07. Man With His Ego

1596 Kata
"Hmm, wajahmu masih memar." Zaf menepis jari telunjuk Freya yang mengarah ke wajahnya. "Aku masih penasaran, wanita mana yang memukulmu brutal seperti ini setelah berkencan." Freya menghempaskan tubuhnya di kursi depan meja kerja Zaf dan menelengkan kepalanya. "Hadiah yang tidak biasa. Apa kau tidak sanggup memuaskannya?" "Tutup saja mulutmu itu!!" desis Zaf. Freya memutar bola matanya dan membuka ipadnya membacakan agenda Zaf. "Besok ada undangan makan malam dari pihak Franklin jam 7 tepat." Zaf manggut-manggut seraya mengotak atik ponselnya. "Jangan sampai lupa. Hari ini kau tidak ada pertemuan penting sih. Hanya beberapa tanda tangan berkas." "Itu saja?" Tanya Zaf. "Ya, itu saja," ucapnya seraya menyerahkan beberapa map yang tadi dibawanya dan berdiri. "Panggil saja aku kalau semuanya sudah kmu tandatangani." Tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel, Zaf mengangguk. Freya berdecak kemudian berdiri dan keluar dari sana. Tahu tabiat Zaf kalau sudah bersentuhan dengan ponselnya. Tidak bisa diganggu. Bukan ponselnya yang berisi ratusan kontak wanita, ratusan video entah apa dan foto-foto syur tapi ponsel canggih yang bisa menghubungkannya dengan dunia luar hanya dalam satu sentuhan. Zaf memang sedang meretas CCTV daerah perumahan gadis  itu karena dia penasaran dengan sosoknya yang memiliki nyali yang pantas diacungi jempol. Tapi dia tidak tahu dengan pasti yang mana rumahnya. Ada beberapa kos-kosan dan juga kontrakan tapi tidak ada sosok gadis itu di sana. "Rasanya atas bawah masih nyut-nyutan." Zaf mendesah, meletakkan ponselnya di atas meja dan menyentuh wajah juga mengelus pusaka kesayangannya. "Untung saja malam itu aku masih bisa menggoyang Helena." Zafier berdecak. "Gara-gara dia gairahku naik ke level paling tinggi." Zaf mengingat rasa bibir gadis itu. Kalau suatu hari dia bisa menyentuh gadis itu, pasti rasanya seperti bercinta dipadang bunga yang harumnya semerbak. Melenakan dan--. "Ah sial!!!" Umpatnya lagi. Seketika dia teringat dengan wanita yang lain yang sapuan bibirnya bisa mempengaruhi Zaf sama kuatnya. Wanita bertopeng yang tidak berhasil ditemukannya dan hanya bisa membuatnya frustasi. "Wanita membuatku gila," gerutunya sendiri. "Tapi aku hidup untuk memuaskan mereka. Ironis!" Lalu menggelengkan kepalanya pusing. Zaf membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan pisau lipat dengan ukiran di permukaan gagangnya yang berwarna emas. Zaf tahu kalau pisau itu bukan pisau biasa pasti hadiah seseorang yang tahu kalau suatu hari nanti gadis itu akan mempergunakannya sebagai senjata melindungi diri. "Kamu membuatku penasaran sayang. Kita lihat kapan kita akan bertemu lagi," gumam Zaf. "Kalau sampai itu terjadi, kamu tidak akan pernah bisa lolos dariku." Zaf tersenyum smirk, merebahkan punggungnya di kursi dan memejamkan mata. Mencoba mengingat lagi ciuman mereka semalam. Gadis lilac dan gadis bertopeng itu, kenapa begitu membekas diingatannya? *** "Ini sudah termasuk dalam tindak pidana asusila." Shine membuka sedikit syal yang melekat di lehernya yang jenjang dengan ekspresi kesal. Jarinya yang lentik menunjuk beberapa bercak merah yang memang tersebar di sekitar leher dan dadanya bagian atas. Dengan gerakan kasar, Shine menutupnya lagi dan membenarkan letak syal motif bunga-bunga itu lalu menatap Sasha frustasi. "Lihat bagaimana lelaki b******n itu menandai leherku ini seakan-akan dia ingin memperlihatkan kepada dunia kalau aku ini sejatinya adalah miliknya seorang. Gila ya, merah-merahnya jelas banget. Itu orang sudah gila ditambah stress pula!" Tadi malam Shine meneleponnya untuk menceritakan kejadian yang menimpanya secara mendetail tanpa memberinya kesempatan untuk berargumen dan siang ini dia datang ke cafe untuk menunjukkan mahakarya yang dibuat laki-laki tidak dikenal itu disertai dengan omelan panjang seperti biasanya. Sasha hanya diam menjadi pendengar dengan wajah malas di depannya di salah satu kursi di sudut cafenya yang belum buka seraya mengaduk sendok sup jagung di tangannya. Nampak tidak begitu berselera. "Yakin, itu bukan ulah pacarmu yang keberadaannya selama ini kamu sembunyikan?" tuduh Sasha akhirnya menanggapi ocehannya Shine. Jelas Shine mendelik mendengarnya. "Aku itu nggak punya pacar, demi Tuhan, Sasha Kornelia!!" ucapnya dramatis. Sasha memajukan duduknya dan beragumen menanggapi perlakuan tidak senonoh dari seseorang yang tadi Shine sebut sebagai penjahat kelamin. "Kalau dia penjahat, nanggung kalau kamu nggak sampai diperkosa atau dibunuh sekalian--" Shine melotot maksimal. "Tapi malah dibiarkan hidup dan ngomel-ngomel seperti ini. Di mana-mana ya, penjahat kalau memang nyari mangsa dan sudah sering melakukan tindak pidana kejahatan seperti yang kamu tuduhkan tadi, dia tidak akan melakukannya setengah-setengah. Paling nggak, mulutmu dibekap supaya diam atau dibius sekalian terus diperkosa, dibunuh dan dibuang ke semak-semak." Shine mangap-mangap mendengarnya. Sasha menggidikkan bahu dan menunjuk leher Shine. "Bukannya malah meninggalkan jejak merah seperti mengisyaratkan kalau kalian ini pasangan dimabuk cinta yang tersulut gairah lalu pergi begitu saja dan mengucapkan sampai jumpa lagi seakan-akan saat kalian bertemu nanti, kalian akan melajutkannya lagi." Shine manyun dengan wajah kesal mendengar semua yang dikatakan Sasha. "Memang seperti itu kenyataannya," desah Shine yang ditanggapi Sasha dengan memutar bola matanya. "Kamu tidak percaya padaku yang memang baru saja menjadi korban lelaki gila yang menyebut dirinya pemuas wanita itu?" Sasha menggeleng membuat Shine melongo lalu meletakkan kedua tangannya di kepala diiringi seruan lantang. "OH MY GOD!!" "Terus maumu apa sekarang? Mengajukan pengaduan ke kantor polisi?" "Nah, itu ide yang bagus." "Oh ya?" Sasha menaikkan alisnya. "Palingan di sana Pak Polisinya akan menyuruh 'pacarmu' itu untuk tidak terlalu bernapsu menciummu." Shine mendengus sebal. "Kamu itu sebenarnya membela siapa sih?!" "Nggak belain siapapun." Lalu menatap Shine lekat. "Apa kamu mendesah saat dia melakukannya?" Sasha dengan santai menyerumput sup jagungnya. "Hah?!" ucap Shine. "Kamu tanya aku mendesah atau tidak padahal aku baru saja terkena musibah. Kamu sudah gila ya?!" "Jawab aja kenapa sih?!" "Hmm, sedikit sih." Sasha tertawa mendengarnya membuat Shine langsung meralatnya. "Aku sama sekali tidak menikmatinya." "Mungkin kurang lama dia melakukannya," Sasha menggelengkan kepala. Shine cengok. "Ah, nggak ada gunanya bicara padamu. Aku makin pusing!!" Shine menyanggah kepalanya yang tertunduk dengan tangan. "Mau dengar pendapatku lagi?" "Malas," ucap Shine cepat dan melototin Sasha. "Lelaki itu mengenalmu." Sasha tidak peduli Shine mendengar pendapatnya lagi atau tidak sambil menyendok lagi supnya lalu memakannya dan kembali melanjutkan bicaranya. "Tidak masuk akal kalau penjahat membiarkanmu lolos.Aku yakin dia mengenalmu dan sengaja melakukan hal seperti itu." "Aku tidak merasa mengenalnya," Shine menggelengkan kepalanya. "Kamu melihat wajahnya?" Shine menggeleng lagi. "Kalau begitu itu akan tetap jadi misteri sampai dia muncul lagi di hadapanmu. Nyatanya dia mengucapkan sampai jumpa lagi alih-alih selamat tinggal." "Aku tidak pernah berurusan dengan lelaki gila seperti dia!!" bantah Shine. "Kamu tahu sendiri kalau aku anti dengan lelaki seperti itu." "Jadi--" Sasha memajukan duduknya. "Kamu punya petunjuk lain?" Shine terdiam. Dia punya sesuatu milik lelaki itu begitu juga sebaliknya di mana lelaki itu juga memiliki pisau lipatnya yang berharga. "Aroma maskulinnya memabukkan," ucap Shine akhirnya membuat Sasha bengong. "Jenis parfum mahalan yang tidak bisa sembarangan orang membelinya." Shine seperti menerawang mengingat kejadian kemarin malam. "Dia punya bulu-bulu halus di rahangnya tapi aku tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya karena terhalang hoodienya." "Wah, mungkin dia penjahat yang tampan." Shine melipat lengannya, duduk menyandar di kursi dan menghela napas panjang. "Lelaki itu bule. Logat Amerikanya kentara sekali meskipun bahasa Indonesianya lancar." Sendok yang dipegang Sasha menggantung di udara ketika mendengarnya. Dia mengerjap lalu menyimpitkan matanya. "Kamu yakin?" Shine mengangguk, "100% yakin. Di mana aku pernah mendengar suaranya ya?" Sasha diam memandangi Shine yang memijit pelipisnya nampak berpikir. "Ah, pokoknya siapapun dia, aku harus bisa menemukannya lagi." Shine mengepalkan tangannya dan menyentaknya di atas meja dengan geram. "Dia tidak akan lolos dari kemurkaanku karena membuatku merasa dilecehkan seperti ini." "Apa yang mau kamu lakukan kalau bertemu dengannya?" Tanya Sasha yang sudah tidak bernapsu lagi menghabiskan sup jagungnya yang sisa setengah di mangkuk. "Aku akan membunuhnya." Shine tersenyum smirk dengan wajah antagonis seraya mengepalkan tangan dan menempelkannya di telapak tangannya yang lain membuat gerakan menumbuk sampai tiba-tiba seseorang menjatuhkan sesuatu di atas kepalanya membuatnya kaget. Shine mengambil amplop coklat itu saat kursi di sampingnya digeser mundur. "Sebelum membunuh orang, lebih baik kamu pikirkan hidupmu lebih dulu yang pengangguran itu." Shine menoleh dengan binar melupakan amarahnya tadi dan menatap bergantian Arsen dan Map yang tadi di bawanya. "Ini apa?"  "Beberapa lowongan pekerjaan yang aku dapat dari asistennya Om. Kamu lihat-lihat aja dulu. Nanti asistennya yang akan bantuin kamu buat masuk ke salah satu perusahaan yang ada di sana." "Kenapa nggak di perusahaan Om-mu aja, Sen?" Tanya Sasha. "Lagi nggak buka lowongan maka dari itu dia bantuin dengan cara ini." "It's ok. Nggak masalah. Ini aja sudah lebih dari cukup." Shine terlihat senang saat membuka Map yang ada di tangannya dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas lalu membaca dengan seksama kertas di tumpukan paling atas. "Syukurlah, dia tidak akan membuat pelangganku lari," desah Sasha seraya berdiri membuat Shine melotot dan Arsen yang tertawa. "Aku akan membuatkanmu kopi." Arsen mengacungkan jempolnya untuk Sasha yang sudah berbalik kembali ke dapurnya. "Hmm, Asisten Manager Marketing?" Gumam Shine. "Coba aja. Nggak jauh-jauh dari pekerjaanmu dulu kan." Shine menoleh, "Tapi ini perusahaan teknologi bukan perusaan periklanan. Apa aku bisa?" Arsen mengacak rambut Shine seraya tersenyum. "Jangan underestimate dengan dirimu sendiri, Shine. Kamu coba dulu dan mulailah belajar dari awal. Siapa tahu cocok." Shine tersenyum lebar dan mengangguk lalu tersenyum manis untuk Arsen. Ya, hanya untuk Arsen seorang. "Terimakasih banyak Arsen." "Sama-sama." Arsen membalas senyumannya tidak kalah manis. "Perusahaan apa?" Shine membaca lagi kertasnya dan melihat nama perusahaannya. "Gaster Technologi." Arsen mengangguk, "Itu perusahaan bonafit yang lagi naik daun, kamu coba aja dulu." Shine mengangguk dan menepuk-nepuk kertasnya dengan harapan baru. Mungkin sudah saatnya dia memperbaiki hidupnya lebih baik di tempat baru dan Shine akan melakukan apapun supaya bisa diterima dan berharap pekerjaan baru ini bisa membuatnya memiliki kehidupan yang baru juga. Shine tidak sabar untuk segera memulainya. Dia sudah membayangkan mendapatkan teman baru dan siapa tahu gebetan juga. Dia agak-agaknya sudah bosan menjomblo terus. Tidak menyadari tatapan Arsen yang mengarah ke lehernya yang syalnya sedikit terbuka dan melihat jelas tanda merah di sana. Tanpa sadar, Arsen menggertakkan giginya dan mengalihkannya tatapannya ke arah lain tidak mau memikirkannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN