Deka saat ini menatap pintu besi hitam itu dengan tatapan bengong yang tampak pongo. Mulutnya juga agak terbuka tanpa sadar.
“...eh?” Deka bergantian menatap pintu besi dan kertas putih panjang dan tebal pada tangannya. “Apa yang baru saja… terjadi?”
Penasaran dengan ketebalan kertas tersebut, Deka memencetnya berkali-kali. Sadar bahwa terdapat lipatan pada kertas yang ternyata adalah amplop itu, Deka membukanya. Lantas kedua matanya membelalak kaget.
“LHO, U-UANG?!?”
Deka tak menyangka melihat segepok uang berwarna merah berada dalam genggamannya. Meski tidak tahu jumlah pastinya, tapi Deka yakin kalau totalnya banyak, dilihat dari ketebalannya.
Deka yang masih termangap-mangap melihat lembaran-lembaran uang pada tangannya, berkali-kali mengganti tatapannya pada uang di tangan dan pintu besi, tempat bosnya terakhir kali pergi.
Setelah beberapa menit hanya termangap dan kaget, Deka akhirnya kembali pada kesadarannya berkat hawa panas matahari. Atau, karena dirinya harus mencari penjelasan atas uang yang diberikan oleh si Bos.
Tok tok tok! Deka mengetuk pintu besi.
“Bo-Bos! Bisa bicara sebentar?! Bos!” panggilnya dengan suara besar, yang bisa jadi terdengar hingga ke lantai dua, rumah dan tempat tinggal bosnya. “Bos!!”
Tetapi, Deka tidak mendapatkan jawaban. Keheningan dapat terdengar dari dalam kafe. Tidak Iyo, Irfan, maupun Bos terasa ada di dalam sana. Kafe Dinolatte seperti kosong tidak ada orang, menurut pada pejalan kaki yang melirik ujung gang di antara ruko, pada Deka yang gaduh memanggil-manggil bosnya.
“Bos! Aduh, apa Bos tidur lagi?” Deka menganggap demikian, berdasarkan pada piyama yang bosnya pakai saat menunjukkan batang hidungnya beberapa waktu lalu. “Bos! Saya mau bicara sebentar!”
Karena tidak ada sahutan saat Deka memanggil dari belakang toko, Deka pergi memutar ke depan kafe. Berlari membelah gang kecil, dia kembali memanggil si bos dari pintu depan kafe yang tertutup dan tertanda “TUTUP” berdasarkan papan yang menggantung di pintu kacanya.
“Bos! Bos! Ini saya, Deka! Saya perlu bicara sebentar dengan Bos!” Dug dug dug!
Deka tidak berhenti membuat keributan di depan toko yang tutup dan sepi. Orang-orang yang lewat, bahkan orang yang dibawa pergi oleh berbagai kendaraan, menilai Deka dalam sudut pandang yang sama; orang gila.
Yah, meski memang ada beberapa yang hanya menatap penasaran dan mencoba berpikiran positif pada Deka yang berisik sekali di depan toko orang. Walau tak sedikit pula yang merasa terganggu oleh suara Deka yang tidak henti-hentinya menggonggong.
Namun, Deka tidak mempedulikan pandangan orang lain. Dia harus tahu apa arti uang itu. Jika bosnya tidak berkata apa-apa dan pergi begitu saja, Deka tidak bisa menganggap uang itu menjadi miliknya.
Deka berkali-kali mengetuk pintu depan kafe, lalu berlari ke belakang kafe untuk mengedor pintu besi belakang yang lebih nyaring suaranya saat dipukul. Tiga sampai lima kali bolak-balik, Deka yang menunjukkan rasa keras kepalanya, membuat Bos jengkel juga.
Bos yang memiliki rencana untuk kembali tidur lagi walau hari sudah siang, harus turun dan meladeni pegawai termudanya itu.
Deka mendengar suara gaduh dari dalam toko. Dia yang berada di depan toko, berlari menuju belakang dan mengedor-ngedor pintu besi lagi.
TOK TOK TOK TOK!!
“BOS!! BUKA BOS! SAYA PERLU BICARA!!” teriaknya, takut jika bosnya itu hanya turun untuk memindahkan barang atau mengambil sesuatu.
TOK TOK TOK!!
“BOS! BOS! BOSSSSS!!!” Deka terus berteriak, sampai akhirnya terdengar langkah kaki dari balik pintu besi tersebut, yang terdengar tak sabaran dan mengentak-ngentak.
Tak lama kemudian, Deka mendengar suara kunci terbuka. Wajah Deka otomatis berubah juga menjadi lebih tak sabaran.
Ketika akhirnya lembar pintu besi tersebut berayun dan terbuka ke arahnya, Deka sudah siap ingin langsung bertanya pada bos yang menunjukkan wajah jengkel yang hendak menyemprot Deka dengan makian begitu pintu dia buka.
“BOS!! ADA YANG INGIN SAYA BICA—!!”
Namun, sayangnya, lembar pintu yang terbuka adalah pemandangan terakhir yang Deka lihat sebelum segalanya tampak tersedot dan berubah wujud.
***
Aisu menoleh pada si pegawai, mengangkat wajahnya dari bacaan dus senar. “Hah? Kenapa harus beli?” katanya berbalik bertanya.
“...eh?” Si pegawai tak menduga reaksi Aisu. “Ya? Bagaimana, Kak?”
“Kenapa harus beli?” tanya Aisu lagi. Dia mendorong empat tumpuk dus senar yang akan dia beli. “Aku cuma butuh senar saja.” Aisu memegang gitar milik papanya. “Gitar ini gak perlu diganti. Frame atau apa pun namanya, kayunya atau apa pun, gitar ini gak perlu diganti— kecuali senarnya saja.”
“...ya?” Melihat pellanggan di depannya bersikap tak biasa, yaitu mendadak diam dan tampak sendu, si pegawai jadi mati gaya.
Apalagi ketika Aisu bertanya, “Apa kau tahu arti dari sentimental value?”
“...eh?”
Aisu memandang sendu tumpukan dus senar yang akan dia beli, tapi kesadaran dan fokusnya tidak berada di toko alat musik. Pikirannya mengawang dari raga, pergi jauh dari hadapan si pegawai yang kebingungan pada pembeli yang terbengong di depannya itu.
Akan tetapi, Aisu masih dapat membagi pikirannya pada topik yang baru saja dia bawa. “Sentimental value. Apa kau tahu apa itu?”
Meski si pegawai berada dalam kebingungan pada apa yang sedang terjadi, tapi mulutnya tetap terbuka dan berkata, “A-apa memangnya?”
Aisu terdiam sejenak. Dia menggeser pandangannya kepada mata si pegawai, kemudian memberi tatapan riang yang terdapat kesan sedih di sela-sela itu.
“Suatu barang, kejadian, atau seseorang, atau apa pun itu yang berharga, yang harganya tidak bisa dipatok dengan harga, yang uang sebanyak apa pun tidak bisa membelinya.” Aisu menarik senyum sangat tipis. “Dan dalam kasusku— ah, maksudku dalam kasus seseorang yang kukenal, nilai sentimental miliknya adalah gitar tua yang rapuh dan terlihat seperti akan langsung hancur dan patah kalau tak sengaja dijatuhkan sekali pun. Dan bagiku, apa yang berharga menurut orang itu, sama berharganya bagiku juga. Malah, rasanya lebih berharga, jauh lebih berharga ketimbang hal apa pun di dunia ini.”
Si pegawai tampak kesulitan bereaksi. Respons yang dia berikan hanyalah mata yang membulat, memandang pada si pembeli hari ini yang rasanya… aneh.
“A-ah… saya… baru pertama kali dengar,” sahutnya setelah menyudahi prasangkanya.
Aisu kembali menunduk. Wajahnya tampak lebih menekuk daripada barusan. “Oh, ya? Sepertinya hampir semua orang menganggap, bahwa uang bisa membeli berbagai ba—!!”
Namun, belum sempat Aisu menghabiskan kalimatnya, pandangannya berubah dan terdistorsi ke tempat yang lain.
***
Akarabahni, sosok hitam bersayap itu, sekali lagi tertawa dengan suara yang terdengar seperti tokoh jahat dalam sebuah cerita heroik.
“Menyenangkan?” katanya, dengan mata yang menatap tubuh Aisu yang berdiam di pinggir jalan menunggu angkutan umum lewat. “Menyenangkan? Hari yang menyenangkan, katamu? Hahahaha!”
Wajah hitam Akarabahni yang sedang tertawa, lantas berubah datar dalam sepersekian detik waktu. Tatapannya pun berubah sinis dan tampak sangat membenci sesuatu.
Dia menaikkan salah satu tangannya, “Baiklah, wahai Manusia Sombong. Kita lihat, sampai mana kau bisa mempertahankan rasa percaya dirimu itu,” lalu— ctik!
Akarabahni menjentikkan jemarinya. Sesuatu yang buruk lantas terjadi.
***
Ketika akhirnya lembar pintu besi tersebut berayun dan terbuka ke arahnya, Deka sudah siap ingin langsung bertanya pada bos yang menunjukkan wajah jengkel yang hendak menyemprot Deka dengan makian begitu pintu dia buka.
“BOS!! ADA YANG INGIN SAYA BICA—!!”
Namun, sayangnya, lembar pintu yang terbuka adalah pemandangan terakhir yang Deka lihat sebelum segalanya tampak tersedot dan berubah wujud.
***
“A-ah… saya… baru pertama kali dengar,” sahutnya setelah menyudahi prasangkanya.
Aisu kembali menunduk. Wajahnya tampak lebih menekuk daripada barusan. “Oh, ya? Sepertinya hampir semua orang menganggap, bahwa uang bisa membeli berbagai ba—!!”
Namun, belum sempat Aisu menghabiskan kalimatnya, pandangannya berubah dan terdistorsi ke tempat yang lain.
***
“—RAKAN!!”
Deka melotot dan terkejut, karena pintu besi berwarna hitam yang hendak terbuka yang tadi dilihatnya, sekilas berubah menjadi seorang laki-laki yang juga sama terkejutnya pada Deka.
Lelaki di depannya memakai baju seragam toko. Ah, kalau dilihat-lihat dari berbagai macam alat musik yang mengelilinginya, Deka sedang berada di toko alat musik. Lelaki di depan Deka tampak merapat pada rak kayu di belakangnya, seolah sedang kaget habis melihat sesuatu yang membuat jantungnya loncat.
Menyadari keanehan itu, Deka mengernyit dan mendapati kalau semua orang sedang menatap ke arahnya. Deka yang sama bingungnya pada keadaan di sana, terdistraksi oleh sesuatu yang terasa berat pada tubuh bagian depannya.
Perlahan-lahan, Deka mengarahkan kepalanya untuk menunduk. Dan ketika melihat gundukan besar di sana, wajah Deka berubah merah dan langsung berteriak panik—
————
“—nyak hal.” Selepas mengatakan demikian, Aisu yang awalnya menunduk, terheran pada kepalanya yang tahu-tahu menatap agak mendongak ke atas. Dia tidak ingat kalau pernah menggerakkan engsel lehernya ke atas.
Ah, tapi yang terpenting saat ini bukanlah hal itu. Melainkan, matanya yang mendapati seseorang berwajah seram yang tampak marah, yang muncul dari balik pintu besi hitam yang terbuka.
“Ada apa lagi, Deka?! Memang uangnya kurang?!” teriaki lelaki berpiyama tersebut pada Aisu.
Namun, Aisu tidak menanggapi perkataannya. Aisu mengerutkan dahi melihat lelaki itu. Dia terheran-heran. “Kenapa si pegawai berubah jadi kau?” tanya Aisu pada dirinya sendiri. “Wajah dan suaranya juga beda. Eh, yang paling penting,” —Aisu memutar pandangan, pangling pada sekitarnya yang bukan toko alat musik, melainkan aspal dan ruang terbuka— “ini di mana? Kok, bisa pindah tempat begini? Apa aku mengigau?”
Aisu mengedip-ngedipkan mata. “Eh….” Dia menyadari ada yang aneh dengan tenggorokannya, lebih tepatnya pada suaranya saat bergumam tadi.
“Kenapa malah bengong?! Katamu ada yang perlu dibicarakan?! Kalau tidak ada sebaiknya kamu pulang dan habiskan uangnya!!” Lelaki yang tak Aisu kenal itu hendak berbalik kembali ke dalam.
Namun, yang paling krusial saat ini bukanlah hal itu. Tetapi—
“Eh?! Kenapa suaraku jadi kayak cowok begini?!” Kemudian, yang menarik perhatian Aisu, alias mengganggu tubuhnya, adalah…. itu.
Sebuah perasaan yang familier yang pernah dirasakannya tadi pagi, ketika dirinya masih bermimpi dan terbangun dari mimpi buruk.
Itu! pikir Aisu, menelan ludah sembari menggerakkan kepalanya ke bagian bawah tubuhnya, pada sesuatu yang terasa mengganjal di antara kedua kakinya.
Dan saat melihat pakaiannya serta ada sesuatu yang memenuhi pangkal kakinya, Aisu langsung berteriak—
***
“AAAAAAAAAAAAARRRGHHHHH!!!! MIMPI APA LAGI INI?!”
***
“AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHHHHHHH!!!! PAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”
***
Sementara kedua orang itu berteriak panik, sesosok hitam bersayap yang menonton keduanya dari jauh, menyeringai dengan perasaan puas yang menggelitik dadanya.
“Hihihihihi!! Permainan kita dimulai hari ini, Aisu, Deka! Hihihihi!”