08. Man With His Ego (2)

1593 Kata
Restoran Burgary Zafier sudah lama bergelut dalam dunia bisnis. Jadi dia bisa langsung menilai pribadi dan karakter orang-orang yang bekerja sama dengannya hanya dengan mengamati tingkah laku mereka selama berinteraksi. Sebisa mungkin dia begitu berhati-hati terhadap orang yang bermuka dua dan penjilat. Selama ini dia menghindari jenis-jenis orang bertipe arogan seperti itu. Mereka hanya tahu keuntungan untuk diri mereka sendiri tidak peduli didapatkan dengan cara yang masuk akal atau tidak. Sejujurnya, sejak awal Zafier tidak mempermasalahkan kalau misalnya perusahaannya kalah dalam Tender Franklin walaupun orang-orang kepercayaannya di kantor yang sudah berkerja keras untuk mendapatkan proyek itu tidak terima. Baginya, menang atau kalah dalam bisnis itu hal yang biasa. Masih banyak pintu yang akan terbuka jika pintu yang satu terbuka bukan untuk dimasuki olehnya dengan catatan dia sudah sampai dalam batas maksimal kemampuannya dalam mengusahakan untuk bisa memasuki pintu itu. Tapi untuk kasus proyek Franklin, Zafier harus menggunakan kemampuannya untuk bisa mendapatkannya. Di sana dia mendapatkan banyak sekali perjanjian terselubung yang selama beberapa tahun ini terjadi antara Allison Corp dengan Pihak Franklin dan sekarang hanya karena egonya yang terusik dengan kesombongan seorang Martin, dia berada di tengah-tengah mereka. Zafier melakukannya bukan karena dia berambisi untuk proyek itu tapi untuk memberikan pihak Allison hantaman yang mungkin tidak akan berdampak banyak pada perusahaannya tapi jelas itu berdampak besar terhadap pimpinan mereka. Martin Allison. Laki-laki berambisi besar yang tidak suka disaingi dan bisa melakukan banyak cara untuk menjatuhkan saingannya. Tanpa sadar, Zafier sudah membuka lubang pemakamannya sendiri sejak mereka berdiri saling berhadapan sebulan yang lalu di club malam saat memperebutkan wanita malam. Ya, hanya karena memperebutkan Helena, dia meladeni tantangan terselubung Martin. Sekarang dia sudah tidak bisa mundur lagi dan harus lebih berhati-hati dalam bertindak juga menunggu serangan balasan dari rivalnya itu. Jadi, Zafier tidak kaget lagi saat Robinson Bard, pimpinan pihak Franklin Indonesia yang mengundangnya makan malam ternyata juga mengundang Martin Allision. Selama jamuan makan malam tadi, baik Zafier maupun Martin hanya saling tatap dan membalas perkataan Robinson seperlunya saja. Sepertinya, pihak Franklin sudah memberitahukan secara resmi kalau proyek mereka kali ini akan ditangani olehnya. "Merasa di atas angin, anak muda." Perkataan sarkastik itu membuatnya menoleh ke belakang saat berniat masuk ke dalam mobil miliknya di lobbi restoran. "Aku tahu kau telah melakukan sesuatu hingga membuat Robinson memberimu proyek itu padahal kami sudah lama bekerja sama." Zafier memasukkan kedua tangannya di saku celana, mencoba untuk menghindari tangannya menonjok lelaki berumur 38 tahun yang mendekatinya dengan tatapan serigala. "Sesuatu yang sanggup mengancam kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi Franklin." Martin berhenti tidak jauh di depannya. "Menggunakan anak buah terbaikmu untuk mencari tahu kelemahan mereka hanya supaya kau bisa nampak sombong di depanku." Martin tersenyum arogan. "Kau anak muda yang tidak bisa di usik egonya ya." Zafier tertawa mendengarnya. Padahal sudah jelas siapa yang bersikap arogan dan tidak mau kalah di sini. Sudah kodratnya manusia, banyak yang suka berteriak maling tapi tidak sadar kalau dia juga seorang maling. "Apa kita perlu membicarakan masalah ini di sini?" balas Zafier. "Kenapa tidak di dalam tadi secara terang-terangan di depan Robinson supaya dia tahu dengan jelas kalau ada rubah berbulu serigala yang sedang mengelilinginya. Seharusnya kau melihat dirimu sendiri Allison sebelum mengatakan apa yang mulutmu ucapkan tadi." Martin menatapnya tajam, Zafier tersenyum miring. "Helena, sudah menjadi wanitaku di atas ranjang, proyek kebanggaanmu sudah berhasil aku dapatkan tidak peduli bagaimana caranya aku mendapatkannya sama sepertimu dan aku penasaran—" Zafier bergerak maju,mendekati Martin yang tidak seincipun mengalihkan tatapan tajamnya. "Apa yang akan kau lakukan untuk membalas semua kekalahan itu nantinya?" "Well, aku kagum dengan jiwa mudamu yang berani menerima tantanganku  dan berhasil mendapatkannya. Seharusnya aku tidak menilaimu terlalu rendah--" Zaf hanya diam mendengarkan meski tangannya di dalam saku celana mengepal. "Aku memiliki tandingan yang membuat permainan bisnis kita semakin menarik. Kalau soal membalas, hmm, aku akan memikirkannya nanti karena itu tidak terlalu penting bagiku tapi jelas kalau kau harus tetap waspada." Martin memajukan kepalanya sedikit dan berbisik di depan Zaf. "Dunia bisnis itu kejam. Siapa yang lengah bersiaplah untuk jatuh. Lebih baik diam dalam posisi bertahan kalau tidak mau hancur atau mundur sekalian lalu mengaku kalah." Martin menarik kepalanya dan tersenyum smirk. "Hancur dalam artian segalanya. Bukan hanya bisnis tapi segalanya." Zaf menggertakkan gigi "Silahkan nikmati Helena sesuka hatimu. Aku tidak peduli lagi." Martin berjalan melewatinya begitu saja dan berhenti sesaat di belakang punggungnya. "Ah ya lupa, aku hanya mengingatkan hati-hati dengan Helena. Dia wanita cantik berhati ular. Sekarang, mungkin dia bisa menjadi peliharaanmu paling manis tapi nanti--" Zafier bergeming di tempatnya. "Dia bisa balik mengigitmu." Zafier balik badan dan melihat Martin sudah masuk ke dalam mobil Alpardnya dan berlalu dari hadapannya meninggalkannya terdiam di sana. Zafier tahu kalau mulai saat ini dia harus waspada terhadap apapun yang ada di sekitarnya. Dia sangat tahu di luar sana banyak orang yang bisa dipercaya tapi juga banyak yang bisa menghancurkan dalam sekejap. *** "Kau akan meninggalkanku di sini?" Zaf tersenyum miring menanggapi pertanyaan Helena yang duduk di atas westafel kamar mandi tepat di sampingnya. Hanya mengenakan kemeja putih miliknya tanpa mengenakan apapun di dalamnya setelah percintaan mereka satu jam yang lalu. "Aku juga ingin ikut denganmu ke Amerika," desahnya seraya meraba d**a Zafier yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya. "Bawa aku ke sana bersamamu." Zaf menjauhkan telapak tangan Helena yang langsung merengut seraya menggoyangkan kedua kakinya yang terjuntai. Memandangi Zaf penuh harap supaya diajak berlibur ke Amerika dengan pesawat Jet-nya. "Kita tidak sedekat itu sampai aku harus membawamu ke Amerika," jawab Zaf santai membuat harapan Helena langsung runtuh. Helena tentu saja tidak terima. "Kita sudah bersama satu bulan lebih dan itu artinya kita sudah sepasang kekasih bukan?" Zafier memastikan penampilannya rapi lalu menoleh ke Helena yang menatapnya dengan wajah kesal, bergerak mendekat dan mengurung tubuh wanita cantik itu dengan kedua tangan yang bertumpu di pinggiran westafel saling memandang dalam jarak dekat. "Sepertinya aku harus menegaskan sesuatu padamu sebelum terjadi kesalahpahaman." Helena terdiam sementara Zaf tersenyum menawan kemudian berucap serius mengisyaratkan kalau semua yang akan dikatakannya tidak bisa dibantah. "Kau tahu predikatku di luar sana seperti apa dan sebulan bersamamu tetap tidak merubah apapun. Biasanya aku memang hanya bersama dengan satu wanita dalam satu waktu dan hanya beberapa wanita saja yang aku pertahankan lebih dari sebulan tapi tidak pernah lebih dari tiga bulan. Aku seseorang yang cepat bosan, sayang dan kau harus tahu kalau hubungan kita di atas ranjang juga akan berakhir sebentar lagi." Helena menggenggam erat pinggiran kemeja Zaf yang dipakainya seraya menahan gejolak di dadanya. "Jadi, selama aku pergi, kau bebas melakukan apapun karena kita tidak terikat." "Aku bukan p*****r!" desis Helena tajam membalas semua perkataan Zafier. Zaf menaikkan alisnya, "Oh ya? Lalu sebutannya apa?" "Aku hanya tidur dengan lelaki yang aku inginkan dan biasanya aku yang mencampakkan mereka dan kau tidak bisa melakukan ini padaku." Zaf bergeming menatap mata hitam Helena yang gusar. "Karena aku sangat menginginkanmu dan sudah memutuskan untuk mendapatkanmu jadi--" Helena memajukan kepalanya dan berbisik di telinga Zaf.  "Kau harus menjadi milikku." Zaf tertawa mendengarnya, menarik dirinya menjauh, berdiri tegak seraya melipat lengannya di d**a membalas tatapan tajam Helena. "Aku tidak menginginkanmu sebesar itu, sayang. Hubungan kita tetap akan berakhir tidak peduli kau setuju atau tidak. Aku lelaki yang bebas dan kau tidak bisa menahanku jadi lupakan saja keinginanmu." Zaf tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Helena tapi langsung ditepis oleh wanita itu membuatnya berdecak kemudian berbalik untuk keluar dari kamar mandi. "Jadi, kau berniat menjadi b******k seumur hidupmu." Ucapan Helena membuat Zaf berhenti di ambang pintu. "Kau tahu, apa yang kau tanam itulah yang kau dapatkan. Karma itu ada di luar sana dan jangan kau pikir kalau kau bisa berkelakuan seenaknya seperti ini. Hati-hati dengan apa yang kau ucapkan." Zaf tersenyum miring dan menelengkan sedikit kepalanya ke samping tanpa benar-benar berbalik untuk menatap langsung Helena. "Mungkin saja aku akan seperti itu tapi yang pasti hal itu tidak ada hubungannya denganmu. Kalaupun aku bertobat  dan mendapatkan keajaiban atau mungkin pencerahan, itu juga bukan karena keberadaanmu. Jadi, jangan buang waktumu dengan lelaki sepertiku jika kau mengharapkan lebih. Sejak awal aku sudah katakan kalau kita hanya bersenang-senang. Aku bisa memberimu banyak hal di dunia ini jika itu menyangkut materi tapi--" Helena mengigit bibirnya menahan serbuan emosinya mendengar jawaban Zaf. "Satu hal yang tidak akan pernah aku berikan padamu adalah komitmen. Pikirkan itu baik-baik!!" "You jerk!!!" Umpat Helena. Zafier memutar bola matanya dan sebelum benar-benar keluar dari sana Zaf kembali menegaskan satu hal. "Aku akan kembali dari New York satu minggu lagi. Kalau aku masih melihatmu berada di apartemen ini, itu artinya kau setuju untuk tetap menjadi wanitaku di atas ranjang sampai aku menyuruhmu pergi tapi kalau kamar ini dalam keadaan kosong maka aku tidak akan pernah mencarimu lagi dan hubungan kita berakhir." Helena rasanya ingin memaki dan berteriak penuh amarah saat melihat sikap santai yang ditunjukkan Zafier. "Kartu kredit unlimited yang bisa kamu gunakan untuk membeli apapun ada di atas meja. Itu adalah bayaran yang setimpal untuk semua usahamu sebulan ini," tambahnya kemudian. "KAU b******k ZAF!!!" teriak Helena saat lelaki itu akhirnya keluar dari sana tanpa sekalipun berbalik dan keluar dari apartemen untuk segera bertolak ke bandara. Dia akan pergi ke Amerika. Bukan ke New York tapi ke Florida. Untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun belakangan ini, Maminya yang sedang sakit menelepon untuk mengunjunginya dan Zaf tidak mau semakin bersalah dengan menolaknya walaupun kembali ke sana akan membuatnya membuka luka lama yang masih di bawanya sampai kini juga rasa enggannya bertemu dengan Papinya. Tapi, Zaf bisa apa kalau Maminya memintanya disertai dengan tangisan hebat supaya dia pulang sebentar untuk mengunjunginya. Dia juga merindukan orang tuanya setelah beberapa tahun ini hidup seperti anak yatim piatu. Walaupun Papinya, mana peduli pada anaknya yang tersisa ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN