Suara Vhi menggantung di udara, lalu lenyap begitu saja meninggalkan Tya yang terbengong menatapnya dengan mata membola dan mulut membentuk huruf O. Ingin rasanya Tya mengorek kupingnya sendiri saat ini, lalu meminta Vhi mengulang apa yang barusan dikatakannya, tapi Tya tahu, kalimat yang didengarnya akan sama. Tya bukan tak mendengar apa yang Vhi sampaikan. Dia hanya tidak percaya Vhi mengatakan hal itu padanya. Bukan deg-degan, bukan juga berbunga-bunga. Perasaan Tya saat ini hanya kaget. “Lo … sama … gue?” Tya menunjuk dirinya sendiri dengan pertanyaan terbata. “Ya, gue sayang sama lo. Dan gue nggak mau lo sama Mas Yuga, Ty!” ulang Vhi tegas. Tya hanya bisa menggeleng. Bingung dengan pernyataan Vhi yang tiba-tiba ini. Informasi ini terlalu besar untuk dicerna otaknya yang lemot. Di

