11. Rasa Tahu Diri dan Secuil Rasa Iri

1514 Kata
Mindy tiba lebih lama dari dugaan. Dia kesulitan membawa nampan berisi dua bakso kuah dan tiga minuman dingin dalam sekali jalan. Yang membuat Aisu dan Leo keheranan dengan kedatangannya, bukanlah waktu estimasi gadis itu tiba. Melainkan, seorang lelaki yang membantu Mindy membawakan makanannya. "Terima kasih, Kak," kata Mindy pada lelaki rapi, wangi, tampan, dan dewasa itu. "Sama-sama, Mindy. Lain kali kalau bertemu lagi, jangan sungkan untuk minta bantuanku, ya." Mindy tersenyum, membalas dengan lambaian ketika lelaki berwajah sejuk itu pamit pergi entah ke mana. Mungkin ke khayangan, kembali dikipas-kipas oleh dayang-dayang. "Siapa?!" Aisu mematut kedua pundak Mindy, memaksanya untuk memberi jawaban sesegera mungkin. "Kakak tutorku," jawab Mindy setengah malu sambil melirik Leo, penasaran dengan reaksinya. Tapi sepertinya percuma saja berharap pada manusia robot itu, karena Leo langsung mengambil mangkuk bakso yang bukan bagiannya, tanpa berminat menanyakan apa-apa. Huft! "Kakak tutor?! Bohong!" Sedang Aisu sudah macam orang kesetanan. Dan untungnya, dia lebih tertarik mengorek informasi tentang lelaki tadi, daripada mengomel pada Leo karena telah melahap bakso miliknya. "A-aku gak bohong, Kak Aisu," sanggah Mindy sedikit gagap. "Bicara yang jujur! Dia siapa?! Dia simpanan kamu, kan?! Kamu sudah punya suami, kan?! Iya, kan?! Mindy!" "Bu-bukan begitu, Kak Aisu!" "Ngawur." Leo menatap Aisu sembari menikmati baksonya. Sementara Leo menguyah dan menelan, Aisu menatap kosong pada Leo. Bisa jadi, Aisu sedang mencerna makna kalimatnya. Dan tatapan Leo itu… seperti sedang mengancam Aisu diam-diam. Apa Leo ingin melanjutkan pertengkaran tadi di depan Mindy? Kalau itu yang Leo inginkan, maka Aisu memilih kalah! Biarlah untuk kali ini saja. Jika Leo mengungkit-ungkit hal yang tak perlu, hal-hal yang Mindy tak tahu, Aisu yakin… Mindy akan berbalik membencinya. Itu tak boleh terjadi! Apa yang Leo bahas barusan cukup hanya menjadi masa lalu yang mengikat Leo dan Aisu. Mindy… tak perlu tahu. Tak boleh tahu! Tak boleh— jangan sampai tahu! "O-oh, kau cemburu, Bung?" Aisu terpatah, tertawa. Sikap hebohnya tadi sudah surut. "Kau pasti sedang cemburu! Pantas saja mukamu cemberut!" Mindy merona. Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Dari sela-selanya, Mindy mengintip Leo yang menatap malas Aisu. "Aku tidak. Wajahku memang begini sejak lahir." "Alah! Gak perlu malu! Aku tahu kau itu cemburu, Bung! Haha! Akhirnya kausadar juga perasaanmu terharap Mindy? Wah, sebentar lagi aku pasti makan enak! Ya kan, Mindy?" "Ah, Kak Aisu," kata Mindy malu-malu. Leo merotasi matanya. "Kau itu kelewat ngawur. Mindy itu masih kecil, mana mungkin sudah punya suami?" Aisu gelagapan. "A-aku kan, hanya menebak! Lagi pula orang tadi kelihatan seperti om-om! Wajar saja kalau aku berpikir begitu, kan?" "Jadi maksudmu, Mindy punya simpanan om-om?" "Bu-bukan!" Aisu menoleh pada Mindy. "A-aku gak bermaksud begitu, Mindy! Aku- aku enggak—" "Iya, Kak Aisu. Aku tahu," kata Mindy dengan senyuman. "Kak Aisu kan, penuh dengan energi dan emosi. Kadang bisa sangat bersemangat sampai mengeluarkan reaksi kegembiraan yang berlebih." Dia tergelak. Aisu dan Leo saling menyimak Mindy. "Tapi, aku gak masalah dengan Kak Aisu yang seperti itu, bahkan kalau sampai keceplosan kalimat-kalimat yang aneh sekali pun. Aku gak masalah. Karena bagiku, berteman dengan Kak Aisu itu menyenangkan. Aku suka dengan Kak Aisu." Aisu menutup mulutnya, lengkap dengan mata yang membulat. "Mindy…." Lantas langsung ditumbuknya tubuh Mindy ke dalam dekapannya. Huh… sudah berapa kali mereka berpelukan hari ini? pikir Leo, bosan. "Aku terharu banget!" "Ah— Kak Aisu, jangan kencang-kencang." Dia menepuk-nepuk punggung Aisu. "Habis aku gemas! Kamu masuk KK-ku saja, ya? Mau, kan? Mau, kan? Mau, ya?" Mindy menggeleng mahfum. Tak ada yang bisa dia lakukan terhadap Aisu, selain memaklumi sifanya. Karena tadi Aisu mendadak memeluknya, wajah Mindy jadi tenggelam. Lalu, demi melancarkan aliran pernapasannya, Mindy meloloskan kepalanya menghadap ke arah lain. "Kak Aisu…." Tapi Aisu tak juga mengendurkan pelukan. "Kak Aisu, aku sesak—" Setengah terkejut, Mindy terdiam membeku ketika maniknya bertemu dengan manik Leo. Jantungnya langsung rewel, macam tak pernah menari. Apalagi, Leo mengunci tatapan padanya, menambah irama dan hawa panas pada pipinya. Mindy lantas menautkan alis saat Leo berbicara tanpa suara, hanya sebatas gerakan bibir. "Apa?" Mindy mengikuti Leo; bicara tanpa suara. "Sesak?" Mindy akhirnya berhasil membaca gerakan bibir Leo. Mindy tersenyum. Dia tak menduga tindakan remeh Leo padanya itu malah membuat rasa senangnya meroket naik. Namun, sesaat ingin membalasnya, suara Mindy lebih dulu diserobot Aisu, "Kenapa?" Aisu melepas pelukan. "Kenapa, Mindy? Tadi kamu mau ngomong apa— lho? Kok, wajahmu merah? Ah, jangan-jangan karena aku terlalu erat peluknya? Maaf, maaf!" "Ah— e-enggak pa-pa, Kak Aisu." Alasannya memang itu, sih. Tapi… ada hal lain yang membuat wajah Mindy jadi merah padam begitu. Leo menghembuskan napas. "Cepat makan dulu. Acara peluk-peluknya disambung nanti. Ada kelas yang menunggu." "Bilang saja kauingin mencoba peluk Mindy." "Ka-Kak Aisu!" "Aku bisa melakukannya nanti, saat kau gak ada." Mindy melotot lucu ke arah Leo. Sedang Aisu bersiul, "Topik pembicaraan ini semakin melenceng saja ke ranah orang dewasa kalau kau yang bicara, Bung. Aku jadi curiga." Mindy semakin memerah. Apa yang dia bayangkan dalam kepala semakin kuat muncul ke permukaan mata. Tetapi, yang bisa dia lakukan hanya membelalak dengan kalimat-kalimat yang tergagap keluar dari mulut." "Buat apa curiga? Aku cuma gak mau kau…." Leo tak menghabiskan kalimatnya. Dia terdiam menatap mangkuk yang telah nihil bakso di depannya. "Apa? Aku apa?" Tak hanya Aisu, Mindy juga penasaran. "Menonton kalian saling pegang-pegang?" "Kak Aisu!" pekik Mindy, berwajah merah "Hahaha. Gak perlu malu, kok, Mindy. Nanti aku tutup mata! Janji!" "Kak Aisu!" Selagi kedua perempuan itu saling berdebat untuk hal sepele, Leo mengatupkan bibir, bersikeras untuk menelan sendiri kalimatnya yang tak selesai itu. "Sudahlah, cepat habiskan saja. Setelah ini aku masih ada kelas." Aisu mendecik, sementara Mindy memperlihatkan wajah kecewa. Tapi dia tetap melahap baksonya, menghabiskannya cepat-cepat, karena tahu bahwa Leo menunggunya. *** "Apa kamu pikir… kalau kamu yang menyatakannya lebih dulu, kita… bisa?" Monalisa berada di ambang pintu kafe yang dibukakan Deka. Karena perempuan manis itu belum melangkah keluar juga, Deka harus menahan gagang pintu agar tubuh eloknya tak lecet sedikit pun. Kita… bisa? Deka tersenyum kecut. Bisa apa? Namun sepertinya, akibat mengantar kepergian Monalisa dan mendengar kalimatnya barusan, lagi-lagi, hati Deka lecet. Ah, mungkin sudah hancur tak berbentuk. Monalisa menatapnya dengan mata yang membuatnya tersesat. Deka hampir saja ikut tergerus dalam ombak itu, jika dia tidak cepat-cepat beralih pada roda-roda kendaraan di jalan raya. "Maaf, aku masih ada jam kerja." Monalisa tersenyum. "Kamu gak berubah, ya? Masih sulit dijangkau." "Kamu sudah mengatakan hal itu tadi." "Oh, ya?" Monalisa menatap Deka, memilih mengobrol di depan pintu, dibanding cepat pergi karena menjadi perhatian pejalan kaki. "Habis, kamu seperti menaruh jarak dariku. Hanya padaku. Deka, kamu benci aku?" tanya Monalisa. Deka menatap Monalisa dalam. "Benci?" "Iya. Dari dulu, setiap bicara denganku, di kelas ataupun saat kerja kelompok, kamu selalu bicara seadanya. Kamu seperti membenciku. Kalau aku pernah berbuat salah, aku minta maaf." Wajahnya tampak mendung. "Aku mana mungkin membencimu, Monalisa. Memangnya, kamu ada salah apa padaku? Enggak ada. Jadi, gak usah minta maaf." "Benarkah?" kata Monalisa antusias. "Berarti, kita akan tetap jadi teman walau sudah menempuh jalan yang berbeda, ya! Jangan sungkan untuk bertukar pesan denganku, Deka. Kalau gitu, aku pamit." Monalisa melangkah pergi. Senyumnya terasa sejuk di siang hari yang panas begini. Dia melambai, mengingatkan Deka kembali untuk datang ke acara bahagianya. Bidadari itu pergi, mungkin kembali ke langit, tempat seharusnya ia berada. Sedangkan Deka, berjalan pundung mengambil bekas gelas kopi si Bidadari dan membawanya ke konter untuk dicuci. Di tengah lamunan yang membawakan percakapan-percakapan dengan Monalisa barusan—yang malah membuat rasa sedih Deka semakin meluap—air mata Deka merayap timbul, menggenang di kelopaknya. "Benci? Itu namanya tahu diri." *** Aisu menjejak satu anak tangga, dia berdiri di depan Mindy dan Leo yang mengantarnya masuk gedung fakultasnya. "Dah, Mindy!" Aisu menyengir. "Nanti sore jangan pulang dulu. Kan, ada pertemuan kelompok. Jangan lupa, ya!" Wajahnya mendadak berubah galak. "Iya, Kak Aisu. Nanti aku kabarin." Mindy melambai. Dia pergi setelah Aisu mengusap pucuk kepalanya; gemas karena Mindy tampak tambah kecil, karena Aisu menjejak anak tangga. Belum dua langkah Mindy pergi, Aisu melotot pada Leo. "Kau betulan b******k, kalau pergi masuk kelas tanpa mengantar Mindy lebih dulu, Bung." Leo menatap Aisu datar. Dia tak gentar pada Aisu. "Eh, gak usah!" Mindy mengibas-ibaskan tangan. "Dekat, kok! Sepuluh langkah lagi juga sampai! Gak perlu, Leo!" Kalimat Mindy malah membuat pelototan Aisu pada Leo semakin tajam. Dan Leo pun tahu, bahwa sebetulnya Aisu tengah sarkas padanya. Apalagi mata yang tampak ingin copot itu. "Ayo. Kuantar." Leo menekan suaranya. Mata datarnya setengah kesal melihat Aisu yang memekik girang. "Hati-hati! Jangan bolos kelas hanya untuk kencan! Awas ya, Mindy!" Setelahnya, Aisu melangkah memasuki gedung, hendak menghadiri kelas siangnya. Mindy memerah. Dia mendadak kikuk dan kaku. Jarak tubuhnya dengan Leo hanya sejengkal, Mindy saja dapat merasakan aura Leo yang jantan dan macho, walau Leo tampak kucel; begitulah penampilan mahasiswa desain kebanyakan. "Ah, tunggu sebentar." Mindy menoleh pada Leo, si sumber suara, tapi laki-laki itu lebih dulu berbalik ke arah gedung. "Ada yang tertinggal," kata Leo menjawab raut wajah penasaran Mindy. "Kalau gitu aku—" "Gak perlu menungguku." Leo berteriak tanpa menatap Mindy. Tubuhnya lurus menuju apa yang dia fokuskan. "O-oh, oke. Sampai ketemu… lagi…?" Leo pergi, meninggalkan Mindy yang hanya bisa menatap punggung itu… dengan secuil rasa iri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN