67. Too Late

1345 Kata

Angin berhembus perlahan, menerbangkan rambut Vizena yang panjang terjuntai dan rambut sang kuda putih. Vizena menyikat pelan surai-surai kudanya yang memanjang, kemudian mengusap perlahan leher kuda itu, sembari membisikkan sesuatu pada sang kuda, "Kau harus menemaniku sampai akhir, kita akan bertarung bersama." Tak lama kemudian, datang Perdana Menteri. Wajahnya tak bersahabat dan penuh kerutan di dahinya, sebagai kakek, Theriaz tak akan pernah mengijinkan satu-satunya cucu yang ia miliki melangkahkan kakinya ke medan perang. Akan tetapi, berhadapan dengan Vizena tak hanya cukup jika berperan sebagai seorang kakek. Saat ini, Vizena membutuhkan dukungannya sebagai seorang perdana menteri. Tangan Theriaz terjulur ke depan, ia membawa sebuah kotak persegi panjang yang tidak begitu lebar.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN