53. The Dark Truth

1483 Kata
Bulan yang bertengger di atas langit kelam Luxorth begitu indah, di sampingnya beberapa bintang ikut menemani cantiknya sang rembulan. Di teras paviliunnya, Vizena mendongak menikmati pancaran sinar bulan yang menerpa wajahnya. Ia mendongakkan wajahnya, menutup kedua kelopak matanya, untuk menikmati semua itu.  "Bagaimana perasan anda saat ini?" Tanya Zaviest yang berdiri sedari tadi disamping Vizena menemaninya menikmati cahaya bulan. Vizena menoleh ke arah Zaviest, ia menarik sedikit bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang samar. Tatapan mata lembayungnya memandangi mata emas Zaviest dengan begitu sayu.  "Haruskah aku merasa senang dengan semua ini, atau aku harus merasa sedih?" Ujar Vizena berbalik tanya dengan nada yang rendah.  Cahaya rembulan yang menyinari wajah Vizena membuatnya terlihat begitu indah di mata Zaviest, tapi semua itu tak bisa menutupi gejolak ragam emosi yang terpancar dari mata Sang Puteri. Zaviest mengulurkan tangannya, meraih bahu Vizena dan menarik tubuh rapuh itu ke dalam dekapan hangatnya. Satu tangannya yang lain mengusap lembut punggung Vizena untuk menyalurkan kehangatan. "Anda melakukan hal yang hebat, anda sangat hebat." Bisik Zaviest. Gedebukk Suara keras terdengar, sehingga secara spontan Zaviest melepaskan pelukannya pasa Vizena. Keduanya segera menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh dari mereka, terlihat seseorang yang sedang bangkit dengan sebuah tongkat. Mereka segera menghampiri orang tersebut, saat mengetahui bahwa orang itu adalah Gard, segera saja Zaviest membalikkan tubuhnya.  "Tuan Gard, apa yang kau lakukan disini! Malam ini adalah malam pernikahanmu. Besok kau akan segera di eksekusi!l Ujar Vizena dengan nada tinggi.  Menggunakan tongkatnya Gard berusaha untuk berdiri dengan tegak. Setelah duel tempo hari, kaki Gard terluka sangat parah akibat tebasa pedang dari Vizena yang mengenai tepat di atas tumitnya. Mungkin seumur hidupnya dia harus berjalan dengan tongkatnya.  "Saya ingin menemui anda." Ujar Gard. Dia menyadari ada orang lain selain dia dan Vizena. Ia memperhatikan postur tubuh orang itu, tapi tak bisa melihat bagaimana wajahnya, "rupanya rumor itu benar." "Apa maksudmu?! Kau kemari hanya untuk mengungkit rumor?" Bentak Vizena. "Bukan...." Desah Gard. Terlihat pria itu begitu kelelahan. Vizena bisa menebak bahwa Gard diam-diam pergi dari pernikahannya, dengan kaki terluka belum lagi harus menghindari para penjaga dan naik ke tembok yang ada di belakangnya itu. "Baiklah, mengapa kau kemari?" "Maafkan aku." Suara Gard begitu lemah, meski begitu ia bergerak untuk mendekati Vizena.  "....." Tak ada jawaban dari Vizena, dia sendiri merasa sangat janggal jika Gard meminta maaf saat ini. Apa karena dia akan di eksekusi? Atau ini akan menjadi salah satu cara Gard agar terbebas dari hukuman mati yang akan segera dilaksanakan esok hari.  Suara kaki terseret dan suara tongkat yang digunakan oleh Gard cukup mengusik Zaviest. Dirinya menatap Vizena dengan waspada, sesaat kemudian ketika tubuh Vizena bereaksi, seketika Zaviest berbalik. Tepat saat tangan Gard terulur akan menyentuh wajah Vizena. Tangan Zaviest menahan tangan Gard sedikit mencengkram. Tatapan kedua pria itu pun akhirnya bertemu, mata Gard melebar saat melihat sosok Zaviest berdiri dengan gagahnya di depan Vizena seolah sedang melindungi. "Jauhkan tangan kotormu darinya!" Ujar Zaviest dengan suara menggeram, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.  Tatapan mata Gard berpindah dari Zaviest ke Vizena secara bergantian. Ia kemudian menarik tangannya lagi.  "Aku hanya ingin meminta maaf. Tidak seharusnya aku menjadi suamimu." Ujar Gard. "Kau memang bukan suamiku." Kata Vizena sembari menyodorkan tangannya yang sedari tadi memegang selembar kertas berwarna merah.  "Ini adalah pembatalan pernikahan, aku sudah mengajukannya sejak lama. Kau sudah bukan suamiku sejak saat itu." Kata Vizena dengan tegas tanpa ada penyesalan atau keraguan di dalamnya.  Gard menatap selembae kertas tersebut dengan tatapan nanar. Dia tak percaya bahwa Vizena terpikir untuk melakukan pembatalan pernikahan.  Tangan Vizena melepaskan selembar kertas tersebut, lalu ia membalikkan badannya beranjak untuk pergi. Saat itu, Gard ikut beranjak untuk menyusul Vizena, tapi Zaviest menghadang jalannya. "Puteri.. Vizena dengarkan aku." "Tidak ada yang perlu kau katakan lagi padanya." Desis Zaviest yang menghalangi langkah Gard.  Mata sang jenderal yang dulu begitu tajam dan berbinar kini hanya di balut air mata dan cahaya yang meredup. Dia hanya terpekur memandangi kertas yang terjatuh di tanah.  °°°°° Langkah gontai Gard begitu pelan ketika ia memasuki kamar pengantinnya yang di hias seadanya itu. Dia menatap seluruh ruangan lalu menghela nafasnya. Sebenarnya apa tujuan Kaisar dengan membuatnya menikahi Eyster sementara dia akan segera di eksekusi setelah pernikahan ini. Sekali lagi Gard menghela nafasnya, lalu berjalan memasuki kamar pengantinnya. "Darimana saja kau, aku menunggu semalaman." Suara itu begitu tidak asing bagi Gard. Dia menegakkan kepalanya dan melihat Eyster berdiri tak jauh darinya masih menggunakan pakaian pengantin. Sesaat Gard teringat akan kenangannya bersama Vizena. Saat malam pengantin mereka, dia sama sekali tidak datang kepada Vizena dan membuat gadis itu menunggu sepanjang waktu. Gadis itu sangat marah keesokan harinya, dan di hari itu ia melihat bekas luka di tubuh Vizena.  Pemandangan kala itu sangat menohok hati Gard. Penyesalan datang kepadanya seperti sebuah batu raksasa menghantam dirinya dan membuatnya tak berdaya. Saat itu juga dia ingin sekali berlutut di hadapan Vizena dan memohon pengampunannya. Namun, sisi hatinya yang lain menolak gagasan itu.  "Apa yang kau pikirkan?" "Vizena." Gard menjawab tanpa sadar. Jawaban itu memancing emosi Eyster yang sudah di tahan sejak tadi.  "Apa kau baru menemuinya?" Tanya Eyster dengan bersungut marah. Seketika itu Gard terkesiap hingga membuyarkan lamunannya. Dia memandangi Eyster yang menatapnya dengan tajam. "Mengapa kau menemuinya?!" "Siapa, siapa yang aku temui?" "Vizena! Jalang itu!" Hardik Eyster, "kau harusnya menyadarkan dirimu! Karena dia kau jadi seperti ini, lihat kakimu itu! Bukankah dia yang melukaimu!" Gard menghela nafasnya, ia menunduk dan memandangi kakinya secara seksama. Kakinya memang terluka dan kemungkinan akan tetap seperti ini dan tak bisa kembali normal. Tapi apa yang terjadi padanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang dialami oleh Vizena. "Ini hanya luka kecil daripada apa yang sudah aku lakukan padanya." "Apa? Kau juga menderita!! Apa yang kau lakukan hanya untuk membalaskan dendam! Ingatlah bagaimana Kaisar menjebak ayahmu!" Gard kembali teringat, saat itu dirinya masih berusia tujuh tahun. Suatu hari, dimana seharusnya dirinya merasakan kegembiraan karena festival yang diselenggarakan di Luxorth. Namun, malam itu adalah dimana mimpi buruknya dimulai.  Ayahnya ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Dunia Gard rasanya hancur berkeping, ayah yang selalu menjadi sandaran hidupnya dan menjadi panutannya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.  Tidak hanya itu, kemalangan Gard terus berlanjut karena ibunya juga tewas diracun. Sungguh kematian yang sangat tragis dan tak disangka oleh semua orang. Karena mendiang Ibu Gard merupakan wanita baik yang ceria dan selalu berpikir positif. Kabar miring pun tersanter hingga ke seluruh kerajaan Luxorth. Kabar yang kini tidak boleh disebutkan oleh siapapun yang hidup di Luxorth. Rumor itu mengatakan bahwa kematian ayah Gard ada hubungannya dengan Yang Mulia Kaisar, hal itu menjelaskan bahwa Kaisar mencintai Nyonya Besar Meridiam, dengan segala cara ingin memilikinya, kabar itu juga menyebutkan Kaisar melakukan pemaksaan terhadap Nyonya Besae Meridiam sehingga membuat keretakan rumah tangganya hingga berujung pada kematian Tuan dan Nyonya Besar Meridiam. Gard hidup dengan pamannya dan tumbuh dengan dipupuk oleh dendam. Sehingga hidupnya hanya memiliki tujuan untuk membalas dendam terhadap orang yang telah membuat keluarganya menderita, yaitu Kaisar Mouszac. "Tapi Vizena tak bersalah, dia bahkan belum lahir saat itu." Balas Gard dengan suara lirih. "Pembalasan yang paling kejam adalah dengan membuat dia melihat penderitaan dari orang yang dia cintai." Perasaan bersalah itu kembali menggelayuti nurani Gard. Selama ini dia selalu berpikir apakah benar yang telah diperbuatnya ini. Ia kembali teringat pada kejadian empat tahun lalu.  Saat itu pasar kota sedang mengadakan festival dan sebentar lagi akan dinyalakan kembang api sebagai puncak festival. Saat itulah Gard melihat Vizena untuk pertama kalinya.  Seorang gadis yang sangat cantik, dengan rambut sehitam malam, kulit yang begitu putih seperti salju, hidung yang mancung, bibirnya yang merona merah dan semakin cantik saat tersenyum, mata yang berbinar cerah penuh keceriaan, serta uniknya manik sewarna lembayung itu berhasil memerangkap Gard kedalam indahnya paras sang gadis.  Tapi keindahan itupun seketika lenyap saat tangan Gard menyentuhnya. Karena dia bersama dengan beberapa orang menculik Vizena. Sangat membekas ingatannya ketika Vizena merintih memohon ampun saat Eyster memukulnya dengan sembarangan. Darah yang mengucur dari wajah dan tangannya yang terkulai lemas karena hancur setelah mendapatkan banyak pukulan. Ia pun masih ingat bagaimana kobaran api yang dia sulut membakar pondok tempatnya menculik Vizena. Saat itu, dia berpikir mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan Vizena. Nyatanya, gadis itu selamat bahkan menjadi Isterinya, dan dia harus melihat bagaimana orang yang dia siksa malah terlihat mencintainya dengan begitu dalam. Hal itu membuat Gard seakan hidup dalam neraka.  "Katakan padaku, apa kau tidak mencintainya?" Ujar Eyster "Itu tidak penting sekarang! Besok aku akan segera mati!" "Ya! Kau mencintainya, aku sudah menduganya. Haha!" Eyster tertawa dengan sumbang. "Bahkan di saat kau sudah menjadi suamiku, kau tidak bisa menyingkirkan jalang itu!" "Ya! Aku memang mencintainya!!" Suara Gard meninggi, ia tampak sangat frustasi telah terjebak pada perasaan semu yang tak pernah bisa dia ungkapkan bahkan sampai kematian akan menjemputnya. "Aku mencintainya sampai dadaku terasa begitu sesak! Aku mencintainya sampai aku rela jika aku harus kehilangan seluruh hidupku! Aku...." Tanpa sadar Gard meneteskan airmatanya. Dia kemudian menatap Eyster yang tertegun mendengar semua pengakuannya itu. "Maafkan aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN