52. Death Sentence

1513 Kata
"Aku menuntut keadilan untuk anakku!" Suara Eyster bergema di seluruh penjuru sudut ruang pengadilan. Tak seorangpun yang duduk diam kecualinVizena, mereka menjadi berisik karena bertanya-tanya bagaimana seorang gadis yang belum menikah memiliki anak. Bahkan terlihat Gard juga sangat terkejut dengan pengakuan Eyster itu. Matanya melebar ketika menatap Eyster, hampir terlihat tidak percaya jika Eyster akan mengatakan hal semacam itu di hadapan semua orang.  "Anak? Anak siapa yang kau maksud?" Kaisar terpancing emosinya, tapi ia berusaha untuk menutupi amarahnya. Hanya diam di singgasananya dengan tangan mencengkram sandaran lengannya.  Derai tangis Eyster pecah, tubuhnya bergetar karena tangisnya. Dia menangkupkan kedua tangan di depan d**a, dan memohon kepada Kaisar. "Anak yang aku kandung, anak ini adalah Anak Tuan Gard." Sebuah halilintar seolah menyambar ruang pengadilan itu, tidak ada hal yang lebih mengejutkan daripada ucapan Eyster tersebut.  "Berani-beraninya kau mengatakan hal menjijikkan seperti itu!! Gard adalah suami dari Puteri Vizena!" Hardik Theriaz sembari menunjuk Eyster dengan jari telunjuknya.  Pandangan mata Gard beralih dari Eyster kepada Vizena yang duduk begitu tenang di samping Kaisar. Ada kecemasan dalam tatapan Gard, dia begitu khawatir dengan reaksi Vizena. Akan tetapi, kekhawatirannya itu sia-sia saja. Karena Vizena tampak begitu tenang, bahkan sama sekali tak terlihat dia terkejut dengan berita ini.  "Kenapa Perdana Menteri? Kenapa jika aku yang melakukannya hal itu menjadi menjijikkan? Lalu bagaimana dengan Puteri yang kau agung-agungkan itu? Dia juga menyembunyikan pria simpanan dalam kamarnya!" Terang Eyster dengan suara keras. Seluruh ruangan kembali di buat bergemuruh karena ucapan Eyster.  "Jaga ucapanmu!" Bentak Kaisar yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Eyster yang merusak pengadilan. "Mengapa tidak tanyakan pada Tuan Puteri Yang Agung itu? Aku memiliki saksi!" "Kau!" "Ayahanda, tenanglah. Dia hanya berbicara omong kosong." Bisik Vizena untuk menenangkan ayahnya. "Tuan Agung. Bisa lanjutkan persidangannya?" Pinta Vizena dengan suara yang lembut. "Tidak! Aku tidak terima jika hanya Gard saja yang diadili! Aku ingin w***********g itu juga diadili!! Wanita tidak bermoral itu tidak pantas menyandang gelar Puteri!" "Eyster! Jaga mulutmu!" Geram Gard yang berlutut di sampingnya.  "Mengapa? Kau juga mengetahuinya kan? Dia tidak sepenuhnya setia kepadamu!"  "Tuan Agung, perintahkan penyelidik untuk menginvestigasi kebenarannya. Kau bisa membawa saksi dari nona Eyster untuk bersaksi di hadapan semua orang, dan menggeledah kamarku." Ujar Vizena, semua orang tampaknya juga terkejut dengan keputusan Vizena.  "Selain itu, aku memiliki tuntutan yang lainnya. Selidiki kematian Ariah, semua orang mengatakan Ariah telah ditangkap oleh Tuan Gard tanpa alasan yang pasti, dia disiksa dan di bunuh tanpa penyelidikan yang sah. Sementara investigasi berlanjut, tangguhkan persidangan ini hingga besok pagi." Mendengar Vizena mengatakan hal tersebut, Eyster tampak keheranan dan tak percaya. Tangannya yang mengepal di atas pahanya gemetar, dia tidak menyangka bahwa Vizena akan mengungkit perkara ini di depan semua orang.  Setelah menangguhkan pengadilan tersebut, para penjaga menyereg Gard dan juga Jovach untuk di bawa ke penjara bawah tanah tempat dimana biasanya penjahat dengan kejahatan yang sangat fatal berada. Sementara Hakim Agung juga memutuskan untuk mengirimkan penyelidik untuk menyelidiki kasus Vizena dan kematian Ariah.  Setelah keputusan Hakim Agung diumumkan, Vizena menggandengan lengan Kaisar lalu meninggalkan ruang pengadilan dan mengantar Kaisar kembali ke kamarnya. * Kaki Vizena serasa begitu lemas, tubuhnya terhuyung hendak roboh tepat ketika ia memasuki kamarnya. Untungnya sepasang tangan besar menangkup kedua bahunya sehingga Vizena tak jadi roboh ke lantai tapi berada dalam dekapan Zaviest. Sepanjang persidangan Vizena menahan emosinya. Terlebih ketika Eyster masuk ke ruang pengadilan dan merusak keadaan.  Dia sudah mengetahui hubungan gelap Eyster dengan Gard, tapi mengungkapnya di depan umum membuat Vizena merasa sangat dipermalukan. Vizena masih ingat bagaimana reaksi semua orang ketika mendengar bahwa Eyster telah mengandung anak Gard.  "Puteri....." Suara Zaviest membelai telinga Vizena. Aroma sandalwood dari tubuh Zaviest begitu menenangkan, hingga tak sadar emosi Vizena yang hampir meledak itu perlahan-lahan kembali tenang. "Keserakahan sudah membutakan hati mereka." Gumam Vizena, dia kemudian memberikan jarak dengan Zaviest, "maafkan aku, kau harus menyaksikan semua hal memalukan itu." Ujar Vizena sembari beranjak menuju ranjangnya. Zaviest menghela nafasnya, hatinya merasa sedih untuk Vizena yang berusaha tegar. Ingin sekali rasanya Zaviest menghibur Vizena, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dia tahu, Vizena sangat hancur karena dipermalukan di depan umum seperti itu. Semua orang kini mulai mempertanyakan Vizena dan reputasi keluarga kerajaan. "Tidak seharusnya anda menahannya, anda juga hanya seorang manusia biasa." Ujar Zaviest mencoba memberikan Vizena ketenangan hati.  "Aku tahu, hanya saja saat ini aku harus memainkan peranku dengan baik. Dengan begitu, aku akan memenangkan pertempuran ini." Ujar Vizena.  "Yang Mulia!" Suara Rasheq menginterupsi. Pemuda itu berada di ambang pintu dengan nafas yang terengah-engah.  "Ada apa?" Tanya Vizena.  "Penyelidik dari Pengadilan sedang menuju kemari. Mohon anda bersiap." Kata Rasheq.  "Bagaimana dengan Ariah?" Tanya Vizena. "Ariah sudah di pindahkan ke tempat yang aman, tapi....." Rasheq menatap sosok Zaviest yang berdiri di samping Vizena.  "Tenang, aku akan segera bersembunyi." Zaviest sungguh mengerti maksud Rasheq karena dirinya juga terlibat dalam rencana ini.  "Tuan Dranis, aku sangat berterimakasih padamu." Ujar Vizena dengan sungguh-sungguh.  Zaviest menghela nafasnya melihat kepala Vizena tertunduk seperti saat ini, seolah-olah ia adalah orang yang paling bersalah di dunia ini dan sedang tertangkap basah melakukan kesalahan. Jemari Zaviest terulur menyentuh dagu Vizena lalu mengangkatnya sedikit sehingga wajah Vizena kini menghadap pada Zaviest. "Tegakkan kepala anda Puteri! Tunjukkan bahwa Anda adalah Puteri Kerajaan Luxorth yang terhormat!" Ujar Zaviest dengan suara yang lembut. Setelahnya ia tiba-tiba saja menghilang, dan hanya meninggalkan bekas portal berwarna kekuningan yang kemudian lenyap. Garis bibir Vizena melengkung melihat cara Zaviest pergi. Yah, begitulah dia selalu pergi dan datang dengan sesuka hati sekaligus dengan cara yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh orang lain. °°°°° "Kemana kalian akan pergi?" Suara Vizena tak selembut biasanya. Kali ini cukup serak dan tegas. Ia menelengkan kepalanya, menoleh untuk menatap empat orang yang akan keluar dari penjara bawah tanah.  Dihadapan Vizena, ada beberapa orang yang kini menatapnya dengan mata yang melebar, Eyster, Jovach, Louth dan Gard Meridiam. Mereka telah tertangkap basah oleh Vizena hendak melarikan diri.  "Tuan Louth, mengapa anda repot-repot sekali berjalan menuju kematian anda sendiri?" Tanya Vizena.  Louth melepaskan Jovach yang dia bopong untuk keluar dari penjara bawah tanah, lalu menarik pedangnya dan dia acungkan pedang itu tepat di wajah Vizena.  Suara tawa Vizena begitu nyaring dan menggema di penjara bawah tanah itu. Tubuh kecilnya gemetat hebat karena tawanya yang keras. Perilakunya membuat orang-orang yang ada di depannya menjadi heran.  "Tidak perlu mengeluarkan senjata, apa anda tidak mendengar bahwa Keponakan anda yang sangat kuat itu di kalahkan olehku?"  "Kurang ajar!!" Louth tidak lagi ragu-ragu, dia melangkah cepat kemudian mengayunkan pedang itu ke arah Vizena. Tak Kreteeeekk kreteeek pyaarrr Pedang yang digunakan oleh Louth hancur berkeping-keping saat pedang itu menyentuh pedang kecil milik Vizena. Semua orang terheran dengan kemampuan Vizena terlebih lagi dengan senjata yang dia gunakan. Seolah-olah gadis itu bukanlah Vizena yang mereka kenal, Vizena benar-benar menjadi orang yang baru. Penuh keberanian, semangat, amarah dan dendam. "Sudah kubilang jangan membuang waktumu." Tiba-tiba saja gemuruh langkah kaki terdengar mendekat, beberapa orang masuk dan mereka langsung mengelilingi empat orang yang hampir kabur tersebut.  "Bawa mereka ke ruang pengadilan sekarang juga!" Perintah Vizena.  Sesuai dengan perintah Vizena ke empat orang tersebut kemudian di ringkus dan di bawa ke ruang pengadilan. Rupanya di tempat itu susah menunggu beberapa orang termasuk Hakim Agung dan Perdana Menteri.  "Kau menjebakku! Gadis jalang!" Desis Louth Meridiam. "Tidak, aku tidak menjebakmu, kau hanya terlalu gegabah dan serakah." Ujar Vizena dengan tenang, lalu ia berjalan menuju tempat duduknya. Empat orang tersebut berlutut di tengah ruangan. Sesekali Eyster berusha melepaskan ikatan di tangannya namun tak bisa karena ikatan tersebut sangat kuat. "Tuan Hakim, silahkan anda memulai persidangan ini." Vizena mempersilahkan. "Tunggu! Dimana Kaisar?!" Tanya Louth. "Seorang Kriminal tak memiliki hak untuk bicara dalam persidangan. Hanya Bukti dan Fakta." Sela Tuan Hakim Agung. "Cuih!" Louth meludah. "Kau hanya akan mengadili kami? Bukan Vizena?" "Nona Eyster dinyatakan bersalah dengan kejahatan, menyebarkan berita palsu dan juga menghina keluarga kerajaan, selain itu dia telah membantu pemberontak untuk kabur dari tahanan. Dengan ini, maka namanya akan di coret dalam silsilah keluarga kerajaan Luxorth dan sejarah Luxorth, semua hak yang sudah diberikan kepadanya akan ditarik kembali dan sebagai hukumannya dia akan di asingkan ke pulau pengasingan. Namun, Yang Mulia Kaisar telah berbaik hati, dengan mempertimbangkan kesehatan Nona Eyster yang sedang mengandung, memberikan kelonggaran untuk mengadakan pernikahannya dengan Tuan Gard Meridiam." Terang Hakim Agung dengan penuh wibawa. "Aku tidak bersalah! Gadis itu dia sungguh-sungguh menyimpan seorang pria di dalam kamarnya!!" Teriak Eyster. "Berdasarkan keterangan saksi yang diajukan oleh Nona Eyster, menyatakan bahwa mereka hanya mendapatkan perintah dari anda untuk menjebak Yang Mulia Puteri Vizena." Balas Hakim Agung. "Mustahil, ini sangat mustahil!!" "Selanjutnya Tuan Jovach, mengingat bahwa anda adalah putera Yang Mulia Kaisar, akan tetapi berani melakukan penghianatan dan pemberontakan ini, maka dengan ini anda tidak lagi dianggap memiliki hubungan dengan Luxorth, identitas anda akan di hapus, dan anda dibuang dari Luxorth." Lalu Tuan Louth Meridiam di jatuhi hukuman 200 kali cambuk, lencana kementeriannya ditarik, semua hartanya di sita dan di penjara dalam penjara bawah tanah seumur hidupnya.  Sementara itu, Kaisar telah memberikan pesan kepada Hakim Agung dan dirinya sendirilah yang memberikan hukuman untuk Gard Meridiam. "Tuan Gard Meridiam akan di hukum mati setelah melaksanakan pernikahannya dengan Eyster." Begitulah yang dibacakan oleh Hakim Agung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN