39. The Messenger

1743 Kata
Suara langkah kaki tergesa-gesa menggema di sepanjang koridor teras. Pemiliknya bernafas dengan tersengal-sengal karena harus berlari. Keringat kegelisahan merembes keluar dari pori-porinya yang kecil. 'sebentar lagi' dalam benaknya selalu mengucapkan kalimat itu seperti mantra setiap kali kakinya berhasil maju satu langkah. Di depan pintu kamar Kaisar, ia berhenti. Menatap pintu yang megah itu dari atas hingga ke bawah. Para penjaga menatapnya penuh tanya setelah menyilangkan tombak mereka untuk menghalangi langkahnya masuk ke dalam kamar pribadi kaisar. "Sampaikan pada Kaisar, aku membawa berita dari perbatasan." Katanya setelah berhasil mengendalikan nafasnya sehingga dia mampu untuk berbicara dengan lancar. Kedua penjaga saling memandang, mereka ragu untuk sesaat karena saat ini Kaisar sedang tidak sendirian. Tapi si pembawa pesan itu tak bisa bersabar, tentu saja! Dia sudah berlarian sepanjang gerbang utama istana sampai ke kamar kaisar dan perjalanannya bukanlah pendek. "Aku tak bisa menunggu! Jika terlambat sedikit saja akan fatal akibatnya. Kalian mau bertanggung jawab?" Tanyanya dengan mata melotot garang mengancam para penjaga pintu. "Ada apa di luar? Mengapa ribut-ribut sekali?" Terdengar suara Kaisar dari dalam kamarnya. Para penjaga itu kemudian menarik lagi tombak yang menyilang menghalangi pintu. Si pembawa pesan itu kemudian masuk setelah pintu tersebut di buka. Kaisar tampak begitu agung duduk di tempatnya, tak jauh dari sana puteri semata wayang Kaisar juga begitu anggun duduk menatap si pembawa pesan, ia sedang menilai rupa orang yang membawa pesan. Pria pembawa pesan itu tampak lusuh, pakaiannya kotor, rambutnya berantakan dan wajahnya seperti terbakar matahari, dari baju zirah yang dikenakan olehnya ia tampaknya bukan prajurit biasa, tapi Vizena belum pernah melihat pria itu sebelumnya. "Siapa kau, dan apa tujuanmu?" Suara Kaisar tenang tapi terdengar sangat agung. Pria itu berlutut di hadapan Kaisar dengan keras sampai terdengar bunyi benturan antara lutut dan lantai marmer. Dari tempatnya, Vizena meringis melihat kelakuan pembawa pesan itu. 'itu pasti sakit sekali.' batinnya dalam hati. "Liyan memberikan hormat kepada Yang Mulia Raja." Ujar Liyan si pembawa pesan sembari bersujud. "Bangunlah." Perintah Kaisar. Liyan kemudian berdiri, dia tampak sekali sangat lelah dan berusaha untuk menutupinya. Pasti kabar yang dia bawa memang sangat genting, sehingga dia rela menempuh perjalanan yang jauh dari perbatasan hingga ke kamar Kaisar. "Berita apa yang kau bawa untukku?" Si Pembawa Pesan itu ragu, ia memandangi Vizena karena hanya ingin Kaisar saja yang mengetahui mengenai pesan yang dirinya bawa. Kaisar memahami maksud si pembawa pesan. "Dia adalah Puteriku, Puteri Kerajaan ini, dia membantuku mengurus Luxorth, dia bisa dipercaya." Ucap Kaisar. Liyan kemudian merogoh ke dalam tas lusuh yang dia bawa, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen, tampak seperti sebuah surat. Diserahkanlah surat itu kepada Kaisar. Kaisar memandangi gulungan yang kini sudah ada di tangannya. Menimbang-nimbang apakah harus dibuka sekarang atau tidak sama sekali. Sesaat kemudian ia menyerahkan gulungan itu kepada Vizena. Liyan tampak keheranan, ia ingin memberitahu Kaisar tapi sudah terlambat. Vizena sudah membuka gulungan surat itu dan membacanya. "Apa isinya?" Tanya Kaisar. Vizena menghela nafas, kerutan di dahinya sedikit memudar. Pandangan Vizena kemudian beralih pada Liyan yang menunggu reaksi Vizena. "Surat ini benar di tulis oleh kakakku Jovach?" Tanya Vizena. "Be, benar Yang Mulia." Suara Liyan gemetar, hal itu menarik perhatian dari Kaisar dan juga Vizena. Menimbulkan pertanyaan di benak Vizena, mengapa seseorang yang berkata jujur suaranya bergetar? "Mengapa kau tampak ketakutan? Aku hanya bertanya saja, tenanglah Tuan Liyan." Liyan ingin memutar matanya karena kesal tapi tak mungkin dilakukan kepada keluarga kerajaan, dia tidak sedang ketakutan saat ini, tapi mengalami kelelahan. Bayangkan saja, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama dua minggu, dia melaluinya hanya selama satu minggu tanpa beristirahat. Bahkan kudanya langsung tewas setelah dirinya sampai di ibukota. Saat ini, Liyan hanya ingin beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya. Tapi melihat Tuan Puteri ini, dia merasa sedang dalam interogasi. "Aku tahu kau kelelahan, Tuan Liyan. Aku hanya menggoda sedikit saja." Kata Vizena sembari menyunggingkan senyuman termanisnya pada Liyan. Perasaan Liyan kini semakin campur aduk, rasa gelisah, kesal dan senang karena rupanya Vizena tak semenyeramkan yang dia pikirkan. "Ayah, Kak Jovach menuliskan bahwa terjadi pemberontakan di perbatasan. Belum jelas tuntutan dari pemberontakan itu, tapi yang jelas dia membutuhkan bantuan dari kita." Vizena menjelaskan kepada Kaisar. Braaakkk! Pintu kamar kaisar tiba-tiba saja terbanting dan menimbulkan suara yang sangat keras. Seorang wanita paruh baya dengan gaun berwarna hijau gelap itu menerobos masuk ke dalam. "Yang Mulia! Apakah benar puteraku sedang dalam bahaya?!" Teriaknya, dia tidak peduli bahwa di sana ada Vizena dan juga Liyan. Kaisar memijat pelipisnya yang terasa pening setelah mendengar teriakan dari Nyonya Miriam. Ia hendak memikirkan solusi yang tepat, tapi di waktu yang salah Miriam menerobos masuk ke kamar Kaisar dan berteriak sekencangnya. "Anda harus memulangkan Jovach segera, Yang Mulia!" Nyonya Miriam berteriak lagi dengan sangat kencang. Seperti seorang yang dirasuki oleh makhluk halus, matanya melotot dengan urat-urat yang menyembul keluar dari leher hingga ke dahinya. "Aku!" Katanya sembari menepuk-nepuk d**a dengan keras, "aku sudah membiarkan anda mengirimkan anak malang itu ke perbatasan. Saat ini waktunya anda membiarkannya kembali dengan utuh!!!" Bicaranya sangat cepat. Di tempatnya Vizena terkekeh pelan menyaksikan kegilaan Miriam yang begitu menjadi-jadi. Biasanya wanita itu terlihat cantik, dan anggun dengan riasannya yang mewah. Tapi hari ini, ia begitu tampak kusam dan kacau, rambutnya berantakan dan wajahnya tampak pucat, oh! Bahkan dia lupa tidak mengenakan alas kakinya. Mendengar suara Vizena yang terkekeh perlahan, Miriam menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam mematikan. Vizena lalu menyunggingkan senyuman terindahnya pada wanita itu. Rupanya sikap Vizena menyulut amarah Miriam, dengan cepat ia berjalan ke arah Vizena kemudian meraih kerah gaunnya. "Semua ini karena kau! Karena kau!" Teriaknya. Ia menarik Vizena hingga berdiri, lalu mengguncang tubuh Vizena dengan kencang. Liyan dan Kaisar terkejut, Liyan tidak menyangka akan melihat adegan fenomenal ini, dia bahkan tak pernah membayangkannya. Jangankan membayangkan, memikirkannya saja tidak pernah. Sementara Raja begitu geram dengan sikap Miriam, ia kemudian berteriak memanggil penjaga. "Karena kau anakku harus pergi ke perbatasan! Kau jalang licik! Sama seperti Ibumu!" Miriam terus berteriak sampai akhirnya tangan Miriam menarik topeng yang di pakai oleh Vizena hingga terlepas. Plaaak!! Tamparan keras melayang ke wajah cantik Miriam, tubuhnya seketika menegang dan ia tercengang sembari memegangi pipinya yang memerah. Di hadapannya Vizena menatapnya dengan tajam, matanya menyorot menelanjangi Miriam lalu ia membungkuk untuk memungut topengnya. "Berani sekali kau!" "Penjaga! Bawa dia! Bawa wanita ini pergi dari kamarku! Aku menetapkan dia sebagai tahanan rumah! Dia tidak boleh keluar dari tempat tinggalnya sampai aku mencabut perintahnya." Dua penjaga segera menyeret Miriam pergi dari tempat itu. Tentu saja Miriam sangat terkejut, dia tidak menyangka akan mendapatkan hukuman sebagai balasannya. Dan ia terus meronta ketika penjaga-penjaga itu menyeretnya keluar. "Maaf atas kejadian ini memalukan ini, Tuan Liyan." Ujar Kaisar yang menyadari bahwa Liyan hanya membeku di kursinya sembari menatap ke tempat Vizena sedang berdiri. Bukan tamparan itu yang membuat Liyan mematung di kursinya. Melainkan goresan parut bekas luka di sepanjang wajah kiri Vizena lah yang membuatnya tercengang. Liyan pernah mendengar bahwa Puteri Kaisar mengalami kecelakaan, tapi tak pernah mendengar bahwa lukanya membuat wajahnya terluka. "Tuan Liyan, silahkan anda beristirahat di istana tamu. Puteri akan menunjukkannya pada anda." Ujar Kaisar lagi. "Terimakasih, Yang Mulia." °°°°°° Praaaaankk Sebuah kaca tembaga melayang ke sudut kamar megah milik Eyster, tangannya gemetar setelah melemparnya, dadanya naik turun karena emosi yang memuncak tak bisa lagi ditahan. "Apa yang terjadi?" Tanya Gard. Dirinya baru saja datang setelah pelayan Eyster mendatanginya. Gard melihat ke sudut ruangan, melihat kaca tembaga berserak di lantai, lalu pandangannya kembali pada Eyster yang tak bisa lagi mengontrol dirinya. "Berani-beraninya dia dengan tangan cacatnya menampar ibuku!!" Ujarnya dengan gigi yang gemertak. "Siapa yang kau maksud?" Gard mendekati Eyster, ia menyentuh bahu Eyster, berusaha menenangkannya. "Duduklah, tenangkan dirimu." Katanya dengan lembut, ia menuntun Eyster ke tempat duduk yang terletak tak jauh dari tempat keduanya berdiri. "Apa yang sebenarnya terjadi?" "Jalang itu, dia menampar ibuku." Balas Eyster dengan ketus. "Siapa?" "Isterimu." Jantung Gard terasa seperti diremas. Tak pernah ia merasakan hal semacam ini, mendengar Vizena disebut dengan kata 'jalang' cukup mempengaruhinya. Rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang tidak setuju jika Vizena mendapatkan sebutan itu. Lagipula itu kata yang tidak pantas diucapkan pada seorang Puteri Kerajaan. "Bagaimana mungkin Vizena melakukan hal itu?" Sulit bagi Gard untuk mempercayainya. Dia telah bersama dengan Vizena hampir dua tahun, dia mengenal sifat Vizena. Gadis itu sangat berjiwa bebas, tidak suka berdiam diri di satu tempat, sangat manja terhadap ayah dan kakaknya, begitu kekanakkan, dari semua sifat buruk di dunia ini hanya satu yang tak akan mudah dipercayai oleh Gard, yaitu Vizena menyakiti seseorang. Itu mustahil. "Kau tidak mempercayainya?" Eyster menatap Gard dengan heran. "Bukan, bukan seperti itu maksudku." Gard menenangkan Eyster, jika tidak bisa jadi ia akan berakhir menjadi pelampiasan emosinya. Eyster tidak menjawab, ia hanya menunduk sembari memandangi kepalan tangannya. "Aku akan membalasnya! Aku akan membuat hidupnya menderita!!" Sumpahnya. "Untuk saat ini, sebaiknya kau tenanglah." Gard mengusap lembut rambut Eyster, namun pikirannya jauh melayang memikirkan Vizena. "Gard." Panggil Eyster. "Ya?" "Lakukanlah untukku." Ujar Eyter, ia menatap Gard dengan pandangan memohon. "Apa yang harus aku lakukan untukmu?" Tanya Gard. "Balaskan dendam untukku. Aku ingin dia merasakan sakitnya tamparan yang dia berikan kepada ibuku." Usapan tangan Gard di punggung Eyster pun terhenti. Dia tidak percaya bahwa Eyster akan mengatakan hal yang sama kepadanya setelah empat tahun berlalu. "Gard." Eyster kembali memanggil Gard yang hampir kehilangan realitasnya dan tenggelam dalam lamunan semunya. "Iya?" "Bagaimana? Kau bersedia kan?" Gard menatap Eyster lekat-lekat, memang bukan pertama kali bagi Gard untuk memandangi Eyster dengan intens seperti ini. Akan tetapi gejolak yang membara di mata Eyster baru ia lihat kali ini. Dulu apapun yang Eyster minta maka Gard akan mengabulkannya, apapun itu. Tapi saat ini, entah kenapa keraguan mendatangi hati Gard dan mencengkramnya dengan sangat kuat. Ia tak tahu apakah ia mampu mengabulkan semua permintaan Eyster atau malah sebaliknya. "Apa yang harus aku lakukan kali ini?" Tanya Gard dengan nada yang lirih. Penyesalan pun segera menghampiri dirinya, lalu rasa takut tiba-tiba mencuat dari dalam peti hatinya. Eyster tersenyum penuh arti. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Gard, membisikkan sesuatu ke telinganya lalu kembali duduk. Tubuh Gard memaku, ia sungguh tercengang mendengarnya. Kini hatinya dilanda dilema yang sangat besar. Dia tak tahu akankan bisa mengahadapi kegundahannya kali ini dan memutuskan apa yang akan dia lakukan. "Aku....." Gard begiti ragu, ketakutan jelas tergambar di wajah tampannya. "Apa Gard? Tidak ingin melakukannya?" Tiba-tiba saja Gard berdiri, di tempatnya Eyster hanya terkekeh pelan melihag reaksi Gard seperti ini. Tidak menyangka! "Aku, aku akan memikirkannya. Setelah itu akan aku beritahu apa keputusanku." Ujarnya lalu beranjak pergi dari kamar Eyster. 'Dia gila!' Kata Gard dalam hatinya. "Tidak, aku yang gila." Gumamnya. . . . ::Bersambung::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN