tetapi, sebuah refleks yang muncul karena kebingung itu, sekaligus rasa kaget yang muncul, Bos melayangkan tangannya untuk menyumpal— ralat, maksudnya menampar pipi Deka— “AAAARRRGGGHH—” PLAAAKKK!! Ngiiiiiiiiiiing— Aisu langsung merasa gendang telinganya berdenging. Perih dan rasa panas merambat dari pipi ke sekitar wajahnya, hingga akhirnya baru berhasil menarik kesadaran Aisu begitu Bos berkata, “Berisik!! Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicarakan dengan benar! Pakai kata-kata yang baik biar mudah dimengerti orang lain! Jangan seperti orang primitif kamu, Deka!!” Aisu menganga, membulatkan kedua mata yang masih tertuju ke aspal yang terlihat menguapkan udara panas ke udara. Dia sempat melihat sebuah kertas putih kecil yang tampak tebal, meski tak tahu ada apa di dalamnya, sebab sekarang Aisu tidak terlalu berfokus pada hal itu. Aisu masih terkejut dengan rasa panas pada pipinya, lantas memegang pipinya yang juga masih terasa sakit, dan telinganya pun masih berdenging. “Ka… kau—” melihat wajah asing ketika Aisu menatap lelaki di depannya, Aisu lantas mengoreksi panggilannya, “Anda… Anda barusan menampar saya?” tanyanya, dengan nada tak percaya, menatap si lelaki setengah melotot marah. Tidak terintimidasi, Bos membalas tatapan marah Deka dengan insting bertahan milik hewan predator. “Kamu yang mulai teriak seperti orang gila lebih dulu! Saya harus bagaimana menanggapi kamu yang tiba-tiba histeris seperti tadi?!” Aisu mengernyit. Layaknya tak ingin kalah, Aisu mendorong bahu si lelaki berpiyama itu saat tak sadar kalau dia semakin melangkah maju kepadanya. “Anda seharusnya tidak boleh kasar dengan seorang perempuan! Anda dan saya memang orang asing, tapi dengan Anda yang main tangan dengan perempuan walaupun tak saling kenal, Anda bisa saya tuntut dengan tuduhan p*********n dan kekerasan! Telinga saya sampai berdenging Anda pukul! Pipi saya juga sakit!” Sekarang, giliran Bos yang mengernyit heran pada Deka. “Pe..rem..pu..an?” bingungnya. Namun, tak beberapa lama, Bos terkekeh. “Haha. Kamu sedang bercanda, Deka? Karena tidak terima saya pukul, kamu sampai mencari alasan tidak masuk akal dan mengaku-ngaku sebagai perempuan? Hah! Malulah dengan burungmu!” teriak Bos di wajah Deka (Aisu). Aisu lantas tergeragap dengan wajah yang memerah. “A-a-a— a-pa? Bu-bu-bu-buru—” Aisu tak sempat menyelesaikan kesulitan pada bibirnya. Sesuatu mendadak terasa aneh pada kakinya. Ah, lebih tepatnya pada… pangkal kakinya itu. Mungkin, sebab si lelaki berpiyama itu mengusik tentang burung, kesadaran Aisu kembali mengeruk perhatian yang mendadak terlupakan begitu saja beberapa waktu lalu. Burung. Laki-laki. Pangkal kaki. Aisu lantas memundurkan langkah dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia kembali panik, karena rasa tidak nyaman dan aneh itu sudah menyita seluruh perhatian dan indra pada tubuhnya. “Kalau ingin berbohong, setidaknya pakai alasan yang lebih masuk di otak! Tidak perlu sampai menghilangkan harga dirimu sebagai laki-laki!!” tekan si lelaki berpiyama, berteriak seakan menabrakkan kenyataan yang tak ingin Aisu hadapi saat ini. “AAAAAARRRGGHHH!!” Selama beberapa lama, tepatnya puluhan detik, Aisu yang saat ini berada dalam tubuh laki-laki yang tak dia kenal—atau mungkin dia ketahui, karena tubuh jantannya saat ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan yang tadi malam dia mimpikan—berteriak kembali dengan suara dalam dan nge-bass yang lebih kencang. Kedua kaki yang tak mampu menahan kekagetan dirinya, lemas dan membuat si pemilik badan jantan itu ambruk di aspal, menyandar pada bagian belakang ruko lain. Dan selama puluhan detik itu, tak ada respons apa pun dari si lelaki berpiyama. Lebih tepatnya, Bos pergi ke dalam kafe dengan ekspresi sebal, marah, tak terima, dan merasa terganggu yang campur aduk. Bos kembali dengan sesuatu di tangannya. Dia melangkah lebar-lebar tanpa alas kaki, menghampiri Deka (Aisu) yang berteriak histeris menatap kakinya—Bos tidak tahu kalau Deka (Aisu) sedang menatap burung yang dirinya singgung tadi. “AAAAARRRGHHH!!!” Aisu masih berteriak, suaranya menggema di gang kecil belakang deretan ruko di sana, membuat beberapa orang dari ruko-ruko dan toko lain mengintip penasaran dari pintu belakang mereka. “Kamu mau diam atau tidak?” tanya si lelaki berpiyama, menahan jengkel untuk memberi Deka (Aisu) pilihan. Namun, mendengar Deka (Aisu) masih berteriak, Bos merasa dirinya tak punya pilihan, dan lantas saja— “AAAARRRGHHH—!!” BYUUUUURRRR!!! Satu ketel air keran dingin langsung membanjiri wajah Deka (Aisu) dari kepala sampai ke perut. Hal itu membuat Aisu kontan berhenti berteriak, lalu kembali menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki asing itu lakukan padanya. Aisu mengangkat wajah, menatap si lelaki berpiyama yang berwajah—menjaga wajahnya tetap—datar. Aisu ingin marah. “APA-APAAN ANDA—!!” “Bacot. Pulang sana.” Si lelaki berpiyama langsung berbalik setelah menyampaikan kalimat—tak sopan—nya. Tak hanya itu, dia juga menutup pintu besi dengan kencang. BRAK!! —meninggalkan Aisu dengan kecengoan yang hampir membuat dagunya jatuh ke tanah. “.….hah….??” *** “AAAAARRRGHHH!!!” Aisu masih berteriak, suaranya menggema di gang kecil belakang deretan ruko di sana, membuat beberapa orang dari ruko-ruko dan toko lain mengintip penasaran dari pintu belakang mereka. “Kamu mau diam atau tidak?” tanya si lelaki berpiyama, menahan jengkel untuk memberi Deka (Aisu) pilihan. Namun, mendengar Deka (Aisu) masih berteriak, Bos merasa dirinya tak punya pilihan, dan lantas saja— “AAAARRRGHHH—!!” BYUUUUURRRR!!! Satu ketel air keran dingin langsung membanjiri wajah Deka (Aisu) dari kepala sampai ke perut. Hal itu membuat Aisu kontan berhenti berteriak, lalu kembali menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki asing itu lakukan padanya. Aisu mengangkat wajah, menatap si lelaki berpiyama yang berwajah—menjaga wajahnya tetap—datar. Aisu ingin marah. “APA-APAAN ANDA—!!” “Bacot. Pulang sana.” Si lelaki berpiyama langsung berbalik setelah menyampaikan kalimat—tak sopan—nya. Tak hanya itu, dia juga menutup pintu besi dengan kencang. BRAK!! —meninggalkan Aisu dengan kecengoan yang hampir membuat dagunya jatuh ke tanah. “.….hah….??” *** “HAHAHAHAHA!!” Akarabahni yang sedang terbang melayang di langit, tertawa terbahak melihat Aisu yang sedang berada di dalam tubuh Deka, disiram air oleh atasan kerja Deka. Apalagi, saat melihat ekspresi Aisu yang terlihat t***l itu. Rasanya perut Akarabahni sedang digelitiki oleh sepuluh tangan sekaligus. Sangat geli. Sosok hitam bersayap dan bertanduk itu bahkan sampai terguling-guling di udara, tentu dengan sepasang sayap yang kembali menyeimbangkan tubuhnya, supaya sosok hitam yang seram dan mengerikan itu tidak terjatuh terjun dari langit ke tanah. “Hihihihi. Ini sangat menyenangkan, Aisu!” komentarnya, sudah kembali terbang dengan stabil. Kemudian, hanya dengan melirik bergeser sedikit ke kiri dengan gerakan mata saja, Akarabahni bisa menonton Deka dalam tubuh Aisu yang sedang berlarian di trotoar jalan, meski jarak Akarabahni dari langit di antara awan-awan putih dengan aspal jalanan cukup jauh. Sangat jauh, bahkan. Tetapi hanya dengan gerakan mata, Akarabahni dapat melihat dengan jelas wajah panik Aisu (Deka) saat mencoba melarikan diri dari toko alat musik, sekaligus menerobos barisan-barisan pejalan kaki yang tenang-tenang saja dengan dunia mereka. “Hahaha. Apa yang membuatmu menjadi sangat panik seperti itu, Deka?” Akarabahni dengan wajah dan tubuh serba berwarna hitamnya, menyeringai senang. “Bukankah melihat tubuh polos seorang perempuan adalah hasrat semua laki-laki? Ayolah, Deka. Nikmati saja!” Akarabahni mulai menunjukkan wajah bosan. “Hhhh,” dia menghela napas. “Kenapa melarikan diri? Hhh, melarikan diri hanya akan membuatku merasa ingin menangkapmu lebih cepat, Deka. Tapi aku tidak boleh. Aku tidak bisa.” Sedetik kemudian, ekspresi Akarabahni sudah berubah lagi menjadi seseorang yang sedang menahan amarah sekaligus merasa antusias terhadap sesuatu. “Arrgh… apa aku lupakan saja si Cahaya dan mengambil energi yang sudah mulai muncul pada mereka berdua?” Kedua bola mata Akarabahni berkilat merah dan tampak dipenuhi oleh nafsu membunuh…? bukan. Lebih tepatnya nafsu… makan yang meminta untuk segera dituntaskan. Akarabahni menggeram, menahan dirinya. Saat itulah terdengar guntur dari langit, membuat sekelompok orang menoleh ke atas, terkejut dengan datangnya guntur yang tiba-tiba muncul di siang bolong. Apalagi, langit tampak cerah, panas, dan tak ada satu pun awan hitam yang menggantunginya. “Arrghh— tidak, tidak.” Akarabahni memejamkan mata, menenangkan dirinya sendiri supaya kilatan merah pada matanya itu kembali normal. “Terburu-buru hanya akan membuatku terjebak dalam keserakahan yang tidak bisa dipuaskan. Sebaliknya, aku harus bersabar dan menunggu emosi mereka tiba sampai puncak. Baru saat itulah aku bisa melakukan apa pun sesukaku terhadap mereka.” Akarabahni menatap tajam kepada Aisu dan Deka yang berada di luar tubuh mereka masing-masing, yang tidak dalam keadaan normal dan baik-baik saja. “Deka, Aisu. Sampai saat itu tiba, jadilah ladang yang akan menumbuhkan makanan manis dan lezat untukku! Hihihihihi!!” GLEGARRRRR!! Kali ini, yang datang di langit adalah cambukan cahaya, yang sepersekian detik kedatangannya membuat segerombolan orang kebingungan. “Apa badai hujan akan turun di hari yang cerah dan terang seperti ini??”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN