Air kolam beriak setiap kali sebuah batu terlempar ke dalamnya. Tak ada ikan yang berani mendekat, padahal awalnya mereka mengira bahwa tuan mereka sedang memberi makan, tetapi rupanya itu bukanlah makanan melainkan batu yang keras. Cukup lama Vizena telah berdiri di pinggir kolam itu sembari melempar bebatuan kecil, akan tetapi tatapan matanya lurus ke depan dan kosong. Seolah-olah meski tubuhnya berada di pinggir kolam, tapi pikirannya telah melayang jauh entah kemana.
Ariah pun memandangi Vizena dengan rasa iba. Dia juga turut menyaksikan bagaimana Gard Meridiam melakukan perbuatan memalukan tempo hari. Seandainya bisa sudah pasti Ariah akan menebas leher Gard dengan sebilah pedang hingga putus. Nyatanya dirinya sendiri malah mematung tak berdaya karena rasa terkejutnya.
Tak lama kemudian, seorang penjaga mendatangi Vizena yang tengah asik tenggelam dalam lamunannya. Dia memberi hormat tapi tak mendapat respon dari Vizena sama sekali sehingga membuatnya cukup bingung.
"Ada apa?" Tanya Ariah.
"Beberapa orang datang untuk menemui Tuan Puteri, mereka berasal dari serikat pengusaha." Balas si Penjaga.
"Oh begitu, baiklah, minta mereka menunggi di ruang tamu. Aku akan memberi tahu Tuan Puteri."
Penjaga itu kemudian pergi untuk menemui orang-orang tersebut. Lalu Ariah kembali memandangi Vizena yang masih melemparkan batu dalam genggamannya. Ia juga penasaran darimana Vizena mendapatkan bebatuan kecil itu.
"Tuan Puteri." Ariah memanggil Vizena dengan suara lirih. Tak ada tanggapan dari Sang Puteri. Tampaknya ia sudah terlalu dalam larut pada lamunannya.
"Tuan Puteri." Kali ini Ariah memanggilnya dengan lebih keras. Masih sama saja, tidak ada tanggapan.
"Tuan Puteri!!" Akhirnya Ariah mengguncang tubuh Puteri Vizena hingga Vizena tersentak dan menjatuhkan semua kerikil yang ada ditangannya. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia menatap Ariah dengan pandangan penuh tanya.
"Ada apa?" Tanya Vizena dengan wajah masam. Ia sedikit kecewa karena angan-angannya terganggu.
"Tuan Moryim dan beberapa dari serikat pengusaha telah datang untuk menemui Anda, Yang Mulia." Jawab Ariah dengan tenang.
"Oh, mereka kemari? Baiklah aku akan bersiap dan menemui mereka. Buatkan kudapan untuk mereka ya."
"Baiklah Tuan Puteri."
°°°°°
Kelabu di kota Beghoria kini memudar dan berubah sedikit lebih cerah, kabut tipis yang menyelimuti kota pun mulai menghilang. Beberapa penduduk sudah mulai bisa beraktifitas kembali. Beberapa veteran perang bawahan Zaviest pun membantu untuk merenovasi kota, setidaknya membersihkan puing-puing yang berasal dari bangunan-bangunan yang roboh akibat terjangan banjir. Beberapa sudah mulai kembali membangun rumah mereka, pertokoan, pasar bahkan tempat belajar.
Dari kejauhan Zaviest mengawasi semua aktifitas kota yang perlahan telah mulai kembali beraktifitas dengan normal. Hatinya menghangat menyaksikan penduduk yang kini bisa menjalankan kegiatan mereka, melihat anak-anak bermain sambil berlarian, orang-orang yang saling bahu membahu untuk membantu.
"Berkat Yang Mulia, semua ini bisa terjadi sekarang." Suara Kepala Dokter Kerajaan mengusik Zaviest.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Itu semua berkat kerja keras kalian." Jawab Zaviest sembari tersenyum samar.
Ia kemudian berbalik untuk beranjak pergi, waktunya kembali ke Ibukota. Ketika Zaviest akan berjalan, seseorang berdiri menghadangnya, seoeang wanita yang cantik, sangat cantik.
"Benar! Aku benar! Anda adalah Yang Mulia Raja kan?" Suara gadis itu cukup kencang, hingga membuat Kepala Negara harus menoleh ke samping kanan dan kiri untuk melihat apakah seseorang mendengarnya atau tidak.
"Kau....." Zaviest ragu-ragu, ia menatap gadis itu lekat-lekat karena merasa wajahnya cukup familiar, seperti ia pernah melihatnya di suatu tempat.
"Saya Yaesha, Yang Mulia!" Katanya dengan suara yang begitu nyaring.
"Ahhh Yaesha." Namun Zaviest masih ragu apakah ia mengingatnya dengan benar atau tidak, ia hanya mengatakannya unthk membuat gadis itu senang saja. Setidaknya gadis bernama Yaesha itu tidak akan bersedih karena Zaviest melupakan namanya.
"Iya, saya adalah Yaesha Puteri Menteri Keuangan." Katanya lagi dengan senyum menawan. Si Dokter tiba-tiba memberikan salam kepada gadis itu setelah mengetahui identitasnya.
"Kau boleh pergi dokter." Kata Zaviest, dan dokter itu segera pergi meninggalkan Zaviest dengan Yaesha.
"Saya tidak menyangka akan melihat Yang Mulia Raja berada disini." Katanya dengan bersemangat.
"Aku juga tidak menyangka." Balas Zaviest dengan senyuman kaku di wajahnya.
"Sangat kebetulan sekali bukan?"
Zaviest hanya manggut-manggut, ia memperhatikan Yaesha untuk sesaat. Hari pertama dirinya ke Beghoria ia tidak melihat gadis itu di mana pun, tapi tiba-tiba ada di sini juga, sepertinya bukan kebetulan.
"Apa yang kau lakukan di tempat yang baru saja terjadi bencana ini?" Selidik Zaviest.
"Aku mendengar Yang Mulia memanggil semua veteran perang untuk bekerja sama membantu kota ini, jadi aku mengumpulkan para pemuda dari Ibukota untuk ikut membantu juga." Jelasnya dengan senyuman diwajahnya.
'memang bukan kebetulan.' Gumam Batin Zaviest.
"Jadi begitu ya, baik sekali. Kalau begitu selamat bekerja keras." Kata Zaviest kemudian ia beranjak untuk pergi.
Gadis itu tak membiarkan Zaviest pergi, dia dengan berani menghadang jalan Zaviest dan membuatnya berhenti sembari mengangkat alisnya. Ia pikir hanya Dranis yang kehilangan akalnya hingga berani menghalangi jalannya. Rupanya ada yang lebih gila lagi.
"Yang Mulia akan kemana? Bolehkah aku ikut."
Sebuah ingatan terlintas dalam benak Zaviest, ia sadar bahwa gadis itu sudah mengajukan pertanyaan yang sama, ini sudah menjadi yang kedua kali.
"Apakah perginya aku ada kaitannya denganmu, Nona Yaesha?" Tanya Zaviest dengan nada datar. Gadis itu menggeleng lemah, tapi tak ada raut kekecawaan dalam wajahnya.
"Tapi tidak bisakah, Yang Mulia membawaku? Aku bisa jadi teman yang menyenangkan."
"Jadi, apakah dalam perjalanan kemari tujuanmu untuk melihatku?" Tanya Zaviest. Wajah Yaesha memerah karena Zaviest bisa melihat niatnya.
"Nona Yaesha, lihat apa yang sekarang ada di hadapanmu sekarang." Zaviest menggeser tubuhnya ke samping untuk menunjukkan betapa kacaunya kota itu sekarang. Wajah Yaesha semakin merah karena ia merasa malu.
"Maaf, maafkan saya, Yang Mulia."
"Sudahlah, aku cukup senang kau bersedia mengumpulkan banyak orang untuk membantu kami, sesampainya di ibukota akan kuberi hadiah." Ujar Zaviest kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Yaesha yang berdiri dengan perasaan bercampur aduk, tak pernah ia merasa dipermalukan seperti ini.
'Bagaimana dia membaca pikiranku.' Gumam benak Yaesha.
°°°°°
Pertemuan dengan serikat pengusaha itu berjalan dengan sangat lancar. Mereka akan segera memulai pelatihan bagi para janda perang minggu depan. Ada beberapa sektor domestik yang akan menjadi fokus pelatihan, khususnya area makanan, pakaian, alas kaki, persenjataan, sekaligus pembukuan keuangan usaha kecil.
Vizena sangat puas dengan pertemuan hari ini. Entah mengapa tempo hari mereka harus menghindarinya dengan tidak datang pada pertemuan pertama. Padahal pekerjaan ini juga akan menguntungkan mereka.
Semburat jingga dilangit membawa kehangatan untuk Vizena, ia memperhatikan langit dengan menumbuhkan harapan. Senyumnya merekah ketika ia melihat ada pergerakan di atas langit jingga. Ia langsung mengetahuinya, itu adalah burung berbulu perak, Feiry.
"Dia pasti merasa bersalah karena selalu pergi tanpa berpamitan." Gumam Vizena, ia segera menjulurkan sikunya yang tertekuk dan Feiry mendarat selamat di sana.
'Kwak! kwak!' Feiry menyundulkan kepalanya pada wajah Vizena.
"Kau rindu padaku ya," ujar Vizena sembari tertawa, dan Feiry terus menyundulkan kepalanya hingga membuat Vizena merasa geli, "hentikan! Hahaha Ya ampun. Iya aku juga merindukanmu!" Vizena mengusap bulu Feiry dan burung itu berhenti menyundulkan kepalanya dan bertengger dengan tenangnya.
"Anak pintar." Puji Vizena dengan sungguh-sungguh.
'Kwak!' Burung itu senang mendengar pujiannya, terlihat matanya menjadi lebih lebar.
"Apa tuanmu mengirim pesan?" Tanya Vizena dengan melihat pada area kaki Feiry. Sepucuk gulungan kecokelatan terikat pada kaki kiri Feiry. Senyum menawan merekah di wajah Vizena.
Gulungan itu di buka oleh Vizena dengan rasa ketidak sabaran. Ia membaca isinya dan hampir meledak karena tawa setelah membacanya.
-Bintang yang aku lihat nanti, tidak akan seindah malam itu- Hanya dua baris itu saja yang tertulis.
"Dia benar-benar teman yang menyedihkan, bukankah begitu Feiry?"
"Apa yang membuat Tuan Puteri Vizena begiti gembira sore ini?" Suara bariton yang begitu dalam itu mengusik Vizena sehingga senyumannya karena menahan tawa itu pun lenyap tak bersisa, seperti tersapu oleh angin kencang.
Gard telah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan datar. Vizena tahu, tatapan itu tak pernah sampai pada matanya, dan tidak lagi berharap.
Satu tangan Vizena terkepal dengan kuat di samping tubuhnya. Apa yang dia dengar kembali terngiang dalam telinganya. Rasanya saat ini ia ingin sekali menggunting daun telinganya dan menyumpal lubangnya agar suara-suara itu tak lagi terdengar.
"Burung yang sangat cantik sekali." Gard mengulurkan tangannya, berniat menyentuh burung yang indah itu, namun Vizena melangkah mundur dan tidak membiarkan Gard menyentuhkan tangannya pada Feiry.
"Untuk apa kemari?" Vizena tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Nada bicaranya sangat tajam seperti sebilah pedang bermata dua.
"Untuk meminta maaf karena tidak anda pada peringatan kematian Permaisuri." Kata Gard setelah meletakkan kembali tangannya.
"Apa itu saja keahlianmu?" Tanya Vizena.
"Hah?" Gard terlihat sangat bingung dengan perkataan Vizena. Keahlian apa maksudnya? Meminta maaf?
"Seharusnya kau meminta maaf padaku karena menerima pernikahan ini." Ujar Vizena, ia tak menunggu balasan dari Gard dan langsung berbalik untuk pergi.
"Mengapa sikap anda menjadi dingin seperti ini pada saya?" Gard menahan lengan Vizena.
Vizena berbalik, dengan mata elangnya itu ia menatap Gard lurus ke matanya, namun Gard membuang pandangannya ke arah lain.
"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" Ucapan Vizena terdengar seperti sebuah tantangan. Mata Gard melebar, lalu pegangannya pada lengan Vizena pun terlepas dengan pelan.
"Apa maksud anda, Yang Mulia." Bukan Gard berpura-pura bodoh, tapi dia hanya memastikannya saja bahwa Vizena mungkin mengetahui hubungannya dengan Eyster.
"Aku mendengar bagaimana suara kakakku yang paling cantik itu ketika ia b******a denganmu kemarin di kamarku, sangat merdu sekali. Jadi kapan aku harus datang ke pernikahan kalian?"
Gard terdiam seribu bahasa, tentu saja Vizena pasti akan segera mengetahuinya tapi tidak dengan cara seperti itu. Rasanya saat ini jika Vizena mempercayai rumor akan menjadi lebih baik daripada menangkap basah dirinya.
"Katakan! Aku akan segera membuat gaun terindahku untuk datang ke pernikahan kalian!"
.
.
.
::Bersambung::