06. Awesome Woman

1993 Kata
"Zafier Gaster, lahir di California 31 tahun yang lalu, memiliki satu kakak kembar berjenis kelamin laki-laki. Kedua orang tuanya masih hidup dan sekarang menetap di  Florida. Hubungan mereka dikatakan tidak akur sejak kematian kembarannya dalam suatu kecelakan mobil bersama dengan calon istrinya beberapa tahun yang lalu. Sejak itu dia memilih menetap sendiri di manapun dia mau dan lebih banyak menghabiskan waktunya di New York." Agam berdiri di depan Martin Allison yang duduk di sofa ruang tamu Mansionnya dengan segelas whiskey di tangan. "Catatannya bersih dan dia merintis usahanya sendiri sejak lama tanpa bantuan campur tangan keluarganya. Kegilaannya pada bidang teknologi membawanya menjadi salah satu pengusaha yang diperhitungkan dunia. Perusahaannya di Indonesia adalah cabangnya yang pertama di Negara Asia." "Lawan yang tidak bisa dianggap enteng. Yang lainnya?" "Dia single dan sejak sepuluh tahun yang lalu memiliki julukan Playboynya Amerika sampai sekarang." "Catatannya bersih?" "Begitulah Pak." Martin berdecak dan menggelengkan kepala. "Aku tidak seyakin itu." Agam mengusap tengkuknya, yang disebutkannya tadi hanya ringkasannya karena kehidupan detail seorang Zafier tertera semua di kertas yang sekarang sedang diperhatikan dengan seksama oleh Martin. "Apa yang akan Pak Martin lakukan?" Martin tersenyum smirk dan mengaitkan jemarinya di depan bibirnya. "Aku harus tahu kehidupan Zafier langsung dari dalam untuk menjatuhkannya. Aku tidak terima dipermalukan seperti kemarin dan dia salah dengan menjadikanku lawan." Agam menelan salivanya dengan susah payah. "Dia harus terpuruk dan kita akan bermain dengan cara yang halus. Kamu akan lihat nanti." Agam tidak tahu lagi harus mengatakan apa dan tertegun di tempatnya berdiri sampai Martin membuyarkan lamunannya dengan menyuruhnya mengambilkan lagi sebotol whiskey. Tahu dengan pasti kalau bosnya, Martin Allison, orang yang bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. *** Bagi Shine, menjadi wanita yang lemah itu tidak ada dalam kamusnya. Setidaknya seorang wanita tidak harus selalu bergantung pada lelaki. Kalau bisa dilakukan sendiri kenapa harus meminta bantuan mereka yang kebanyakan merasa sombong karena dilahirkan lebih kuat. Terserah dia mau dicap sebagai perempuan bar-bar, tidak elegan dan lebih banyak membuat kaum lelaki yang  tertarik dengan wajah imut juga cantiknya ilfeel setelah melihat kelakuannya yang kadang seperti lelaki hingga membuatnya tetap melajang diusianya yang ke 25 tahun. Untuk membekali dirinya dalam menghadapi apapun hal yang bisa saja terjadi pada wanita yang hidup sendiri, Shine belajar ilmu bela diri  Kepalan tangannya dalam memukul sudah sekuat lelaki, tendangannya memberikan efek yang pasti akan menjatuhkan dan dia belajar untuk selalu waspada. Awalnya Shine tidak terlalu peduli dengan lelaki ber-hoodie yang duduk di salah satu meja minimarket langganannya tapi saat menyadari lelaki itu menguntitnya masuk ke perumahan, Shine jelas langsung waspada. Dia sama sekali tidak takut tapi harus berhati-hati menghadapinya. "Hai bastard, wanna die, huh?" Shine menelengkan kepala ke satu sisi berusaha melihat wajah di balik hoodie yang terkesan disembunyikan itu dengan tangan terulur memegang erat pisau lipat kesayangannya yang selalu dia bawa jika harus berjalan sendirian seperti malam ini untuk berjaga-jaga. Lelaki berperawakan tinggi dan kulit putih dilihat dari telapak tangannya itu hanya diam tidak bergerak. Mungkin kaget karena lawannya bukan wanita lemah seperti kebanyakan korbannya yang lain. "Siapa kamu?" Ucapnya tajam sambil menekan pisau miliknya. "Pemerkosa? Perampok? Pedagang wanita? Penjual organ tubuh? Penyamun? Pengangguran sepertiku--" Shine memutar bola matanya."Atau pembunuh bayaran? penculik yang minta tebusan?" Shine menggelengkan kepala dan menekan lagi pisaunya. "Ah, kalau memang iya sayang sekali aku harus mengatakan kalau kamu salah sasaran. Aku memang cantik sih, hmm, bukannya sombong atau apa tapi lelaki perayu di luar sana sering mengatakan hal itu sampai aku bosan tapi tidak ada yang akan menebusku dengan uang miliaran. Sia-sia saja kamu menculikku kecuali organ dalam tubuhku yang kamu tawarkan ke orang lain." Lelaki itu tetap diam mendengarkan semua ocehannya sampai Shine kesal sendiri karena tidak direspon. "JAWAB?!" Bentaknya kemudian. "Atau aku perlu membuka mulutmu dengan pisau ini supaya berbicara, huh?!" Nada suaranya mulai kesal. Satu sudut bibir lelaki berhoodie itu tertarik ke samping membentuk seringaian membuat Shine makin waspada sampai bibir seksi,eh, dengan dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus menggoda itu terbuka. "Lilac," ucapnya pelan. Shine cengok. "Hah? Apa?" Shine bertanya balik. "Aroma lilac-mu menggoda iman," bisik laki-laki itu. Shine ternganga sesaat karena merasa pernah mendengar suara itu tapi dia lupa di mana. Logat Amerikanya menjelaskan kalau lelaki dihadapannya ini bukan orang Indonesia. "Apa itu jenis modusan baru supaya wanita yang kamu incar terpesona?" "Apa kau terpesona?" tanyanya balik. Seharusnya ya saat ini Shine sudah menghajar lelaki mencurigakan di hadapannya ini tapi dia malah meladeni ucapan gilanya. "Tidak." "Ya sudah," jawabnya ringkas membuat Shine bengong. "Aku tidak termasuk dalam semua kategori penjahat yang kau sebutkan tadi jadi bisa jauhkan pisaumu dari leherku yang berharga ini." Shine tersenyum miring, "Kenapa? Takut kalau tiba-tiba aku merobek lehermu tanpa aba-aba?" "Oh come on." Lelaki itu bergerak membuat Shine langsung menggesek pisau itu membuat sayatan di pinggiran hoodie meski tidak sampai tembus kulitnya membuat lelaki itu langsung diam." Sial!! Kau merusak jaketku!" desisnya kemudian. "Kamu mengkhawatirkan leher berhargamu itu atau jaket tebalmu ini?"  "Dua-duanya. Aku hanya mencoba menghindarkanmu dari pernyesalan seumur hidup karena membunuh laki-laki rupawan sepertiku." Shine terbahak, "Oh, apa maksudmu nanti setelah kamu tergeletak tidak bernyawa dan akhirnya aku bisa melihat wajahmu yang rupawan itu, aku akan menyesal kenapa tidak minta ditidurin dulu gitu?" Shine tertawa lagi. "i***t gila!!!" "Yah, kalau kau wanita yang normal," jawabnya enteng. Shine berdecak dan berusaha membayangkan wajah lelaki yang hanya nampak bagian bibirnya itu. Apakah tampan? Kok bibirnya seksi? tapi memangnya ada penjahat yang tampan kecuali di tokoh-tokoh dalam cerita fiksi? atau dia mafia? Shine menggelengkan kepalanya karena terlalu banyak berpikir. "Katakan dulu apa maksudmu mengikutiku diam-diam seperti tadi? Pasti ada niat jahat kan? Siapa kamu, hah?!" Lelaki itu terdengar menghela napasnya dan kemudian tersenyum membuat Shine mengatupkan bibirnya. "Aku--" Shine menunggu laki-laki itu melanjutkan bicaranya. "Seorang pemuas wanita." Shine ternganga dan memegangi kepalanya dengan satu tangannya yang lain merasakan pusing. "Oh pemuas wanita?" Shine kembali fokus. "Oke, itu sangat membantu untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus aku ambil." "Oh senang sekali bisa membantumu. Apa kau akan merobek leherku sekarang juga?" "Tidak. Tidak sekarang karena pelajaran berharga untuk lelaki sepertimu itu--" Shine tersenyum smirk. "Yang seperti ini." Shine mundur dengan langkah cepat kemudian mengayunkan kakinya tepat mengenai kebanggaan lelaki itu dengan kerasnya. Buk!! Lalu mengepalkan tangan dan memukul wajah lelaki itu melewati hoodienya mengenai tulang hidung dan pipinya. Buk!!! "ARGGHH, SHITT!!!" umpat lelaki itu seraya mundur dan merunduk memegangi itu-nya dengan kedua tangan terlihat kesakitan lalu memegangi wajahnya. "Sialan!! Apa wanita selalu mengarahkan kemarahan mereka ke bagian terpenting laki-laki yang bisa memuaskan kalian tanpa ampun. s**t!!!" Lelaki itu nampak menderita. "Yeah, supaya itu-mu punya tata krama!!" Umpat Shine seraya tersenyum penuh kemenangan. "Kau mau melawanku, huh? Tanggung akibatnya nanti!!"desisnya. "Oh, siapa takut." Shine menghunuskan pisaunya maju dengan cepat ingin melihat apa lelaki itu bisa menghindari serangannya sekaligus ingin membuka penutup kepalanya supaya dia bisa melihat wajahnya tapi apesnya serangannya ditahan dengan tangan laki-laki itu yang langsung memutar lengannya ke belakang, merampas pisaunya dan menarik satu tangannya yang lain dan menahan kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan di belakang punggung dan dengan seenak jidatnya melingkarkan lengannya yang lain di pinggangnya dari belakang dan merapatkan tubuh mereka. "Resek!!! Lepaskan aku, Jerk. Kamu mau mati ya?!" Pekiknya murka. "Kau mengejutkanku," bisik lelaki itu dari belakang telinganya. Aroma maskulinnya langsung tecium dengan kuat. Saat itu Shine menyadari mungkin saja lelaki yang dia lawan ini anggota sindikat mafia yang nyasar di jalanan perumahannya dan butuh wanita untuk di jual ke mucikari. "Lawan yang menyenangkan. Kita bisa adu gulat seperti ini nantinya kalau marahan." "SIAPA YANG BILANG AKU MAU BERTEMU DENGANMU LAGI!!!" Teriaknya. Seketika Shine langsung merinding. Dia bersumpah lebih memilih melihat sundel bolong yang paling ditakutinya sejagat dunia perhantuan dari pada harus membayangkan dirinya menyerahkan diri pada lelaki itu dan berada di dalam salah satu kamar segi empat yang hanya menyediakan ranjang dan laci penuh dengan karet balon untuk melayaninya. OH TIDAK!!!!! "Apa maumu?" Shine jelas memberontak tapi sialnya tenaga lelaki itu lebih besar meskipun tadi dia sudah mendapatkan tendangan di itu-nya dan tonjokan cinta di wajahnya. "Kau menggodaku, My lady," bisiknya lagi disertai dengan hambusan di tengkuknya membuatnya meremang seketika. "Aku sedang menahan diri untuk tidak menyerangmu di sini karena aromamu ini." "Kamu ngomong apa sih? Aroma? Memangnya apa yang kamu cium? Kau sebangsa vampire? Atau warewolf? Atau--" "Kau kebanyakan nonton film," decaknya. "Jadi apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Shine mencoba untuk menarik cekalan tangannya tapi susah sampai di kejauhan bapak-bapak ronda komplek perumahannya terlihat mendekat sambil bercakap-cakap. "TOL--Hmmpp." Sambil mulutnya dibekap, Shine ditarik mundur ke salah satu rumah yang memiliki aneka tumbuhan asri dan pohon mangga yang bisa menenggelamkan tubuh mereka bedua dari pandangan dan sialnya lampu rumahnya padam yang artinya pemilik rumah sedang tidak ada. APESS!!!! Ya Tuhan padahal dia tadi cuma berniat makan doang. Kenapa cobaan datang bertubi-tubi dalam beberapa hari ini. Habis diPHK eh ditangkap lelaki gila pemuas wanita untuk dijadikan simpanan. Shine dipojokkan di dekat dinding rumah dengan mulut dan tangan yang dipegangi erat sampai bapak-bapak yang tadi lewat dan tidak melihat mereka lalu suara mereka menghilang diujung gang yang satunya. "Tiga kali--" bisik lelaki itu lagi yang akhirnya melepas bekapan tangannya membuat Shine langsung mangap-mangap mencari oksigen. "Tangan dan kakimu ini melakukan tindak kekerasan terhadapku jadi jangan salahkan aku kalau saat ini aku membalasnya dengan sesuatu yang sama." "Apa maksudmu?" desis Shine tidak mengerti. Lelaki itu membalik tubuhnya dengan mudah agar saling berhadapan, menarik kedua tangannya ke atas mencekalnya di dinding dan merapatkan tubuhnya membuat Shine langsung melotot sangar. "JANGAN MACAM-MAC--Hmmmpp." Sialnya teriakannya langsung dibungkam dengan bibir lelaki itu yang memagutnya dengan rakus dan tanpa ampun seakan-akan ada sesuatu dalam mulutnya yang membuatnya menggila. Shine sampai kewalahan karena bibirnya sudah terlanjur terbuka dan lelaki itu dengan leluasa menjelajah di sana tanpa memberinya waktu untuk berpikir. "Eehmmmpp," Shine menggerang saat tangan lelaki itu yang bebas menelusup ke dalam bajunya membelai kulit punggungnya tanpa perantara dengan sensual masih sambil mencium bibirnya dengan napsu dan Shine melotot saat lelaki itu melepas kaitan branya. EEHHHHH-kok enak betul nih laki!!! "Hmmmpp--" Shine mencoba melawan tapi percuma. Dia tidak bisa melakukan banyak hal. Seharusnya dari awal  dia sudah menghajar laki-laki ini tanpa harus mengobrol dulu seperti teman lama. Yeah, Shine yang i***t. "Sial, aromamu sangat menggoda. Memabukkan," bisiknya setelah melepaskan pagutan bibirnya dan turun ke leher jenjangnya mengigit-gigit kecil sampai kancing bajunya terbuka memperlihatkan belahan dadanya dan dengan kurang ajarnya bibir lelaki itu turun menghisapnya di sana. "b******k!! Aku akan membunuhmu--Ssshhh," Shine mengatupkan bibirnya karena takut mengeluarkan desahan. Tangan lelaki itu masih asik mengelusi punggungnya dari atas ke bawah untung tidak sampai menjalar ke depan. Napasnya naik turun tidak beraturan mendapat perlakukan tidak senonoh dari lelaki gila di depannya ini. "BASTARD!!!! JERK!! i***t!!" umpat Shine yang mencoba menggeliat dan berniat menendang itu-nya lagi tapi kakinya langsung ditahan sampai dia merasa tangan lelaki itu keluar dari balik bajunya dan kepalanya terangkat tapi Shine tetap tidak bisa melihatnya karena sekitarnya yang gelap dan dia masih memakai penutup kepalanya. "Aku akan merindukanmu nanti, My lady. Kita impas. Kau memukulku tiga kali dan aku yang membalasnya dengan menyentuhmu di bibir, mencium lehermu dan membelai punggungmu yang lembut ini," bisiknya di depan wajah Shine yang bisa merasakan hangat napasnya yang memburu lalu bibir lelaki itu naik mengecup hidung, mata dan keningnya. "Sampai jumpa lagi." "AKU TIDAK SUDI!!!" Teriaknya kencang membuat lelaki itu tertawa. "Berdiri yang benar, jangan sampai jatuh." Setelah mengatakan itu tanpa aba-aba cekalannya terlepas dan dia berbalik pergi secepatnya dari hadapan Shine yang langsung terjatuh di rerumputan karena tidak kuat menahan kakinya yang gemetaran. "Aku akan membunuhmu nanti," tangan Shine terkepal. "Lihat saja kalau kita bertemu lagi. Aku akan membunuhmu!!!" Shine berusaha untuk berdiri dan keluar dari sana seraya memeluk tubuhnya sendiri dan kesal saat merasakan tali branya menggantung di dalam sampai dia melihat sesuatu yang berkilau di jalanan aspal yang tadi menjadi tempat perdebatan antara dia dan lelaki gila itu. Shine menunduk dan mengambilnya. Sepertinya seseorang menjatuhkannya. Shine mengamati kalung itu seksama dan bisa melihat kalau itu bukan kalung sembarangan. Kalung berlian yang mata kalungnya berbentuk matahari. Saat Shine membalik kalung itu alisnya terangkat naik saat membaca inisial yang terukir di sana. Z V G ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN