Sebuah bangunan dengan dua tingkat yang berisikan gadis-gadis muda yang dikenal dengan sebutan santriwati. Dengan gerbang setinggi dua meter yang memiliki paduan warna hijau dan kuning. Maia berjalan melewati gerbang itu. Tangan kanannya membawa buku tebal yang dikenal dengan Tafsir Al-Jalalayn, atau merupakan sebuah kitab kuning yang menafsirkan Al-Qur'an. Sedang tangan kirinya membawa bolpoin dengan ujung yang tipis dan lancip untuk mempermudah saat memaknai kitab yang di bawanya. Ia hendak ke gedung diniyah, tempat untuk mengaji kitab-kitab kuning.
Diperjalanan menuju tempat mengaji, ia terhenti sejenak di depan Mushola yang letaknya bersebelahan dengan bangunan itu, karena melihat ada sesuatu yang merayap ke arahnya. Ketika mengetahui apa yang sedang mendatanginya , Maia segera berlari ke arah berlawanan.
Seakan mengerti akan ketakutan Maia, makhluk bersisik itu pun mempercepat gerakannya. Maia ingin berteriak tatkala menyadari jika ular berwarna hijau yang tidak ia ketahui jenisnya itu mulai mengejarnya, namun suaranya tercekat di kerongkongannya. Ia bisu! Tidak, itu tidak mungkin karena ia memang tidak bisu, ia dapat berbicara. Tapi mengapa saat ia ingin berteriak meminta pertolongan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, dan entah kenapa mendadak langkah maya terasa berat.
Saat berada di depan pintu pondok putri, Maia segera berlari masuk, namun sialnya ia malah tersandung lalu jatuh tersungkur. Kitab dan bolpoinnya sudah terlempar entah kemana. Gadis itu membalikkan badan dan melihat ular itu semakin mendekat ke arahnya. Ketika ia hendak bangun, anehnya tubuh Maia mendadak menjadi berat. Sulit sekali baginya untuk bangun. Ia melihat ke sekitar untuk mencari bantuan, namun tak ada siapapun di sana. Hanya Maia dan ular itu. Kini, ular itu sudah berada dekat dengan kakinya. Ular itu hendak menggigit dirinya. Tapi tiba-tiba....
Maia membuka mata, terlihat tembok dengan cat berwarna putih di depan matanya. Ia tidur dengan posisi menghadap ke arah kiri, yang berhadapan langsung dengan dinding. Keringat menetes dari keningnya "Ternyata semua itu hanya mimpi. Alhamdulillah" Maia menghela nafas dan mengucap syukur saat tahu bahwa yang baru saja ia alami hanyalah bunga tidur. Ia bahkan merutuki diri sendiri karena lupa tadi saat dirinya akan tidur lupa membaca doa terlebih dahulu. Ia kemudian duduk sambil mengumpulkan sebagian kesadarannya yang belum kembali penuh.
Maia kemudian meraih ponsel yang berada di sampingnya, "Astaghfirullahal'adzim" Ia terkejut sebab jam sudah menunjukkan pukul 15.06 WIB. yang berarti bahwa ini sudah waktunya untuk sholat Ashar berjamaah. Menyadari hal ini, Maia segera bangun dan agak berlari menuju tempat berwudlu. Tak dilihatnya siapapun di sana. Ketika hendak memasuki tempat khusus untuk berwudlu gadis itu terpeleset. Untung saja dirinya dapat menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
Seusai berwudlu ia kembali ke kamar untuk mengambil mukena yang ia gantung di dinding kamarnya dan sajadah yang juga ia taruh di sana, lalu bergegas ke mushola.
Sebelum tiba di mushola, Maia celingukan ke sana ke mari memastikan jika tidak ada yang melihatnya ketinggalan sholat Ashar.
Setibanya di sana, santriwati itu tak langsung masuk, ia malah berdiri di balik tiang yang terletak di depan mushola milik pesantren. Saat melihat ke dalam ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan lebih memilih kembali ke pondok putri karena tadi dilihatnya jamaah sudah selesai melaksanakan sholat mulai berdzikir.
Sekembalinya ia dari Mushola, ia bertemu dengan Jannah yang sedang menuruni tangga dengan handuk tersampir di pundaknya"Eh, Mai kamu kok udah balik dari mushola? Udah selesai ya jamaahnya?" Jannah tidak ikut sholat berjamaah karena sedang berhalangan "Eh, anu mbak tadi aku ketinggalan, jadinya aku nggak jadi ikut jamaah" ujarnya sambil tersenyum kikuk. "Kirain dah selesai. Emang kenapa kamu bisa ketinggalan?" Tanya Jannah menyelidik "Itu mbak, tadi aku ketiduran dan mimpi buruk. Makanya terus ketinggalan" jelas Maia pada Jannah "Mimpi apa emangnya sore-sore gini?" Jannah yang lagi-lagi bertanya karena penasaran akan apa yang dimimpikan gadis di depannya ini hingga ia sampai ketinggalan sholat Ashar "Aku mimpi mau di gigit ular mbak" "Haah? Beneran kamu?" Jannah seolah tak percaya pada penuturan santri wati yang baru satu setengah tahun berada di pesantren itu "Ya benerlah mbak, ngapain juga aku bohong" Jannah menautkan alisnya dan seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Maia, tapi ragu-ragu. "Iihh mbak, kok gitu sih pandangannya? Emang ada yang salah ya" Maia nampak kebingungan dengan tatapan Jannah "Nggak ada sih, cuma kata orang dulu nih ya Mai, kalau kamu mimpi di gigit ular, artinya ada yang bakal ngelamar kamu" Ucap Jannah sambil cengingisan "Ah nggak mungkin deh mbak, lagian siapa yang mau ngelamar aku? Lagian kan aku masih terlalu dini buat dilamar hahaha"
Maia benar-benar heran, ada saja mitos aneh seperti itu. Lagipula, di gigit ular pastinya sakit bukan? Lantas mengapa dikaitkan dengan dilamar orang? Bukannya dilamar orang itu hal yang membahagiakan? Mungkin jika orang itu adalah orang yang dicintai. Tapi, bagaimana jika orang tersebut bukanlah orang yang kita harapkan?
"Ya, siapa tau aja nanti tiba-tiba ada yang ngelamar kamu dan orangtuamu datang ke sini buat mboyong kamu. Hahaha"
Maia diam sejenak memikirkan perkataan Jannah. Apa mungkin orangtua Maia membawanya pulang untuk dijodohkan?
Ah, tapi mana mungkin. Orangtuanya juga tahu jika ia masih kuliah.
"Lagian di mimpi ku itu, aku baru mau digigit mbak, kan kata mbak Jannah kalau digigit berarti akan ada yang ngelamar. Nah kan aku nggak sempet digigit, jadi nggak ada yang ngelamar dong" Entahlah, Maia juga tidak pasti akan hal itu. "Iya juga ya. Kenapa nggak kamu biarin aja itu ular gigit kamu, biar kamu beneran ada yang ngelamar. Hahaha." timpal Jannah dengan wajah yang seakan senang jika ia yang bermimpi digigit ular.
"Ihh, mbak Jannah ini ada-ada aja. Ya udah mbak, aku mau ke kamar dulu. Takut ketahuan kalau nggak ikut jamaah" Maia segera berlalu menuju kamarnya yang terdapat nama Hafshoh dengan huruf arab di atas pintunya. Ia tak memperdulikan Jannah yang mungkin sedang berkhayal dilamar seseorang itu. Dia juga tidak ingin berpikiran terlalu jauh tentang mimpinya. Lagipula dirinya yang masih baru akan memasuki semester empat di bangku perkuliahan tidak mungkin siap untuk menikah di usianya yang terlalu muda. Jangankan menikah, untuk membuka hati saja rasanya masih enggan. Ya, kurang lebih sudah empat tahun ini Maia menutup pintu hatinya.
Jika mengingat waktu dulu, rasa pedih itu masih saja menghampiri. Dulu, saat masih duduk di bangku SMA, ia sempat mengungkapkan perasaannya kepada seorang laki-laki yang saat itu merupakan kakak kelasnya. Perasaan itu telah lama ia pendam, sejak saat ia masih kelas satu di Sekolah Menengah Pertama dan saat itu, pria impiannya berada di kelas tiga. Mereka berada di sekolah yang sama. Bahkan setelah lulus SMP, Maia mengikuti pujaannya ke SMA yang sama juga.
Hingga saat tiba kelulusan, ini merupakan kesempatan terakhir Maia untuk melihat anak laki-laki yang biasa dipanggil Ferdi itu.
Karena setelah wisuda, kabarnya Ferdi berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke luar pulau. Hal ini membuat Maia tertekan. Bagaimana ia bisa menjalani hari-harinya tanpa melihat Ferdi?
Untuk itulah, sebelum Ferdi pergi, Maia bertekad mengungkapkan perasaan yang sudah lama ia pendam pada Ferdi seusai wisuda. Akan tetapi, sepertinya keputusan Maia saat itu salah. Ia pulang dengan keadaan kusut. Hatinya benar-benar hancur, laki-laki yang telah disukainya sejak pertama kalinya ia menginjakkan kaki di bangku SMP itu dengan terang-terangan menolak Maia. "Maaf, aku tidak menyukaimu!"
Hanya satu kalimat, namun dapat meruntuhkan hati seorang gadis yang saat itu baru berusia 15 tahun. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Ferdi segera berlalu pergi meninggalkannya. Maia hanya diam di tempatnya, tak bergeming sedikitpun. Buket bunga mawar dengan kombinasi warna putih dan biru laut, dua warna kesukaan Ferdi dengan kartu ucapan di tengah-tengahnya yang sedari tadi Maia pegang, ia genggam semakin kuat. Bahkan kini bukan genggaman lagi, namun Maia sudah meremas buket itu. Ia kesal, karena Ferdi yang selama ini ia dambakan tidak menaruh perasaan apapun pada Maia.
Ia melihat Ferdi sudah semakin menjauh, tiba-tiba datanglah gadis dengan tubuh langsing dengan riasan tebal di wajahnya. Sedangkan warna kulit pada kaki dan tangannya sangat berbeda sekali dengan warna kulit pada wajahnya yang begitu putih karena dempulan bedak. Gadis yang merupakan teman sekelas Ferdi itu menghampiri laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan namun terlihat manis ditambah lesung di pipi sebelah kiri dan berkacamata itu. Ia langsung menggandeng tangan Ferdi dan hal tak terduga terjadi. Gadis itu mencium pipi Ferdi.
Yang dicium pun malah salah tingkah, dan seakan ia menyukai hal itu. Tanpa mereka sadari bahwa dikejauhan ada hati yang benar-benar sudah terkoyak habis.
Pantas saja Ferdi tak menyukai Maia, sebab gadis impian Ferdi merupakan gadis dengan tubuh yang ramping dan berwajah putih walau itu karena riasan. Sedangkan Maia? Ia hanya gadis yang memiliki tubuh berisi dan kulit sawo matang. Jangankan untuk berdandan, memegang alat make up saja ia tak pernah. Walau demikian, Maia merupakan gadis yang memiliki senyum semanis madu.
Tetapi, apapun itu sudah tak ada artinya lagi. Laki-laki yang selalu ia idam-idamkan itu malah mendambakan gadis lain. Dan sejak saat itulah, Maia memutuskan untuk menutup hatinya. Ia tak ingin terluka lagi karena mencintai orang yang salah.