Boyong

1436 Kata
Semilir angin malam menerpa sebuah wajah berparas manis yang tengah duduk sendirian di sebuah balkon pondok putri di pesantren yang berada di pinggiran kota. Balkon itu menghadap langsung ke sebuah danau yang jernih dan ditumbuhi oleh tanaman teratai. Seorang gadis tengah merenung menatap langit yang berhiaskan kelap-kelip cahaya bintang. Matanya yang sayu mengisyaratkan tanda tanya dalam benaknya "Nak, lusa ibu akan ke pondok untuk nyowankan kamu ke Abah dan Bu Yai" "Sowan untuk apa Buk?" Kata gadis yang umurnya belum genap 20 tahun itu "Kamu akan ibuk boyong pulang" Gadis itu masih mencerna perkataan sang ibu di telepon tadi petang selepas sholat magrib yang mengabarkan bahwa ia akan dibawa pulang. Pulang yang dimaksud bukanlah izin pulang sementara dari pesantren namun pulang untuk tinggal di rumah dan tidak kembali lagi ke tempat di mana ia menimba ilmu agama yang akhir-akhir ini sudah dianggapnya sebagai rumah kedua. Gadis itu beranjak dari kursi yang sedari tadi ia duduki. Kini, ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam pondok yang berisikan santri-santri putri. Pintu-pintu kamar para santriwati di sepanjang jalannya menuju kamar yang ia tempati telah tertutup, menandakan bahwa penghuninya mungkin telah berada di alam mimpi. Ia berjalan menuruni tangga dan berpikir mengapa tiba-tiba ibunya akan membawanya pulang saat ia mulai nyaman berada di lingkungan pondok pesantren yang sudah satu setengah tahunan ini ia tinggali. Dengan para santrinya yang patuh dan taat beragama. Memang, dulu ia sempat tidak kerasan ada di pesantren, sebab ini kali pertamanya dan ia sama sekali tidak tahu menahu apapun tentang pesantren. Ditambah juga, dirinya yang tidak pernah jauh dari rumah. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang ada di sana, mereka pernah di pesantren sebelumnya jadi tidak heran jika mereka langsung betah. Namun, lama kelamaan gadis yang memiliki nama Maia itu senang berasa di pesantren, karena telah menemukan teman yang membuatnya merasa nyaman di sana. Mbak Fatimah, biasa ia memanggil temannya itu. Setibanya Maia di dalam kamar yang terdapat alas tidur berupa tikar bergambar tokoh kartun berbentuk kotak dengan warna kuning yang berada di depan rumahnya yang berbentuk nanas, bersama dengan teman-temannya, sang bintang laut merah jambu, kepiting merah, gurita yang pemurung dan seekor tupai yang memakai helm kaca. Itu merupakan kartun kesukaannya sewaktu ia kecil dulu. Disana ada dua lemari yang memiliki lebar tiga buah keramik dengan tinggi sedada, di atasnya terdapat buku-buku yang ia gunakan saat kuliah. Satu lemari berisi pakaiannya, dan lemari yang lain kosong. Karena isinya sudah dibawa oleh sang pemilik sebelumnya. Maia, kemudian berbaring dengan lutut yang ditekuk dan satu tangan ia letakkan di atas perut sementara tangan yang satunya berada di samping tubuhnya. Ia0 mengingat sewaktu dulu Fatimah masih berada di sana. Ya, Fatimah sudah boyong terlebih dahulu. Ia dan Fatimah merupakan teman sekamar, walau usia terpaut empat tahun akan tetapi mereka cepat akrab dan Fatimah lah yang membuat ia merasa betah di pesantren. Maia sering bercerita dengan Fatimah, begitu pula sebaliknya. Fatimah merupakan gadis yang baik dan dermawan. Parasnya yang cantik dengan kulit putih bersih membuatnya banyak disukai laki-laki. Namun sayangnya, kebaikan dan sifatnya yang tidak pelit membuat ia selalu dimanfaatkan oleh teman-temannya. Mereka mendekati Fatimah sebab ia anak orang yang berpunya. Hanya Maia lah teman Fatimah yang tulus dan tak pernah mencari keuntungan dari Fatimah. Maia merindukan Fatimah yang sudah boyong empat bulan lalu sebab ia sudah lulus dan mendapatkan gelar sarjananya. Mau tidak mau ia pun dibawa pulang oleh ibu dan ayahnya. Ia juga akan melanjutkan usaha toko bahan bangunan milik kedua orangtuanya sambil mencari pekerjaan di kota tempat ia dilahirkan. Sebenarnya, Fatimah juga tidak tega meninggalkan Maia di pesantren. Ia tahu, jika gadis yang sudah Fatimah anggap sebagai adik itu bisa betah di sana karena dirinyalah yang membuat Maia merasa nyaman berada di pesantren. Tapi mau bagaimana lagi, Fatimah juga ingin pulang ke tempat asalnya. Ia telah lama merindukan kampung halaman yang jarang ia kunjungi sejak ia memasuki perguruan tinggi dan tinggal di pesantren. Malam sebelum Fatimah boyong ia memberikan kenang-kenangan berupa dompet koin berbentuk kepala kucing berwarna pink dengan tali disampingnya. Maia menerima pemberian dari Fatimah dengan raut muka sedih dan tidak rela. Ia tak ingin Fatimah boyong dan meninggalkannya. Tapi, Maia juga tidak ingin egois dengan menghalangi Fatimah untuk segera boyong. Ia tahu, jika Fatimah merindukan keluarganya, Maia pun harus ikhlas jika Fatimah hendak pulang. Lagi pun, kelak jika Allah mengizinkan, mereka pasti akan bertemu kembali pada kesempatan yang lain. Kepulangan Fatimah membuat Maia merasa kesepian di pesantren, meskipun teman-teman di sana juga banyak yang menyenangkan, tapi tetap saja Fatimah lah yang selalu menemani, menghibur, bahkan menasehatinya. Dan sekarang, empat bulan kemudian setelah Fatimah boyong dari pesantren, ibunya menelpon dan mengabari bahwa ia juga akan diboyong pulang. Entah apa yang ia rasakan, ia juga bimbang. Antara perasaan sedih karena akan meninggalkan tempat yang selama kurang lebih satu setengah tahun ini ia gunakan untuk menimba ilmu agama dan senang sebab ia akan pulang ke rumah di mana suasana tenang pedesaan yang telah lama ia rindukan. Ia kesulitan untuk tidur malam ini. Suara jangkrik dan katak terasa nyaring di telinganya. Matanya sudah terpejam sedari tadi, tapi pikirannya masih bertualangan entah kemana. Ia merubah posisinya ke arah kanan dan mengambil ponsel dengan casing berwarna hitam yang tergeletak di sampingnya. Tidak ada notifikasi yang masuk, hanya beberapa pesan di grup yang muncul. Ia berencana akan memberitahu Fatimah jika dirinya akan disowankan boyong oleh orangtuanya besok. Sebab hari sudah larut, pastilah Fatimah juga sudah tidur. Maia lalu meletakkan kembali ponselnya. Ia bangun dan menghampiri lemari. Kali ini, ditaruhnya benda itu di sana agar tidak terkena radiasi jika lama berada dekat dengannya. Ia kemudian berbaring kembali dan mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur. * Pada pagi hari menjelang siang, Maia mengirimi Fatimah sebuah pesan singkat melalui aplikasi chat yang biasa ia gunakan. Ia memberitahu temannya itu kalau beberapa hari lagi ia akan pulang. Diraihnya ponsel yang berada diatas lemari dan ia mulai mengetik pesan untuk Fatimah. Kling! suara pesan masuk dari sebuah aplikasi chat milik Fatimah. Ia tidak langsung membukanya karena ia sedang melayani pembeli. Setelah kepergian dari pembeli tersebut, Fatimah segera mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja di sampingnya. Ia penasaran akan siapa yang mengiriminya pesan. Saat melihat nama yang terpampang pada notifikasi ponselnya, Fatimah tersenmyum, sudah lama ia tidak mendengar kabar gadis itu karena kesibukan masing-masing. [Mbak, aku mau boyong dari pondok] Fatimah kaget akan pesan yang dikirimkan oleh Maia dan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba ia akan boyong. Segera Fatimah membalas pesan Maia [Kok tiba-tiba mau boyong Mai? Kamu mau nikah ya? hahaha] Maia yang sedari tadi bermain ponsel segera mengetahui jika Fatimah telah membalas pesannya, ia pun langsung membukanya dan terkekeh melihat isi pesan tersebut, tak menunggu lama, ia segera mengetik balasan utuk Fatimah [Ngawur aja kamu mbak. Lagian aku mau nikah ma siapa? Pacar aja nggak punya. Kamu kan juga tau kalau aku masih belum bisa membuka hatiku lagi] Terlihat nama Fatimah sedang mengetik [Ya barangkali aja dijodohin kamu. hahaha] Kali ini Maia jadi berpikir apa mungkin orangtuanya akan menjodohkannya? Tapi ia masih berada di akhir semester tiga dan masih terlalu dini baginya untuk menikah. [Nggak mungkih ah, lagian aku kan masih terlalu dini buat nikah. Kan yang udah pantes nikah kamu mbak. Hahaha] Kali ini tidak ada balasan dari Fatimah, bahkan ia tidak membuka pesannya sebab ada tiga orang pembeli yang datang. Maia yang tak kunjung mendapat balasan dari Fatimah dan merasa bosan bermain ponsel akhirnya meletakkan benda pipih berbentuk kotak itu di sampingnya. Ia kemudian berbaring sambil menghadap langit-langit kamar yang ia beri hiasan berupa planet-planet kecil dan bisa menyala dikegelapan. Bagaimana jika benar yang dikatakan Fatimah? Bagaimana jika ketika sudah pulang nanti tiba-tiba ia dinikahkan oleh orangtuanya? Apa yang harus ia lakukan? Ia masih berkuliah, bagaimana caranya akan membagi waktunya untuk menjadi istri sekaligus mahasiswi? Apalagi jika nanti ia memiliki anak sebelum gelar sarjana ia raih, pasti akan sangat merepotkan. Dan yang lebih parahnya lagi, ia tidak tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya jika apa yang dibicirakan oleh Fatimah lewat aplikasi chat tersebut benar adanya. Apakah ia akan dijodohkan dengan laki-laki yang ia kenal atau tidak? Bagaimana ia bisa menikah dengan orang yang tidak ia cintai? Maia merasa pening jika memikirkan hal ini terus-terusan. Ia merubah posisinya menghadap ke samping di mana ia meletakkan ponselnya tadi. Maia segera mengambil benda itu. Ternyata masih belum ada balasan dari Fatimah. Mungkin ia sedang melayani pembeli, pikir Maia. Karena di siang hari tidak ada kegiatan di pesantren, juga ia sudah melaksanakan sholat dhuhur. Maia mencoba memjamkan matanya, ia tidak ingin terlalu larut dalam dugaan-dugaan tentang dirinya yang akan dijodohkan. Lagipula, hal itu juga belum pasti. Mungkin saja orangtuanya sedang ada masalah yang tidak mereka katakan kepadanya. Lambat laun, kantuk mulai menyerang Maia, dan pada akhirnya ia pun terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN