05. Hai bastard, Wanna die, Huh?

901 Kata
"s**t!!" Helena terus saja merancau tidak terkendali. "b******k kau, Zaf." "Ssttt--" Zaf menekan dagu Helena yang bibirnya terlihat bergetar, mengaguminya keseksian bibirnya yang merekah dan mengundangnya untuk menghisapnya dalam-dalam. Gerakannya semakin cepat, peluh keringat membanjiri keduanya akibat permainan panas yang kesekian kalinya mereka lakukan malam ini.  "Jangan salahkan aku jika kau semakin menggila." "Aku tidak peduli," desis Helena. Zaf mencium bibir Helena, tangannya bermain di d**a wanita itu dan tekanannya semakin dalam dengan gerakan yang semakin kasar. Tubuh Helena terhentak kesana kemari, Zaf menggertakkan gigi dan semakin membawa Helena merancau hingga pekikannya yang nyaring menggema di dalam kamar dan mereka terengah bersama-sama. ***  "Errghh, sayang." Erangan itu membuat Zafier yang sejak tadi duduk memandangi lampu-lampu gedung kota Jakarta menoleh ke samping, di mana Helena tergeletak tanpa sehelai benangpun setelah pergulatan mereka tadi. "Tidurlah," ucap Zaf seraya menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara. "Aku maunya meluk kau," ucapnya manja. Bukannya menuruti kemauan wanita itu, Zaf malah turun dari tempat tidur membuat Helena jelas bingung. "Why, zaf?" Tanyanya heran. "Aku mau cari udara segar dulu. Kau lanjutkan saja tidurnya. Kalau aku tidak kembali itu berarti sedang ada yang aku kerjakan di tempat lain." "Tapi aku mau kau tidur di sini dan temanin aku sampai pagi." Zaf tidak mempedulikan protesan Helena dan berjalan mengarah ke kamar mandi untuk membasuh diri dan keluar setengah jam kemudian dengan setelan santai dan melihat Helena yang duduk di tepi ranjang sedang menghisap rokoknya. Zaf menghampirinya, menarik rokok itu dari tangannya dan mematikannya. "Hei--" ucapnya kesal. "Jangan merokok. Nggak bagus buat kesehatan," ucapnya seraya berjalan mengambil jaket hoodienya. "Seharusnya kau ngaca tadi," desisnya. "Aku laki-laki,Hel. Kamu perempuan. Jangan merokok." Kemudian berjalan ke arah pintu dan keluar dari sana. Helena menghempaskan diri di ranjang dan menggerutu. "Dasar b******n tampan yang kelakuannya manis banget," desahnya. "Aku jadi ingin memilikimu." *** Akhirnya Zaf memilih duduk di depan mini market 24 jam di pinggir jalan jauh dari apartemennya setelah menghabiskan sebotol kopi dingin dan pop mie. Setelah membuat penjaga tokonya seperti terkena asma, Zaf memilih duduk diam memandangi jalan raya yang masih ramai dengan hoodie yang menutupi kepala. Motor sportnya bertengger manis tidak jauh dari sana. Dua bungkus pop mie sudah ludes dia makan. Nggak ada yang larang orang bule makan beginian kan? Ini salah satu hal yang paling disukainya saat berada di indonesia. Jalan-jalan malam entah ke mana mencari udara dengan motornya lalu singgah ke mini market random yang ditemuinya dan duduk diam. Memberinya kesempatan untuk memikirkan banyak hal. Lalu dia akan pulang dengan ngebut-ngebutan saat melewati tengah malam karena jalanan pasti akan sepi pada saat itu. Memikirkan kenapa hidupnya berjalan begini-begini saja. Tidak ada sesuatu yang membuatnya bersemangat menyambut hari esok dan merubahnya menjadi lelaki baik-baik. Dia sama sekali belum menemukan alasan itu. Hanya s*x yang dia lakukan. "Ahh, mie lagi. Terpaksa!!" Zaf menoleh ke meja yang lain saat mendengar gerutuan itu dan ternganga. Dilihatnya wanita itu duduk di sana, sibuk dengan mie dan sebotol air putih lalu memakannya dengan lahap. Zaf terpaku pada wajahnya yang tidak asing. "Sasha pasti akan ngomel kalau tahu apa yang aku makan ini," gumamnya seraya mengunyah mienya. Zaf membuang muka saat wanita itu tiba-tiba melihat ke arahnya. Untung saja dia menutupi kepalanya dengan hoodie. "Memangnya ngaruh apa keseringan makan mie bisa buat rambut keriting. Ngaco ah. Kalau otak yang keriting sih mungkin kali. Kebanyakan micin. Sabodolah yang penting enak. Mau makan mie atau nggak ujung-ujungnya tetap di PHK. Ribet!!" Omelannya panjang dan Zaf terxsnyum mendengarnya. Masih wanita yang sama yang banyak omong dan selalu bisa membuatnya menarik senyuman di sudut bibirnya. Suaranya masih sama menghipnotis dengan cara yang berbeda. Lalu, apa kabarnya dengan aroma lilacnya? Seketika Zaf menutup hidungnya dengan tangan, menoleh dengan pelan sedikit dan melihat wanita itu masih makan dengan lahap dan memandanginya dalam diam. Dulu rambutnya panjang tapi sekarang berpotongan pendek. Lebih cantik. Wanita yang tega menamparnya setelah bahunya pegal untuk alas tidurnya. "Ah kenyang," desahnya tidak lama kemudian, menegak air mineralnya sampai tandas dan menghempaskan tubuhnya di kursi di bawah tatapan mata Zaf. Tidak lama dia seperti mengantuk dan akhirnya berdiri dari duduknya. Zaf menundukkan wajah saat dia berjalan ke arahnya untuk membuang sampahnya di tempat sampah yang ada di belakang kursi Zaf. Reflek Zaf berdiri saat melihat siluetnya lewat dan berjalan kaki dengan santai mengarah ke gerbang perumahan tidak jauh dari mini market. Zaf nekat mengikutinya dari jauh dan mencoba menjaga jarak aman dengan hati-hati. Dia hanya ingin melihat di mana wanita itu tinggal. Wanita itu berbelok masuk ke dalam salah satu gang perumahan dan Zaf yakin kalau dia tidak tahu sedang diikuti. Saat dia akhirnya berbelok, langkah kakinya terhenti. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri tapi sepi. Sama sekali tidak ada orang di sana tapi Zaf tadi yakin wanita itu berbelok ke dalam. "Ke mana dia?" Gumam Zaf melihat ke area sekitarnya. "Ah sial, dia hilang," gerutu Zaf yang menghela napas panjang dan menahan kesal. Padahal tinggal sedikit lagi. Beruntung karena setelah satu tahun mereka bertemu lagi tanpa terduga. Zaf akhirnya memutuskan untuk pulang. Zaf berbalik dan tertegun di tempatnya. Seseorang sudah berdiri di depannya dengan seringaian devil di wajah cantiknya dan kepala miring ke samping mencoba melihat wajahnya. Zaf berdiri kaku. Bukan karena tatapan wanita itu tapi pada sesuatu yang saat ini menempel di lehernya. "Hai bastard, wanna die, huh?!" Ucapnya tajam dan menekan pisau lipat yang menempel di leher Zaf bersiap menembus lapisan hoodienya jika dia bertindak gegabah. Ah sial!!! Beruntung atau apes ?  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN