10. Monalisa

1344 Kata
Ada beberapa alasan mengapa orang yang sedang jatuh cinta sering kali melakukan hal-hal yang sifatnya tidak masuk akal. Pertama, mereka akan memiliki rasa malu yang berlebihan. Karena biasanya, orang yang sedang jatuh cinta itu lebih teliti dalam menilai dirinya sendiri. Mereka akan berubah menjadi komentator, kritikus, penata busana kelas atas, atau apa pun namanya, mereka akan mendadak gengsi terhadap penampilan diri sendiri. Segalanya akan terasa kurang, bahkan sekecil masalah letak posisi poni sekali pun. Atau bisa jadi sebaliknya. Mereka akan luar biasa percaya diri terhadap penampilan mereka. Termasuk akan merasa menjadi orang paling keren sejagat raya. Akibatnya, tindakan tak masuk akal yang mereka lakukan adalah berpatut-patut di depan kaca berjam-jam, senyam-senyum sendiri mengagumi wajah yang takkan bertambah elok kalau hanya dipantulkan saja. Deka, layaknya lelaki remaja seusianya, tentu pernah merasakan jatuh cinta. Karena jatuh cinta adalah perihal menyukai seseorang, pasti kita akan melakukan berbagai cara untuk membuat orang yang kita suka, balik menyukai kita, bukan? Seperti mulai memperhatikan penampilan kita, gaya berpakaian, bahkan sampai mengubah cara berbicara agar menjadi halus ataupun tidak menyinggung rekan bicara. Tetapi, Deka, tak pernah sekali pun dia mengubah penampilannya hanya karena merasa kurang tampan, ataupun berbangga atas ketampanan yang melejit tinggi karena rasa percaya diri yang berlebih. Tak usah menanyakan sisi anehnya. Itu muncul akibat rasa tahu diri yang menguasai tubuh dan pikirannya. Iya, Deka tahu diri. Sekali. Sangat. Lagi pula, bagaimana Deka tidak merasa tahu diri? Gadis berambut panjang dengan one piece pink yang duduk di depannya itu sudah terlampau jelita, jika dibandingkan Deka yang culun dan biasa saja. Jangankan merasa tahu diri, Deka saja rasanya merasa tidak pantas menyukai Monalisa karena perbedaan-perbedaan yang mereka berdua miliki. Seperti langit dan bumi; Monalisa adalah sesosok makhluk yang tinggal di langit, maka tidak pantas untuk Deka, makhluk kerdil yang biasa-biasa saja yang tinggal di bumi. Langit tak pantas turun menyentuh bumi, sampai kapan pun. Rasa tahu diri dan perasaan tak pantas menjalar di seluruh tubuhnya, merayap macam semut merah yang meninggalkan jejak gatal yang ruah. Belum cukup menahan perih dari gatal itu, belum habis semua bekas bentolnya, Monalisa mengguyurnya dengan seember semut api dengan mengatakan, "Hai. Sudah lama gak ketemu, ya? Apa kabar?" Deka menahan belalakan mata. Denyutan pada dadanya tak boleh lari. Iramanya tak boleh semakin cepat. Darah itu tak boleh menyerbu wajahnya! Dia jangan sampai menginginkan lebih! Deka harus tahu diri! "Kok kamu kelihatan lesu? Tadi pagi belum sarapan, ya? Atau, habis dimarahin atasan?" Monalisa melirik konter kafe yang hanya ada Irfan di sana sembari tertawa kecil. Mendapat lambaian dari Irfan, Monalisa mengangguk canggung, serasa lelaki di konter sana dapat mendengar suaranya dari jauh. Deka dan Monalisa duduk berhadapan. Mereka mengisi salah satu meja di dekat jendela, jauh dari konter dan anak tangga agar tak ada rekan kerja yang menguping. Tapi sepertinya, sekecil apa pun suara yang mereka buat, Irfan atau siapa pun tetap dapat mendengarnya. Hei, kalian lupa kalau kopi buatan Dinolatte itu tidak enak? Kafe tempat Deka bekerja itu lebih sepi daripada kuburan! "Oh, aku…." Monalisa menatap ketika Deka mulai membuka suara. Wajah gadis itu penuh seri. Sangat cerah, indah, dan betah untuk dipandangi berlama-lama, tapi Deka memilih memalingkan mata ke arah jendela supaya dadanya baik-baik saja. Lagi pula, kalau suara gedoran itu sampai masuk ke telinga Monalisa, bisa-bisa… terbongkar semuanya. Dan bukankan itu hal yang bahaya? Deka akhirnya dapat berbicara dengan lebih santai ketika matanya menatap trotoar. "Gak ada apa-apa, kok. Bosku baik, kami gak ada masalah. Kamu gimana?" Deka menyerut senyum. "Apa kabar?" "Baik!" Deka melihat kegembiraan pada raut wajah Monalisa, saat gadis jelita itu berseru dengan pipi yang merona. Rasanya memang kehidupannya selalu bahagia, apalagi setelah…. hhhh. "Aku memang gak kuliah, hanya ikut kursus memasak dan fashion untuk hobi. Ya, ada beberapa masalah sih, tapi aku selalu coba untuk berpikir positif dan menerima semuanya. "Tapi semuanya serba menyenangkan! Apalagi karena aku bisa bertemu dengan Gahyaksa— oh! Sebentar!" Sementara Monalisa sibuk mencari sesuatu dalam tas cantiknya, Deka merasa satu koloni semut api berhasil menembus kulitnya, masuk menggigit dagingnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai organ dalam dadanya ikut dikoyak habis. "Ini." Sesuatu datang di atas meja, membuat Deka berjengkit kaget. Dia kira, itu adalah apa yang membuat Monalisa menemuinya. Namun ternyata— "Iced capuccino. Servis dari pemilik kafe." Irfan tersenyum ramah. Mungkin juga berbangga diri, karena kalimatnya terdengar merujuk pada dirinya sendiri. "Mas Irfan!" Deka memanggil dengan suara kecil. "Jangan kasih kopi buatan kafe!" "Oh, terima kasih!" Monalisa memberi senyum manis. "Padahal aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku jadi tidak enak karena diberikan minum gratis. Akan aku bayar!" Monalisa mengeluarkan dompetnya. "Gak usah!" Deka buru-buru mengibaskan tangan, mencegah Monalisa. "Gak perlu dibayar, dan Monalisa, sebaiknya… kamu gak minum es kopinya." "Eh? Kenapa?" Terpancar raut bingung dari wajah jelitanya. "Oh… kamu tidak nyaman?" "Eh, bukan!" Deka menggaruk pipi, melengos setelah melihat ekspresi Monalisa. "Maksudku, karena…," Deka melirik Irfan, "Kopi kafe ini gak enak. Makanya sepi pelanggan. Jadi, sebaiknya kamu gak meminum kopi yang gak enak itu." "Masa, sih?" Monalisa menyedot gelas tinggi berkeringat di depannya. "Ah— jangan diminum!" Tapi Monalisa tidak mengindahkan peringat Deka. Bibirnya sudah menjepit ujung sedotan. Yang bisa Deka lakukan hanya menunggu raut tak nyaman Monalisa akibat mencicip kopi kafe mereka. Namun, kerutan di dahi Monalisa berubah. Dia berseru dengan semringah. "Enak, kok!" "E-eh?" Giliran Deka yang mengernyit. "E-enak?" "Iya, enak!" seru Monalisa semangat. "Rasanya seperti kopi-kopi mahal di franchise kafe luar negeri! Kamu yakin kafe ini sepi pengunjung? Dengan kopi yang enak begini, seharusnya banyak yang singgah kemari, lho." Monalisa melirik ke sekeliling. "Ah, tapi memang furnitur kafe ini perlu ditambahkan lagi biar lebih estetik." Mengabaikan Monalisa, Deka spontan menoleh pada Irfan yang tersenyum ganjil. Dia curiga. Tingkah rekan kerjanya itu semakin aneh. Beberapa saat lalu, Irfan berbicara soal jurang, Si Cahaya, dan melenceng ke topik d4da yang entah milik siapa; membuat Deka berkali-kali mesti mengontrol pikirannya ketika menatap Monalisa. Sekarang, laki-laki itu bisa meracik kopi? Irfan? Sungguh? Si Irfan itu? Karyawan yang hanya mau bagian bersihnya saja? Karyawan yang hanya ingin mengerjakan bagian-bagian yang enak saja? Irfan yang belakangan menjadi aneh itu? Sebentar lagi pasti dunia akan runtuh! "Silakan menikmati." Irfan memberi senyuman seraya pergi. "Tentu. Terima kasih untuk kopinya," balas Monalisa. Ah, tentu dengan senyuman manis miliknya. "Mas Irfan!" Deka masih menginginkan penjelasan. Irfan kemudian menoleh pada Deka, melangkah mendekat, membungkukkan badan, lalu berbisik padanya, "Semua akan baik-baik saja asal kau menjadi egois. Ingat itu." Setelah tersenyum yang malah tampak mirip seringai, Irfan menuju ruang karyawan, meninggalkan konter tanpa satu pun pengawasan. Sedangkan Deka, mengernyit semakin dalam, tak bisa menangkap apa yang sedari awal rekan kerjanya itu maksudkan. "Jadi…." Monalisa menarik atensi Deka. Mata Deka lagi-lagi membelalak; Monalisa menyerahkan sebuah kertas tebal berwarna putih dengan desain manis dan elegan di sekelilingnya pada Deka. "Ini undangan buat kamu. Agak berlebihan sih, aku sampai bikin undangan segala, karena hanya sebatas acara pertunangan dan makan-makan saja. Bahkan hari pernikahannya masih lama." Tuh, kan! Sekarang pasti dunia sudah runtuh! Deka memegang kertas itu. Beberapa lama hanya menatap tulisan "Gahyaksa dan Monalisa" yang ditulis atas bawah dan dengan indah, Deka membacanya dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum. "Selamat, Monalisa." Ucapan Deka hampir terdengar seperti sebuah bisikan. "Terima kasih, Deka." Monalisa tersenyum lebar. Kedua pipinya bersemu merah, sangat bahagia. "Aku harap kamu datang ke acaraku bulan depan, karena teman-teman SMA kita banyak yang akan datang. Anggap saja sebagai reuni dadakan." Monalisa terkekeh. Suaranya merdu dan halus, menggelitik telinga Deka. Deka mengangguk. "Akan aku usahakan." "Gahyaksa juga ingin kamu datang." Deka terdiam menatap Monalisa, dia agak kaget. "Katanya, berkat kamu, dia jadi berani menyatakan perasaan padaku. Dia menyuruhku menyampaikan terima kasihnya padamu; terima kasih, Deka." Monalisa tertawa. Suaranya lucu, tapi kalimatnya bagi Deka sungguh tidak lucu sama sekali. Berkat Deka? Terima kasih? Sungguh tidak lucu! Tapi Deka tersenyum—memaksanya. "Itu bukan apa-apa." "Aku juga berterima kasih sekali padamu, Deka." Deka mengernyit. "Maksudnya?" "Kamu ingat? Satu tahun lalu, waktu kita SMA dan sekelas?" Tentu Deka ingat. Mana mungkin Deka melupakan Monalisa barang sehari pun, bahkan setelah mereka lulus dan berpisah menjejak jalan yang berbeda? "Surat cinta di kolong mejaku, itu kamu, kan pengirimnya?" tanyanya tiba-tiba. "A-apa?" Deka membulatkan mata. "Kamu… suka padaku, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN