Kemarahan Vhi

1128 Kata

Tya duduk di kursi teras setelah selesai merapikan rumah setelah lamaran tadi. Semua seperti sebuah mimpi dalam waktu tak lebih dari tiga Minggu ia akan menjadi istri dari atasannya sendiri. Masih bingung dengan semua kejadian yang dialaminya, tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Dan tak mungkin juga untuk mundur. Bumi melihat adik perempuannya yang duduk di teras sendirian. Ia lalu berjalan dan menghampiri Tya, kemudian duduk di sebelahnya. "Kenaoa bengong sih? Tya menoleh, tersenyum lalu bersandar pada bahu sang kakak. "Bingung Mas. Semua terasa cepat banget." "Enggak masalah cepat atau lambat, tapi yang paling penting gimana perasaan kalian berdua. Kalau sudah memutuskan untuk menikah berarti udah saling mau mengisi, memiliki dan mencintai." Bumi menjelaskan lalu men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN