12
Hilang Kontrol
Aisu merasa ada seseorang yang menarik tas berat di punggungnya. "Berat, sialan!" umpatnya, begitu melihat ada Leo di belakang.
"Dari tadi kupanggil, kau gak menoleh juga. Aku gak punya pilihan lain."
Aisu tampak sebal. Wajahnya berubah drastis, mirip seperti saat berdua dengan Leo di meja dekat danau beberapa waktu tadi. "Kalau orang yang kaupanggil gak menoleh, itu artinya dia gak mau bicara denganmu, dasar bebal. Sana antar Mindy! Aku harus cepat-cepat ke kelas!"
"Aku mau tanya." Leo tak mengindahkan kekesalan Aisu.
"Ck. Tanya yang lain saja!" Lagi, Leo menarik tas Aisu. "Kubilang, berat!" Dan Leo mendapatkan pukulan pada lengannya, tapi refleksnya lebih cepat bertindak; Leo menahan tangan Aisu.
"Duh, ngapain, sih?! Lepas!" Aisu menarik tangannya dari Leo. Tapi sia-sia belaka.
Leo menahannya. Dia menatap Aisu lurus-lurus, dalam-dalam, seolah sedang mencari sosok Aisu di dalam sana.
Seolah-olah sedang… mencari sisa-sisa masa lalu.
"Kalau kau ingin menanyakan hal-hal yang sudah tak masuk akal, lebih baik kaususul Mindy saja." Aisu menarik tangannya kembali. Dia menoleh ke arah lain, tak ingin jika Leo menemukan potongan dirinya.
Tak boleh!
Leo mencegah kepergian Aisu lagi. "Putri!"
Aisu membeku. Tubuhnya mendadak kaku setelah Leo memanggilnya begitu. Dan butuh waktu lima detik bagi Aisu untuk bereaksi normal, untuk menetralkan kembali keterkejutannya.
"Jangan panggil aku seperti itu lagi." Aisu berdesis. Dia ingin marah, tapi hanya mampu menatap Leo tajam.
Di antara tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang dan meladeni Leo, Aisu lebih memilih menekan emosinya. Dia tak boleh marah. Emosinya tak boleh terpancing hanya karena nama kecil yang Leo berikan sewaktu bocah itu terdengar kembali.
"Mau sampai kapan?"
Aisu mengernyit. "Apa?"
Leo menatapnya serius. Mata yang biasa tampak malas itu menatap Aisu penuh harap. "Mau sampai kapan kau menutup-nutupi fakta pada Mindy?"
"Mau sampai kapan, katamu?"
"Kau harus jujur padanya."
"Jujur?" Aisu tak menyukai nada Leo. "Memangnya aku pernah bohong pada Mindy?"
"Bukannya kau sedang berbohong?"
Aisu menatap Leo; sekali lagi, dengan tatapan tajam dan berangas, macam hendak melahap Leo bulat-bulat.
"Aku gak punya waktu untuk memperdebatkan omong kosong."
"Kau menganggap Mindy omong kosong?"
Aisu yang sudah berbalik ingin menuju kelas, kembali memutar tubuhnya menghadap Leo.
Dan Leo, dia benar-benar tahu kelemahan Aisu. Dia benar-benar tahu cara mengendalikan Aisu.
"Jangan memancingku."
Leo mendelikkan bahu. "Aku hanya bicara fakta, kau tahu?"
Aisu mengepalkan tinju. Dia sudah tak tahan. Emosinya ingin meledak. "Baiklah! Anggap saja aku berbohong pada Mindy! Puas?! Sekarang pergi antar Mindy! Jangan menggangguku!"
"Kau gak mau minta maaf padanya?" Leo menarik satu alisnya ke atas, menatap Aisu remeh. "Kau gak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Mindy?"
Ck, sial! "Kubilang, jangan memancingku!"
"Dan kubilang, aku hanya bicara fakta." Leo bersikap enteng. "Kau tahu?"
"Leo!" geram Aisu.
Leo diam sebentar, mengamati ekspresi marah Aisu. "Putri," katanya kemudian.
"Arrghh! Jangan memanggilku seperti itu!"
"Lalu harus kupanggil apa? Namamu kan, memang Putri."
"Tapi orang-orang memanggilku Aisu dari dulu!"
"Aku juga memanggilmu Putri dari dulu."
"Argghhh!" teriak Aisu frustrasi. Dadanya naik turun. Emosinya betulan sudah memuncak ke atas kepala. Kalau sudah begini, bisa-bisa tangannya bergerak sendiri!
Untungnya, Aisu sadar akan sekelilingnya. Dia baru tahu, kalau orang-orang, lewat sembari memaku tatapan pada dirinya dan Leo.
"Ck! Lakukan saja semaumu!" teriaknya, demi menuntaskan masalah.
"Kau yakin?"
Aisu berbalik. Kali ini langkah kakinya berjarak tiga tapak dari Leo.
"Terserah! Kau bukan urusanku lagi!"
"Berarti aku pernah menjadi urusanmu, ya?"
Aisu diam, memilih cepat pergi menuju lorong lift.
"Putri!" panggil Leo. Namun sayang baginya, karena Aisu sudah lebih dulu masuk ke dalam lorong lift yang berbaris di sebelah jendela besar.
Melihat Leo sudah tak ada dalam pandangannya, Aisu menghela napas berat. Walau begitu, emosinya belum surut, masih menggumpal di kepala. Hanya tinggal disenggol sedikit, pasti Aisu langsung meledak.
Aisu berdiri di depan lift-lift sibuk itu. Dia menunggu, tapi sebagian besar orang sudah masuk dibawa naik oleh seluncuran besi kotak tersebut.
Geram menunggu, Aisu memencet tombol lift berkali-kali, memerintahkan seluncuran itu untuk membawa serta tubuh Aisu naik ke lantai lima.
Drrrtt! Drrrttt!
Di sela menunggu, Aisu merasa ponselnya bergetar, pertanda satu pesan masuk.
Siapa? Grup chat kelompok?
Aisu membuka kunci layar, membaca pesan masuk itu.
Aku akan menurut. Aku akan melakukan semuanya sesukaku. Itu berarti, apa pun yang kulakukan, aku gak perlu menunggu izin darimu, kan?
Kalau gitu, aku akan melakukan segala hal sesukaku, termasuk mengatakan rahasia kita pada Mindy.
Pesan dari Leo membuat wajah Aisu memerah marah. Dia siap meledak. Dia siap berteriak.
Drrttt!
Namun, pesan kembali masuk.
Ah, lupa. Aku kan, gak perlu izin darimu.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat saat Aisu meledak dan berteriak, "BANGS4T!!"
Hampir semua orang di dalam lift menatap Aisu. Kemarahan yang Aisu rasa pun mendadak hilang karena kaget. Tetapi, sungguh bukan itu saja yang membuat jantungnya seolah berhenti.
Di antara orang-orang yang bergerak pergi keluar dari lift, di antara pasang-pasang mata yang meliriknya diam-diam, Aisu membeku dan ciut mendapatkan tatapan dari bapak-bapak keturunan Jepang yang menatapnya datar:
Pak Hiroki.
———
Hanya melongo yang bisa Aisu lakukan untuk menahan rasa malu dan canggung yang dirasanya bersamaan.
Sedangkan Pak Hiroki, tetap memasang wajah tegasnya. Pria itu tidak tampak kaget ataupun marah. Mungkin, karena dia sudah menduga kalau kalimat semacam itu memang sering keluar dari mulut Aisu setiap hari.
Aisu membeku. Betulan tak bergerak sedikit pun. Seluruh otot dan tulangnya mendadak kaku. Bahkan, rasanya, otak maniak desain dan bangunan tua miliknya itu berhenti bekerja untuk beberapa waktu.
Dia berada dalam posisi ambigu. Maksudnya, antara ingin pergi dari sana dan berlagak tak terjadi apa-apa seperti tadi pagi; atau peduli setan dengan melangkah masuk dan mengabaikan apa yang baru saja dia katakan di depan seorang dosen.
Dia perlu untuk segera naik dan menghadiri kelas Fisika! Ada tugas yang mesti dia kumpulkan!
Akan tetapi, muka Aisu tidak setebal itu untuk melakukan hal yang pertama, apalagi yang kedua!
Ayolah. Aisu sudah berteriak kencang-kencang di depan seorang dosen— ralat. Dia itu mengumpat! Pada Pak Hiroki pula! Eh, maksudnya di depan Pak Hiroki, bukan ditujukan untuknya.
Tapi Aisu yakin, rasa-rasanya, Pak Hiroki akan menganggap u*****n level tinggi Aisu itu memang diperuntukkan padanya. Bisa saja, Pak Hiroki berpikir, bahwa Aisu spontan mengumpat ketika melihat pintu lift terbuka, karena tak menyangka dirinya ada di dalamnya. Siapa tahu begitu, kan?
Ah, tapi mana mungkin!
Aisu jadi mendadak menyanggah pikirannya sendiri dengan menumbuhkan dugaan baru; bahwa Pak Hiroki tak mungkin sebodoh itu karena tidak mampu menganalisis apa yang tengah terjadi pada Aisu.
Ayolah! Jelas-jelas Aisu sedang menatap layar ponselnya ketika pintu lift terbuka! Tidak mungkin kalau Pak Hiroki beranggapan, bahwa Aisu mengumpat padanya ketika fokus mahasiswinya itu tertuju pada ponsel, kan?
"Ha! Mana ada dosen set0lol itu?!"
Baiklah. Setelah mendapatkan kontrol tubuhnya kembali, ditambah penghuni lift semakin ramai dan dirinya dilempari tatapan tak suka karena dibuat menunggu, akhirnya Aisu memilih bergabung dalam petak kecil itu bersama Pak Hiroki.
—bersama beberapa orang lain, tentunya.
Habis, mau bagaimana lagi? Posisi Aisu barusan tidak menyenangkan!
Sudah kepergok ngomong kotor, canggung karena tidak bisa kabur seperti tadi pagi, dan tak bisa pergi karena sudah membuat orang lain menunggu pula!
Duh! Simalakama! Berurusan dengan Pak Hiroki sama saja dengan meladeni Leo! Menguras tenaga dan emosi! Padahal Aisu tahu, bahwa itu tindakan sia-sia belaka. Tapi, dia tak mau kalah!
Lagi pula, jika Aisu kabur sekarang dan berpura-pura dia tidak mengumpat, mau ditaruh di mana wajahnya saat menghadiri kelas Pak Hiroki nanti? Di p****t? Tidak bisa. p****t Aisu kan, ada dua. Sedang Aisu tidak punya dua muka!
Dan lagi, mana mungkin dia berbuat tak tahu malu begitu?
Tunggu—
Kenapa pula Pak Hiroki tidak turun di lantai satu tadi? Kenapa dia malah ikut naik lagi? Kenapa dia tidak keluar?!
Pasti… dia menunggu permintaan maaf dari Aisu! Buah pikiran dalam kepalanya itu melahirkan decakan nyaring yang mengisi ruang petak besi. Tapi, Aisu tak peduli. Dia marah!
"Idih! Justru aku masuk lift karena mau minta maaf, kali!"
[]